This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 19 Juli 2014

3 Propaganda Sekularisasi

Palu, 20 Juli 2014
Kultwit dari Akun Twitter @Khaidir_ 




Kultwit Shubuh dulu deh, agar ilmu ini tak berdiam di kepala saja, agar berkah ilmu ini harus di sharing :)

Saya ingin Kultwit tentang 3 poin dari Sekularisasi yang menjangkiti anak bangsa, ini penting untuk di ketahui, karena bisa menggerus Aqidah

Poin yang pertama adalah Disenchantment of nature, pemahaman tentang Alam adalah milik manusia, dan manusia bebas mengeksploitasi Alam..

Karena Alam adalah hak milik manusia, manusia bebas mau ngapain, alam ini kan milik manusia.. Mau di eksploitasi, mau di rusak..

Alam ini mau dimanfaatkan sebanyak-banyaknya demi kepuasan individu, ya bebas dong, alam kan milik manusia..

Berangkat dari pemahaman disenchantment of nature ini, muncullah ide-ide tentang penjajahan, menindas orang-orang demi hasil bumi..

Negara kita pun menelan pil pahit implementasi dari pemahaman ini, ratusan tahun kita dijajah sama Belanda, Jepang, dll. Karena hasil bumi..

Padahal di dalam konsep Islam, Alam adalah Hak milik Allah SWT, kita diberi hak untuk mengelolanya dan menjaganya..

Melalui mekanisme yang begitu indah, Islam memberikan sistem yang begitu indah tentang pengelolaan alam..

Untuk SDA yang tak terbatas, Negaralah yang berhak mengelolanya, dengan memperhatikan Kesejahteraan dan kemakmuran sebagai indikatornya..

Manusia bebas mengelola alam dengan Syariat sebagai batasnya, konsep mana lagi yang lebih indah tentang pemanfaatan Alam selain konsep Islam?

Poin kedua dari sekularisasi adalah Deconcecration of values, semua nilai direlatifkan, nggak ada yang baku..

Berangkat dari mengoptimalkan akal dan pikiran manusia, dan menggunakan growth mindset yang dominan..

Sehingga, akal menjadi acuan utama. Manusia terlalu mengandalkan akalnya dalam setiap persoalan, seakan-akan menghilangkan peran Tuhan..

Karena terlalu mengutamakan akal, maka semua nilai pun di relatifkan, nilai apapun itu..

Nggak ada nilai, tata aturan, dan norma yang baku, semua relatif.. Begitupun kebenaran, nggak ada kebenaran yang absolut, semua relatif..

Yang lebih ekstrim lagi, salah satu pentolan JIL pernah berpendapat bahwa Wahyu Allah telah berhenti turun sekitar 14 abad yang lalu...

Sementara akal pikiran manusia terus berkembang, maka Islam pun bebas ditafsirkan mengikuti perkembangan zaman dengan kedok Islam Progresif.

Satu Kata untuk Deconcecration of values, PARAH!!!

Dalam Fiqih Dakwah, jelas yang menjadi Sumber Pedoman hidup kita adalah Al-Qur'an, Al-Hadits, serta Ijtihad para 'Ulama..

Itupun, untuk menuju Ijtihad harus melalui proses yang berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadits, nggak boleh keluar dari sumber hukum utama..

Dalil pun macam-macam, ada dalil yang qath'i dan zhanniy.. Islam sangat jelas memberikan kita nilai, tata aturan, dan pedoman hidup..

Maka orang-orang yang menggunakan deconcecration of values sebagai propaganda nilai-nya adalah mereka yang telah menuhankan Akalnya..

Dan Poin ketiga yang patut juga kita waspadai dari sekularisasi adalah Desacralization Of Politics, pemisahan antara urusan Agama dan Negara

Agama ya agama, nggak ada urusan dengan Politik dan kenegaraan..

Skeptisisme dan Trauma ini muncul dari kegagalan sistem gerejani di sejarah abad pertengahan Eropa..

Sampai sekarang, propaganda desacralization of politics ini di tujukan kepada agama, di Indonesia lebih khusus kepada Islam..

Muncullah istilah-istilah baru seperti Nasionalis-Religius, muncullah kata-kata "jangan bawa-bawa agama dalam forum ini.."

Dalam konsep Islam, Seorang Pemimpin dia haruslah seorang 'Umara dan pada yang saat yang sama ia adalah seorang 'Ulama.. :)

Tidak memisahkan urusan Islam dan Pemerintahan, beginilah yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW, Sahabat, dan para Salafunasshaleh kepada kita..

Kata Ketua Koalisi Merah-Putih Nasional, Bapak Prof.Mahfud,MD Agama dan kekuasaan adalah 2 mata uang yang tak bisa di pisahkan.. :)

Sekian dulu deh Kultwit saya tentang 3 Poin Sekularisasi, semoga bermanfaat dan menginspirasi. Wallahul a'lam. :)

END.

Rabu, 16 Juli 2014

Segenggam Tekad, Segerak Amal, Sejumput Impian : Tarbiyah Madal Hayah

Palu, 16 Juli 2014



“Mimpi adalah kunci..


