Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.
Tampilkan postingan dengan label Thulaby Akuntansi 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thulaby Akuntansi 2009. Tampilkan semua postingan
Kamis, 11 September 2014
Jangan Remehkan Masjid Kampus
By Unknown06.36Dakwah Kampus, Islam For World, Mohamad Khaidir, Tarbiyah Tsaqofiyah, Taujih Thulaby, Tausyiah, Thulaby Akuntansi 2009No comments
Palu, Menjelang Dzuhur, 7 September 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.
dakwatuna.com - Langit terasa gelap, begitupun warna
dan auranya, masih juga menggelayuti hati. Beda ketika ia telah
berkomitmen dengan keimanan dan ketakwaannya, hatinya akan terus
bercahaya di kondisi segelap apapun. Maghrib baru saja berlalu, aku gas
motorku dengan perlahan melintasi jalan yang tak kunjung habis, menuju
sebuah rumah di dekat bukit, rumah yang tak asing lagi bagi kami para
aktivis dakwah kampus Universitas Tadulako. Rumah berwarna putih dengan
pekarangan yang sangat luas, ada beberapa pohon mangga tumbuh di
pekarangan itu. Pintu masuk ke rumah sederhana itu terletak di bagian
selatan dengan pintu yang hanya bisa dimasuki motor dan pintu bagian
barat yang besar dan bisa di masuki mobil. Pagar yang menjadi batas
pekarangan pun hanya pagar kayu sederhana yang berwarna putih. Beberapa
kayu sudah tampak lapuk tetapi masih bisa melindungi pekarangan luas dan
rumah sederhana itu dari hewan-hewan ternak yang ingin masuk. Perlahan
kuparkir motor di depan pintu bagian barat, kudorong pelan-pelan pintu
pagar lalu masuk ke dalamnya. Motor yang kupakai hanyalah motor tua
namun memiliki banyak sejarah perjuangan sejak dari masa jenjang Sekolah
Menengah Pertama (SMP). Motor tua yang tahun ini genap berusia kurang
lebih sebelas tahun, dengan segala kisah suka maupun duka. Motor tua
produk Jepang yang sudah kuanggap bagai kuda perang. Dipakai sebagai
kendaraan menjalankan kegiatan-kegiatan organisatoris dan pergerakan
mahasiswa. Mengantar sang pemilik motor untuk mengisi mentoring, mengisi training,
menghadiri undangan, dan menghadiri forum-forum diskusi pemuda. Aku
berjalan melintasi pekarangan lalu mengucapkan salam sesampainya di
teras rumah itu.
Saat itu masih tahun 2012, amanah sebagai ketua
lembaga dakwah kampus masih berada di pundakku. Kulihat sosok Bapak yang
tak lagi muda dan sudah berumur, rambutnya sudah memutih, matanya agak
sayup namun masih mampu menatap tajam lawan bicaranya. Dari jauh telah
tampak aura kebijaksanaan. Bapak DR. Ir. Hamid Nur, MS namanya. Beliau
berprofesi sebagai guru besar dan anggota dewan senat di Fakultas
Pertanian Universitas Tadulako. Beliau juga menjabat sebagai Ketua
Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Universitas Tadulako dan juga salah satu
pembina kami di Lembaga Dakwah Kampus. Beliau duduk di beranda rumahnya
sambil tersenyum ramah kepadaku, mengajakku untuk duduk di sampingnya.
Detik yang beralun-alun tak membuatku gelisah karena aliran
petuah-petuah ini begitu alami. Petuah-petuah khas aktivis pra-reformasi
yang sudah merasakan asam garam dan pahit kecut dinamika kemahasiswaan
di zaman orde baru. Saat di mana kebebasan berekspresi benar-benar
dikekang dengan dalih kesejahteraan bisa terwujud karena ekonomi yang
berdikari. Terlalu tinggi ekspektasi pemerintah di zaman orde baru,
tidak realistis, justru yang terjadi adalah kesenjangan sosial yang
semakin berjarak di tambah lagi kebebasan bisa saja dibungkam dengan
teror ideologi dan teror timah panas.
Petuah-petuah yang
disampaikan oleh orang tua yang sangat kami hormati ini berisi tentang
visi dan misi besar, ada sejuta bahkan tak terhitung jumlah manfaat dari
gagasan ini. Tentang dua hal yang tak bisa dipisahkan seumur hidup,
tentang dua suar cahaya di kampus bumi kaktus yang akan terus
berdampingan mengantar masyarakat intelektual ini menuju puncak
peradaban.
