This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Thulaby Akuntansi 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thulaby Akuntansi 2009. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 September 2014

Jangan Remehkan Masjid Kampus

Palu, Menjelang Dzuhur, 7 September 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.

Ilustrasi. (panoramio.com)
Ilustrasi. (panoramio.com)


dakwatuna.com - Langit terasa gelap, begitupun warna dan auranya, masih juga menggelayuti hati. Beda ketika ia telah berkomitmen dengan keimanan dan ketakwaannya, hatinya akan terus bercahaya di kondisi segelap apapun. Maghrib baru saja berlalu, aku gas motorku dengan perlahan melintasi jalan yang tak kunjung habis, menuju sebuah rumah di dekat bukit, rumah yang tak asing lagi bagi kami para aktivis dakwah kampus Universitas Tadulako. Rumah berwarna putih dengan pekarangan yang sangat luas, ada beberapa pohon mangga tumbuh di pekarangan itu. Pintu masuk ke rumah sederhana itu terletak di bagian selatan dengan pintu yang hanya bisa dimasuki motor dan pintu bagian barat yang besar dan bisa di masuki mobil. Pagar yang menjadi batas pekarangan pun hanya pagar kayu sederhana yang berwarna putih. Beberapa kayu sudah tampak lapuk tetapi masih bisa melindungi pekarangan luas dan rumah sederhana itu dari hewan-hewan ternak yang ingin masuk. Perlahan kuparkir motor di depan pintu bagian barat, kudorong pelan-pelan pintu pagar lalu masuk ke dalamnya. Motor yang kupakai hanyalah motor tua namun memiliki banyak sejarah perjuangan sejak dari masa jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP). Motor tua yang tahun ini genap berusia kurang lebih sebelas tahun, dengan segala kisah suka maupun duka. Motor tua produk Jepang yang sudah kuanggap bagai kuda perang. Dipakai sebagai kendaraan menjalankan kegiatan-kegiatan organisatoris dan pergerakan mahasiswa. Mengantar sang pemilik motor untuk mengisi mentoring, mengisi training, menghadiri undangan, dan menghadiri forum-forum diskusi pemuda. Aku berjalan melintasi pekarangan lalu mengucapkan salam sesampainya di teras rumah itu.

Saat itu masih tahun 2012, amanah sebagai ketua lembaga dakwah kampus masih berada di pundakku. Kulihat sosok Bapak yang tak lagi muda dan sudah berumur, rambutnya sudah memutih, matanya agak sayup namun masih mampu menatap tajam lawan bicaranya. Dari jauh telah tampak aura kebijaksanaan. Bapak DR. Ir. Hamid Nur, MS namanya. Beliau berprofesi sebagai guru besar dan anggota dewan senat di Fakultas Pertanian Universitas Tadulako. Beliau juga menjabat sebagai Ketua Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Universitas Tadulako dan juga salah satu pembina kami di Lembaga Dakwah Kampus. Beliau duduk di beranda rumahnya sambil tersenyum ramah kepadaku, mengajakku untuk duduk di sampingnya. Detik yang beralun-alun tak membuatku gelisah karena aliran petuah-petuah ini begitu alami. Petuah-petuah khas aktivis pra-reformasi yang sudah merasakan asam garam dan pahit kecut dinamika kemahasiswaan di zaman orde baru. Saat di mana kebebasan berekspresi benar-benar dikekang dengan dalih kesejahteraan bisa terwujud karena ekonomi yang berdikari. Terlalu tinggi ekspektasi pemerintah di zaman orde baru, tidak realistis, justru yang terjadi adalah kesenjangan sosial yang semakin berjarak di tambah lagi kebebasan bisa saja dibungkam dengan teror ideologi dan teror timah panas.

Petuah-petuah yang disampaikan oleh orang tua yang sangat kami hormati ini berisi tentang visi dan misi besar, ada sejuta bahkan tak terhitung jumlah manfaat dari gagasan ini. Tentang dua hal yang tak bisa dipisahkan seumur hidup, tentang dua suar cahaya di kampus bumi kaktus yang akan terus berdampingan mengantar masyarakat intelektual ini menuju puncak peradaban.

