Tampilkan postingan dengan label Dakwah Kampus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Kampus. Tampilkan semua postingan
Jumat, 14 April 2017
Inilah Era Baru Dakwah Kampus!!
Dulu, dulu, dulu, mungkin itu dulu sekali,
dulu dimasa lampau, atau mungkin dulu beberapa tahun yang lalu, lima tahun yang
lalu, tiga Tahun yang lalu. Apakah hanya itu yang engkau andalkan, hanya
mengandalkan romantisme di masa lalu, untuk mengkritik sesuka hati. Padahal
sekarang eranya sudah berbeda, zamannya sudah berbeda, tak lagi sama dengan
yang dulu. Generasinya adalah generasi yang baru, anak-anak muda yang kreatif
dan inovatif, yang idenya terus melanglang buana, yang gagasannya menembus
tingginya langit, yang semangatnya seakan tak pernah padam. Mereka generasi
baru yang hidup di Era Baru Dakwah Kampus, maka Narasi Dakwah Kampus nya juga
harus berbeda, berbeda dalam hal sarana, berbeda dalam aspek operasionalnya, sebab
merekalah generasi baru dakwah kampus, generasi yang punya narasi, namun tak
pernah lupa bahwa esensi dari dakwah kampus adalah mengajak masyarakat kampus
kepada indahnya Islam, mengajak civitas akademik agar meng-Esa-kan Allah saja,
dan tetap menjunjung tinggi kultur keilmiahan di kampus, sangat toleransi
kepada non-muslim.
Generasi Dakwah Kampus, telah memasuki era
baru, era dimana karakteristik pemudanya adalah karakter yang baru, karakter
yang segar akan ide dan gagasannya, karakter yang kreatif dan inovatif,
pemuda-pemudi yang menjadikan Islam sebagai The Way of Life, mereka inilah para pemuda-pemudi pejuang dakwah
kampus, generasi baru dakwah kampus. Kini eranya lembaga dakwah kampus hanya menjadi salah satu sarana, salah satu sarana untuk mensosialisasikan perjuangan dakwah
kampus. kini eranya berbeda, para pejuang dakwah kampus bisa menggunakan sarana atau lembaga yang lain, banyak sarana-sarana lain yang bisa dijadikan wadah perjuangan dakwah
kampus, dengan ide dan kreatifitas para pejuang dakwah kampus, generasi baru
dakwah kampus. Sekarang sudah bukan zamannya lagi senior-senior dakwah kampus tongkrongin
sekretariat lembaga dakwah kampus lalu berkata, "kami dulu seperti ini, kami dulu seperti itu, Ukhuwahnya luar biasa”, sekarang sudah berbeda zaman Bung! Beda Zaman, Beda Subjek, Dunia sudah Berubah, maka metode harus diperbarui, metode dakwah harus memperhatikan fiqhul waqi'. Romantisme masa lalu terhadap dakwah kampus zaman dulu ini sebaiknya dihindari, sebab para pejuang dakwah kampus yang dulu beda tantangan dengan pejuang dakwah kampus di era baru yang terus membaca kegelisahan zaman dan mencipta narasi baru dakwah kampus. Romantisme masa lalu dakwah kampus ini di satu sisi bisa menginspirasi, disisi yang lain
ide-ide gerakan menjadi tumpul, daya cipta dan kreatifitas terhalangi oleh
sekat romantisme masa lalu, ayolah para generasi dakwah kampus, waktunya move on! Narasi baru dakwah kampus sangat di butuhkan, dan sekarang bukan lagi zamannya
para generasi dakwah kampus sibuk menyalahkan, sibuk mengingkari, ini salah,
itu salah, ini Bid’ah, itu Bid’ah, memang hal ini adalah kewajiban, kewajiban
beramar ma’ruf nahi munkar, tetapi dalam metode penyampaiannya perlu ide-ide
yang segar, ide-ide yang baru, metode yang sesuai dengan konteks kampusnya,
cara penyampaian yang sesuai dengan kultur mahasiswa-mahasiswinya, santun,
sopan, mengena dihati para objek dakwah. Sehingga ajakan-ajakan untuk mentauhidkan
Allah semata menginspirasi orang-orang untuk kemudian berubah, memotivasi
orang-orang untuk menjadi lebih baik, menggerakkan orang-orang untuk turut
menjadi pejuang dan pembela Agama Allah.
Dakwah kampus, adalah salah satu peluang
bagi para civitas akademika di kampus untuk semakin dekat kepada Allah SWT.
Melalui dakwah kampus Islam bisa dipelajari secara komprehensif, melalui halaqah pekanan, kajian-kajian keislaman yang rutin, ajaran Islam menjadi
jelas sejelas-jelasnya, tuntunan agama ini menjadi terang seterang-terangnya, bahwa
agama islam ini adalah agama yang universal. Bahwa agama Islam yang mulia ini bukan
sekedar agama ritual, yang dalam setiap ibadahnya punya esensi untuk mengubah
individu, individu yang lebih baik, individu yang lebih berkarakter, punya
kemampuan untuk mengubah masyarakat, dimulai dari dirinya sendiri. Perubahan
memang harus dimulai dari diri sendiri, begitulah para pemuda dan pemudi
idealis ini berhimpun dan bersaudara karena aqidah, bergerak bersama karena
dakwah, bergerak untuk mencerahkan setiap orang, bergerak untuk menyampaikan
ajaran Islam sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW, “Sampaikanlah Walau Satu Ayat”.
Islam yang menyeluruh aspeknya diajarkan dalam pertemuan-pertemuan setiap
pekan, melalui pertemuan setiap pekan serta kajian-kajian rutin, secara bertahap Islam di ajarkan sebagai agama yang sejatinya bukan agama yang pasif, mengakar dalam pemahaman para anak muda ini.
Melalui pertemuan setiap pekan juga disampaikan kenyataan yang memilukan,
kenyataan memilukan tentang kondisi Ummat manusia saat ini, yang mengalami
dekadensi moral karena faktor destruktif yang sulit dicegah. Islam agama yang
sempurna, oleh musuh-musuh Allah coba dikurangi jumlah pejuang-pejuangnya, dengan menanamkan bahwa
Islam hanya sekedar Ibadah, Islam hanya sekedar Beribadah di Masjid saja, Islam
diajarkan sebagai agama ritual semata, bahkan para pemuda-pemudi islam berusaha
dijauhkan dari ajaran Islam itu sendiri, di jauhkan dari Al-Qur'an dan Sunnah. Pertemuan pekanan yang dijalani para
pemuda-pemudi ini membangkitkan semangat mereka untuk berbenah diri, semangat
untuk berdakwah, semangat untuk menyebarkan pemikiran, menyebarkan fiqrah dakwah, mencipta sebuah narasi yang baru, narasi yang baru di era dakwah kampus yang baru, bahwa era yang dihadapi
saat ini adalah era baru, era perang pemikiran, era baru dakwah kampus yang
metode dan sarananya harus terus menemukan cara-cara paling kreatif untuk
menarik minat para objek dakwah, untuk memeluk dan menjalankan agama Islam,
secara totalitas, secara komprehensif.
Era baru dakwah kampus telah tiba didepan
mata, mengharuskan para pejuang dakwah di sektor kampus harus membekali diri
dengan sebaik-baik bekal, karena sebaik-baik bekal adalah Taqwa. Para pejuang
dakwah kampus harus mempersiapkan dirinya dengan ilmu yang mumpuni, ilmu agama
yang harus terus dipelajari tanpa kenal lelah, ilmu agama diatas rata-rata masyarakat pada umumnya,
agar bisa menyampaikannya serta mengajarkannya, membimbing masyarakat kedalam manis
dan harumnya aura Keindahan Islam. Target semakin luas, bukan saja para
pemuda-pemudi shaleh yang akan menjadi target rekrutmen dakwah, para pejuang-pejuang dakwah
kampus juga harus memikirkan strategi tentang bagaimana merekrut para pemuda
yang berkompetensi dibidang akademiknya masing-masing, serta memiliki life skill yang layak diperhitungkan.
Sebab kompetensi, kapasitas, dan kemampuan para pemuda-pemudi potensial, para
mahasiswa-mahasiswi berprestasi ini, bisa dimanifestasikan untuk kepentingan
dakwah, bisa turut berkontribusi untuk menegakkan agama yang mulia ini, bisa
ikut memberi sumbangsih pemikiran, tenaga, dan jiwa agar Cahaya Allah bersinar
di Bumi Kampus, bersinar disetiap Fakultas, menerangi seluruh penjuru
Universitas, sebab Allah akan terus menyempurnakan CahayaNya meskipun
orang-orang kafir tidak menyukainya.