Untuk kita menaklukkan dunia..


Berlarilah tanpa lelah..


Sampai engkau meraihnya..”


(NIDJI, Laskar Pelangi)

Ada seorang bocah yang belum lama menginjak usia ideal remaja, usianya sekitaran 17-18 Tahun. Bocah ini masih terus mencari apa yang harus dicari, masih sering terombang-ambing dalam gelombang tinggi nilai-nilai sekulerisme.  Ia sedang mencari apa keidealan itu sebenarnya, apakah memang hanya materi yang menjadi indikator utamanya. Apakah masih harus memandang sesuatu yang keren dan gagah itu berdasarkan persepsi orang-orang yang sesungguhnya belum utuh memahami dirinya. Apakah harus kemudian sekedar menjadi followes para orang-orang yang katanya beken dan eksis tapi sangat tidak pantas untuk dijadikan teladan. Bocah ini sedang berada di penghujung masa studi SMA-nya dan tengah mencari hakikat kebenaran. Beberapa kali mencoba untuk meraih peluang kebaikan itu namun sekelompok orang yang berasal dari kalangan  organisasi intra, sepertinya memang sengaja tak memberikan kesempatan itu padanya. 


Dengan tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi dalam kebaikan, bocah ini pun ingin mencari arti hidup yang sesungguhnya dari sumber yang lain. Atas berbagai realita, muncullah worldview yang baru dalam gejolak pemikiran pemuda ini tentang masih begitu banyak peluang kebaikan di luar sana.  Entah datang dari momen seperti apa, mungkin karena sering berada di Masjid. Muncul secercah gairah dan keinginan yang menggebu-gebu, semangat bocah ini semakin membuncah ketika peluang kebaikan yang akan ia ambil adalah dalam bentuk partai politik. Dengan pikiran yang masih sedikit kekanak-kanakan peluang kebaikan ini di ambil dengan segala prasangka baik. Dalam pertemuan tiap pekanan yang sebelumnya sudah pernah di ikuti pada masa SMP-nya, bocah ini kemudian mengenal tentang sebuah institusi peradaban dengan kompleksitas permasalahan yang bernama partai dakwah.


Saat itu pikiran bocah ini mulai mencari-cari tentang kebenaran absolut atau minimal jalan terjal dan jalan alternatif menuju kebenaran tunggal tersebut. Dari pertemuan pekanan yang rajin ia ikuti, terbentuk sebuah pemahaman visioner tentang dakwah dan peradaban namun gagasan ini masih terlalu besar dan berat menurut bocah ini. Pikirnya,  perlu mengenal nama Presiden, Wakil Presiden dan Menteri-menterinya adalah salah satu bagian dari standar ilmu pengetahuan yang tak terlalu penting. Masa itu adalah masa-masa kampanye dan bagi bocah ini politik hanya perlu untuk diketahui saja tak penting untuk berkontribusi dan terlibat aktif, cukup belajar agama saja dari partai dakwah ini dan selanjutnya hidup akan beres dunia akhirat. Sebuah pemahaman yang sangat sederhana dan masih cenderung memisahkan antara urusan agama dan negara. Yang ternyata ini adalah salah satu poin dari sekulerisme yaitu desacralization of politics, memisahkan antara agama dan negara.


Kontestasi politik semakin memanas  saat semakin dekatnya hari pemilihan umum tersebut. Ditengah carut marutnya konstestasi ini, ada seorang tokoh yang tiba-tiba menarik perhatian bocah ini. Tokoh tersebut adalah tokoh pemuda yang berasal dari Sulawesi Tengah, tepatnya kelahiran Donggala. Tokoh muda ini sepertinya menjadi idola baru baginya, karena tokoh muda ini memberanikan diri untuk maju menjadi calon anggota legislatif DPR-RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah bersama sebuah gerbong partai dakwah. Bocah ingusan tadi secara sadar bercita-cita dan bermimpi suatu saat akan bertemu dengan tokoh muda tersebut, perkenalkan tokoh muda yang sangat menginspirasi bocah tersebut bernama Bapak Adhyaksa Dault.


Mimpi untuk bertemu Bapak Adhyaksa Dault dari bocah ini sepertinya biasa-biasa saja, namun kehendak Allah dan kekuatan mimpi, serta semangat perubahan berkata lain. Bocah ingusan ini mengalami perubahan drastis dalam hidupnya. Mungkin saja faktor dominan yang membuat bocah ini berubah adalah karena secara istiqomah mengikuti agenda pekanan yang bernama liqa’. Agenda pekanan ini terlihat melelahkan dan membosankan namun secara nyata membentuk karakter bocah itu sebagai pribadi yang bersemangat dan mau terus menerus untuk belajar.