Beberapa saat jantungku langsung berdegup kencang,
darah mengalir semakin cepat, sempat merinding kudengar ide-ide ini.
Begitu banyak ide yang langsung terbersit buru-buru kukumpulkan dan
kuramu dalam satu konsep komprehensif di dalam kepalaku. Saat darahku
semakin banyak terpusat di kepala karena berpikir, menganalisa, dan coba
mengingat setiap untaian kata dari pembina lembaga kami ini. Ide-ide
klasik dan mulai terlupakan oleh sebagian besar aktivis dakwah ini
membuat emosiku mengalir bagai air namun terkontrol, mataku sempat
terbelalak, badanku panas dingin namun bukan gejala demam, adrenalinku
terpacu, tubuhku pun sepertinya gemetaran menahan aliran ide-ide yang
ingin segera diaktualisasikan dalam program kerja dan kerja nyata.
Sesekali kutengok BlackBerry-ku untuk mengecek recent updates dari BlackBerry Messenger. Saat itu aktivis yang punya smartphone masih sangat sedikit, entah harganya terlampau mahal atau masih kurangnya kesadaran dakwah via informasi dan media yang multi ple effect-nya
luar biasa. Nasihat-nasihat dari pembina lembaga kami ini sangat luar
biasa, mengingat beliau juga dulunya adalah seorang aktivis dakwah
kampus juga. Beberapa short message service (SMS) masuk namun
aku tak menghiraukannya. Derasnya aliran gagasan ini membuat kularut di
dalamnya, untuk menganalisa, mengambil hikmah, dan tidak sabar untuk
segera bergerak di lapangan.
Lanjut kisah, karena begitu derasnya
aliran ide emas ini, hatiku dan jiwaku ingin menitikkan air mata, tak
tahu apakah aku berhak gembira, berhak kecewa, atau biasa-biasa saja
mendengarnya. Ternyata aku memang tetap harus menunjukkan ekspresi untuk
menunjukkan antusiasme. Aku tak dapat menyangkalnya, ide inilah yang
kemudian milestone perubahan ketika Rasulullah SAW membangun
contoh peradaban ideal di Kota Madinah Al-Munawarah. Gagasan inilah yang
menjadi kunci kemenangan para panglima-panglima besar Islam ternama di
zamannya sebut saja Khalid bin Walid, Shalahuddin Al-Ayyubi, Sultan
Muhammad Al-Fatih, dan Thariq Bin Ziyad. Para tokoh-tokoh yang tak
pernah memisahkan urusan agama dan negara, urusan Islam dan
pemerintahan, serta menyadari bahwa Dakwah dan Masjid adalah dua sisi
mata uang yang tak bisa dipisahkan juga.
Sejenak, aku kembali mengingat-ingat dan menyegarkan kembali memori daya pikir. Flashback
sejenak pengalaman yang kudapat ketika mengunjungi beberapa Lembaga
Dakwah Kampus yang turut diperhitungkan eksistensinya di tingkat
nasional. Mampu menjadi penggerak unit dakwah lain yang tergabung dalam
Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Lembaga Dakwah Kampus
yang mampu menjadi pusat inspirasi dan motivasi gerakan mahasiswa di
daerah manapun. Sebut saja Lembaga Dakwah Kampus Jamaah Nurul Huda
Universitas Sebelas Maret Solo, Lembaga Dakwah Kampus Keluarga Mahasiswa
Islam Institut Teknologi Bandung, dan Lembaga Dakwah Kampus Salam
Universitas Indonesia. Lembaga Dakwah Kampus yang selalu mengurusi
Dakwah sambil mengurusi Masjid, tidak pernah menabrakkan antara urusan
pembenahan internal strukturnya dan pelayanan terhadap jamaah masjid
kampus, selalu mengutamakan urusan dakwah kampus dan masjid kampus tanpa
memihak.
