This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 28 Juli 2014

Sang Penjelajah Arus

Palu, Ba'da Lebaran, 29 Juli 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.




Arusnya mengalir begitu deras, mengalir menerjang bebatuan, pepohonan, tumbuh-tumbuhan kecil, menerpa dan mengikis tanah lembab sedikit demi sedikit. Bahkan tanah dan bebatuan yang kokoh pun sedikit demi sedikit terkikis karena terjangan dan terpaan arus yang terus menerus. Arus ini menggerus apapun yang berada di sepanjang  jalannya, sekokoh dan sesolid apapun materi tersebut. Arus yang begitu konsisten ini terkadang harus menghadapi sekelompok penantangnya. Dan hampir dapat di pastikan arus ini akan selalu memenangkan pertarungan dengan para penantang arus tersebut.

Perkenalkan mereka para penantang arus, yang selalu tak sabar dengan perubahan. Inginnya selalu instan dan konstan. Para penantang arus ini tak menghargai proses dan sangat mementingkan hasil akhir. Apapun yang terjadi yang paling penting adalah hasil akhirnya, ini opini mereka para penantang arus. Terkadang mereka harus menerima akibatnya akibat terlalu terburu-buru dalam bersikap, bertindak, dan menganalisis segala sesuatunya.

Para penantang arus ini tidak menyadari bahwa ada alam yang lebih kekal setelah alam dunia yang hanya menjadi tempat persinggahan mereka. Sehingga, mata dan hati para penantang arus sering larut dalam perdebatan panjang. Padahal, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mata merupakan penuntun, sedangkan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata menikmati pandangan dan hati menikmati kepuasan pencapaian. Dalam cinta, keduanya merupakan  sisi yang tidak bisa melepaskan. Manakala terpuruk dalam kesulitan dan sama-sama berada dalam cobaan, keduanya saling mencela dan mencaci.

Hati berkata kepada mata, “Kamu yang menyeretku kepada lubang kebinasaan, menjadikanku berada dalam penyesalan panjang hanya karena telah mengikuti langkahmu sesaat saja. Kamu lemparkan lirikan ke taman itu, kamu mencari penawar di kebun penyakit, dan kamu melanggar firman Allah Yang Maha Bijaksana, “Hendaklah kamu menahan pandangan.” Kamu juga menyalahi tuntunan Rasulullah yang menyatakan, “Memandang perempuan adalah panah iblis yang berlumur racun, barangsiapa yang melakukannya karena takut kepada Allah Swt. maka Allah akan memberikan balasan atas keimanannya, berupa kemanisan iman yang ia rasakan di dalam hatinya.” (H.R.Ahmad). Inilah debat panjang antara mata dan hati para penantang arus, karena para penantang arus tersebut tidak sabaran, terburu-buru dengan perubahan sehingga mereka sendirilah yang kemudian terjerembab dalam lembah hitam kemaksiatan yang semakin samar-samar.

Kondisi ini sangat kontradiktif dengan para petualang arus, para penjelajah arus. Para penjelajah arus begitu menikmati arus yang akan dilewatinya. Mereka menyadari bahwa arus adalah gerakan yang alamiah, seperti gerakan api yang sedang berkobar. Inilah mereka para penjelajah arus, memiliki sedikit kesamaan dengan para penantang arus, yaitu lebih menghendaki gerakan secara kolektif dan berjama’ah.

Kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ada satu golongan berjalan pada rel perintah dan cinta-Nya, mereka berhenti di tempat penghentian yang ditentukannya. Mereka bergerak sesuai dengan panduan gerak dan perintah-Nya. Mereka mempergunakan perintah dan dalam takdir, mendayung dengan sampan perintah di lautan takdir-Nya, menetapkan urusan dengan takdir-Nya, dan menghukum dengan ketetapan-Nya. Semua itu sebagai manifestasi dari ketaatan terhadap perintah-Nya dan demi mencari keridhaan-Nya. Mereka inilah orang-orang yang selamat dan berbahagia. Menurut penulis pribadi, karakteristik yang disampaikan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah inilah karakteristik  yang mendekati sosok para penjelajah arus.