Singkat cerita setelah pemilihan Presiden dan pembentukan Kabinet Indonesia bersatu Jilid I Bapak Adhyaksa Dault terpilih sebagai  Menteri Pemuda dan Olahraga RI. Bocah ingusan tadi kemudian terpicu semangatnya untuk terus berproses, aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan terus berusaha menjadi yang terbaik secara akademik maupun organisatoris. Di awal Tahun 2011 bocah yang mulai beranjak menjadi pemuda ini diberi amanah yang luar biasa untuk memimpin organisasi. Organisasi Lembaga Dakwah Fakultas yang bernama MPM Al-Iqra’. Untuk pertama kalinya diberi kesempatan untuk berkontribusi secara besar yaitu sebagai pimpinan lembaga. Karena tak mempunyai pengalaman memimpin sebelumnya, maka pemuda ini harus menjadi quick learning. Dengan metode learning by doing dan bimbingan para senior pemuda ini terus berusaha mewujudkan mimpinya. 


Menteri Pemuda dan Olahraga RI pun beralih kepemimpinan kepada salah seorang Putra terbaik Sulawesi, Bapak Andi Malaranggeng. Di Tahun ini pula, pemuda ini merasa bahwa mimpinya untuk bertemu dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI akan tercapai, pemuda ini terpilih sebagai salah satu peserta perwakilan Sulawesi Tengah untuk mengikuti Training Of Trainer (TOT) penanggulangan faktor destruktif remaja lebih spesifik bidang pornografi dan pornoaksi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Tetapi sekali lagi takdir berkata lain, kesempatan untuk bertemu Pak Menteri harus tertunda karena berbagai kesibukan dan padatnya jadwal acara Pak Menteri, sehingga beliau tidak sempat menghadiri acara TOT yang kami ikuti di Taman Wiladatika Cibubur.

Pupusnya harapan untuk bertemu Menteri ini tidak kemudian menjadikan pemuda ini menyerah dan menyudahi upayanya dalam mengejar mimpi. Ia masih meyakini bahwa para pahlawan penuntas mimpi harus mengalami banyak kegagalan baru kemudian bisa mewujudkan mimpinya. Di Tahun 2012 pemuda ini kemudian terpilih sebagai Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UPIM Universitas Tadulako. Aktualisasi dirinya untuk perbaikan ummat terus dilakukan secara totalitas dan optimal karena sejatinya Dakwah akan terus meminta perhatianmu, jiwa, dan ragamu, semua demi Ummat yang engkau cintai.


Sambil terus menjalani proses, pemuda ini terus mengeluarkan segala potensinya bahkan ketika ia sudah tidak menjadi ketua lembaga lagi. Baginya tak penting posisi atau jabatan, yang paling penting masih bisa berkontribusi sekuat tenaga. Di momen inipun ia banyak belajar dan sedikit memahami tentang karakteristik Generasi yang Rabbani. Kata Ibnu Jarir Ath-Thabari atau yang sering dikenal dengan Imamul Mufassirin, pemimpin para ‘Ulama Tafsir, Generasi Rabbani itu memiliki 5 karakteristik. Yang pertama faqih ; memahami Islam dengan sangat baik, kedua ‘alim ; memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni, ketiga bashir bi as-siyasah  ; tahu perkembangan politik, keempat bashir bi at-tadbir ; memiliki kemampuan manajemen dan strategi yang baik, dan kelima qaim bi syu’uni ar-ra’iyah bimaa yuslihuhum fi dunyahum wa diinihim ; melaksanakan segala urusan ummat yang mendatangkan kemaslahatan mereka baik dalam urusan dunia maupun agama.


Sampai pada Tahun 2014 ia bersama kawan-kawan seperjuangannya harus kemudian siap mengimplementasikan ciri generasi rabbani, menjadi salah satu garda terdepan dalam pemenangan partai dakwah. Ia menikmati peran ini dengan segenap potensi dan kemampuannya sampai menjadi tim inti pemenangan salah satu pasangan Capres-Cawapres di Kota Palu. 


Menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang akan dilaksanakan sekitar 8 hari lagi, malam itu di tanggal 1 Juli 2014, seusai Shalat Tarawih pemuda ini seperti telah dibukakan pintu takdirnya agar mimpinya terwujud. Ia mendapat telefon dari Bapak Ibnu Hasan,S.Pd.,M.Pd yang saat itu menjabat sebagai asisten deputi di Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Pemuda ini beserta salah seorang sahabatnya dipilih mewakili Sulawesi Tengah sebagai peserta TOT Character Building Sekolah Karakter Kebangsaan Tingkat Nasional Tahun 2014. Sampai kemudian mimpi pemuda ini di wujudkan dengan cara dan skenario yang begitu indah dari Allah SWT. Ia terpilih sebagai salah satu peserta terbaik TOT Character Building Sekolah Karakter Kebangsaan Tingkat Nasional Tahun 2014 dan berkesempatan untuk bertemu dan bersua dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI yang sedang menjabat, Bapak Roy Suryo bersama istri.

Kawan-kawan sekalian, segores tulisan ini hanya sekedar ingin berbagi tentang pengalaman dan perjuangan.  Tentang mimpi yang harus begitu besar dan visioner, tentang harapan dan motivasi, tentang tekad yang harus kokoh melampaui kekokohan logam mulia, tentang potensi yang harus selalu dikembangkan, tentang semangat untuk tak pernah jera menuntut ilmu, tentang semangat untuk menginspirasi banyak orang, tentang sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. 