Dengan sepenuh kejujuran dan kacamata yang bebas dari
segala prasangka, hal ini belum di perhatikan di Lembaga Dakwah Kampus
di Kampus Bumi Kaktus ini. Padahal inilah Jalan menuju Tadulako Madani
yang sering dikoar-koarkan tanpa memahami substansi sebenarnya. Dakwah
Kampus dan Masjid Kampus tidak boleh sama sekali terpisah!! Bila ingin
Kampus madani tak hanya sekedar mimpi, camkan hal ini!! Inilah jalan
menuju kampus madani, menuju tadulako madani. Benahi dan beraksi dengan
segera setelah membaca tulisan ini. Dengan perlahan, memperhitungkan dan
mematangkan proses, step by step, slow but sure,
dengan keyakinan dan azzam yang terpancang sambil menatap ke depan
dengan penuh optimisme. Dari hati yang terdalam, serial menuju tadulako
madani ini akan terus berlanjut, sambil terus mencoba menjadi teladan
akan ucapan, karena perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata yang
terucap maupun tertulis. Sambil terus menantikan dan mencari ghirah
sesungguhnya dari para pejuang dakwah kampus.
Selasa, 09 September 2014
Masih Soal Menuju Kampus Madani
By Unknown09.04Dakwah Kampus, Islam For World, Mohamad Khaidir, Tarbiyah Tsaqofiyah, Taujih Thulaby, Tausyiah, Thulaby Akuntansi 2009No comments
Palu, Ba'da Ashar, Di Ruang Tamu, 4 September 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.
Terkadang ada beberapa alasan yang harus dimaklumi, tetapi pada dasarnya dakwah adalah pergerakan yang ketika kita terlambat sedikit saja maka akan mengurangi kontribusi kita terhadap dakwah. Dari hati yang terdalam ingin berkata, “Duhai para pejuang dakwah, betapa ruginya engkau melewatkan dengan percuma kesempatan menuju surga. Duhai para pewaris Nabi, betapa ruginya engkau tak sepenuh hati mengemban amanah ini. Duhai para agen perubahan, betapa beruntungnya orang-orang yang maksimal dalam beramal.”
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.
dakwatuna.com - Secarik kertas sederhana kutemukan di tumpukan berkas clearing akademik.
Kertas itu hanya berukuran kecil, ujung-ujungnya pun sudah robek
sedikit demi sedikit karena lipatan-lipatan kecil. Kuingat kembali di
beberapa tahun yang lalu, kertas ini pernah menjadi sangat berguna.
Karena kami lupa membuat absen rapat yang rapi. Mungkin karena sebentar
lagi kami akan menghadapi musyawarah besar Mahasiswa Pencinta Mushallah
(MPM) Al-Iqra’, sibuk mempersiapkan laporan pertanggungjawaban pengurus
periode itu. Saat itu, penulis masih menjabat sebagai Ketua Umum MPM
Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako Sulawesi Tengah. Kertas
itu nampaknya kusut, namun beberapa tulisan di kertas itu masih dapat
terbaca. Kertas itu berisikan absen rapat pengurus MPM Al-Iqra’ sebelum
periode kami berakhir. Tampak nama-nama pengurus yang sempat hadir di
rapat terakhir kami berjumlah sembilan orang.
Jangan lihat dari
betapa sederhananya kertas yang kami deskripsikan di awal paragraf
tulisan ini. Sebab, banyak hal-hal yang semoga bisa menginspirasi kita
semua dari kertas sederhana ini. Hari itu Kamis 15 Desember 2011,
beberapa saat setelah Shalat Ashar di Mushallah Al-Iqra’ Fakultas
Ekonomi Universitas Tadulako, kami Pengurus MPM Al-Iqra’ Periode
2010-2011 mengadakan Rapat yang sebenarnya mengundang seluruh Pengurus.
Harapan besar sebagian besar pengurus MPM Al-Iqra’ dapat hadir di rapat
tersebut. Dan ternyata yang hadir pada saat itu hanya sembilan orang.
Ada kekecewaan yang sempat terbersit dalam relung hati karena ini adalah
rapat koordinasi yang amat penting, namun realitanya adalah kami harus
kemudian lebih banyak bersabar akan setiap alasan. Sebagai manusia yang
punya hati sudah sewajarnya merasakan kekecewaan yang begitu mendalam.
Namun, jangan sampai kekecewaan ini berlarut-larut apalagi sampai
menghadang laju gerak menuju cita-cita mulia kami, menuju kampus yang
madani.