Beberapa saat jantungku langsung berdegup kencang, darah mengalir semakin cepat, sempat merinding kudengar ide-ide ini. Begitu banyak ide yang langsung terbersit buru-buru kukumpulkan dan kuramu dalam satu konsep komprehensif di dalam kepalaku. Saat darahku semakin banyak terpusat di kepala karena berpikir, menganalisa, dan coba mengingat setiap untaian kata dari pembina lembaga kami ini. Ide-ide klasik dan mulai terlupakan oleh sebagian besar aktivis dakwah ini membuat emosiku mengalir bagai air namun terkontrol, mataku sempat terbelalak, badanku panas dingin namun bukan gejala demam, adrenalinku terpacu, tubuhku pun sepertinya gemetaran menahan aliran ide-ide yang ingin segera diaktualisasikan dalam program kerja dan kerja nyata. Sesekali kutengok BlackBerry-ku untuk mengecek recent updates dari BlackBerry Messenger. Saat itu aktivis yang punya smartphone masih sangat sedikit, entah harganya terlampau mahal atau masih kurangnya kesadaran dakwah via informasi dan media yang multi ple effect-nya luar biasa. Nasihat-nasihat dari pembina lembaga kami ini sangat luar biasa, mengingat beliau juga dulunya adalah seorang aktivis dakwah kampus juga. Beberapa short message service (SMS) masuk namun aku tak menghiraukannya. Derasnya aliran gagasan ini membuat kularut di dalamnya, untuk menganalisa, mengambil hikmah, dan tidak sabar untuk segera bergerak di lapangan.

Lanjut kisah, karena begitu derasnya aliran ide emas ini, hatiku dan jiwaku ingin menitikkan air mata, tak tahu apakah aku berhak gembira, berhak kecewa, atau biasa-biasa saja mendengarnya. Ternyata aku memang tetap harus menunjukkan ekspresi untuk menunjukkan antusiasme. Aku tak dapat menyangkalnya, ide inilah yang kemudian milestone perubahan ketika Rasulullah SAW membangun contoh peradaban ideal di Kota Madinah Al-Munawarah. Gagasan inilah yang menjadi kunci kemenangan para panglima-panglima besar Islam ternama di zamannya sebut saja Khalid bin Walid, Shalahuddin Al-Ayyubi, Sultan Muhammad Al-Fatih, dan Thariq Bin Ziyad. Para tokoh-tokoh yang tak pernah memisahkan urusan agama dan negara, urusan Islam dan pemerintahan, serta menyadari bahwa Dakwah dan Masjid adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan juga.

Sejenak, aku kembali mengingat-ingat dan menyegarkan kembali memori daya pikir. Flashback sejenak pengalaman yang kudapat ketika mengunjungi beberapa Lembaga Dakwah Kampus yang turut diperhitungkan eksistensinya di tingkat nasional. Mampu menjadi penggerak unit dakwah lain yang tergabung dalam Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Lembaga Dakwah Kampus yang mampu menjadi pusat inspirasi dan motivasi gerakan mahasiswa di daerah manapun. Sebut saja Lembaga Dakwah Kampus Jamaah Nurul Huda Universitas Sebelas Maret Solo, Lembaga Dakwah Kampus Keluarga Mahasiswa Islam Institut Teknologi Bandung, dan Lembaga Dakwah Kampus Salam Universitas Indonesia. Lembaga Dakwah Kampus yang selalu mengurusi Dakwah sambil mengurusi Masjid, tidak pernah menabrakkan antara urusan pembenahan internal strukturnya dan pelayanan terhadap jamaah masjid kampus, selalu mengutamakan urusan dakwah kampus dan masjid kampus tanpa memihak.