Dari sekian banyak para penjelajah arus dan diantara mereka, rupanya ada sosok yang lebih membanggakan dan semangat dalam mengakselerasi gerakan mereka. Sebut saja sosok ini disebut Sang Penjelajah arus. Sang penjelajah arus pandangannya begitu visioner dan idealismenya kuat. Meski terkadang keputusan yang diambil harus situasional dan kondisional, sesuai momentum. Tapi Sang penjelajah arus ini tetap yakin dengan sumber dan prinsip kebenarannya. 

Sang penjelajah arus bermukim di sebuah negeri yang katanya bersemayam Satria Piningit, sering disebut Nusantara. Sang penjelajah arus sering menjelajah negeri nusantara yang sangat ia cintai ini, tidak lain adalah wujud cintanya kepada Allah atas nikmat negeri yang indah ini. Ia pernah menjelajahi puncak, meretas jejak para pendahulu, meniti jalan Sekolah Karakter Kebangsaan. Ia pernah menjelajah ke tanah Ambon manise di Maluku, ia pernah menjelajah istana Sultan Babullah di Ternate, pernah menjejakkan kaki di monumen perjuangan Bandung Jawa Barat, pernah mencapai puncak matantimali Sigi Sulawesi Tengah, pernah merapatkan langkah untuk mendaki segoro gunung Solo Jawa Tengah, pernah menjejakkan kaki dan merasakan kisah indah di Tanah kelahiran Bung Tomo Surabaya Jawa Timur, pernah menyebar langkahnya di dermaga Bitung Sulawesi Utara, pernah memantapkan langkahnya di tanah kelahiran Sultan Hasanuddin Makassar Sulawesi Selatan, pernah menderapkan kakinya di tanah istimewa Yogyakarta, dan pernah merasakan hangatnya pasir pantai Bambarano Donggala Sulawesi Tengah.

Ia mencintai negeri ini, ingin ibu pertiwi ini tak lagi meneteskan air mata. Negeri ini begitu kaya, begitu elok dan dicintai. Dengan Rasa Cinta yang begitu mendalam, sering Sang Penjelajah arus menyanyikan sebuah lagu karya Ismail Marzuki yang berjudul Tanah Air :
"Walaupun banyak negeri kujalani..
yang masyhur permai di kata orang..
tetapi kampung dan rumahku..
disanalah ku rasa senang..
tanahku tak kulupakan..
Engkau Kubanggakan.."
(Tanah Air, Ismail Marzuki)

Ia tak seideal sosok pemeran utama dalam film Sang Kiai. Ia pun menyadari bahwa semangat pembaharuannya dalam mengarahkan arus tak sebegitu menggelegar ide dan aksi sosok pemeran utama dalam film Sang Pencerah.  Mungkin saja hubungan dengan kawan-kawannya tak se-solid para pemeran dalam film Laskar Pelangi. Mungkin juga, ia sedang tidak dalam kondisi terbaiknya dalam berjuang seperti para pemeran utama dalam film 5 Cm yang kondisinya selalu baik bahkan jauh lebih baik untuk meraih mimpi. Atau mungkin juga mimpi, harapan, dan asa-nya tak se-konkrit para pemeran dalam film Negeri 5 Menara.

Inilah dia, Sang penjelajah arus. Meski bukan sosok yang ideal, ia yakin seluruh kerusakkan sistem akan dapat diperbaiki sedikit demi sedikit, maka ia terus berjuang tanpa kenal lelah. Meski terkadang ia harus sedikit manusiawi dengan merasa iri pada para anak pejabat dan konglomerat. Ia yakin dengan perbaikan yang dimulai dari individu, maka kerusakkan yang sudah sistemik ini akan semakin baik dan harapan besarnya kerusakkan ini akan sirna. ia yakin suatu saat atas kehendak Allah, kerja secara Berjama’ah, dengan niat yang baik, metode yang baik, bahan baku yang baik, komponen mesin yang prima dan mumpuni, suatu saat bangsa ini akan semakin baik dan tercerahkan, Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur.

