This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 19 Agustus 2014

Sejenak Bersama Bulan Dan Bahtera Negeri

Palu, Menjelang Pagi, 16 Agustus 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.

Ilustrasi (inet)
Ilustrasi (inet)



dakwatuna.com - Seorang nakhoda sebuah kapal berdecak kagum, sebuah panorama yang unik tengah disaksikannya, bulan tetap terang benderang menjelang pagi hari. Bulan tampak begitu bercahaya meskipun rona fajar menyebarkan warna merah, mengkonfigurasi warna biru pada langit pagi. Karena mendapat asupan cahaya dari matahari, bulan pun tetap memancarkan pesonanya walaupun matahari sebentar lagi akan terbit. Nakhoda kapal ini begitu kagum, karena bentuknya sederhana, indah, dan menawan, bulan pun tetap menawarkan nilai manfaat dari dirinya kepada mata-mata sayup yang menatapnya dengan kekaguman. Sungguh nikmat Allah yang tiada tara, dijadikan keindahan alam yang memanjakan pandangan para insan yang menunggangi dua tunggangan ‘Umar dalam menjalani hidupnya, yaitu sabar dan syukur.

Untuk menatap keindahan bulan ini, orang-orang harus memicingkan matanya, menahan kedip mata yang akan menghilangkan seketika aura indah nan bercahaya dari bulan. Dan setiap yang memandang pun pada akhirnya akan memahami bahwa tidak semua manusia diberi kekuatan untuk menyaksikan keindahan alam ciptaan Allah, karena sebagian kecil manusia harus kemudian bersabar dengan nikmat pandangan yang tak diberikan kepada semua manusia. Sang nakhoda kemudian menyadari bahwa tidak semua manusia diberi kesempatan pada saat yang tepat untuk mengambil hikmah atas setiap fenomena alam, bahkan kebanyakan manusia lupa akan nikmat ini dan memandang keindahan alam dengan cara yang biasa saja tanpa berucap syukur.

Karena keindahan dalam pandangan adalah nikmat Allah yang begitu luar biasa sebagaimana disampaikan dalam Firman-Nya : 

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS.Ali-‘Imran : 14)

Maka, sudah sepantasnya bagi setiap insan untuk memandang keindahan alam dengan perenungan yang mendalam. Mengambil setiap ibrah dari gerakan alamiah alam yang tak akan mampu dianalisis dan dijangkau dengan kesombongan ilmu dan akal manusia. Sudah sepantasnya setiap insan memiliki pemahaman yang baik atas ajaran Nabi dan Rasul serta menjadi pewaris ajaran tersebut, dengan meyakini kebenaran dan kandungan kitab suci Al-Quran. Sehingga dengan segala kerendahan jiwa dan hati sanggup untuk memandang keindahan alam bertautkan gelora dan semangat kepemimpinan. Sebut saja ini tatapan visioner sang nakhoda kapal, cara menatap realitas alam dengan kepemimpinan, karena sejatinya tugas manusia adalah menjadi pemimpin di muka bumi. Meskipun pada awalnya perihal kepemimpinan manusia ini ditentang oleh makhluk Allah yang paling taat seantero jagad raya sebagaimana Firman-Nya: 

“Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu Berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak Menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak Menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia Berfirman, “Sungguh, Aku Mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS.Al-Baqarah : 30).

Kepemimpinan adalah sebuah keniscayaan, inilah yang dilihat sang nakhoda tadi dengan tatapan tajam nan visioner, tatapan kepemimpinan. Sang nakhoda bahkan sadar ini bukan sekadar cerita fiksi One Piece yang bercerita tentang seorang kapten kapal bernama Monkey.D Luffy yang memimpin krunya dengan begitu polos dan lugu tanpa tujuan yang konkret. Sang nakhoda pernah mendengarkan sebuah lagu berjudul Perahu Retak yang dinyanyikan oleh Franky Sahilatua :

Perahu negeriku, perahu bangsaku
Jangan retak dindingmu
Semangat rakyatku, derap kaki tekadmu
Jangan terantuk batu
Tanah pertiwi anugerah Ilahi
Jangan ambil sendiri
Tanah pertiwi anugerah Ilahi
Jangan makan sendiri
(Perahu Retak, Franky Sahilatua).