Dengan sepenuh kejujuran dan kacamata yang bebas dari segala prasangka, hal ini belum di perhatikan di Lembaga Dakwah Kampus di Kampus Bumi Kaktus ini. Padahal inilah Jalan menuju Tadulako Madani yang sering dikoar-koarkan tanpa memahami substansi sebenarnya. Dakwah Kampus dan Masjid Kampus tidak boleh sama sekali terpisah!! Bila ingin Kampus madani tak hanya sekedar mimpi, camkan hal ini!! Inilah jalan menuju kampus madani, menuju tadulako madani. Benahi dan beraksi dengan segera setelah membaca tulisan ini. Dengan perlahan, memperhitungkan dan mematangkan proses, step by step, slow but sure, dengan keyakinan dan azzam yang terpancang sambil menatap ke depan dengan penuh optimisme. Dari hati yang terdalam, serial menuju tadulako madani ini akan terus berlanjut, sambil terus mencoba menjadi teladan akan ucapan, karena perjuangan adalah pelaksanaan dari kata-kata yang terucap maupun tertulis. Sambil terus menantikan dan mencari ghirah sesungguhnya dari para pejuang dakwah kampus.

Selasa, 09 September 2014

Masih Soal Menuju Kampus Madani

Palu, Ba'da Ashar, Di Ruang Tamu, 4 September 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.

Ilustrasi. (Foto: inet)
Ilustrasi. (Foto: inet)

dakwatuna.com - Secarik kertas sederhana kutemukan di tumpukan berkas clearing akademik. Kertas itu hanya berukuran kecil, ujung-ujungnya pun sudah robek sedikit demi sedikit karena lipatan-lipatan kecil. Kuingat kembali di beberapa tahun yang lalu, kertas ini pernah menjadi sangat berguna. Karena kami lupa membuat absen rapat yang rapi. Mungkin karena sebentar lagi kami akan menghadapi musyawarah besar Mahasiswa Pencinta Mushallah (MPM) Al-Iqra’, sibuk mempersiapkan laporan pertanggungjawaban pengurus periode itu. Saat itu, penulis masih menjabat sebagai Ketua Umum MPM Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako Sulawesi Tengah. Kertas itu nampaknya kusut, namun beberapa tulisan di kertas itu masih dapat terbaca. Kertas itu berisikan absen rapat pengurus MPM Al-Iqra’ sebelum periode kami berakhir. Tampak nama-nama pengurus yang sempat hadir di rapat terakhir kami berjumlah sembilan orang.

Jangan lihat dari betapa sederhananya kertas yang kami deskripsikan di awal paragraf tulisan ini. Sebab, banyak hal-hal yang semoga bisa menginspirasi kita semua dari kertas sederhana ini. Hari itu Kamis 15 Desember 2011, beberapa saat setelah Shalat Ashar di Mushallah Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, kami Pengurus MPM Al-Iqra’ Periode 2010-2011 mengadakan Rapat yang sebenarnya mengundang seluruh Pengurus. Harapan besar sebagian besar pengurus MPM Al-Iqra’ dapat hadir di rapat tersebut. Dan ternyata yang hadir pada saat itu hanya sembilan orang. Ada kekecewaan yang sempat terbersit dalam relung hati karena ini adalah rapat koordinasi yang amat penting, namun realitanya adalah kami harus kemudian lebih banyak bersabar akan setiap alasan. Sebagai manusia yang punya hati sudah sewajarnya merasakan kekecewaan yang begitu mendalam. Namun, jangan sampai kekecewaan ini berlarut-larut apalagi sampai menghadang laju gerak menuju cita-cita mulia kami, menuju kampus yang madani.

Muncul di benak penulis bahwa orang yang berdakwah pasti punya alasan dan tujuan mengapa ia harus berdakwah, begitupun yang tidak berdakwah pasti punya alasan juga mengapa sampai saat ini masih memilih untuk tidak bergabung dalam barisan dakwah ini.

Terkadang ada beberapa alasan yang harus dimaklumi, tetapi pada dasarnya dakwah adalah pergerakan yang ketika kita terlambat sedikit saja maka akan mengurangi kontribusi kita terhadap dakwah. Dari hati yang terdalam ingin berkata, “Duhai para pejuang dakwah, betapa ruginya engkau melewatkan dengan percuma kesempatan menuju surga. Duhai para pewaris Nabi, betapa ruginya engkau tak sepenuh hati mengemban amanah ini. Duhai para agen perubahan, betapa beruntungnya orang-orang yang maksimal dalam beramal.”