Sabtu, 19 Juli 2014

3 Propaganda Sekularisasi

Palu, 20 Juli 2014
Kultwit dari Akun Twitter @Khaidir_ 




Kultwit Shubuh dulu deh, agar ilmu ini tak berdiam di kepala saja, agar berkah ilmu ini harus di sharing :)

Saya ingin Kultwit tentang 3 poin dari Sekularisasi yang menjangkiti anak bangsa, ini penting untuk di ketahui, karena bisa menggerus Aqidah

Poin yang pertama adalah Disenchantment of nature, pemahaman tentang Alam adalah milik manusia, dan manusia bebas mengeksploitasi Alam..

Karena Alam adalah hak milik manusia, manusia bebas mau ngapain, alam ini kan milik manusia.. Mau di eksploitasi, mau di rusak..

Alam ini mau dimanfaatkan sebanyak-banyaknya demi kepuasan individu, ya bebas dong, alam kan milik manusia..

Berangkat dari pemahaman disenchantment of nature ini, muncullah ide-ide tentang penjajahan, menindas orang-orang demi hasil bumi..

Negara kita pun menelan pil pahit implementasi dari pemahaman ini, ratusan tahun kita dijajah sama Belanda, Jepang, dll. Karena hasil bumi..

Padahal di dalam konsep Islam, Alam adalah Hak milik Allah SWT, kita diberi hak untuk mengelolanya dan menjaganya..

Melalui mekanisme yang begitu indah, Islam memberikan sistem yang begitu indah tentang pengelolaan alam..

Untuk SDA yang tak terbatas, Negaralah yang berhak mengelolanya, dengan memperhatikan Kesejahteraan dan kemakmuran sebagai indikatornya..

Manusia bebas mengelola alam dengan Syariat sebagai batasnya, konsep mana lagi yang lebih indah tentang pemanfaatan Alam selain konsep Islam?

Poin kedua dari sekularisasi adalah Deconcecration of values, semua nilai direlatifkan, nggak ada yang baku..

Berangkat dari mengoptimalkan akal dan pikiran manusia, dan menggunakan growth mindset yang dominan..

Sehingga, akal menjadi acuan utama. Manusia terlalu mengandalkan akalnya dalam setiap persoalan, seakan-akan menghilangkan peran Tuhan..

Karena terlalu mengutamakan akal, maka semua nilai pun di relatifkan, nilai apapun itu..

Nggak ada nilai, tata aturan, dan norma yang baku, semua relatif.. Begitupun kebenaran, nggak ada kebenaran yang absolut, semua relatif..

Yang lebih ekstrim lagi, salah satu pentolan JIL pernah berpendapat bahwa Wahyu Allah telah berhenti turun sekitar 14 abad yang lalu...

Sementara akal pikiran manusia terus berkembang, maka Islam pun bebas ditafsirkan mengikuti perkembangan zaman dengan kedok Islam Progresif.

Satu Kata untuk Deconcecration of values, PARAH!!!

Dalam Fiqih Dakwah, jelas yang menjadi Sumber Pedoman hidup kita adalah Al-Qur'an, Al-Hadits, serta Ijtihad para 'Ulama..

Itupun, untuk menuju Ijtihad harus melalui proses yang berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadits, nggak boleh keluar dari sumber hukum utama..

Dalil pun macam-macam, ada dalil yang qath'i dan zhanniy.. Islam sangat jelas memberikan kita nilai, tata aturan, dan pedoman hidup..

Maka orang-orang yang menggunakan deconcecration of values sebagai propaganda nilai-nya adalah mereka yang telah menuhankan Akalnya..

Dan Poin ketiga yang patut juga kita waspadai dari sekularisasi adalah Desacralization Of Politics, pemisahan antara urusan Agama dan Negara

Agama ya agama, nggak ada urusan dengan Politik dan kenegaraan..

Skeptisisme dan Trauma ini muncul dari kegagalan sistem gerejani di sejarah abad pertengahan Eropa..