Ia tertegun mendengar lirik lagu yang sebagian besar memang menggambarkan realitas negerinya. Bahwa keluh dan peluh negeri ini tidak sekedar untuk dinyanyikan, namun segera dicarikan solusi yang berarti. Dan alangkah indahnya bila menjadi bagian dari solusi berbagai permasalahan pelik di negeri ini, dibandingkan sebagian besar orang yang hanya mengutuk masalah dan tak bergerak menjadi bagian dari solusi tersebut. Negeri yang kata orang-orang adalah tanah surga nan indah, namun sebagian besar rakyatnya tak merasakan kemakmuran layaknya cita-cita kemerdekaan. Sang nakhoda adalah orang yang ingin memegang teguh ajaran Islam, ia menyadari bahwa dengan menjalankan perintah serta ajaran Allah dan Rasul-Nya, negeri yang diibaratkan sebagai kapal retak ini bisa terselamatkan. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari shahabat Nu’man bin Basyir Radhiallahu anhuma, Rasulullah saw bersabda :

“Perumpamaan orang yang teguh menjalankan ajaran Allah dan tidak  melanggar ajaran-ajaran-Nya dengan orang yang terjerumus dalam perbuatan melanggar ajaran Allah, adalah bagaikan satu kaum yang melakukan undian dalam kapal laut. Sebagian mendapat jatah di atas dan sebagian lagi mendapat jatah di bawah. Penumpang yang berada di bawah, jika mereka hendak mengambil air, mereka harus melewati penumpang yang berada di atas. Lalu mereka berkata, “Seandainya kita lubangi saja kapal ini, maka kita dapat mengambil air tanpa mengganggu penumpang di atas. Jika perbuatan mereka itu mereka biarkan, maka semuanya akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, maka semuanya akan selamat.” (Shahih Bukhari, no. 2493).

Sang nakhoda menyadari bahwa persoalan pelik negeri ini harus segera diselesaikan. Ia begitu bersemangat ingin melanjutkan cita-cita kemerdekaan para pendahulunya di usianya yang menginjak 69 tahun, sebuah negeri yang adil, makmur, dan sejahtera. Maka bahtera negeri ini membutuhkan seorang nakhoda yang yakin bahwa kapalnya tidak akan karam dan tenggelam selama ia memulai perubahan dari dirinya sendiri meskipun nantinya akan sulit. Sang nakhoda begitu termotivasi dengan perkataan Ali bin Abi Thalib ra yang berbicara tentang kepemimpinan : 

“Barangsiapa meletakkan dirinya sebagai pemimpin, maka hendaklah dia memulai dengan mengajari dirinya sebelum mengajari orang lain. Dan hendaklah dia membersihkan langkah kehidupannya sebelum membersihkan lisannya. Karena orang yang mengajari dan membersihkan dirinya itu lebih berhak dimuliakan daripada orang yang mengajari manusia dan membersihkan mereka.” (Ali bin Abi Thalib).

***

Tulisan ini bukan sekadar bercerita tentang keindahan bulan di pagi hari! Tetapi bagaimana cara kita untuk melihat fenomena alam dengan rasa syukur yang mendalam. Dengan meresapi makna gerakan alamiah alam ini, bahwa dengan rasa syukur yang biasa-biasa saja belum cukup untuk membayar nikmat keindahan alam ini, namun sebagai wujud pengabdian sebagai seorang hamba.

Tulisan ini bukan bercerita tentang perahu yang tak pernah retak kawan! Ya, Perahu negeri ini sedang retak, dan beberapa orang-orang terpilih sedang berusaha memperbaiki keretakan tersebut. Karena ini hanyalah sekedar ide tentang melanjutkan cita-cita kemerdekaan yang sampai saat ini belum dipahami dan dirasakan oleh masyarakat meskipun Nusantara ini sudah berusia 69 tahun.

Tulisan ini bukan bercerita tentang kapal yang akan karam! Ya, sepertinya kapal negeri ini terlihat akan karam karena menghadapi badai, tetapi insan-insan yang bertakwa sedang berusaha agar negeri yang indah ini suatu saat akan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Sebuah model Negeri Madani yang akan memimpin perdaban dunia, dimulai dari perbaikan individu, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur, Insya Allah.