Muncul di benak penulis bahwa orang yang berdakwah pasti
punya alasan dan tujuan mengapa ia harus berdakwah, begitupun yang tidak
berdakwah pasti punya alasan juga mengapa sampai saat ini masih memilih
untuk tidak bergabung dalam barisan dakwah ini.
Terkadang ada beberapa alasan yang harus dimaklumi, tetapi pada dasarnya dakwah adalah pergerakan yang ketika kita terlambat sedikit saja maka akan mengurangi kontribusi kita terhadap dakwah. Dari hati yang terdalam ingin berkata, “Duhai para pejuang dakwah, betapa ruginya engkau melewatkan dengan percuma kesempatan menuju surga. Duhai para pewaris Nabi, betapa ruginya engkau tak sepenuh hati mengemban amanah ini. Duhai para agen perubahan, betapa beruntungnya orang-orang yang maksimal dalam beramal.”
Saat
itu kami mempunyai begitu banyak masalah, tetapi sekali lagi kami
berprasangka baik kepada Allah SWT. Sebagaimana Hadits Qudsi yang sering
kita dengar dan baca bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.
Seharusnya masalah bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi dan
diselesaikan dengan segera meskipun pasti akan menyisakan sedikit luka
bathin. anggap saja kalau ada organisasi yang tidak mempunyai masalah
maka sesungguhnya organisasi tersebut sedang bermasalah. Sering pula
tentunya kita mendengarkan tentang bagaimana rumus untuk menghadapi
masalah. Rumusnya adalah Hadapi, Hayati, dan Nikmati (HHN). Rumus HHN
ini kali pertama penulis dapatkan ketika mengikuti training of mentor saat masih menjadi mahasiswa baru.
Melanjutkan
cerita, pada saat itu, dengan sisa-sisa semangat yang ada kami terus
bergerak menjalankan program kerja dan terus saling mengingatkan dalam
kebaikan. Bahwa di MPM bukan sekedar Program kerja biasa yang akan
meluluhlantahkan sum-sum tulang belakangmu, bahwa program kerja di MPM
tidak harus di evaluasi dengan idealisme yang begitu tinggi sampai
melupakan kemanusiaan. Bukankah agama Islam adalah agama yang paling
menghargai nilai-nilai kemanusiaan? Bukankah Dakwah ini mengajarkan kita
tentang menjadi teladan sebelum menyampaikan? Bukankah Dakwah ini
membimbing kita tentang menyentuh hati sebelum menyampaikan?
Masih
melanjutkan kisah tentang menuju kampus madani, pada saat itu tak
serius seperti rapat biasanya, kami mencoba berdinamisasi agar suasana
rapat menjadi enjoy. Agar beban dakwah yang memang sangat berat
ini kami bagi ke pundak-pundak seluruh pengurus MPM, minimal agar ia
terasa ringan. Dan agar amanah tersebut terasa menjadi semakin ringan,
kami menikmati setiap amanah yang dibebankan kepada kami. Bahkan tak
jarang di periode kepengurusan ini kader-kader maupun penguruslah yang
kemudian meminta amanah. Mungkin ada kesadaran implisit yang memahami
bahwa kami bukan sekedar The Agent Of Change lebih dari itu, kami adalah The Agent Of Allah.
Terkadang
kami begitu bingung ketika idealisme kami bertentangan dengan realitas
yang ada. Di satu sisi kami ingin mematuhi setiap kesepakatan rapat,
serta isi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Tetapi pada akhirnya
pun kami semakin menyadari bahwa ada kondisi dimana Dakwah sejatinya
memang berlandaskan Syariat Islam di atas segala-galanya. Bahwa Al-Quran
dan As-Sunnah adalah pedoman hidup dan tindakan.
Ini hanya
sekadar goresan kecil dari tinta nurani penulis yang semoga semakin
menginspirasi dan memotivasi kita semua sebagai orang yang sangat
dibangga-banggakan oleh Allah dan juga orang yang namanya disebut-sebut
oleh para malaikat karena banyak berkumpul dalam rangka mengingat Allah.
Berkumpul dalam rangka menuntut ilmu, berhimpun dalam rangka
melanjutkan tugas para Nabi dan Rasul yang mana tidak semua orang
menyadari bahwa tugas ini adalah kewajiban setiap insan manusia. Maka
tugas kami adalah menyadarkan mereka tentang kemuliaan tugas ini.