Mimpi, ketika ditanamkan dan diresapi dalam jiwa, pikiran, hati, dan perasaan maka akan menstimulus diri ini. Sehingga terbentuk mindset bahwa mencapai mimpi tersebut bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Mimpi yang akan kita rumuskan langkah-langkah realistis untuk menggapainya, mimpi yang tak serta merta di capai dalam waktu yang singkat, tetapi membutuhkan proses yang panjang. Jangan pernah takut untuk bermimpi, Seperti 3 tabiat jalan dakwah ini, thulut thariq (panjang jalannya), katsirul aqabat (banyak timpaannya), qilaturrijaal (sedikit orangnya). Bahkan jika Surga adalah salah satu mimpimu, pantaskanlah dirimu untuk mencapainya.

Selasa, 03 Juni 2014

Dua Suar Cahaya Di Bumi Kaktus : Sebuah Epilog

Palu, Rabu 4 Juni 2014
Oleh : Mohamad Khaidir


Kedua tiang itu tampak berdiri tegar menyokong hampir semua elemen Mushallah. Letaknya di bagian utara dan selatan. Pagar kayu mengelilingi halaman berjejer meski tak begitu rapi, karena pagar tak elok ini adalah karya tangan-tangan lusuh yang terbiasa memegang pena. Terkadang hewan-hewan ternak begitu leluasa masuk mengotori tempat pembinaan para arsitek peradaban bangsa. Angin sayup-sayup terdengar bertiup menggugurkan daun-daun yang semakin menumpuk di genteng yang tak lagi kokoh itu, sekitar 2-3 pekan sekali mereka-mereka yang terpilih dan peduli dengan senang hati membersihkannya. Lantainya begitu dingin apabila tak ada karpet yang menjadi alas, itupun hanya karpet-karpet yang tipis dan rombeng. Dari hati yang terdalam kondisi yang memprihatinkan ini perlu segera dicarikan solusi yang berarti.

Mushallah Al-Iqra' 

Kami adalah pendatang baru di Kampus Bumi Kaktus ini, sama sekali belum memiliki gambaran tentang apa yang harus dilakukan untuk agama dan bangsa ini, pemikiran belum sampai sejauh itu. Sederhana saja, ingin menjadi ekonom atau akuntan yang profesional, masih cenderung berkiblat pada sistem pendidikan kapitalis, masih cenderung materialistis, dan masih sangat berpatokan pada nilai-nilai hampa akademis yang tampak seperti menara gading. Dari sekian banyak kakak tingkat yang kami temui, membuat kami hampir putus asa karena begitu banyak mereka yang masih terjebak dalam Evil Circle. Tetapi ada sekelompok orang yang jumlah mereka tak begitu banyak, namun persaudaraan mereka kokoh, senyum mereka begitu hangat sampai ke relung hati. Mereka adalah sekelompok pemuda yang mampu melampaui individualisme, di ruangan yang bernama BTE1 pertama kali mereka mengenalkan tentang sebuah lembaga visioner yang bernama MPM Al-Iqra'.

Nilai-nilai hedonis dan asam kecut kegagalan sistem pendidikan masih begitu sulit kami lepaskan, karena seakan-akan menyatu dan menyusup dalam setiap pembuluh darah. Tapi tenang saja, ada beberapa suar cahaya yang meskipun begitu kecil tapi di tengah-tengah kelam ini menjadi penuntun kami. Tak semua orang ingin mengikuti 2 sumber cahaya tersebut, 2 sumber cahaya ciptaan Allah tersebut bernama Dakwah dan Mushallah.

Sebuah realitas ummat yang memilukan disampaikan kepada kami, namun diberi tahu dengan cara yang baik dan cara yang optimis bahwa kami adalah bagian dari solusi tersebut. Dengan segera kami menjadi para pejuang-pejuang tak kenal lelah, meski dengan tertatih-tatih bimbingan dari para senior dan atas hidayah Allah senantiasa menguatkan tekad kami.

Untuk sumber cahaya pertama yang bernama dakwah, pemahaman kami diperluas dengan membuka cakrawala berpikir kami bahwa dakwah itu luas dalam definisi, metode, dan teori dengan syariat sebagai pembatasnya. Visi kampus islami dan madani terus dijejali dalam pikiran dan perasaan kami. Bahwa mencintai Dakwah ini adalah bagian yang tak terpisahkan dari cara mencintai Allah dan RasulNya. Ada yang bertahan dan adapula yang berguguran, karena begitulah cara Allah menguji hambaNya yang berkomitmen dan memiliki tekad melampaui kekokohan logam mulia.

Dakwah adalah sarana menuju perbaikan kampus bumi kaktus ini, hanya sebagian kecil civitas akademika yang mengetahuinya dan tugas kami adalah memahamkan mereka. Cara menyampaikannya adalah dengan kasih sayang, bahkan kalaupun harus berdebat, Perintah langit mengajarkan kami berdebat dengan cara yang ahsan.