Kamis, 14 Agustus 2014

Tetaplah Berjama'ah !!

Palu, Di Kantor DPW PKS Sulteng, 15 Agustus 2014
Kultwit dari akun Twitter @Khaidir_ 

Cinta pada Qiyadah jangan sampai berlebihan.. apalagi sampai me-maksum-kan mereka..

saya tertegun membaca salah satu opini di Islampos tentang beberapa langkah Jama'ah yang sebenarnya kontraproduktif..

opininya sangat objektif, terlepas dari latar belakang penulisnya apakah juga seorang aktifis dakwah atau hanya seorang jurnalis..

sangat-sangat menohok.. tentang identitas keislaman yang seharusnya terus dijadikan sebagai salah satu landasan visioner dakwah..

tentang jama'ah ini yang cenderung semakin terbawa arus.. penantang arus atau penjelajah arus, bukan keduanya..

tentang jama'ah ini yang seharusnya menjaga orisinalitas nilai-nilai dakwah, dan perannya agar menjadi penjelajah arus..

penjelajah arus yang harus semakin sadar perannya adalah mengarahkan arus, bukannya terbawa arus..

perubahan bentuk menjadi lebih inklusif yang konsekuensi logisnya memiliki dampak positif dan dampak negatif..

kata Ustadz Abdullah Haidir, berbaur dengan masyarakat adalah kewajiban Da'i yang menginginkan perubahan..

namun harus kemudian memberikan dampak positif bagi masyarakat, dengan memperhatikan rambu-rambu dakwah dalam mencerahkan masyarakat..

dampak negatifnya adalah, perlahan para penggerak dakwah semakin menuruti kemauan objek dakwah..

yang seharusnya, dalam rangka menuruti kemauan objek dakwah tidak harus menggadaikan ideologi, visi misi, dan jargon..

lagi..lagi..dan lagi.. jargon yang dibuat seolah membuat bingung para pejuang dan penggerak dakwah..

jargon yang penjelasan filosofinya terkesan di paksakan, meskipun menurut saya pribadi kurang komprehensif..

aaahh.. ini hanya sekedar lantunan kerinduan tentang istiqomahnya menjaga nilai-nilai Islam dalam berbagai aspek..

meskipun arus begitu deras, Orisinalitas Dakwah harus tetap dijaga..

tetapi sekali lagi, cara pandang medan lapangan para jundi dan cara pandang medan data para qiyadah butuh komunikasi dan sinergi..

inilah sekilas pendapat tak penting saya yang insyaaAllah akan dibutuhkan jama'ah kedepannya..

tetaplah bersama jama'ah, karena tangan Allah bersama tangan Jama'ah..

tetaplah bersama Jama'ah, karena ada Barokah Allah membersamai Jama'ah.. :)

END.

Selasa, 12 Agustus 2014

Baju Zirah Itu Bernama Amanah

Palu, Di Sepertiga Malam, 6 Agustus 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.

Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)
                             Ilustrasi. (Foto: blogspot.com)


dakwatuna.com - Baju Zirah itu nampaknya telah rusak, melewati sekian banyak pertarungan yang menegangkan, mengharukan dan beberapa konfrontasi yang membuat pemakainya tampak gagah dan sangat heroik. Tapi baju zirah ini masih memiliki kemampuan untuk bertarung beberapa kali lagi, sebagai buah dari kekokohan tekad para pendahulu yang dengan sabar dan ikhlas membuat baju zirah ini. Beberapa lecet terlihat di bagian lengan, bagian dada, dan bagian belakang yang agak rusak parah.

Lecet di bagian lengan baju zirah ini tergores saat pemakainya harus berhadapan dengan beberapa musuh yang kurang paham tentang segerak amal. Tentang apa itu segerak amal, Salim.A Fillah menjelaskan pada iman di lapis-lapis keberkahan, amal-lah yang membuat kita menjulang, menggapai cakrawala luas, dan mampu memberi naungan dengan rimbun daun-daun. Amal-lah yang mengantarkan keyakinan kita menggapai tempat di dekat ‘Arsyi-Nya yang mulia. Amal-lah yang melonjakkan pinta dan doa kita ke haribaan-Nya.