Beda
zaman, beda pula masalah yang di hadapi. Tetapi hal ini jangan sampai
menjadi argumen utama kita untuk menolak masukan dari para senior dan
para pendahulu.
Karena terkadang kita harus membuka kembali lembar
sejarah Rasulullah SAW dan para sahabat, generasi setelah sahabat,
orang-orang shalih serta sejarah dari para pendahulu. Agar kita dapat
mengambil hikmah dari setiap kisah. Agar kita dapat mengambil ibrah dari
sejarah tersebut, sehingga ke depan kita tidak akan terjatuh dalam
lubang kesalahan yang sama dan bertindak dengan lebih waspada.
JAS
MERAH Kata Bung Karno!! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!!Karena
visi tidak dibangun dalam waktu yang singkat, karena dakwah adalah
pekerjaan membangun sebuah peradaban, karena dakwah kampus adalah
tentang pewarisan visi dan misi, perlahan tapi pasti menuju kejayaan dan
kemenangan, Ini masih tentang menuju kampus yang madani.
Rabu, 17 Juli 2013
Kultweet #DinamikaKKN
10 April 2013
Kultweet Dari Akun Twitter @Khaidir_
Salah satu Poin Tridharma Perguruan Tinggi : "Pengabdian kepada Masyarakat" :)
Sampai hari ini kami tengah melaksanakan poin tersebut. Dengan berbagai macam kendala dan solusi. #DinamikaKKN
Yang menjadi pelaku utamanya adalah Mahasiswa. Mahasiswa adalah SDM yang unggul dalam beberapa hal. #DinamikaKKN
Saya kembali berfikir 'ilmu yang saya dapatkan di organisasi dakwah, tentang bagaimana mengelola dan mengoptimalkan Manusia. #DinamikaKKN
Maka dari itu saya dengan sepenuh hati merebut posisi Korcam pada KKN kali ini. Sejalan dengan salah satu tujuan Dakwah. Pelayanan Ummat. :)
Berbhakti, Mengabdi, melayani, ya! Itulah yang juga diajarkan kepada kami para Kader Dakwah. Maka KKN kali ini menjadi suatu lahan besar.. :)
Saya coba gunakan gaya manajemen semi-partisipatif. Partisipatif dan tegas coba saya seimbangkan. Begitulah saya melihat Rasulullah SAW. :)
Karakter orang macam-macam di KKN kali ini. Sebagian besar nggak punya pengalaman organisasi di Kampus. Serius menekuni perkuliahannya. :)
Saking serius Rumah-Kampus-Rumah-Kampus, sampai lupa bahwa organisasi
tempatnya aktualisasi, eksplorasi, & melejitkan potensi. #DinamikaKKN
'Alaa Kulli Hal, saya coba melihat sisi positifnya. Inilah 'Reality' yg ada pada masyarakat. Acuh tak acuh dgn Kemaslahatan. #DinamikaKKN
Para Kordes-pun bermacam-macam karakternya. Hatta Yang nggak punya pengalaman jadi pemimpin harus siap menjadi kordes karena tuntutan. :)
16 April 2013
Sampai hari ini saya masih merasa sangat kurang wawasan tentang Sulteng, sebagai Putra asli Sulteng harusnya merasa malu. #DinamikaKKN
Beberapa Desa di Kecamatan baru ini benar-benar menggugahku. Nama kecamatan baru ini 'Kinovaro'. Berdiri Tahun 2007. #DinamikaKKN
Kecamatan Kinovaro adalah pemekaran dari Kecamatan Marawola. Disini, Sampai saat ini, otonomi daerah hanya teori belaka. #DinamikaKKN :)
Budaya Kaili masih bgitu kental didaerah ini. Suku Kaili Da'a menjadi
Mayoritas. Mental Pejuang! Itu salah satu karakteristik suku ini. #KKN
Berbatasan langsung dengan Palu Barat, Kec.Marawola, dan Kec.Marawola Barat. Namun masyarakatnya tetap orisinil. Salut! #DinamikaKKN :)
Rabu, 09 Maret 2011
Pandu Qurani 1
Pandu adalah kata yang digunakan sebagai istilah bagi orang yang memiliki karakter yang berporos pada kebaikan.Di negeri ini pandu disimbolkan dengan cikal kelapa yang bermakna proses pertumbuhan yang berkelanjutan di satu sisi,dimana ia dapat tumbuh dengan mudah sehingga bisa mempertahankan eksistensinya.