Namun dalam segores gagasan penulis kali ini, yang menjadi fokus perenungan inspiratif adalah sumber cahaya kedua yang bernama Mushallah. Setelah resmi menjadi pengurus MPM Al-Iqra’ yang perlu kami rencanakan adalah bagaimana merehab Mushallah, bangunan rapuh tanpa pondasi tersebut. Mungkin dari sisi materi kami hanya memiliki kemampuan finansial yang pas-pasan. Maka salah satu cara kami yang pertama adalah bagaimana membuat orang-orang semakin banyak untuk menjawab panggilan Allah dan mengunjunginya. Untuk tahap awal adalah mengajak orang sebanyak-banyaknya untuk shalat, follow up-nya adalah membuka forum diskusi nonformal antar civitas akademika tentang keprihatinan atas rapuhnya bangunan ini.

Di awal-awal perintisan, strategi kami adalah memprovokasi para civitas akademika tentang rumah ibadah yang harus memiliki nilai estetika. Bukan hanya itu, di fakultas ini adalah satu-satunya Mushallah yang jenis banguanannya belum permanen. Lalu kami ditantang sudah sejauh mana usaha kami. Untuk menunjukkan keseriusan kami bergeraklah beberapa tim untuk membuat rancangan desain mushallah baru yang dipublikasikan secara masif melalui poster yang ditempel secara merata disudut-sudut kampus. Bagi yang sedang membaca tulisan ini, dapat melihat bukti otentiknya di pintu ruang dekanat bagian utara. Sampai kemudian Allah menjawab ikhtiar kami dengan membukakan pintu hati para Hamba-hambaNya yang beriman untuk membentuk panitia pembangunan Mushallah baru. Tujuan awal kami sebenarnya adalah merehab namun Allah memberi hadiah dengan Mushallah baru yang sekarang tampak megah berdiri di depan Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako.

Mushallah Baru


Yang menjadi tugas kami secara khusus dan kita pada umumnya adalah melanjutkan dan menjaga sarana ini. Dakwah butuh sarana yang mumpuni, bahkan Masjid Nabawi menjadi titik sentral awal pergerakan dakwah Rasulullah S.A.W di Kota Madinah Al-Munawarah. Bukan hanya menjadi tempat ibadah namun menjadi tempat bertukar pikiran dan pusat aktifitas peradaban menuju kampus madani.

Semoga sedikit gagasan penulis yang tak elok namun substansial ini bisa bermanfaat dan menginspirasi kita semua. Nurani ini juga terkadang memberi contoh yang tak harus di teladani namun yang menjadi perhatian adalah tentang pewarisan tugas mulia ini. Dua sumber cahaya ini harus senantiasa terpatri di hati, pikiran, dan jiwa kita semua. Dan yakinlah akan janji Allah dan RasulNya, teruslah menjadi Para Pewaris Nabi. 

Untukmu wahai insan yang senantiasa memperbaiki diri, dua suar cahaya ini akan menjadi sahabat akrab aktivitas keseharianmu. Untukmu wahai engkau yang mungkin disibukkan oleh pelbagai urusan, dua suar cahaya ini akan terus mengingatkanmu di saat engkau taat ataupun sedang tersesat.  Untukmu wahai Bani Adam yang terkesan sedang menjauh dari kebaikan, dua suar cahaya ini tak mempedulikan pilihan hidupmu, ia akan terus memendarkan cahayanya agar keselamatan senantiasa membersamaimu.

Rabu, 23 April 2014

Empire Of Region #3

Kultwit dari Akun Twitter @Khaidir_
Palu, 23 April 2014


Ilustrasi

Terinspirasi dari beberapa Narasi, Referensi, dan Artikel, saya ingin melanjutkan Kultwit saya tentang "Empire Of Region #3"..

Ini tentang kekuasaan yang mengakar di daerah oleh Raja-raja Kecil, terkhusus di Sulteng, Efek samping dari Reformasi yang belum tuntas..

Saya ingin melanjutkan Gagasan saya yang masih sangat mentah ini juga karena memahami PEMILU 2014 sebagai 'Tarbiyah Maidaniyah'..

Berangkat dari ketidaksesuaian antara Karakter Masyarakat, Sikap Politik, dan Pilihan Politiknya yang seharusnya menjadi Integral..

Namun realitasnya adalah, antara Karakter Masyarakat, Sikap Politik, dan Pilihan Politik sungguh beragam dan berbeda-beda..

Mungkin karena pendekatan Politik tidak dipahami secara normatif, sehingga Ideologi yang dipakai adalah Materialisme..

Kalau segala-galanya dinilai dari Materi, bahkan pilihan Politik juga, ini Bahaya.. Sekali lagi ini menurut saya.. :)

Sebut saja ada Seorang Caleg DPR-RI Dapil Sulteng yang menyadari hal ini kemudian membuat periodisasi Tugas aspirasinya..

Misal : Selama masa Jabatan 5 Tahun, 3 Tahun akan didedikasikan untuk Kepentingan Pribadi dan Keluarga, 1 Tahun untuk Partai...

..Setahunnya lagi di siapkan untuk Money Politic, Serangan Fajar, pamer kebaikan, dan nagih suara.. Kalo yang ini saya harus bilang 'Woooow'

Saya masih Obyektif dan belum berani menilai yang mana Benar dan mana yang Benar Banget.. :)

Cuma, kasian aja sama Orang-orang yang memang nggak ingin membangun 'Empire Of Region', tapi yang ingin dibangunnya adalah Peradaban..