Dalam beberapa pertarungan ketika pemakai baju zirah ini harus mempertahankan kekonsistenan amalnya, tidak sedikit halang dan rintang yang harus ia hadapi. Pikirnya baju zirah yang penuh wibawa ini hanya untuk dipajang saja menjadi hiasan indah di dalam istana. Padahal fungsi substansi dari baju zirah ini adalah menjadi alat bantu dalam setiap pertarungan, baik pertarungan yang melibatkan hati, ideologi, bahkan fisik.
Maka, kata salah seorang petarung tangguh yang sudah beberapa kali mengganti dan memperbarui baju zirahnya, bukan sabar saja yang dibutuhkan dalam pertempuran, bukan ikhlas saja yang dibutuhkan dalam setiap pertarungan, tetapi sabar dan ikhlas yang jumlahnya lebih dari satu, sabar dan ikhlas yang jumlahnya melimpah di dalam hati, agar setiap pertarungan dapat dilewati dengan perbekalan sabar dan ikhlas yang melimpah ruah.

Bagian tengah baju zirah ini juga tampak lecet, sepertinya telah mengalami beberapa pertarungan dengan gaya body rush. Lecet di bagian tengah baju zirah ini lebih terkait dengan pertarungan keimanan. Imam Nawawy menjelaskan tentang Iman secara etimologi (bahasa) adalah percaya sepenuhnya, dalam istilah iman adalah mempercayai secara khusus, yaitu percaya kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir dan takdir baik maupun buruk. Follow up dari penjelasan tadi adalah tentang sejauh mana keimanan itu harus dijaga di dalam hati, dan diimplementasikan dalam tindakan nyata.

Musuh internal dari keimanan tersebut adalah hawa nafsu dan syahwat yang menggebu-gebu mendominasi jalannya akal sehat. Terkadang, pemakai baju zirah ini terpengaruh dalam lingkungan orang-orang yang kemudian lebih memperturutkan nafsu dan syahwatnya daripada nalar keimanan yang seharusnya mengontrol tindak tanduk pemakai baju zirah tersebut. Musuh eksternalnya adalah sekelompok orang yang bangga dengan Aqidah yang rusak dan menyebarkan fitnah tentang Aisyah bin Abu Bakr ra, Abu Bakr Ash-Shidiq ra, ‘Umar bin Khaththab ra, dan Utsman bin Affan ra. Sekelompok orang-orang yang menyebarkan fitnah tersebut bahkan menyanjung Ali bin Abi Thalib ra secara berlebihan tanpa ilmu yang mumpuni dan hanya berdasarkan fanatisme golongan. Namun serangan musuh internal dan eksternal ini justru membuat pemakai baju zirah semakin istiqomah di jalan kebenaran.

Selanjutnya, lecet dibagian belakang baju zirah ini karena gempuran beberapa orang yang mengaku dalam golongan yang sama dengan pemakai baju zirah ini namun ternyata mereka adalah musuh dalam selimut yang menikam dari belakang. Akmal Sjafril bercerita tentang musuh dalam selimut yang sempat hidup pada zaman Nabiyullah Musa’alaihissalam. Fir’aun bukanlah satu-satunya masalah berat yang dihadapi oleh Nabi Musa as. Dengan izin Allah, Fir’aun habis dimangsa lautan. Akan tetapi, di tengah-tengah Bani Israil, masih terdapat bahaya laten yang mengancam. Rupa-rupanya, jangankan tangan yang bercahaya atau tongkat yang berubah menjadi ular, bahkan lautan yang terbelah pun tidak cukup untuk meyakinkan kaum Bani Israil.

Merekalah musuh dalam selimut yang sempat hidup di zaman Nabi Musa as. Mereka meninggalkan Allah ketika ingatan tentang kekejaman Fir’aun belum lagi hilang dan peluh belum lagi kering. Betapa cepat mereka hilang ingatan akan dakwah Nabi Musa as dan Nabi Harun as yang begitu terjal, padahal kedua Nabi Allah yang Mulia ini telah menyempurnakan tugas untuk menyampaikan kata-kata yang benar di hadapan Fir’aun.