Menyelenggarakan event positif nan kreatif di kampus adalah salah satu dari
sekian banyak cara untuk menerjemahkan agama Islam ini sebagai Agama yang
Mulia, Agama yang tak kaku, Agama pembaharu, satu-satunya Agama yang kuat landasan Aqidahnya,
Kokoh landasan Tauhidnya, mengakar landasan Ketuhanannya, melepaskan segala belenggu yang mengikat ummat manusia,
membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia, penghambaan kepada
materi, menjadi penghambaan hanya kepada Allah saja, serta mengakui Muhammad SAW
sebagai Manusia pilihan Allah, Utusan Allah, baik perilaku, sikap, perkataan,
sifat, dan perbuatannya, sehingga Baginda Rasulullah SAW pantas diberi predikat
Teladan Terbaik sepanjang sejarah peradaban ummat manusia, Teladan terbaik yang
tak tergantikan hingga saat ini. Menghijrahkan berbagai idola-idola palsu anak muda,
yang memuliakan dan mengagung-agungkan manusia yang sesungguhnya punya banyak celah, kelemahan, dan kekurangan. Para pemuda-pemudi kampus yang cenderung mengidolakan seorang tokoh,
seorang public figure, yang memiliki
pemikiran-pemikiran bagus menurut pandangan mata, mempunyai kemampuan dan
tampilan fisik yang bagus, mempunyai suara yang indah, segala hal yang bersifat
materi, segala sesuatu yang bersifat sementara, begitu mudahnya dikagumi oleh
para pemuda-pemudi kampus. Yang sesungguhnya, dan seharusnya, kita mengidolakan Rasulullah SAW, kita meneladani Rasulullah SAW, mempelajari Sirah Nabawiyah, lalu kita bercita-cita
untuk bertemu dengan Teladan Terbaik suatu saat nanti. Sebaiknya kita
mengidolakan Rasulullah Muhammad SAW sebagai Manusia yang paling sempurna akhlaknya, manusia yang paling mulia, agar
kelak datang suatu hari dimana kita semua akan bertemu dengan orang yang kita
cintai. Maka jika kita mencintai Rasulullah Muhammad SAW, meneladani Beliau,
menjalankan Sunnah-sunnah Beliau, yakinlah engkau akan dipertemukan dengan
Baginda Nabi SAW, pertemuan yang dinanti-nantikan oleh para aktifis dakwah, pertemuan yang sangat di nantikan oleh Para Pewaris Nabi dan para Perindu Rasul, agar
kelak mendapatkan syafaat dari Allah SWT melalui Rasulullah SAW, tampaknya hal
ini sudah menjadi trend dikalangan
para pemuda-pemudi shaleh, para mahasiswa-mahasiswi aktifis, pejuang dakwah
kampus. Namun bila yang engkau idolakan adalah selain Baginda Nabi SAW, bisa
jadi yang engkau temui di Hari Akhir nanti adalah selain Baginda Nabi
SAW. Kecintaan kepada Rasulullah SAW inilah yang ingin disampaikan para Aktifis
Dakwah kepada masyarakat kampus.
Era Baru telah menjelang, para pejuang dakwah kampus harus berpikir strategis, bertindak secara produktif, agar
kegiatan-kegiatan dakwah yang dilaksanakan di kampus memiliki visi dan misi yang
jelas, agar setiap kegiatan-kegiatan yang di selenggarakan para pejuang dakwah
kampus bukan sekedar mengejar popularitas lembaga dan keterkenalan pribadi
semata, agar kegiatan-kegiatan yang digagas oleh para pejuang dakwah kampus
mempunyai konsep yang matang, konsep yang terintegrasi dalam rencana strategis, rencana-rencana
jangka pendek dan rencana-rencana jangka panjang, yang substansinya adalah
mengajak masyarakat kampus untuk semakin mendekat dan berserah diri kepada
Allah SWT semata, tanpa menyekutukanNya sedikit pun, lalu meneladani Rasulullah
Muhammad SAW dalam menjalankan agama Islam, membela agama Islam ketika agama
ini dinistakan, apalagi bila sampai Kitab Suci dihinakan, bila 'Ulama di caci dan dihina, agar dikalangan
civitas akademika terbentuk pemikiran yang berafiliasi kepada dakwah, pembelaan terhadap Agama dan 'Ulamanya, cenderung
kepada kepentingan-kepentingan ummat, cenderung kepada nilai-nilai kebenaran, mengarah kepada penegakkan ajaran Islam,
dengan metode yang kreatif, inovatif, dan masif, baik dunia nyata maupun
didunia maya, serta di alam pemikiran, karena sebuah tindakan atau tingkah laku
berawal dari alam pemikiran, inilah Era Baru yang akan kita songsong bersama,
dengan semangat membara, semangat memperjuangkan dan membela agama ini,
semangat menyebarkan dakwah, substansi ajaran Islam, Islam yang komprehensif,
Islam yang Universal, Selamat datang di Era Baru Dakwah Kampus! Inilah Era Baru
Dakwah Kampus!
Kamis, 24 November 2016
Karena Bingkai Kita Adalah Media Sosial
By Unknown19.07Dakwah Kampus, Islam For World, Mohamad Khaidir, Tarbiyah Tsaqofiyah, Taujih Thulaby, TausyiahNo comments

dakwatuna.com – Karena bingkai kita adalah media sosial, maka mungkin kita terlalu sering terburu-buru dan ceroboh mengambil keputusan. Tak bijaksana dan tak bijaksini menjadi kebiasaan kita, menganggap hal-hal yang temporal adalah sesuatu yang keren, sehingga bila tak melakukannya maka kita akan menjadi orang yang tak keren, begitu mungkin pandangan kita. Lalu engkau akan mulai merasakan kehampaan pada sesuatu yang engkau senangi, mungkin engkau telah memilih bingkai yang kurang tepat. Ya, mungkin saja engkau sedang memakai bingkai yang kurang tepat. Bingkai tersebut mungkin saja cara berpikir, cara bertindak, landasan dan prinsip hidup, tujuan hidup, dan lain sebagainya. Maka bagaimanakah cara memilih bingkai yang tepat?
Bingkaiku mungkin saja tak seperti bingkaimu, ya, sangat mungkin. Misalnya bingkai cinta, ini tentang cara memandang cinta. Pada umumnya orang-orang menganggap cinta hanya soal kemesraan saja, hanya romantisme yang dijaga terus menerus, sehingga sudah menikah ataupun belum menikah, boleh-boleh saja untuk bermesraan. Mungkin banyak yang memilih bingkai cinta yang seperti ini, bingkai yang sebagian besar orang cenderung kepada bingkai cinta model seperti ini. Padahal boleh jadi bingkai cinta semacam ini adalah salah dan tersesat dalam memaknai arti cinta yang sesungguhnya. Akad adalah deklarasi cinta yang amat sangat kokoh, karena Allah yang menjadi Saksi.
Akad juga adalah sebuah pembuktian cinta, karena berani mencintai maka berani bertanggungjawab, Berani mencintai maka berani melayani, Berani mencintai maka berani memimpin, Berani mencintai maka berani berjuang, berjuang untuk membuktikan cinta, berjuang untuk seseorang yang pantas diperjuangkan karena ia juga turut berjuang, berjuang dengan jiwa, raga, dan harta, berjuang untuk mengumpulkan uang panaik bagi suku Bugis, berjuang untuk memenuhi takaran Mayam bagi Orang Aceh. Jangan kau rendahkan cinta dengan tak mau berjuang, jangan kau rendahkan cinta dengan menikmati sesuatu yang belum diperbolehkan secara agama maupun secara legal formal, jangan au rendahkan cinta dengan takut sebelum berjuang, sebab yang pantas engkau takuti hanyalah Allah. Namun yang terjadi, justru Cinta hanya di anggap romantisme belaka, cinta di terjemahkan sebagai pemuasan syahwat saja, akhirnya cinta pun terdefinisi secara parsial. Memang benar cinta itu tentang romantisme, memang benar cinta itu tentang pemuasan syahwat, tetapi jangan lupa, cinta tidak sesederhana itu, cinta pada laki-laki pada umumnya mengarah kepada hubungan seks, sedangkan cinta pada perempuan berbentuk psikis, maka berhati-hatilah memilih bingkai cintamu.
Bingkai inilah yang kemudian menjadi patron hidup kita, maka sebaiknya engkau lebih cermat lagi memilih bingkai. Ada pula bingkai akal, sebuah cara pandang akal atas segala sesuatu yang terjadi. Jangan sampai pikiran-pikiran liarmu kau jadikan bingkai berpikir, jangan sampai prasangka burukmu kau jadikan landasan berpikir dan bertindakmu. Bingkai akal adalah soal keilmuan, soal keilmiahan. Metode keilmiahan yang masih sangat orisinil contohnya adalah metode periwayatan Hadits, yang lemah ingatan pun bisa jadi di ragukan sebagai perawi Hadits. Maka seharusnya sosial media tak menjadi bingkai berpikir kita, maka seharusnya kata-kata mutiara yang berseliweran di facebook, instagram, ataupun akun twitter kita tak menjadi landasan berpikir kita tanpa di teliti dan di pelajari dulu kevalidannya. Engkau harus banyak membaca, banyak menelaah, bahkan bila perlu engkau butuh mentor dalam proses belajar, sebab belajar bukan hanya dari buku dan literatur tetapi juga butuh guru yang mengajarkan pengalaman serta metode yang benar. Lalu bagaimanakah bingkai akalmu? Masihkah belajar ilmu agama dari facebook yang belum di pastikan kevalidan sumbernya? Masihkah belajar dari kata-kata mutiara di instagram yang engkaupun belum pernah melihat sumber kitab aslinya? Masihkah segan, malu, dan takut bertanya? Takut untuk berubah? Padahal menuntut ilmu agama adalah kewajiban setiap muslim, dan mempelajarinya perlu mentor, perlu bertanya pada para ‘Ulama.