5 Tahun berada di Senayan, di Sidang-sidang sangat Vokal menyuarakan Aspirasi, di Daerah pun Kontribusinya Nyata..

Karena Asas Partainya adalah Islam dan Dakwah, 5 Tahun jadi waktu yang singkat untuk mengabdi..

Saya nggak ingin membahas Sosok tak kenal lelah itu secara rinci.. Inti bahasan saya adalah 'Empire Of Region' yang luar biasa..

Ia mampu membuat dirinya sebagai Kecenderungan Mayoritas Pemilih, atau dalam Bahasa ilmiahnya 'Bandwagon Effect'..

Disatu sisi saya sangat kagum dengan strategi politik dan kontribusi beliau di Masyarakat.. Sangat Matang dan tak terkalahkan.. 4 Periode..

Namun yang perlu di ingat adalah Politik memiliki grafik Fluktuasi yang sulit ditebak.. Butuh Regenerasi woy! Masa iya Orang tua melulu..

Saya juga nggak ingin menghancurkan 'Empire of Region' tersebut, hanya berniat membenahinya dengan Gagasan saya yang sedikit Gila! :)

Bukankah aktor Utama Perubahan itu adalah Pemuda yang berkapasitas dan berkompeten? Juga harus Sinergi dengan Kaum tua?

6 Kursi DPR-RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah butuh penyegaran woy! Saatnya para Pemuda Sulteng mengguncang senayan!

'Empire of Region' tetap aja jalan, mengabdi pada Masyarakat Sulteng.. Bukan membuat kesenjangan sosial untuk kalangan keluarga anda..

Yang terhormat Bapak yang sukses membangun Empire of Region, saatnya anda mengambil amanah yang lebih besar,Ambil peran sebagai guru bangsa.

Ambil peran sebagai Menteri, dan bertarung di kancah nasional bahkan Internasional.. Biar Indonesia terbukti sebagai Macan Asia! :)

Atau mungkin Bapak ingin cari aman saja ya? Yah, itu Manusiawi.. Mungkin kita berbeda Ideologi..

Tapi saya tetap yakin dengan Kebenaran Ideologi saya, bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, Manhaj-nya jelas, Tujuannya sangat jelas..

Sejelas Langit di siang hari, terang benderang.. Yang insyaaAllah Ideologi ini akan kembali memimpin Dunia ditengah keterpurukannya..

Sebagaimana janji Rasulullah SAW, Khilafatul Minhajah Nubuwwah..

Sekian dulu deh Kultwitnya, Mohon maaf atas Gagasan yang masih sangat mentah ini.. Masih butuh bimbingan dan pengalaman.. InsyaaAllah.. :)

END.

Senin, 14 April 2014

Sajak Tulang Punggung

Palu, 7 April 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, SE.

Coba-coba bersajak dulu..

Biasanya, sajak itu melukiskan tentang perasaan dan pikiran..

Desir Angin dingin yang kunanti.. Membelah kesejukkan di tulang punggungku..

Aku belum berbicara mengenai tulang rusuk, aku ingin mengungkap tentang tulang punggung terlebih dahulu..

Tulang punggung itu sedikit mirip dengan tekad.. Kokohnya, rapuhnya, bahkan kemampuannya..

Kokoh tak selalu kokoh, terkadang ia juga bisa rapuh.. Ia menyokong beban dengan tegap dan terpancang..

Saat tulang punggung tegap dan tekad terpancang, maka butuh pondasi yang kekar dan berdasar..

Namun setegap apapun, tanpa cahaya ia takkan bisa menebak kelamnya malam..

Saat kelam malam menghitam legam, kehilangan pijakan yang terjadi..

Ingin sekali aku bertahan namun tak jua sempurna tapal batasku.. Ideologi diserang dengan tak pandang bulu, logika dan retorika tak berarti.

Keyakinanku ingin di gerogoti bak parasit merongrong sel Inang, tanpa perhitungan ingin dihabiskan..

Nampaknya mereka kehilangan perasaan, bertubi-tubi hujaman tajam nan padat.. Hati-hati dengan Hati..

Hati tak sehalus sutera atau selembut salju.. Ia pun tak sekeras berlian dan sekokoh nikel.. Hanya saja.. Hanya saja.. Aaah..

Sudahlah, Tak ingin ku ulas rinci tentang hati, ini masih tentang tekad yang tak berujung..

Tekad ini terus saja di caci, namun ia tak gentar begitu saja.. Meskipun terkadang ia jatuh tersungkur dan bersujud..

Tekad ini terus saja di intimidasi, namun ternyata aura nya begitu mendominasi seakan-akan menutupi aurora..

Tekad ini di anggap seperti yang lain, dipandang dengan kaca mata hitam tak obyektif meskipun seorang aktifis..

Tekad ini tak dikaji secara mendalam dan mengglobal, mungkin karena sering menggunakan rasio yang selalu berpedoman pada materi..