Musuh dalam selimut yang hidup di zaman pemakai baju zirah ini ternyata memiliki kecerdasan yang tak bisa dianggap enteng, mereka memakai kacamata hitam untuk melihat ideologi dan setiap aksi pemakai baju zirah tersebut. Sehingga apapun yang dilakukan oleh pemakai baju zirah tersebut terlihat buruk dan penuh prasangka dalam pandangan mereka. Padahal pemakai baju zirah ini melihat mereka dengan pandangan yang sederhana, menghargai mereka dalam persaudaraan yang tulus, memakai kacamata yang jernih dan bebas dari segala bentuk prasangka.

Baju zirah ini pun bukan sesuatu yang abadi dan memiliki batas umur. Baju zirah ini pun bisa luluh dan hancur, luntur dan pudar, berbeda jauh saat pertama kali di nobatkan di bahu tegap pemakainya. Sesungguhnya tubuh pemakai baju zirah ini masih mampu untuk bertarung, raganya masih tahan dengan benturan-benturan selanjutnya, jiwanya optimis takkan kalah karena banyak belajar dari pertempuran yang pernah ia alami, bahkan ia berkomitmen atas izin Allah semangat ini takkan padam dengan mudah.

Namun yang perlu dipahami oleh petarung tangguh ini, baju zirah yang ia gunakan suatu saat juga akan diganti. Saat Baju Zirah terbaik menanti petarung tangguh tersebut, meskipun tak semulia para Sahabat dan Salafunasshaleh, ia memahami tentang kapasitasnya. Dengan gamang dan galau, efek dari benturan dan pertarungan sebelumnya, dengan terseok-seok karena luka–luka yang mungkin belum sempat terobati ia akan tetap menantang kezoliman namun dengan cara yang lebih waspada.

Pertarungan dan pertempuran selanjutnya akan membuatnya semakin lihai dalam bertarung, cerdas dalam menyusun strategi, mengintai setiap tebasan pedang, terjangan anak panah, dentuman keras. Ia memahami bahwa sebuah pertarungan besar hanya bisa diikuti oleh-orang besar dengan baju zirah yang bernama amanah ini. Tanpa Baju Zirah pun, ia siap untuk luluh lantah, rela hancur lebur, hidup mulia atau mati syahid.

Rabu, 06 Agustus 2014

Adu Pantun ala PPNKRI (Dari Grup BBM PPNKRI)


4 Agustus 2014

Hadijah Kepri :
Satu dua tiga kucing berlari
Berlari di bawah tingkap
NKRI harga mati
Siapa menjajah kite tangkap

Khaidir Sulteng :
Indonesia Negara kepulauan
Kita jaga terus sampai nanti
Sebanyak apapun pantunnya puan
NKRI tetap di hati

Hadijah Kepri :
Anak biawak minum susu
Anak buaya gosok gigi
Walau yang berpantun tak tahu malu
NKRI tetap harga mati

Khaidir Sulteng :
Ada udang pergi ke hulu
Makanan apa yang hendak di cari
Walau kami tak tahu malu
Cinta yang mendalam untuk NKRI

Hadijah Kepri :
Udang mencari anak buaye
Anak Buaye dicari pergi mengaji
Mumpung masih suasana raye
Yang masih mudik hati-hati



Satu dua tiga kucing sedang makan
Yang buat pantun jangan kelamaan

Nuri Sumbar :
Lain dulu lain sekarang
Kak Dijah akhirnya menang

Jalan-jalan ke Puri Avia
Bertemu dengan banyak saudara
Pak Lurah yang nantangin kita
Pergi entah kemana

Hadijah Kepri :
Makan sirih dengan buah pinang
Buah pinang diambil dirumah cik atun
Nak tahu ikon Tanjungpinang
Kota gurindam negeri pantun

Khaidir Sulteng :
Ada aturan untuk kita taat
Jangan sampai kau merasa kuat
Maafkan saya yang sedikit telat
InsyaaAllah sedang ngurusin Ummat

Benangnya disulam dengan tekun
Nanti jadi tak provokasi
Bolehlah Tanjungpinang Negerinya pantun
Negeri Tadulako (Sulawesi) tempat retorika dan aksi

Daun talas dibawah inang
Lambaian ranting tak juga teguh
Dijah menang karena ditantang
Lawan pantunnya pun tetap tangguh

Indonesia persaudaraannya erat
Antar unsur saling terkait
Inilah kisah orang-orang hebat
Aksinya banyak tidurnya sedikit

Di Tanjungpinang ada Masjid Penyengat
Di Sulawesi ada tugu Khatulistiwa
Di dalam hati bolehlah semangat
Di kerja nyata jangan jumawa

Senin, 28 Juli 2014

Sang Penjelajah Arus

Palu, Ba'da Lebaran, 29 Juli 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.