Sampai sekarang, propaganda desacralization of politics ini di tujukan kepada agama, di Indonesia lebih khusus kepada Islam..

Muncullah istilah-istilah baru seperti Nasionalis-Religius, muncullah kata-kata "jangan bawa-bawa agama dalam forum ini.."

Dalam konsep Islam, Seorang Pemimpin dia haruslah seorang 'Umara dan pada yang saat yang sama ia adalah seorang 'Ulama.. :)

Tidak memisahkan urusan Islam dan Pemerintahan, beginilah yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW, Sahabat, dan para Salafunasshaleh kepada kita..

Kata Ketua Koalisi Merah-Putih Nasional, Bapak Prof.Mahfud,MD Agama dan kekuasaan adalah 2 mata uang yang tak bisa di pisahkan.. :)

Sekian dulu deh Kultwit saya tentang 3 Poin Sekularisasi, semoga bermanfaat dan menginspirasi. Wallahul a'lam. :)

END.

Rabu, 16 Juli 2014

Segenggam Tekad, Segerak Amal, Sejumput Impian : Tarbiyah Madal Hayah

Palu, 16 Juli 2014



“Mimpi adalah kunci..


Untuk kita menaklukkan dunia..


Berlarilah tanpa lelah..


Sampai engkau meraihnya..”


(NIDJI, Laskar Pelangi)

Ada seorang bocah yang belum lama menginjak usia ideal remaja, usianya sekitaran 17-18 Tahun. Bocah ini masih terus mencari apa yang harus dicari, masih sering terombang-ambing dalam gelombang tinggi nilai-nilai sekulerisme.  Ia sedang mencari apa keidealan itu sebenarnya, apakah memang hanya materi yang menjadi indikator utamanya. Apakah masih harus memandang sesuatu yang keren dan gagah itu berdasarkan persepsi orang-orang yang sesungguhnya belum utuh memahami dirinya. Apakah harus kemudian sekedar menjadi followes para orang-orang yang katanya beken dan eksis tapi sangat tidak pantas untuk dijadikan teladan. Bocah ini sedang berada di penghujung masa studi SMA-nya dan tengah mencari hakikat kebenaran. Beberapa kali mencoba untuk meraih peluang kebaikan itu namun sekelompok orang yang berasal dari kalangan  organisasi intra, sepertinya memang sengaja tak memberikan kesempatan itu padanya. 


Dengan tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi dalam kebaikan, bocah ini pun ingin mencari arti hidup yang sesungguhnya dari sumber yang lain. Atas berbagai realita, muncullah worldview yang baru dalam gejolak pemikiran pemuda ini tentang masih begitu banyak peluang kebaikan di luar sana.  Entah datang dari momen seperti apa, mungkin karena sering berada di Masjid. Muncul secercah gairah dan keinginan yang menggebu-gebu, semangat bocah ini semakin membuncah ketika peluang kebaikan yang akan ia ambil adalah dalam bentuk partai politik. Dengan pikiran yang masih sedikit kekanak-kanakan peluang kebaikan ini di ambil dengan segala prasangka baik. Dalam pertemuan tiap pekanan yang sebelumnya sudah pernah di ikuti pada masa SMP-nya, bocah ini kemudian mengenal tentang sebuah institusi peradaban dengan kompleksitas permasalahan yang bernama partai dakwah.


Saat itu pikiran bocah ini mulai mencari-cari tentang kebenaran absolut atau minimal jalan terjal dan jalan alternatif menuju kebenaran tunggal tersebut. Dari pertemuan pekanan yang rajin ia ikuti, terbentuk sebuah pemahaman visioner tentang dakwah dan peradaban namun gagasan ini masih terlalu besar dan berat menurut bocah ini. Pikirnya,  perlu mengenal nama Presiden, Wakil Presiden dan Menteri-menterinya adalah salah satu bagian dari standar ilmu pengetahuan yang tak terlalu penting. Masa itu adalah masa-masa kampanye dan bagi bocah ini politik hanya perlu untuk diketahui saja tak penting untuk berkontribusi dan terlibat aktif, cukup belajar agama saja dari partai dakwah ini dan selanjutnya hidup akan beres dunia akhirat. Sebuah pemahaman yang sangat sederhana dan masih cenderung memisahkan antara urusan agama dan negara. Yang ternyata ini adalah salah satu poin dari sekulerisme yaitu desacralization of politics, memisahkan antara agama dan negara.