Karena mungkin bingkai kita hanyalah sosial media, sehingga bingkai perjuangan kita pun hanya seperti itu. Sungguh memprihatinkan, berjuang hanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan perut saja, atau dalam hal ini sering disebut materialisme. Ini bukan soal penilaian hitam dan putih atau benar dan salah, ini sangat kompleks, tetapi yang lebih penting dari bingkai perjuangan adalah tetap berjuang. Memilih tempat untuk perjuangan, memilih gerakan untuk berjuang bersama, juga merupakan proses pencarian jati diri, tetapi yang paling penting menurut penulis pribadi adalah bagaimana perjuangan ini tetap membawa Risalah Islam dan berafiliasi kepada kepentingan Umat Islam dalam gerakan perjuangannya. Karena bila perjuangan hanya ingin mencapai kesejahteraan masyarakat saja, hanya ingin mewujudkan stabilitas ekonomi saja, maka apa bedanya kita dengan bangsa-bangsa Barat yang sekarang sedang meluncur secara perlahan menuju keruntuhan peradaban, karena kita juga harus memahami bahwa kejayaan dan kehancuran itu dipergilirkan. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah mereka yang tak berjuang, karena tak memiliki bingkai, hanya mengkritik, tanpa memberi solusi yang konkret, tak juga memberikan kontribusi kecuali komentar-komentar sinis nan tajam.
Karena tak memiliki bingkai maka sosial media yang menjadi bingkainya, karena bingkaimu adalah media sosial. Ibarat sapi yang datang masuk ke sebuah ladang untuk memakan rumput, maka mereka yang memiliki bingkai yang jelas akan turut berkontribusi, memberikan solusi bagaimana tindakan agar sapi tersebut selamat dan ladang juga selamat, win-win solution. Beda dengan mereka yang tak memiliki bingkai, mungkin saja mereka akan membiarkan sapi melahap rumput yang berada di ladang sehingga kerusakan yang terjadi, diam tak berarti. Malah mungkin mereka yang tak memiliki bingkai ini, atau sebut saja mereka punya bingkai media sosial ini hanya asyik meng-upload foto atau kejadiannya, lalu sibuk berkomentar sinis tanpa kerja nyata.
Karena bingkaimu adalah media sosial, maka setidaknya engkau harus mulai berubah dan segera memilih bingkai yang tepat, yang moderat, yang relevan dengan kondisi keindonesiaan, kondisi kekinian dan kedisinian. Karena bingkai cintamu adalah media sosial maka tak ada gairah bagimu untuk memperjuangkan cinta yang sesungguhnya, cenderung memikirkan yang enak-enaknya saja tanpa mau memperjuangkan cinta sejati, cinta seutuhnya, karena anugerah cinta dari Sang Maha Cinta adalah pelaminan dan keluarga sakinah. Karena bingkai akalmu adalah media sosial maka engkau tak pernah membuka literatur asli, hanya mengandalkan media sosial saja sebagai tempat mencari ilmu, menuntut ilmu pengetahuan, tanpa berusaha mencari tahu kevalidannya, seharusnya dengan sarana dan prasarana media sosial yang semakin berkembang ini mampu engkau manfaatkan belajar secara cerdas dan tetap menghidupkan kultur keilmuan dan keilmiahan. Karena bingkai perjuanganmu juga adalah media sosial maka izinkan penulis pribadi untuk mengajakmu melihat realitas kekinian bahwa sekarang adalah waktunya untuk melepas segala kemalasan dan keapatisan menuju semangat juang yang tinggi, semangat juang untuk bangsamu, untuk agamamu, dan untuk dirimu sendiri.
Karena bingkaimu adalah media sosial maka waktunya untuk berubah! Memasuki gelombang ketiga Indonesia menghadirkan karakteristik masyarakat yang berbeda, masyarakat yang sangat paham dengan perkembangan informasi dan teknologi, maka butuh model kepemimpinan yang juga berbeda, mampu memoderasi seluruh umat, mampu memoderasi semua kalangan, mampu memoderasi semua golongan. Ini bukan soal penyatuan gerakan, penyatuan visi, penyatuan pikiran, karena itu suatu hal yang mustahil. Kunci dari memoderasi keseluruhan model masyarakat adalah dengan saling bersinergi. Karena bingkaimu adalah media sosial maka waktunya memberdayakan kalangan muda untuk perubahan, untuk masa depan yang lebih cerah. Teruntuk para pemuda calon pemimpin masa depan, untuk para pemuda pelopor perubahan, waktunya meningkatkan kapasitas dan kompetensi, jangan sampai era keterbukaan ini membuat para pemuda Indonesia kalah bersaing dengan pemuda luar negeri yang masuk untuk berkarir dan berkarya di Indonesia. Karena bingkaimu adalah media sosial maka jadilah pemuda yang cerdas secara intelektual, cerdas emosional, cerdas spiritual, dan yang paling penting pemuda yang berjuang, untuk umat ini, untuk bangsa ini, jazirah nusantara tercinta, menjadi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur. (dakwatuna.com/hdn)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/11/24/83775/bingkai-kita-adalah-media-sosial/#ixzz4QzCYn8Uy
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Selasa, 23 Februari 2016
Secangkir White Coffee Dakwah: Belajar Dari PKPU dan AMCF
dakwatuna.com – Langit Subuh di Kota Daeng begitu indah, mungkin tak semua orang sempat menyaksikannya, karena menjadi tantangan besar bagi sebagian besar orang untuk terbangun di subuh hari. Menyaksikan langit subuh yang indah, dengan udara yang masih bersih, adalah satu kenikmatan yang seharusnya senantiasa kita syukuri. Istilah langit subuh ini terbersit ketika sedang membacarecent updates Blackberry Messengers (BBM) salah seorang sahabat baik kami di Kota Palu. Sahabat kami yang pernah menjadi bagian dalam perjalanan mengenal dakwah kampus, ia hanya bisa berkomentar tentang langit subuh, “Sahabat saya dulu itu mengatakannya, tapi dia sekarang sudah pergi jauh..”. Kalimat yang tampaknya sederhana namun menyimpan kerinduan akan kebersamaan dan persaudaraan, persaudaraan yang di ikat oleh Aqidah. Bila ingin berkisah tentang memori dakwah, sungguh tak akan habis untuk di kenang, kaya akan hikmah. Maka pada kesempatan kali ini kami ingin menuliskan memoar dakwah di tahun 2011.
Sekitar empat tahun silam, saat masih aktif menjadi Relawan Kemanusiaan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), tepatnya tahun 2011. Memori yang sangat membekas, ketika orang-orang lain sibuk menyalurkan bantuan logistik, PKPU pun terus bekerja untuk umat dan bangsa ini dengan menerjunkan beberapa relawan kemanusiaan di lokasi bencana banjir bandang. Bukan hanya bantuan logistik tetapi PKPU juga akan mengadakan Trauma Healing bagi anak-anak di sekitar lokasi bencana banjir bandang. Tepatnya di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.
Pengalaman yang cukup menegangkan dan mengasyikkan, mulai dari melewati jalan berliku yang lumayan ekstrem, tepi kanan jalan adalah jurang dan tepi kiri jalan adalah tebing. Beberapa saat sebelum turun di lokasi banjir bandang bersama Relawan Kemanusiaan PKPU, kami juga sudah sempat menuju lokasi bencana sebelumnya bersama rekan-rekan Mahasiswa dari Lembaga Dakwah Fakultas Mahasiswa Pencinta Mushalla (MPM) Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako. Membawa bantuan yang di himpun dari civitas akademika di Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, menyentil sisi kemanusiaan para mahasiswa dan dosen juga merupakan pengalaman tak terlupakan selama kami beraktivitas di lembaga ini meskipun dari sisi jumlah mungkin tidak begitu banyak , namun yang paling penting dari semua itu adalah tentang kepedulian para kaum intelektual terhadap lingkungan sekitarnya. Sebab kepedulian sosial juga adalah bagian dari substansi ajaran Islam.