Saat itu kami mempunyai begitu banyak masalah, tetapi sekali lagi kami berprasangka baik kepada Allah SWT. Sebagaimana Hadits Qudsi yang sering kita dengar dan baca bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-Nya. Seharusnya masalah bukan untuk dihindari, tetapi dihadapi dan diselesaikan dengan segera meskipun pasti akan menyisakan sedikit luka bathin. anggap saja kalau ada organisasi yang tidak mempunyai masalah maka sesungguhnya organisasi tersebut sedang bermasalah. Sering pula tentunya kita mendengarkan tentang bagaimana rumus untuk menghadapi masalah. Rumusnya adalah Hadapi, Hayati, dan Nikmati (HHN). Rumus HHN ini kali pertama penulis dapatkan ketika mengikuti training of mentor saat masih menjadi mahasiswa baru.

Melanjutkan cerita, pada saat itu, dengan sisa-sisa semangat yang ada kami terus bergerak menjalankan program kerja dan terus saling mengingatkan dalam kebaikan. Bahwa di MPM bukan sekedar Program kerja biasa yang akan meluluhlantahkan sum-sum tulang belakangmu, bahwa program kerja di MPM tidak harus di evaluasi dengan idealisme yang begitu tinggi sampai melupakan kemanusiaan. Bukankah agama Islam adalah agama yang paling menghargai nilai-nilai kemanusiaan? Bukankah Dakwah ini mengajarkan kita tentang menjadi teladan sebelum menyampaikan? Bukankah Dakwah ini membimbing kita tentang menyentuh hati sebelum menyampaikan?

Masih melanjutkan kisah tentang menuju kampus madani, pada saat itu tak serius seperti rapat biasanya, kami mencoba berdinamisasi agar suasana rapat menjadi enjoy. Agar beban dakwah yang memang sangat berat ini kami bagi ke pundak-pundak seluruh pengurus MPM, minimal agar ia terasa ringan. Dan agar amanah tersebut terasa menjadi semakin ringan, kami menikmati setiap amanah yang dibebankan kepada kami. Bahkan tak jarang di periode kepengurusan ini kader-kader maupun penguruslah yang kemudian meminta amanah. Mungkin ada kesadaran implisit yang memahami bahwa kami bukan sekedar The Agent Of Change lebih dari itu, kami adalah The Agent Of Allah.

Terkadang kami begitu bingung ketika idealisme kami bertentangan dengan realitas yang ada. Di satu sisi kami ingin mematuhi setiap kesepakatan rapat, serta isi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Tetapi pada akhirnya pun kami semakin menyadari bahwa ada kondisi dimana Dakwah sejatinya memang berlandaskan Syariat Islam di atas segala-galanya. Bahwa Al-Quran dan As-Sunnah adalah pedoman hidup dan tindakan.

Ini hanya sekadar goresan kecil dari tinta nurani penulis yang semoga semakin menginspirasi dan memotivasi kita semua sebagai orang yang sangat dibangga-banggakan oleh Allah dan juga orang yang namanya disebut-sebut oleh para malaikat karena banyak berkumpul dalam rangka mengingat Allah. Berkumpul dalam rangka menuntut ilmu, berhimpun dalam rangka melanjutkan tugas para Nabi dan Rasul yang mana tidak semua orang menyadari bahwa tugas ini adalah kewajiban setiap insan manusia. Maka tugas kami adalah menyadarkan mereka tentang kemuliaan tugas ini.

Beda zaman, beda pula masalah yang di hadapi. Tetapi hal ini jangan sampai menjadi argumen utama kita untuk menolak masukan dari para senior dan para pendahulu.