Kontestasi politik semakin memanas  saat semakin dekatnya hari pemilihan umum tersebut. Ditengah carut marutnya konstestasi ini, ada seorang tokoh yang tiba-tiba menarik perhatian bocah ini. Tokoh tersebut adalah tokoh pemuda yang berasal dari Sulawesi Tengah, tepatnya kelahiran Donggala. Tokoh muda ini sepertinya menjadi idola baru baginya, karena tokoh muda ini memberanikan diri untuk maju menjadi calon anggota legislatif DPR-RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah bersama sebuah gerbong partai dakwah. Bocah ingusan tadi secara sadar bercita-cita dan bermimpi suatu saat akan bertemu dengan tokoh muda tersebut, perkenalkan tokoh muda yang sangat menginspirasi bocah tersebut bernama Bapak Adhyaksa Dault.


Mimpi untuk bertemu Bapak Adhyaksa Dault dari bocah ini sepertinya biasa-biasa saja, namun kehendak Allah dan kekuatan mimpi, serta semangat perubahan berkata lain. Bocah ingusan ini mengalami perubahan drastis dalam hidupnya. Mungkin saja faktor dominan yang membuat bocah ini berubah adalah karena secara istiqomah mengikuti agenda pekanan yang bernama liqa’. Agenda pekanan ini terlihat melelahkan dan membosankan namun secara nyata membentuk karakter bocah itu sebagai pribadi yang bersemangat dan mau terus menerus untuk belajar.


Singkat cerita setelah pemilihan Presiden dan pembentukan Kabinet Indonesia bersatu Jilid I Bapak Adhyaksa Dault terpilih sebagai  Menteri Pemuda dan Olahraga RI. Bocah ingusan tadi kemudian terpicu semangatnya untuk terus berproses, aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan terus berusaha menjadi yang terbaik secara akademik maupun organisatoris. Di awal Tahun 2011 bocah yang mulai beranjak menjadi pemuda ini diberi amanah yang luar biasa untuk memimpin organisasi. Organisasi Lembaga Dakwah Fakultas yang bernama MPM Al-Iqra’. Untuk pertama kalinya diberi kesempatan untuk berkontribusi secara besar yaitu sebagai pimpinan lembaga. Karena tak mempunyai pengalaman memimpin sebelumnya, maka pemuda ini harus menjadi quick learning. Dengan metode learning by doing dan bimbingan para senior pemuda ini terus berusaha mewujudkan mimpinya. 


Menteri Pemuda dan Olahraga RI pun beralih kepemimpinan kepada salah seorang Putra terbaik Sulawesi, Bapak Andi Malaranggeng. Di Tahun ini pula, pemuda ini merasa bahwa mimpinya untuk bertemu dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI akan tercapai, pemuda ini terpilih sebagai salah satu peserta perwakilan Sulawesi Tengah untuk mengikuti Training Of Trainer (TOT) penanggulangan faktor destruktif remaja lebih spesifik bidang pornografi dan pornoaksi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Tetapi sekali lagi takdir berkata lain, kesempatan untuk bertemu Pak Menteri harus tertunda karena berbagai kesibukan dan padatnya jadwal acara Pak Menteri, sehingga beliau tidak sempat menghadiri acara TOT yang kami ikuti di Taman Wiladatika Cibubur.

Pupusnya harapan untuk bertemu Menteri ini tidak kemudian menjadikan pemuda ini menyerah dan menyudahi upayanya dalam mengejar mimpi. Ia masih meyakini bahwa para pahlawan penuntas mimpi harus mengalami banyak kegagalan baru kemudian bisa mewujudkan mimpinya. Di Tahun 2012 pemuda ini kemudian terpilih sebagai Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UPIM Universitas Tadulako. Aktualisasi dirinya untuk perbaikan ummat terus dilakukan secara totalitas dan optimal karena sejatinya Dakwah akan terus meminta perhatianmu, jiwa, dan ragamu, semua demi Ummat yang engkau cintai.