Banjir bandang yang tak disangka-sangka membelah jalanan dan perumahan warga di Kecamatan Kulawi, dampak yang sangat hebat sampai-sampai kulit pohon terkelupas. Untuk pertama kali kami menyaksikan batu sebesar rumah ada di lokasi tersebut. Air yang deras membelah perumahan warga, jalan trans Sulawesi, dan lingkungan sekitarnya. Sekalipun korbannya tidak memiliki kesamaan agama pun menurut kami harus kemudian dibantu semampunya. Begitulah Islam mengajarkan kepada kami, relawan kemanusiaan PKPU pun tiba di lokasi sekitar jam 9 malam, membawa para relawan kampus, alumni, dan trainer untuk trauma healing esok hari. Bersama-sama anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2009-2014 Daerah Pemilihan Kabupaten Sigi, Ibu Sakinah Al-Jufri, S.Ag.briefing persiapan trauma healing di mulai tak begitu lama setelah kami tiba di lokasi. Di rumah salah seorang penduduk desa, berbagai macam alat dan bahan untuk trauma healing dipersiapkan malam itu juga. Konsep trauma healing untuk anak-anak yang berada di lokasi bencana pun sudah di persiapkan dengan matang, termasuk kesiapan peserta yang terlebih dahulu sudah berkomunikasi dengan pemerintah setempat. Kami yang masih pemula sebagai relawan kemanusiaan pun di tunjuk sebagai instruktur yang harus mengondisikan diri bergembira dan tersenyum ceria ketika bertemu anak-anak nanti.
Trauma healing pun di mulai keesokan harinya dan tak disangka-sangka jalan menuju lokasi trauma healing cukup menantang, membelah lembah hutan dan kaki gunung, menyusuri jalan setapak, sampai melintasi sungai nan jernih, pemandangan dan pengalaman yang sungguh tak terlupakan karena tak pernah sekalipun bisa di rasakan ketika hidup di belantara beton perkotaan. Anak-anak dan masyarakat setempat sangat antusias dengan kedatangan relawan kemanusiaan PKPU di lokasi. Sang instruktur trauma healing, kanda Nuralam begitu ceria membawakan setiap sesi dari acara tersebut, kami para asisten instruktur pun tak jarang tergelak tawa dengan gaya beliau membawakan dan mengarahkan acara. Acara terbilang cukup sukses melihat antusiasme masyarakat setempat dan kegembiraan yang sudah di bawa jauh-jauh dari Kota Palu oleh kakak-kakak instruktur dari relawan kemanusiaan PKPU.
Kebahagiaan yang kami bawa tersebut semoga menjadi suatu hal yang berkesan dan semoga menjadi pemberat timbangan amal di akhirat kelak, sebab ketika setiap tindak-tanduk yang kita lakukan di dunia ini kita sandarkan hanya kepada Allah SWT maka sungguh engkau tak akan pernah merugi. Begitulah transaksi orang-orang beriman kepada Allah SWT. Untuk daerah-daerah terpencil yang penduduknya dominan non-muslim pun perlu menjadi prioritas dakwah oleh para pegiat dakwah ilallah. Menyeru akan kebaikan berpedoman Al-Quran dan Sunnah sungguh adalah perkerjaan yang sangat teramat mulia. Bagaimana tidak mulia bila bentuk empati terbesar manusia kepada sesama manusia adalah menyelamatkan mereka dari jilatan api neraka. Kami pun kagum dengan Yayasan yang mengonsentrasikan kegiatan dakwahnya pada pendidikan, anak yatim, dan dakwah secara umum. Yayasan ini bernama Asia Muslim Charity Foundation (AMCF). Menyebar dai-dainya di berbagai pelosok di Indonesia untuk memperkenalkan Islam dan mengajak orang-orang untuk masuk dan memeluknya. Sampai pada daerah yang tak terjangkau sinyal handphone pun para dai AMCF tetap berdakwah, sampai pada daerah yang tak begitu mengenal bahasa Indonesia pun para dai AMCF tetap menyebarkan cahaya Allah dengan berdakwah.
Tentu bukan hanya eksistensi PKPU dan AMCF saja yang dibutuhkan untuk menyebarkan cahaya Allah di seluruh penjuru Indonesia bahkan penjuru dunia, tetapi berbagai elemen umat yang masih berserakan dan belum tertata rapi pun dibutuhkan kontribusinya untuk kemajuan umat ini. Dan tentu saja kami menyadari bahwa potensi-potensi yang begitu besar untuk mengubah tataran peradaban dunia menjadi lebih baik masih ada, potensi-potensi umat ini masih tertidur lelap dan masih menunggu untuk di bangunkan agar sadar dan siap menghadapi realitas umat manusia. Potensi-potensi tersebut sangat besar dan potensial sehingga perlu di tata dengan rapi agar kebangkitan umat manusia yang hakiki akan semakin dekat masanya, di mana manusia hanya berhukum dengan hukum Allah SWT semata.
Secangkir white coffee di siang hari tadi mungkin menjadi pemicu hingga ide dan hikmah yang sangat sederhana ini menjadi tulisan yang utuh. Sungguh kami yang menuliskan ide ini masih harus banyak belajar dalam hal dunia kepenulisan, masih harus banyak belajar pada Lembaga seperti PKPU dan Yayasan seperti AMCF, yang tak berhenti bekerja dan beramal untuk umat ini, untuk bangsa ini. Mungkin ini yang bisa kami persembahkan, berbagi ide, berbagi inspirasi melalui tulisan tak elok kami. Namun kami meyakini bahwa setiap upaya untuk perbaikan umat ini apapun bentuknya tentu sedikit atau banyak efeknya setidaknya bisa membantu. Diibaratkan bila setiap individu yang berdakwah adalah batu bata peradaban, maka tunggulah bangunan indah itu akan tegak kelak, insya Allah. Sambil menunggu mari kuajak engkau menikmati secangkir white coffee, lalu ikut bekerja untuk umat ini, untuk bangsa ini, belajar dari PKPU dan AMCF. (dakwatuna.com/hdn)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/02/23/79228/secangkir-white-coffee-dakwah-belajar-dari-pkpu-dan-amcf/#ixzz412p99ZRL
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Minggu, 24 Mei 2015
Inilah Jalan Dakwah, Pantaskah Engkau?
Ma'had Al-Birr, Jum'at 15 Mei 2015
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/05/25/69141/inilah-jalan-dakwah-pantaskah-engkau/#ixzz3b86NJSvG
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Oleh : Mohamad Khaidir
dakwatuna.com – Langit masih saja biru, tak perlu mengeluh dengan cerahnya hari dan teriknya mentari, maka sebaiknya mensyukuri hari yang yang masih berjalan, bersyukur atas kemampuan menjalani hari. Saat langit mendung pun seharusnya tak perlu mengobral peluh, peluh tentang mendungnya hari, dengan sombong dan sok tahu menganggap bahwa setiap mendung akan membawa hujan, hujan pun tak masalah bukan? Sebab sang hujan adalah rahmat dari Yang Maha Rahman. Ya, dengan syukur maka engkau akan menjadi mulia, mulia dalam menjalani setiap jejak dan retas perjalanan hidup, bagaimanapun kondisinya, serumit apapun fenomenanya.
Membaca setiap fenomena sangatlah penting, menyadari bahwa setiap peristiwa mempunyai maksud dan hikmah juga tak kalah penting. Apatah lagi setiap momentum yang berdatangan bagai arus air yang selalu mengalir dan melewati batu kehidupan. Dari setiap fenomena, peristiwa, dan momentum butuh perenungan yang mendalam. Sebagaimana definisi peristiwa, fenomena, dan momentum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peristiwa adalah kejadian atau yang benar-benar terjadi, fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, sedangkan momentum adalah saat yang tepat. Ya, dengan perenungan yang mendalam, tetapi bukan dengan renungan sembarang renungan. Dari setiap perenungan ini pun harus berdasarkan ilmu, bahkan alangkah baiknya bila bisa sharing dengan orang-orang yang berpengalaman. Apatah lagi berbicara mengenai jalan dakwah, jalan yang penuh dengan kemuliaan dan memiliki pandangan yang sangat jelas. Jangan sampai ego membuat jalan pikiran menafsirkan sendiri tentang jalan dakwah, sebab jalan ini adalah jalan yang telah ditempuh para Nabi dan para Rasul.
Jalan dakwah yang sesungguhnya adalah jalan yang akan menyatukan kaum Muslimin. Jalan dakwah, bukan jalan yang akan membuat kaum muslimin terpecah belah, membuat kaum muslimin tercerai-berai. Namun banyak orang yang belum mengetahui tentang keberadaan jalan ini, bahkan sebagian kecil dari para aktivis merasa sudah berada di jalan dakwah. Padahal nyatanya tidak. Sebagian kecil aktivis ini mengambil posisi yang kata mereka berada di pihak yang independen. Independen yang mereka maksud juga tak bisa mereka definisikan secara tuntas. Apakah independen dalam hal politik? Sungguh dangkal mereka yang membatasi dakwah dengan kata independen dan menganggap tabu bila dakwah sudah masuk ke ranah politik. Bukankah Islam itu agama yang universal? Bukankah Islam juga mengatur perpolitikkan, tata Negara, dan pemerintahan? Mereka yang sebagian kecil ini dengan sikapnya yang juga tak jelas sedang mengebiri nilai-nilai Islam yang universal dan mengatur segala aspek hidup.