Mungkin saja.. Mungkin saja.. Mungkin saja..

Padahal peradaban ini tengah menunggu kebangkitan tekad itu..

Dinamika heterogenitas lapangan memang butuh kerja nyata, namun disaat yang bersamaan ia butuh ideologi yang senada perintah langit..

Aaah, ini hanya sekedar sajak saja.. Yang ingin kusampaikan, agar paham, agar diresapi..

Agar ide ini tertulis kokoh di prasasti tulisan, bukan hanya sekedar lisan tanpa action..

Ini hanya sekedar sajak saja, semoga seluruh makhluq segera menepati janjinya.. :)

END

Selasa, 01 April 2014

Selamat Datang Gelombang Ketiga Indonesia!

Palu, 1 April 2014
Kultweet dari Akun Twitter @Khaidir_


Alhamdulillah, Jadi sedikit paham latar belakang Ide besar Ustadz Anis Matta tentang Gelombang Ketiga Indonesia.

Selain kondisi kekinian, 5 pranata sosial ternyata juga menjadi dasar pemikiran Ide Besar tentang Gelombang Ketiga Indonesia. :)

Pranata Sosial tersebut adalah Rumah, Sekolah, Masjid atau Agama, Hukum atau aturan, dan Media. That's It! Pengaruhnya sangat besar!  

Dimulai dari rumah, tempat atau lingkungan tempat kita dibina. Disinilah dasar karakter seseorang perlahan di bentuk.

Yang mengawali itu adalah keluarga. Kemudian setelah lingkungan sekitar rumah, pranata sosial selanjutnya adalah Sekolah.  

Sekolah menjadi pranata sosial yang juga sangat berpengaruh. Guru-guru, teman-teman turut mengambil peran dalam pembentukan karakter kita.

Saya sendiri di masa sekolah, pernah merasakan menjadi Orang Paling pintar, paling bodoh dan kurang perhatian, dan menengah.

Masing-masing kondisi tersebut membuat saya merasakan berbagai macam posisi. Pernah frustasi, tapi kemudian mencoba untuk terus bangkit.

Banyak Ibrah&Hikmah yang bisa kita ambil apabila kita pernah merasakan berbagai macam kondisi di lingkungan sekolah sebagai pranata sosial.

Mengecap studi di TK Aisiyah Bustanul athfal, SDN Biro, SMPN 2 Palu, SMAN 2 Palu, dan Universitas Tadulako mendewasakan karakter saya.

Dan mengajarkan saya untuk tidak menyerah pada keadaan dan terus berjuang. Iklim sosial yang biasa-biasa saja tidak akan melahirkan pejuang.

Pranata sosial selanjutnya adalah Masjid atau agama. Banyak kemudian orang-orang yang tak berhasil mendapatkan kondisi terbaiknya disini.

Memahami Agama secara parsial saja bisa berbahaya. Padahal Agama harus kemudian dipahami secara komprehensif, lalu kemudian di amalkan.

Untuk Agama, ini adalah Hal yg sangat prinsip. Semoga kita semua mampu memahami dgn benar tentang hakikat kemanusiaan dlm perspektif agama.

Pranata sosial yang ke empat adalah aturan dan hukum. Meskipun ini menurut saya nggak begitu substantif, namun punya andil besar juga.

Aturan&hukum di Indonesia sendiri masih tumpang tindih & tambal sulam.Frekuensi amandemen Undang-undang yg semakin banyak berdampak negatif.

Karena sekali lagi ingin saya sampaikan, hukum atau aturan yang berasal dari pemikiran manusia pasti memiliki banyak kelemahan.

Saya nggak menolak sepenuhnya hukum yang berlaku sekarang di negara kita, namun saya merasa Syari'at Islam adalah solusi konkritnya.

Meskipun dalam penerapannya, butuh waktu yang lama dan bertahap serta perlu kajian yang sangat mendalam sampai pada tahap penerapannya.

Dan pranata sosial yang kelima, yang paling memiliki pengaruh besar di zaman Gelombang Ketiga Indonesia adalah MEDIA. :)

Di Era Gelombang Ketiga Indonesia (2014-20...), Dari bangun tidur sampai kembali ke peraduan, media selalu membersamai kita.

Bahkan bagi anak muda sekarang, mulai bertransformasi menjadi kebutuhan pokok.Sehingga,bagi para pejuang dakwah harus memperhatikan hal ini.

Sebagai Calon Khalifaturrahman yang akan memimpin Peradaban maka kita harus merubah mindset kita. MEDIA adalah Tools Of Change. :)

Namun, iklim pranata sosial yang bernama MEDIA ini, di Indonesia masih labil dan perlu pembenahan disana-sini. Media membentuk Publicmood.

Publicmood yang kemudian terbentuk di Masyarakat Indonesia sekarang dapat saya katakan nggak jelas. Kalo dalam bahasa Palu 'Te Jelas'. :)

Tayangan dominan yang kita saksikan adalah Kecelakaan, perzinahan, Korupsi, kriminal, dan hal-hal negatif lainnya.