Sambil terus menjalani proses, pemuda ini terus mengeluarkan segala potensinya bahkan ketika ia sudah tidak menjadi ketua lembaga lagi. Baginya tak penting posisi atau jabatan, yang paling penting masih bisa berkontribusi sekuat tenaga. Di momen inipun ia banyak belajar dan sedikit memahami tentang karakteristik Generasi yang Rabbani. Kata Ibnu Jarir Ath-Thabari atau yang sering dikenal dengan Imamul Mufassirin, pemimpin para ‘Ulama Tafsir, Generasi Rabbani itu memiliki 5 karakteristik. Yang pertama faqih ; memahami Islam dengan sangat baik, kedua ‘alim ; memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni, ketiga bashir bi as-siyasah  ; tahu perkembangan politik, keempat bashir bi at-tadbir ; memiliki kemampuan manajemen dan strategi yang baik, dan kelima qaim bi syu’uni ar-ra’iyah bimaa yuslihuhum fi dunyahum wa diinihim ; melaksanakan segala urusan ummat yang mendatangkan kemaslahatan mereka baik dalam urusan dunia maupun agama.


Sampai pada Tahun 2014 ia bersama kawan-kawan seperjuangannya harus kemudian siap mengimplementasikan ciri generasi rabbani, menjadi salah satu garda terdepan dalam pemenangan partai dakwah. Ia menikmati peran ini dengan segenap potensi dan kemampuannya sampai menjadi tim inti pemenangan salah satu pasangan Capres-Cawapres di Kota Palu. 


Menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang akan dilaksanakan sekitar 8 hari lagi, malam itu di tanggal 1 Juli 2014, seusai Shalat Tarawih pemuda ini seperti telah dibukakan pintu takdirnya agar mimpinya terwujud. Ia mendapat telefon dari Bapak Ibnu Hasan,S.Pd.,M.Pd yang saat itu menjabat sebagai asisten deputi di Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Pemuda ini beserta salah seorang sahabatnya dipilih mewakili Sulawesi Tengah sebagai peserta TOT Character Building Sekolah Karakter Kebangsaan Tingkat Nasional Tahun 2014. Sampai kemudian mimpi pemuda ini di wujudkan dengan cara dan skenario yang begitu indah dari Allah SWT. Ia terpilih sebagai salah satu peserta terbaik TOT Character Building Sekolah Karakter Kebangsaan Tingkat Nasional Tahun 2014 dan berkesempatan untuk bertemu dan bersua dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI yang sedang menjabat, Bapak Roy Suryo bersama istri.

Kawan-kawan sekalian, segores tulisan ini hanya sekedar ingin berbagi tentang pengalaman dan perjuangan.  Tentang mimpi yang harus begitu besar dan visioner, tentang harapan dan motivasi, tentang tekad yang harus kokoh melampaui kekokohan logam mulia, tentang potensi yang harus selalu dikembangkan, tentang semangat untuk tak pernah jera menuntut ilmu, tentang semangat untuk menginspirasi banyak orang, tentang sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. 


Mimpi, ketika ditanamkan dan diresapi dalam jiwa, pikiran, hati, dan perasaan maka akan menstimulus diri ini. Sehingga terbentuk mindset bahwa mencapai mimpi tersebut bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Mimpi yang akan kita rumuskan langkah-langkah realistis untuk menggapainya, mimpi yang tak serta merta di capai dalam waktu yang singkat, tetapi membutuhkan proses yang panjang. Jangan pernah takut untuk bermimpi, Seperti 3 tabiat jalan dakwah ini, thulut thariq (panjang jalannya), katsirul aqabat (banyak timpaannya), qilaturrijaal (sedikit orangnya). Bahkan jika Surga adalah salah satu mimpimu, pantaskanlah dirimu untuk mencapainya.