Jalan dakwah bukanlah seperti itu, karena jalan ini sudah jelas apa yang menjadi tujuan dan orientasinya. Ada pula sebagian kecil aktivis yang merasa sudah berada di jalan dakwah ketika sudah berkiprah di sebuah lembaga dakwah. Merasa bahwa tujuan dari lembaga dakwah itulah tujuan dakwah seutuhnya. Sehingga mereka yang sebagian kecil ini memberikan loyalitas bukan pada tempat yang seharusnya. Belum memahami yang mana tsawabit dan mutaghayyirat. Ketika status sudah menjadi alumni lembaga dakwah, merasa bingung dan cemas karena tak ada aktivitas dakwah lagi yang bisa dikerjakan. Ketika sudah menjadi alumni, bisanya hanya nongkrong melulu di kegiatan-kegiatan lembaga dakwah yang pernah ia berkiprah di dalamnya. Untuk sesekali saja dengan maksud mengarahkan itu tak jadi soal. Yang jadi persoalan adalah ketika segmen dakwah berubah dan tahapan dakwah sudah beralih ke fase berikutnya, sebagian kecil aktivis ini hanya berada di situ-situ saja. Bahkan keberadaan mereka terkesan membuat segan para aktivis-aktivis baru yang baru bergabung dalam barisan lembaga dakwah. Sudah bertahun-tahun ikut tarbiyah tetapi pemahaman dakwah hanya berkisar di seputaran lembaga dakwah saja. Sudah bertahun-tahun halaqah belum juga tersadar untuk segera berhijab secara syar’i. Sudah bertahun-tahun menjalani aktivitas di lembaga dakwah, mengisi kelompok mentoring, menjadi dewan pertimbangan organisasi, menjadi badan pertimbangan organisasi, menjadi majelis syura’ organisasi, tetapi belum juga menyadari grand design dakwah ini yang sejatinya sedang dalam proses menuju tatanan peradaban. Sudah bertahun-tahun menjalani tarbiyah tetapi masih sulit diberdayakan untuk kerja-kerja dakwah yang sudah sampai di medan amal, di lingkungan masyarakat, di lingkup umat, di tataran politik, ekonomi, dan sosial. Masih saja memahami dakwah tidak secara komprehensif, bahwa dakwah ini masih sangat panjang perjalanannya, masih amat sangat besar gelora dan semangat perbaikan umat, dimulai dari individu, keluarga, masyarakat, lalu negara. Dan untuk mengantar sampai pada tujuan dakwah yang begitu jelas ini, sejelas mentari bersinar dan sejelas langit di siang hari, hanya melalui satu jalan, yaitu jalan dakwah.
Maka, pantaskah bagi kita semua untuk mengambil jalan lain selain jalan dakwah? Bukankah dalam setiap Al-Fatihah yang kita lantunkan kita senantiasa memohon untuk dituntun ke jalan Allah? Jalan yang orang-orang Allah berikan nikmat? Bukan jalan mereka yang Allah murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat? Tidak sadarkah engkau bahwa sampai saat ini jalan yang dimaksud adalah jalan dakwah?
Maka pantaskah Engkau yang ingin bersama-sama bergerak dan melangkah di jalan dakwah untuk mengambil ideologi selain Islam? Apakah kerumitan ilmu sains menjadikan engkau orang yang realistis dan cenderung tidak menyandarkan dirimu pada Allah, melainkan pada pembuktian-pembuktian ilmu pengetahuan? Tidakkah engkau sadar bahwa engkau cenderung sedang menuhankan akal dan logika? Maka tunggulah murka Allah menghampirimu di akhirat kelak, bahkan sedikit dari murka-Nya akan engkau rasakan di dunia.
Maka pantaskah engkau yang tersadar dan ingin segera bergabung di jalan dakwah untuk terperangkap pada slogan-slogan dan jargon-jargon yang bersifat temporer? Atau kata-kata indah yang mewujud dalam visi-misi yang bersifat parsial, hanya untuk institusi, hanya untuk lembaga, hanya untuk daerah, hanya untuk bangsa, hanya untuk Negara? Sungguh dangkal pemahamanmu yang menganggap dakwah hanya bicara soal tazkiyatun nafs, sungguh congkak wajah dan dagumu yang menganggap dakwah tidak akan membahas peradaban masyarakat, peradaban umat, peradaban dunia seluruhnya. Dakwah ini sangat luas, seluas-luasnya alam semesta, sebagaimana karakteristik Islam yang rahmatan lil’alamiin, bahkan bila bumi ada tujuh buah, dakwah pun akan menyinari ketujuh bumi tersebut, sebab Allah akan terus menyempurnakan cahaya-Nya meskipun musuh-musuh Allah tidak menyukainya.
Maka pantaskah engkau yang sebentar lagi akan bergabung dan menisbatkan diri di jalan dakwah untuk untuk malas bergerak dan susah diberdayakan? Pantaskah bagi dirimu untuk memilah-milih amanah dakwah? Atau mungkin merasa pekerjaanmu lebih penting dari dakwah. Apakah perkerjaanmu yang akan mampu menjadi jawaban ketika kelak ada pertanyaan tentang kontribusi bagi islam, dakwah dan umat ini? Jawabannya Tidak! Sekali-kali tidak!! Dan nampaknya engkau harus segera mengubah orientasimu, sebab para Sahabat radhiyallahu’anhuma juga berdakwah, pada saat yang sama mereka juga bekerja. Bahkan hasil dari keringat dan pekerjaan mereka sebagian besar diberikan untuk perjuangan dakwah ini. Sudahkah engkau ketahui bahwa sumur yang dibeli oleh Sayyidina ‘Utsman Bin Affan radhiyallahu’anhu dari orang Yahudi, diperuntukkan untuk Kaum Muslimin, sampai saat ini asset tersebut masih dikelola oleh Pemerintah Saudi Arabia untuk kesejahteraan Umat? Maka semua harta dan keringat hasil pekerjaanmu hanyalah debu di atas debu bila hanya habis untuk keperluan-keperluan pribadimu. Namun harta dan jiwamu akan menjadi mulia ketika keduanya diinfaqkan di jalan dakwah. Transaksi mana lagi yang lebih menguntungkan? Betapa tidak Allah membeli harta dan jiwa orang-orang beriman.
Maka pantaskah engkau yang sudah berada di jalan dakwah namun belum begitu memahami esensi dakwah jamaah, memilih untuk tidak taat dan patuh pada murabbi dan naqib? Lalu engkau merasa sedang berada bersama di jalan dakwah? Merasa sedang berjamaah? Padahal kegiatan sehari-harimu tak kau sharing kan kepada teman-teman halaqahmu, persoalan, masalah, dan kegembiraan tak diketahui oleh sahabat-sahabat seperjuanganmu dalam dakwah. Yang lebih parah lagi engkau memilih pasangan hidup tidak sesuai koridor jamaah dakwah, tidak berkoordinasi dengan murabbi atau naqib.
Inilah Jalan Dakwah, ini baru permulaannya, ini masih kulitnya, untuk memahami intinya maka dituntut keseriusanmu, totalitasmu, serta loyalitasmu, untuk bergerak bersama jamaah dakwah, untuk bersama-sama tidak terjebak dalam isu-isu temporer, kedaerahan, isu-isu parsial yang dapat dipastikan tidak akan mampu menyelesaikan persoalan peradaban. Maka dituntut pengabdianmu untuk bergerak bersama jamaah, sesuai koridor jamaah, sebab jalan dakwah adalah dengan berjamaah. Inilah jalan dakwah, jalan yang begitu mulia, yang dilalui para Nabi dan Rasul yang Mulia, tugas yang begitu mulia. Tangisi dan tertawakan dirimu yang masih menganggap dakwah ini sederhana. Inilah Jalan Dakwah, maka pantaskah engkau? (dakwatuna/hdn)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/05/25/69141/inilah-jalan-dakwah-pantaskah-engkau/#ixzz3b86NJSvG
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Senin, 16 Maret 2015
The Power of Mentoring
By Unknown05.13Dakwah Kampus, Islam For World, Mohamad Khaidir, Tarbiyah Tsaqofiyah, Taujih ThulabyNo comments
dakwatuna.com - Mengamati dan menganalisis kejadian
sekitar menjadi ciri khas kaum intelektual, apalagi bila turut
memberikan solusi dalam berbagai permasalahan sosial. Dalam beberapa
kesempatan, sebagian besar dari kita sering jenuh oleh beberapa
pekerjaan yang menjadi rutinitas kita. Ingin rasanya menjadi iri kepada
mereka yang selalu menjaga, menjaga kehidupannya agar berjalan sesuai
kodratnya, menjaga stabilitas hidupnya dengan mengikuti arahan-arahan
Rabbani. Arahan-arahan yang berasal langsung dari Tuhannya,
arahan-arahan yang tidak terdapat penambahan pendapat-pendapat dari
manusia. Arahan yang terjaga kesuciannya dan kevalidannya, tak akan
mudah untuk dirubah sesuka hati karena arahan-arahan tersebut telah
menjadi kitab suci Umat Islam, yaitu Alquran.
Mereka yang menjaga
diri dari kemaksiatan, betapa berbahagianya mereka karena penjagaan
terhadap dirinya. Dalam bergaul dengan sesama mereka memiliki
batas-batas sesuai apa yang disyariatkan oleh agamanya. Berinteraksi
dengan ayah ibunya, kakaknya, adiknya, keluarganya, sahabat-sahabatnya.