Apa yang terjadi?! Publicmood pun menjadi negatif. Ditambah lagi 'bandwagon effect', yaitu kecenderungan untuk mengikuti yang mayoritas.

Saat mayoritas masyarakat kita berlaku negatif, maka dapat dipastikan pengaruh MEDIA memang sangat besar. Media Pranata Sosial yang dahsyat!

Tayangan keagamaan pun cenderung negatif. Disaat kita ingin membangun mentalitas enterpreneur, yang banyak ditayangkan adalah sebaliknya.

Ingin membangun mental enterpreneur masyarakat yang tangguh, ceramah tentang 'zuhud' yang tidak proporsional mendominasi.

Maka mau tidak mau, kita juga harus turut terlibat mengambil peran dan menjadikan media sebagai tools of change.

Wajib bagi yang menginginkan perubahan!! Wajib bagi yang ingin berkontribusi agar negeri yg katanya sepenggal firdaus ini kembali tersenyum.

Selamat Datang di Gelombang Ketiga Indonesia!!!

END.

Minggu, 02 Maret 2014

Politik Uang VS Biaya Operasional

Jakarta, 2 Maret 2014
Kultwit dari Akun Twitter @Khaidir_ 

Bismillah, pada kesempatan kali ini mau kultweet tentang Biaya Operasional dari perspektif politik.. :)

Mungkin ini sekedar opini saja, dari saya yang masih awam tentang perpolitikkan, tapi berusaha untuk mengeksplor heterogenitas pemikiran..

Masyarakat pada umumnya sulit membedakan tentang politik uang, dan menggeneralisir pemahaman mereka tentang politik uang..

Apapun transaksi yang dilakukan partai, menyangkut masalah uang, dan berhubungan dengan masyarakat selalu dianggap negatif..

Generalisasi pemahaman tentang politik uang ini perlu diluruskan, agar bisa meminimalisir persentase masyarakat yang memilih Golput..

Padahal, tidak setiap transaksi Parpol itu bersifat negatif. Bisa jadi dana yang di berikan kepada masyarakat adalah dana aspirasi..

Bisa jadi itu adalah dana Reses, dana aspirasi dan dana reses itu memang ada dalam Undang-undang.. Dan teranggarkan dalam APBN maupun APBD..

Bisa jadi, itu juga dana pribadi.. Kalo pemberian pribadi dari Aleg, itu kan bisa jadi Sedekah, keep positive thinking.. :)

Dana pribadi saya rasa sah-sah saja, yang salah itu kalo membeli suara, contohnya seperti serangan fajar. Inilah politik uang yang negatif..

Ada beberapa hal tentang Politik uang yang juga sulit dibedakan oleh masyarakat pada umumnya. Bahkan membuat mereka resisten terhadap Parpol

Misalnya tentang Biaya operasional. Biaya operasional pun dianggap politik uang dalam arti negatif. Sering terjadi di Pemilu Kepala Daerah..

Di Pemilu Kepala Daerah, pasangan Calon Kepala daerah yang didukung oleh Parpol harus kemudian membayar 'Mahar' untuk Parpol tersebut..

Nah, biasanya ini dianggap politik uang dalam artian negatif oleh masyarakat pada umumnya. Padahal 'Mahar' adalah konsekuensi logis politik.

Mengapa saya mengatakan 'Mahar' calon kepala daerah adalah konsekuensi logis dari politik? Saya punya alasan yang kuat tentang hal ini..

Yang perlu kita ketahui bersama adalah, 'Mahar' tersebut adalah biaya operasional Parpol untuk bergerak memenangkan calon kepala daerah..

Calon Kepala Daerah yang diusung wajib untuk menganggarkan ini.. Anda bisa bayangkan Parpol bergerak tanpa biaya operasional..

Parpol juga adalah sekumpulan manusia-manusia normal yang butuh biaya pergerakan, Dana transport dan lain-lain. Ya pasti itu logis.. :)

Seandainya ada seseorang yang bekerja di sebuah instansi baik pemerintah ataupun swasta,bekerja siang malam ngejar target tapi nggak digaji.

Orang-orang yang bekerja dengan ideologi, ideologi apapun itu butuh untuk penghargaan. Penghargaan apapun itu, sangat berarti bagi mereka.

Jangan kemudian menganggap orang-orang Parpol adalah manusia super yang nggak perlu biaya operasional ya..

Seandainya diri anda seperti itu, mau nggak? Bekerja maksimal dan optimal tapi kemudian nggak dihargai. Keep positive thinking.. :)

Semoga kultweet ini bisa bermanfaat dan sedikit membuka pikiran kita tentang politik uang..

Seakan-akan semua hal yang bersentuhan dengan politik dianggap buruk.. Padahal politik juga bisa menjadi sarana perubahan..

Semoga kultweet ini juga bisa mengurangi angka Golput. Karena golput itu adalah pilihan terburuk menurut saya.

Golput itu sendiri adalah pilihan, memilih untuk tidak berkontribusi. Memilih untuk tidak memilih, bisa menjadi fatal akibatnya..

Demikian sedikit sharing dari saya yang masih sangat miskin ilmu ini, semoga bermanfaat.. :)

END.