Karena terkadang kita harus membuka kembali lembar sejarah Rasulullah SAW dan para sahabat, generasi setelah sahabat, orang-orang shalih serta sejarah dari para pendahulu. Agar kita dapat mengambil hikmah dari setiap kisah. Agar kita dapat mengambil ibrah dari sejarah tersebut, sehingga ke depan kita tidak akan terjatuh dalam lubang kesalahan yang sama dan bertindak dengan lebih waspada.

JAS MERAH Kata Bung Karno!! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!!Karena visi tidak dibangun dalam waktu yang singkat, karena dakwah adalah pekerjaan membangun sebuah peradaban, karena dakwah kampus adalah tentang pewarisan visi dan misi, perlahan tapi pasti menuju kejayaan dan kemenangan, Ini masih tentang menuju kampus yang madani.

Rabu, 17 Juli 2013

Kultweet #DinamikaKKN

10 April 2013

Kultweet Dari Akun Twitter @Khaidir_

 

Salah satu Poin Tridharma Perguruan Tinggi : "Pengabdian kepada Masyarakat" :)

 

Sampai hari ini kami tengah melaksanakan poin tersebut. Dengan berbagai macam kendala dan solusi.  

 

Yang menjadi pelaku utamanya adalah Mahasiswa. Mahasiswa adalah SDM yang unggul dalam beberapa hal.  

 

Saya kembali berfikir 'ilmu yang saya dapatkan di organisasi dakwah, tentang bagaimana mengelola dan mengoptimalkan Manusia.  

 

Maka dari itu saya dengan sepenuh hati merebut posisi Korcam pada KKN kali ini. Sejalan dengan salah satu tujuan Dakwah. Pelayanan Ummat. :)

 

Berbhakti, Mengabdi, melayani, ya! Itulah yang juga diajarkan kepada kami para Kader Dakwah. Maka KKN kali ini menjadi suatu lahan besar.. :)

 

Saya coba gunakan gaya manajemen semi-partisipatif. Partisipatif dan tegas coba saya seimbangkan. Begitulah saya melihat Rasulullah SAW. :)

 

Karakter orang macam-macam di KKN kali ini. Sebagian besar nggak punya pengalaman organisasi di Kampus. Serius menekuni perkuliahannya. :)

 

Saking serius Rumah-Kampus-Rumah-Kampus, sampai lupa bahwa organisasi tempatnya aktualisasi, eksplorasi, & melejitkan potensi.  

 

'Alaa Kulli Hal, saya coba melihat sisi positifnya. Inilah 'Reality' yg ada pada masyarakat. Acuh tak acuh dgn Kemaslahatan.  

 

Para Kordes-pun bermacam-macam karakternya. Hatta Yang nggak punya pengalaman jadi pemimpin harus siap menjadi kordes karena tuntutan. :)

 

16 April 2013

 

Sampai hari ini saya masih merasa sangat kurang wawasan tentang Sulteng, sebagai Putra asli Sulteng harusnya merasa malu.  

 

Beberapa Desa di Kecamatan baru ini benar-benar menggugahku. Nama kecamatan baru ini 'Kinovaro'. Berdiri Tahun 2007.  

 

Kecamatan Kinovaro adalah pemekaran dari Kecamatan Marawola. Disini, Sampai saat ini, otonomi daerah hanya teori belaka. :)

 

Budaya Kaili masih bgitu kental didaerah ini. Suku Kaili Da'a menjadi Mayoritas. Mental Pejuang! Itu salah satu karakteristik suku ini.  

 

Berbatasan langsung dengan Palu Barat, Kec.Marawola, dan Kec.Marawola Barat. Namun masyarakatnya tetap orisinil. Salut! :)

 

 

Rabu, 09 Maret 2011

Pandu Qurani 1

Pandu adalah kata yang digunakan sebagai istilah bagi orang yang memiliki karakter yang berporos pada kebaikan.Di negeri ini pandu disimbolkan dengan cikal kelapa yang bermakna proses pertumbuhan yang berkelanjutan di satu sisi,dimana ia dapat tumbuh dengan mudah sehingga bisa mempertahankan eksistensinya.