Selalu menjaga pandangan ketika bergaul dengan lawan jenis, selalu
menjaga ucapan, baik ucapan secara lisan maupun tulisan, baik di dunia
nyata maupun di dunia maya. Mereka selalu menunjukkan sikap terbaiknya,
mencerminkan akhlak yang baik sebagaimana yang dicontohkan oleh para
Nabi dan Rasul.
Tingkah laku mereka nyaris sempurna, meskipun
terkadang mereka juga harus berhadapan dengan berbagai dinamika
kehidupan dan ketetapan Allah. Sebagai manusia biasa, terkadang mereka
juga berbuat dosa, namun dari dosa yang telah dilakukan memberikan
pelajaran yang berharga bagi mereka untuk terus memperbaiki diri dan
memperbaharui niat.
Tubuh mereka kuat, rajin berolahraga, tidak
mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat merusak tubuh. Mereka
menyadari bahwa pekerjaan dan usaha dalam berdakwah bukanlah sesuatu hal
yang ringan. Dakwah merupakan tanggung jawab dan tugas mereka,
menyadari dakwah tidaklah ringan dan hendaknya dakwah dilakukan dengan
totalitas, mereka senantiasa menjaga kesehatan badan mereka sehingga
terwujudlah cinta yang hakiki sebagaimana sabda Baginda Nabi bahwa
Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah SWT.
Akhlak mereka tercermin
dari perilaku mereka yang senantiasa berpedoman pada Alquran dan
Sunnah-sunnah Nabi. Mereka selalu berusaha untuk menjaga akhlak mereka
agar senantiasa mulia serta dari akhlak mereka ini mereka mampu untuk
menginspirasi orang-orang di sekitarnya, agar senantiasa memperbaiki
diri. Mungkin sering kita mendengar istilah ‘pacaran’ yang banyak
digandrungi oleh anak-anak muda sekarang. Hanya saja, mereka tidak
ikut-ikutan untuk ‘pacaran’ sebab mereka memahami dan menilai suatu hal
berdasarkan manfaat dan kerugiannya. Tentu saja mereka mengetahui bahwa
pacaran lebih besar keburukan dan kerugian yang dihasilkan dibanding
manfaat yang didapatkan. Pacaran yang banyak digemari generasi muda
zaman sekarang tentu saja memberi dampak buruk bagi generasi bangsa ini.
Dan mereka juga telah mengetahui bahwa pacaran juga tidak diperbolehkan
dalam ajaran Islam.
Mereka ini juga bukan anak muda yang patut
dianggap remeh pengetahuannya tentang Islam, mereka selalu mempelajari
agama dengan bersumberkan Alquran dan Al-Hadits. Selain itu, mereka juga
menjadi ahli dalam bidang yang mereka geluti meskipun memang saat ini
mereka masih dalam tahap belajar dan terus berproses. Dari sisi
finansial juga mereka bukan anak muda yang bias dianggap remeh, mereka
juga tetap berusaha menghidupi dan membiayai dirinya sendiri meskipun
dengan langkah yang tertatih-tatih serta penuh perjuangan. Hidup mereka
sederhana dan tidak bermewah-mewah dan selalu berusaha menjauhi riba.
Mereka juga memiliki aqidah yang lurus, dalam setiap kesempatan mereka
terus berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menjaga
kebersihan hati, bertaubat, istighfar, menjauhi dosa dan syubhat, dan
yang paling utama, mereka ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai
Agama, dan Muhammad Nabinya.
Mereka berupaya agar Ibadah yang
mereka kerjakan mempunyai landasan yang telah jelas dan valid, totalitas
dalam ibadah adalah salah satu kunci kesuksesan ibadah, yaitu dengan
menghadirkan hati, pikiran, perasaan, dan seluruh tubuh dalam beribadah,
serta tidak berlebihan dalam beribadah. Mereka juga berusaha melawan
hawa nafsu, karena mereka menyadari bahwa semakin tinggi kadar keimanan
seseorang maka cobaan serta ujian yang diberikan semakin berat pula.
Mereka sangat menghargai setiap waktu yang berjalan, dan tidak
mengisinya dengan hal-hal yang bersifat sia-sia. Waktu adalah sesuatu
yang tak dapat dimundurkan walau sesaat, meskipun dibeberapa cerita
fiksi yang sudah mewujud menjadi film layar lebar banyak berceritera
tentang keberadaan mesin waktu. Karena waktu yang tak bisa dimundurkan
walau hanya sesaat, maka dalam setiap urusan dan aktifitas keseharian
mereka teratur dan rapi. Dan mereka selalu berusaha agar hidupnya dapat
bermanfaat bagi orang lain, apalagi bila lifestyle yang mereka jalani mampu menginspirasi, memotivasi, dan membakar semangat orang-orang disekitar kehidupan mereka.
Terlihat
sangat ideal bukan? Tetapi tahukah kita semua bahwa beberapa hal yang
penulis uraikan di atas adalah sepuluh (10) muwasafat tarbiyah yang
hendak dicapai oleh orang-orang yang mengikuti tarbiyah, terkhusus bagi
para aktifis kampus tarbiyah yang dimaksud adalah mentoring.
Capaian-capaian yang kita semua optimis untuk mencapainya meski tertatih
kaki ini melangkah. Mungkin ada bisikan-bisikan muncul yang berasal
dari sisi kiri dan kanan kita berbisik tentang mustahilnya mencapai
sepuluh muwasafat tarbiyah tersebut. Tetapi, bukankah sebagian besar
dari umat manusia adalah seorang pembelajar cepat (quick learning). Seideal apapun capaiannya selalu ada ruang didalam hati dan pikiran rasa optimisme bersemayam.
Bagi para aktifis kampus, baik aktifis kampus kini dan nanti, semuanya bermula dari mentoring, penulis sendiri lebih senang menyebutnya dengan sebutan the power of mentoring.
Ada yang tetap konsisten mengikutinya setiap pecan dan ada pula yang
hadir hanya sesekali bahkan tidak sedikit yang kita dapatkan dalam
berjalannya proses mentoring ada yang tak pernah lagi terdengar
kabarnya. Dan kita juga mengetahui bersama bahwa kualitas para
mahasiswa yang terbina lewat proses mentoring sangat unggul. Boleh jadi mereka-mereka yang sampai sekarang menjalani proses mentoring dan
insya Allah sampai seterusnya, ketika diberi amanah-amanah kepanitiaan,
kegiatan, jabatan dan posisi strategis di lembaga kemahasiswaan akan
mereka ambil jabatan dan posisi tersebut dengan keyakinan yang mantap.
Karena orang-orang yang berkualitas adalah orang yang mau terus belajar
dan menjalani proses.
The power of mentoring, mampu mengantarkan orang-orang yang masih konsisten mengikuti proses mentoring tersebut menuju kebahagiaan yang hakiki. The power of mentoring bukan
sekedar berbicara tentang kemenangan dakwah kampus semata, tetapi
bagaimana caranya kemenangan dakwah tersebut mewujud nyata dalam
diri-diri mereka. Mereka yang senantiasa berupaya mendekatkan diri
kepada Allah SWT dengan segala kelemahan mereka sebagai manusia biasa.
Beda dengan serial power ranger yang sebenarnya tidak merefleksikan nilai-nilai kepahlawanan dengan sempurna, the power of mentoring hadir
sebagai solusi dari para pejuang dakwah kampus. Solusi yang dapat
diibaratkan sebagai oase di tengah-tengah gurun yang tandus. Oase bagi
mereka yang sedang kehausan akan ilmu-ilmu agama, teladan dalam
perilaku, kata-kata motivasi. Oase bagi mereka yang tengah dilanda
dahaga, dahaga akan ilmu-ilmu pengembangan diri, penyucian diri, serta
keorganisasian dan manajemen kelembagaan mahasiswa. Jadi, tunggu
apalagi? Yukk..ikut mentoring.
Selasa, 27 Januari 2015
Tarbiyah Madal Hayah, Jangan Berhenti Kawan!
By Unknown05.23Dakwah Kampus, Islam For World, Mohamad Khaidir, Tarbiyah Tsaqofiyah, Taujih Thulaby, TausyiahNo comments
Palu, Diruang tengah, 13 Januari 2015
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.
dakwatuna.com – Gedung yang begitu megah berdiri
didepan jalan utama Kota Palu, pola arsitek gedung tersebut benar-benar
mencerminkan budaya khas daerah Sulawesi Tengah. Desain khas gedung
tersebut menunjukkan bahwa betapa bangsa ini sangat menghargai para
pendahulunya dari sisi kebudayaan dan struktur sosial. Betapa luhurnya
budi pekerti bangsa ini yang menghormati para pendahulu dan mewujud
nyata dalam hal-hal yang bersifat fisik. Desain gedung, baruga, batik
bomba, kayu hitam, yang menjadi ciri khas Sulawesi Tengah. Betapa
besarnya bangsa ini ketika tim sepakbola nasional bangsa ini sedang
bertanding dikancah internasional, para supporter dengan bangga
mengenakan baju merah putih berlambang Burung Garuda lambang Negara
ini. Segala hal yang berkaitan dengan pembangunan sarana prasarana dan
infrastrukstur atau dengan kata lain pembangunan fisik begitu
diprioritaskan. Hal ini terbukti dari sebagian besar Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN) digelontorkan untuk pembangunan fisik, dan
hal-hal yang berkaitan dengan yang tampak di mata kita. Mungkin sebagian
besar dari kita semua lupa dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya,
“Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya, Untuk Indonesia Raya..”.