Di sisi lain bermakna manfaat yang dihasilkan oleh setiap aspek yang dimiliki, dari akar sampai ke buah.Di kebanyakan negeri-negeri lain, sebagaimana Pandu Keadilan, ia disimbolkan dengan bunga leli yang memiliki multi manfaat.
Selanjutnya kita akan membicarakan pandu yang berorientasi kepada kitabullah Al-Qur’an yang dalam bahasa da’wah disebut orang yang ‘shaalihun fii nafsihii naafi’un li ghairihii mujaahidun fillaah’.
Pandu yang satu ini kita sebut sebagai ‘Pandu Qur’ani’.Pandu Qur’ani adalah imam bagi orang-orang bertaqwa dalam ketauladanan, pelayanan serta dakwah dan jihad.
A.Ketauladanan Pandu Qur’ani
Al-Qur’an menggambarkan pandu sebagai orang saleh yang patut ditauladani.
Firman Allah:
“Sungguh terdapat suri tauladan bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika berkata kepada kaum mereka,‘sungguh kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkar terhadap kalian, dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya hingga kalian beriman kepada (mengilahkan) Allah semata’, kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya,’akan saya mintakan ampunan untukmu, dan saya tidak memiliki apa-apa untuk (menyelamatkannmu) dari (adzab) Allah.Tuhan kami, kepadamu kami berserah diri, kepadamu kami bertobat, dan kepadamu kami akan kembali’.Tuhan kami jangan engkau biarkan kami dicelakai oleh orang-orang kafir, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Sungguh terdapat pada mereka suri tauladan bagi orang-orang yang menginginkan (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) akhirat”.Qs:60:4-6.
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan bagi kalian yang menginginkan (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) akhirat”.Qs:33:21.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tauladan utama dalam segala hal dari segala sisi kehidupan, baik dalam hal ilmu, iman maupun amal, dan baik beliau sebagai pribadi, kepala keluarga, anggota dan tokoh masyarakat, maupun sebagai pemimpin ummat dan negara.Beliau kuat dalam ruhiyah, aqliyah dan jasadiah sekaligus.Beliau adalah sebaik-baik mukmin yang dicintai oleh Allah karena dengan iman dan kekuatannya lahirlah amal-amal ibadah baik mahdlah maupun sosial yang mengagumkan.Dengan iman dan kekuatannya pula beliau berjuang menunaikan risalah Allah yang diembannya, menegakkan dinullah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tekun dalam mengejar pahala yang terbaik dari Allah meskipun ia sudah dijamin masuk sorga. Ketika berangkat menuju perang Uhud, beliau bersama Ali dan seorang sahabat lainnya radliallahu ‘anhuma mempunyai jatah seekor onta untuk dikendarai secara bergantian.Ali dan temannya sepakat menyerahkan jatah tunggangan mereka kepada Rasulullah yang membuat Rasulullah tersinggung dan berkata,”kalian tidak lebih kuat daripada saya ( untuk berjalan), dan kalian tidak lebih membutuhkan pahala daripada saya”.
Beliau mengajari ummatnya untuk tekun mengejar pahala dari Allah.Sabda beliau:“Shalat (berjama’ah) yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh.Seandainya mereka mengetahui pahala yang didapatkan pada keduanya maka mereka pasti menghadirinya meskipun harus datang dengan merangkak”.
Dalam beramal jama’i Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah seorang pemimpin yang pintar menyuruh belaka melainkan memberi contoh kerja yang optimal, seperti ketika beliau bersama para sahabat membangun masjid Qubaa’.Badan beliau penuh tanah karena bolak balik memanggul tanah.Sikap beliau memberisemangat bagi para sahabat sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan dengan hasil yang memuaskan.
Beliau suritauladan dalam mengamalkan Al-Qur’an, dan seperti itulah ummatnya seharusnya.Bukankah para hamba Allah selalau memanjatkan do’a;”Wahai Tuhan kami karuniailah kami dari istri-istri dan keturunan-keturunan kami penyejuk mata bagi kami dan jadikanlah kami imam (pemimpin/tauladan) bagi bagi orang-orang yang bertaqwa”