Di sisi lain bermakna manfaat yang dihasilkan oleh setiap aspek yang dimiliki, dari akar sampai ke buah.Di kebanyakan negeri-negeri lain, sebagaimana Pandu Keadilan, ia disimbolkan dengan bunga leli yang memiliki multi manfaat.

Selanjutnya kita akan membicarakan pandu yang berorientasi kepada kitabullah Al-Qur’an yang dalam bahasa da’wah disebut orang yang ‘shaalihun fii nafsihii naafi’un li ghairihii mujaahidun fillaah’.

Pandu yang satu ini kita sebut sebagai ‘Pandu Qur’ani’.Pandu Qur’ani adalah imam bagi orang-orang bertaqwa dalam ketauladanan, pelayanan serta dakwah dan jihad.

A.Ketauladanan Pandu Qur’ani
Al-Qur’an menggambarkan pandu sebagai orang saleh yang patut ditauladani.

Firman Allah:
“Sungguh terdapat suri tauladan bagi kalian pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya ketika berkata kepada kaum mereka,‘sungguh kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah, kami ingkar terhadap kalian, dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selamanya hingga kalian beriman kepada (mengilahkan) Allah semata’, kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya,’akan saya mintakan ampunan untukmu, dan saya tidak memiliki apa-apa untuk (menyelamatkannmu) dari (adzab) Allah.Tuhan kami, kepadamu kami berserah diri, kepadamu kami bertobat, dan kepadamu kami akan kembali’.Tuhan kami jangan engkau biarkan kami dicelakai oleh orang-orang kafir, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Sungguh terdapat pada mereka suri tauladan bagi orang-orang yang menginginkan (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) akhirat”.Qs:60:4-6.
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan bagi kalian yang menginginkan (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) akhirat”.Qs:33:21.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tauladan utama dalam segala hal dari segala sisi kehidupan, baik  dalam hal ilmu, iman maupun amal, dan baik beliau sebagai pribadi, kepala keluarga, anggota dan tokoh masyarakat, maupun sebagai pemimpin ummat dan negara.Beliau kuat dalam ruhiyah, aqliyah dan jasadiah sekaligus.Beliau adalah sebaik-baik mukmin yang dicintai oleh Allah karena dengan iman dan kekuatannya lahirlah amal-amal ibadah baik mahdlah maupun sosial yang mengagumkan.Dengan iman dan kekuatannya pula beliau berjuang menunaikan risalah Allah yang diembannya, menegakkan dinullah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat tekun dalam mengejar pahala yang terbaik dari Allah meskipun ia sudah dijamin masuk sorga. Ketika berangkat menuju perang Uhud, beliau bersama Ali dan seorang sahabat lainnya radliallahu ‘anhuma mempunyai jatah seekor onta untuk dikendarai secara bergantian.Ali dan temannya sepakat menyerahkan jatah tunggangan mereka kepada Rasulullah yang membuat Rasulullah tersinggung dan berkata,”kalian tidak lebih kuat daripada saya ( untuk berjalan), dan kalian tidak lebih membutuhkan pahala daripada saya”.

Beliau mengajari ummatnya untuk tekun mengejar pahala dari Allah.Sabda beliau:“Shalat (berjama’ah) yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh.Seandainya mereka mengetahui pahala yang didapatkan pada keduanya maka mereka pasti menghadirinya meskipun harus datang dengan merangkak”.

Dalam beramal jama’i Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah seorang pemimpin yang pintar menyuruh belaka melainkan memberi contoh kerja yang optimal, seperti ketika beliau bersama para sahabat membangun masjid Qubaa’.Badan beliau penuh tanah karena bolak balik memanggul tanah.Sikap beliau memberisemangat bagi para sahabat sehingga dapat menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan dengan hasil yang memuaskan.

Beliau suritauladan dalam mengamalkan Al-Qur’an, dan seperti itulah ummatnya seharusnya.Bukankah para hamba Allah selalau memanjatkan do’a;”Wahai Tuhan kami karuniailah kami dari istri-istri dan keturunan-keturunan kami penyejuk mata bagi kami dan jadikanlah kami imam (pemimpin/tauladan) bagi bagi orang-orang yang bertaqwa”