Gedung
kebanggaan Sulawesi Tengah tersebut, atau sering disebut Gedung Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Tengah (DPRD Sulteng) telah menjadi
pilihan sekelompok mahasiswa yang aktif berlembaga untuk mengadakan
musyawarah. Agenda tahunan inipun tidak penulis sia-siakan untuk
menghadirinya, sebagai bentuk tanggungjawab moril sebagai orang yang
pernah berkecimpung di dalam dunia dakwah kampus meskipun sudah
berstatus sebagai purna atau alumni. Ini sudah yang keenam kalinya
penulis mengikuti agenda musyawarah besar Mahasiswa Pecinta Mushallah
(MPM) Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, pengalaman pertama
mengikuti musyawarah besar penulis pernah diamanahkan sebagai
sekretaris dalam kepanitiaan. Agenda ini juga menjadi ajang silaturrahim
para panitia, anggota, dan seluruh kader dakwah kampus baik yang sudah
alumni maupun yang masih berstatus sebagai mahasiswa. Terus terang saja,
kerinduan untuk menjadi pionir utama dakwah kampus masih ada, dan masih
sangat merindukan kehangatan persaudaraan ketika masih menjadi pengurus
lembaga dakwah. Namun, sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap masa ada orang-orangnya dan setiap orang-orang ada masanya.
Aula
Gedung DPRD Sulteng terdengar begitu gaduh dengan argumen-argumen
cerdas dan retorika yang merupakan ciri khas kaum intelektual. Layaknya
para pejabat Negara, berbagai pendapat dikemukakan dengan memperhatikan
etika dan adab-adab persidangan. Bagaimana tidak, mereka para peserta
sidang adalah orang-orang yang ter-tarbiyah dengan baik. Mereka
para peserta sidang adalah orang-orang intelektual yang memiliki akhlak
yang baik karena memiliki keinginan untuk berubah menjadi pribadi yang
lebih baik melalui kegiatan mentoring yang dijalani setiap
pekannya. Mereka para aktifis dakwah kampus tersebut adalah orang-orang
yang mampu menjadi teladan di antara teman-teman seangkatannya, memiliki
perangai yang baik dalam bersikap, di rumah, di kampus, di manapun
mereka berada. Sebagaimana teladan sejati umat manusia sepanjang masa,
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang mampu menjadi khalifah yang
bijaksana, ayah yang penyayang, sahabat yang baik, panglima perang yang
tegas, pada saat yang bersamaan, di manapun dan kapanpun akan menjadi
teladan terbaik. Mengutip perkataan George Bernard Shaw, “alangkah
butuhnya dunia di era modern ini kepada seorang pribadi seperti
Muhammad, yang dapat memecahkan berbagai persoalan pelik sembari meneguk
secangkir kopi”.
Sidang pleno Lembaga Dakwah Fakultas MPM
Al-Iqra’ masih berlangsung, dan perdebatan semakin hebat ketika memasuki
pembahasan struktur lembaga MPM yang oleh beberapa ikhwah berinisiatif
untuk mengubahnya, tidak lain dan tidak bukan perubahan struktur
tersebut mempunyai maksud yang baik demi kemajuan dakwah kampus kedepan.
Mungkin perdebatan pendapat yang cukup panjang ini, terkait perubahan
struktur, bisa saja meruncing sampai pada konflik. Tetapi hal tersebut
adalah dinamika yang harus disikapi dengan kedewasaan cara berpikir dan
bertindak. Mungkin juga, eratnya persaudaraan sebuah lembaga dakwah yang
mempunyai jargon keep ukhuwah perlu dibumbui dengan konflik
agar semakin dinamis. Ingin rasanya mengutip pemikiran salah seorang
penulis hebat dari Kota Yogyakarta, dalam bukunya “Dalam Dekapan
Ukhuwah”, bahwa salah satu hal yang membuat persaudaraan semakin erat
adalah engkau pernah berkonflik dengan dia.
Perjalanan dakwah
kampus adalah perjalanan yang sangat menginspirasi, seharusnya dan
sepantasnya, orang-orang yang telah memilih jalan ini akan semakin baik
dalam tindak-tanduknya, semakin dewasa cara berpikirnya. Yang menjadi
ironi adalah ketika orang-orang yang telah memilih untuk bergabung dalam
barisan dakwah kampus, kehidupan pasca kampusnya terasa biasa-biasa
saja tanpa perubahan yang berarti, bahkan lebih ironi lagi apabila
terjadi kemunduran dalam kualitas hidupnya. Dengan bangganya berkata,
“dulu saya pernah tarbiyah, lalu berhenti..”, “dulu saya pernah ikut liqa,
lalu nggak lanjut lagi..”. sungguh sangat-sangat ironi terjadi
kemunduran cara berpikir, cara bertindak, semakin kekanak-kanakan
sikapnya, padahal pernah menjadi aktifis dakwah kampus. Lebih parah
lagi, seorang aktifis dakwah kampus yang ketika sudah menjadi alumni
malah semakin jauh dari Allah dan aktifitas dakwah.
Mungkin,
sebagian besar dari aktifis dakwah kampus akan terkaget-kaget dengan
realitas yang ada di masyarakat ketika menyelesaikan masa studinya di
kampus. Betapa berbeda alam idealis dan alam realitas. Mungkin sebagian
besar dari para aktifis dakwah kampus akan sedikit shock dengan
perubahan iklim sosial yang begitu drastis ketika memasuki dunia kerja.
Ada perbedaan secara sosio-kultural yang bisa saja kita pun terpengaruh
dan terjerumus dalam derasnya arus globalisasi dan tak terkendalinya
penyebaran paham sekuler dan liberal, yang bisa saja hal ini membuat
status kita yang dulunya adalah seorang aktifis dakwah malah menjadi
seseorang yang justru antipasti terhadap dakwah.
Melalui tulisan
seorang penulis amatiran yang masih harus banyak belajar ini, penulis
ingin mengingatkan kepada para pembaca dan lebih khusus kepada diri
penulis pribadi, untuk jangan pernah berhenti belajar dan berproses.
Ketika status sosial yang semakin meningkat, perubahan fisik, psikis,
dan ekonomi, membuat kita semua justru semakin jauh dari Allah bahkan
menjadi para penentang dakwah. Tanpa kita sadari dakwah ini menjadi
penyebab semakin berkualitasnya diri kita di hadapan manusia dan di
hadapan Allah SWT. Teruslah berproses dan belajar! Jangan pernah
berhenti! Bisa jadi masa-masa saat menjadi aktifis dakwah kampus tilawah
Quran kita setiap hari, seharusnya kehidupan pasca kampus tilawah Quran
kita semakin menjadi berkualitas dari segi tajwid dan hafalan. Bahkan,
bila perlu tidak hanya dibaca saja, tetapi ditadabburi, dipahami,
diamalkan, dan didakwahkan. Jangan berhenti kawan! Boleh jadi, kita
adalah orang- orang yang rajin mengikuti mentoring saat menjadi mahasiswa, namun pada saat menjadi alumni malah menjadi malas untuk hadir di liqa’.
Seharusnya, kita menyadari bahwa pertemuan pekanan tersebut adalah
kebutuhan diri kita dan untuk kebaikan diri kita sendiri. Jangan pernah
berhenti kawan! Jangan berhenti untuk belajar! Karena tarbiyah mengajari kita begitu banyak hal, termasuk tentang tarbiyah madal hayah, bahwa proses tarbiyah berlangsung sepanjang hidup kita. Jangan berhenti kawan!
Senin, 17 November 2014
Dakwah Kampus itu Sensasi Inspirasi!
Palu, 9 November 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.
dakwatuna.com – Episode dakwah kampus akan terus
berlanjut, dalam narasi perjuangan pemuda-pemudi yang memilih jalan
hidupnya berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Para pemuda-pemudi
yang mungkin saja sengaja memilih jalan yang tak dilalui oleh orang
banyak. Mungkin jalan ini juga tak ditengok para kawula muda perkotaan
yang disibukkan oleh kegiatan mengejar perkembangan zaman yang
diidentikkan dengan lifestyle. Bahkan kawula muda pedesaan pun
menganggap perlu untuk meniru pemikiran kawula muda perkotaan. Namun,
baik kawula muda perkotaan maupun kawula muda pedesaan, di antara mereka
ada pula yang memilih menulis narasi mereka dengan narasi perjuangan.
Sebuah narasi yang kelak akan menjadi tinta emas sejarah, meskipun pada
saat ini belum banyak yang memahaminya. Episode dakwah kampus adalah
serangkaian jalan yang telah dipilih oleh para pemuda-pemudi ini.
Pemuda-pemudi
yang memilih untuk berkontribusi ini, menganggap bahwa saat ini tak ada
waktu lagi untuk mengeluh, meratap, mengutuk kegelapan, mencerca
kondisi tak ideal, dan tak optimis memandang realita. Pemuda-pemudi ini
lebih memilih secara perlahan untuk mengubah lifestyle mereka
yang cenderung sekuler dan materialis. Perlahan tapi pasti, karena
perubahaan itu bertahap, dan perubahan itu adalah sebuah keniscayaan.
Karena perubahan itu adalah keniscayaan, berarti hanya ada dua hal yang
menjadi arah perubahan. Arah perubahan dalam diri manusia hanya ada dua
kemungkinan, berubah menjadi lebih baik atau berubah menjadi semakin
buruk. Life is a choice kawan! Pilihlah perubahan mana yang
pantas untuk engkau pilih lalu engkau tempuh jalannya. Perubahan ke arah
lebih baik, kebanyakan terjadi di usia-usia produktif. Salah satu
faktor penyebab perubahan ini adalah dakwah kampus. Celupan dan sentuhan
dakwah kampus merubah pola pikir para pemuda-pemudi ini, perubahan yang
cukup drastis.
Sungguh beruntung mereka yang telah tersentuh
dakwah kampus, lalu kemudian menjadi pejuang-pejuangnya. Pejuang yang
tak kenal lelah. Meskipun kerja-kerja mereka terkesan monoton, lebih
suka kegiatan-kegiatan seremonial. Mungkin inilah yang perlu dievaluasi
di kalangan aktivis dakwah kampus. Aktivis dakwah kampus yang penulis
amati luar biasa semangatnya untuk perubahan, tetapi substansi dari
dakwah kampus itu sendiri masih sulit untuk dipahami dan dipraktekkan.
Meskipun seperti itu kondisinya, para pejuang-pejuang dakwah kampus ini
tetap mampu menjadi sumber inspirasi.
Dakwah kampus itu sensasi
inspirasi, mampu memberikan sensasi di kalangan akademisi dan civitas
akademika dan pada saat yang sama mampu menjadi sumber inspirasi. Tiga
lini utama dakwah kampus barangkali perlu untuk diketahui dan dipahami
kembali bagi yang sudah mengetahuinya. Lini yang pertama adalah lini
da’wi, lini untuk mencetak kader-kader dakwah kampus yang militan dan
kapasitas ilmu agama yang mumpuni. Lini kedua adalah lini siyasih,
selain menghasilkan kader-kader dakwah kampus yang mumpuni di bidang
agama, kader-kader dakwah kampus tipe siyasih juga dibutuhkan dan perlu
dijaga keberlangsungan regenerasinya. Kader-kader dakwah kampus tipe
siyasih adalah mereka para politikus kampus, para aktivis dakwah yang
memiliki kapasitas untuk mengambil peran di badan eksekutif mahasiswa,
himpunan mahasiswa, dan unit-unit kegiatan mahasiswa lainnya. Lini
ketiga adalah lini ‘ilmi, dimana goals dari lini ini adalah mencetak sebanyak mungkin Dakwah Kampus Permanen (DKP).
Sensasi
inspirasi dakwah kampus tidak sampai di situ saja, karena dakwah kampus
sejatinya adalah dakwah yang bersifat original. Orisinalitas dakwah
kampus tak perlu untuk diperdebatkan lagi, sebab dengan kembali kepada
keaslian dakwah akan semakin memacu dan mengakselerasi menuju tujuan
utama dari dakwah kampus itu sendiri. Dalam buku Menuju Kemenangan
Dakwah Kampus yang ditulis oleh Ahmad Atian, setidaknya ada lima poin
tentang back to originality. Kelima hal itu adalah Islam,
Tarbiyah, Dakwah, Fiqih Dakwah, dan Manhaj Dakwah. Agar pemahaman kita
semua semakin mendalam terkait kelima hal tersebut, penulis menganjurkan
membaca buku Menuju Kemenangan Dakwah Kampus karya Ahmad Atian dan buku
Fiqih Dakwah karya Al-Ustadz Jum’ah Amin Abdul Aziz.
Dakwah
kampus itu memang harus punya sensasi, mengapa harus punya sensasi?
Karena sebagian besar objek dakwahnya adalah orang-orang yang tergolong
usia produktif. Objek dakwah yang seperti ini membutuhkan cara berdakwah
yang tidak biasa, cara yang penuh sensasi namun tetap dibatasi oleh
syariat Islam. Sensasi yang membuat semua mata terpana, sensasi yang
menggali dan menganalisa potensi kader dakwah, tentunya dengan
mempelajari realitas kekinian. Sensasi bisa dalam bentuk prestasi,
kreatifitas, sifat organisatoris, pantang menyerah, bertanggungjawab,
dan menjadi teladan dalam perilaku. Sensasi prestasi hendaknya
diwujudkan dalam kapasitas kader dakwah kampus yang mumpuni dalam bidang
akademik. Minimal indeks prestasi kumulatif yang dimiliki seorang kader
dakwah kampus menginspirasi orang-orang di sekitarnya. Sensasi
kreatifitas dapat diwujudkan dalam kreatifitas. Kader dakwah kampus yang
kreatif, yang tak mudah menyerah, yang kreatif dalam memecahkan setiap
persoalan. Sehingga dengan sensasi tersebut dakwah kampus mampu menjadi leading innovation dan trendsetter bagi lembaga-lembaga kemahasiswaan lainnya.
Dakwah
kampus itu memang harus menjadi sensasi inspirasi, segala sensasi yang
telah diciptakan hendaknya menjadi inspirasi bagi para objek dakwah,
bagi orang-orang banyak. Sensasi inspirasi yang mampu menyentuh hati
para objek dakwah, karena salah satu indikator keberhasilan dakwah
kampus adalah tentang bagaimana menyentuh hati. Mengapa di awal-awal
dakwah Rasulullah SAW, beliau tidak langsung menghancurkan patung-patung
berhala? Rasulullah SAW tidak langsung mengubah kebiasaan-kebiasaan
jahiliyah secara frontal? Karena Beliau sangat memhami bahwa dakwah
adalah persoalan hati. Bagaimana caranya bisa menyentuh hati orang-orang
agar kemudian hidayah yang datang dari Allah dengan diri kita yang
menjadi penyebabnya, menggerakkan orang tersebut karena telah terpatri
dalam hati.
Dakwah kampus itu sensasi inspirasi yang mampu
menyentuh hati. Setelah menyentuh hati, maka muncul pola pikir yang
baru. Karena ketika asal perubahannya dari hati, akan mengubah secara
perlahan pola pikir manusia. Pola pikir yang tidak tercemari oleh paham
kapitalis dan sosialis, cukup mengambil hal-hal baik dan penting dari
kedua paham itu saja. Pola pikir yang telah tershibgah dengan shibgah yang paling baik. Shibgah manakah yang paling baik selain shibgah Allah?
Pola pikir yang benar-benar meyakini dengan seyakin-yakinnya bahwa
sumber dari segala sumber kebenaran adalah Islam. Pola pikir yang
menentang segala macam bentuk nilai-nilai liberalisme yang membuat semua
hal menjadi liberal, menjadi bebas sebebas-bebasnya, tidak lagi
dibatasi oleh nilai-nilai moral dan etika, bebas dari nilai-nilai agama.
Selanjutnya pola pikir para kader dakwah kampus akan mewujud nyata
dalam perilaku sehari-harinya.
Dakwah kampus memang sensasi
inspirasi yang telah menyentuh hati, mengubah pola pikir, lalu terwujud
nyata dalam perilaku. Perilaku yang baik, menjadi teladan, akhlak yang
baik, teladan di atas teladan mahasiswa –mahasiswi yang ada, teladan
dalam perilaku adalah teladan yang optimal untuk merubah. Betapa
bahagianya mereka para kader dakwah kampus dengan segala sensasi
inspirasinya, yang mampu menginspirasi dan mengubah banyak orang. Contoh
konkretnya adalah jilbab syar’i yang menjadi trend di kalangan
perempuan, shalat berjamaah di Masjid yang perlahan menjadi kebiasaan
civitas akademika. Itulah beberapa contoh sensasi inspirasi yang akan
kita rumuskan, kita diskusikan, kemudian kita wujudkan bersama. Ingat,
dakwah kampus adalah juga tentang pewarisan visi dan misi. Pewaris tugas
mulia para Nabi dan Rasul.
Memang, sensasi inspirasi ini terlihat
sangat ideal bila disandingkan dengan realitas kemasyarakatan yang ada.
Tetapi, teruslah bergerak mengejar keidealan tersebut! Kapan lagi ada
peluang untuk menjadi semakin baik kalau bukan sekarang? Sekali lagi
karena perubahan adalah keniscayaan. Apa anda akan betah menjadi orang
yang jauh dari Allah sampai akhir hayat? Waktunya bagi dakwah kampus
untuk menjadi sensasi inspirasi bagi semua umat manusia, dimulai dari
diri sendiri, keluarga, lingkungan kampus, masyarakat, bangsa, dan
negara.