Arusnya mengalir begitu deras, mengalir menerjang bebatuan, pepohonan, tumbuh-tumbuhan kecil, menerpa dan mengikis tanah lembab sedikit demi sedikit. Bahkan tanah dan bebatuan yang kokoh pun sedikit demi sedikit terkikis karena terjangan dan terpaan arus yang terus menerus. Arus ini menggerus apapun yang berada di sepanjang  jalannya, sekokoh dan sesolid apapun materi tersebut. Arus yang begitu konsisten ini terkadang harus menghadapi sekelompok penantangnya. Dan hampir dapat di pastikan arus ini akan selalu memenangkan pertarungan dengan para penantang arus tersebut.

Perkenalkan mereka para penantang arus, yang selalu tak sabar dengan perubahan. Inginnya selalu instan dan konstan. Para penantang arus ini tak menghargai proses dan sangat mementingkan hasil akhir. Apapun yang terjadi yang paling penting adalah hasil akhirnya, ini opini mereka para penantang arus. Terkadang mereka harus menerima akibatnya akibat terlalu terburu-buru dalam bersikap, bertindak, dan menganalisis segala sesuatunya.

Para penantang arus ini tidak menyadari bahwa ada alam yang lebih kekal setelah alam dunia yang hanya menjadi tempat persinggahan mereka. Sehingga, mata dan hati para penantang arus sering larut dalam perdebatan panjang. Padahal, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mata merupakan penuntun, sedangkan hati adalah pendorong dan penuntut. Mata menikmati pandangan dan hati menikmati kepuasan pencapaian. Dalam cinta, keduanya merupakan  sisi yang tidak bisa melepaskan. Manakala terpuruk dalam kesulitan dan sama-sama berada dalam cobaan, keduanya saling mencela dan mencaci.

Hati berkata kepada mata, “Kamu yang menyeretku kepada lubang kebinasaan, menjadikanku berada dalam penyesalan panjang hanya karena telah mengikuti langkahmu sesaat saja. Kamu lemparkan lirikan ke taman itu, kamu mencari penawar di kebun penyakit, dan kamu melanggar firman Allah Yang Maha Bijaksana, “Hendaklah kamu menahan pandangan.” Kamu juga menyalahi tuntunan Rasulullah yang menyatakan, “Memandang perempuan adalah panah iblis yang berlumur racun, barangsiapa yang melakukannya karena takut kepada Allah Swt. maka Allah akan memberikan balasan atas keimanannya, berupa kemanisan iman yang ia rasakan di dalam hatinya.” (H.R.Ahmad). Inilah debat panjang antara mata dan hati para penantang arus, karena para penantang arus tersebut tidak sabaran, terburu-buru dengan perubahan sehingga mereka sendirilah yang kemudian terjerembab dalam lembah hitam kemaksiatan yang semakin samar-samar.

Kondisi ini sangat kontradiktif dengan para petualang arus, para penjelajah arus. Para penjelajah arus begitu menikmati arus yang akan dilewatinya. Mereka menyadari bahwa arus adalah gerakan yang alamiah, seperti gerakan api yang sedang berkobar. Inilah mereka para penjelajah arus, memiliki sedikit kesamaan dengan para penantang arus, yaitu lebih menghendaki gerakan secara kolektif dan berjama’ah.

Kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, ada satu golongan berjalan pada rel perintah dan cinta-Nya, mereka berhenti di tempat penghentian yang ditentukannya. Mereka bergerak sesuai dengan panduan gerak dan perintah-Nya. Mereka mempergunakan perintah dan dalam takdir, mendayung dengan sampan perintah di lautan takdir-Nya, menetapkan urusan dengan takdir-Nya, dan menghukum dengan ketetapan-Nya. Semua itu sebagai manifestasi dari ketaatan terhadap perintah-Nya dan demi mencari keridhaan-Nya. Mereka inilah orang-orang yang selamat dan berbahagia. Menurut penulis pribadi, karakteristik yang disampaikan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah inilah karakteristik  yang mendekati sosok para penjelajah arus.

Dari sekian banyak para penjelajah arus dan diantara mereka, rupanya ada sosok yang lebih membanggakan dan semangat dalam mengakselerasi gerakan mereka. Sebut saja sosok ini disebut Sang Penjelajah arus. Sang penjelajah arus pandangannya begitu visioner dan idealismenya kuat. Meski terkadang keputusan yang diambil harus situasional dan kondisional, sesuai momentum. Tapi Sang penjelajah arus ini tetap yakin dengan sumber dan prinsip kebenarannya. 

Sang penjelajah arus bermukim di sebuah negeri yang katanya bersemayam Satria Piningit, sering disebut Nusantara. Sang penjelajah arus sering menjelajah negeri nusantara yang sangat ia cintai ini, tidak lain adalah wujud cintanya kepada Allah atas nikmat negeri yang indah ini. Ia pernah menjelajahi puncak, meretas jejak para pendahulu, meniti jalan Sekolah Karakter Kebangsaan. Ia pernah menjelajah ke tanah Ambon manise di Maluku, ia pernah menjelajah istana Sultan Babullah di Ternate, pernah menjejakkan kaki di monumen perjuangan Bandung Jawa Barat, pernah mencapai puncak matantimali Sigi Sulawesi Tengah, pernah merapatkan langkah untuk mendaki segoro gunung Solo Jawa Tengah, pernah menjejakkan kaki dan merasakan kisah indah di Tanah kelahiran Bung Tomo Surabaya Jawa Timur, pernah menyebar langkahnya di dermaga Bitung Sulawesi Utara, pernah memantapkan langkahnya di tanah kelahiran Sultan Hasanuddin Makassar Sulawesi Selatan, pernah menderapkan kakinya di tanah istimewa Yogyakarta, dan pernah merasakan hangatnya pasir pantai Bambarano Donggala Sulawesi Tengah.

Ia mencintai negeri ini, ingin ibu pertiwi ini tak lagi meneteskan air mata. Negeri ini begitu kaya, begitu elok dan dicintai. Dengan Rasa Cinta yang begitu mendalam, sering Sang Penjelajah arus menyanyikan sebuah lagu karya Ismail Marzuki yang berjudul Tanah Air :
"Walaupun banyak negeri kujalani..
yang masyhur permai di kata orang..
tetapi kampung dan rumahku..
disanalah ku rasa senang..
tanahku tak kulupakan..
Engkau Kubanggakan.."
(Tanah Air, Ismail Marzuki)

Ia tak seideal sosok pemeran utama dalam film Sang Kiai. Ia pun menyadari bahwa semangat pembaharuannya dalam mengarahkan arus tak sebegitu menggelegar ide dan aksi sosok pemeran utama dalam film Sang Pencerah.  Mungkin saja hubungan dengan kawan-kawannya tak se-solid para pemeran dalam film Laskar Pelangi. Mungkin juga, ia sedang tidak dalam kondisi terbaiknya dalam berjuang seperti para pemeran utama dalam film 5 Cm yang kondisinya selalu baik bahkan jauh lebih baik untuk meraih mimpi. Atau mungkin juga mimpi, harapan, dan asa-nya tak se-konkrit para pemeran dalam film Negeri 5 Menara.

Inilah dia, Sang penjelajah arus. Meski bukan sosok yang ideal, ia yakin seluruh kerusakkan sistem akan dapat diperbaiki sedikit demi sedikit, maka ia terus berjuang tanpa kenal lelah. Meski terkadang ia harus sedikit manusiawi dengan merasa iri pada para anak pejabat dan konglomerat. Ia yakin dengan perbaikan yang dimulai dari individu, maka kerusakkan yang sudah sistemik ini akan semakin baik dan harapan besarnya kerusakkan ini akan sirna. ia yakin suatu saat atas kehendak Allah, kerja secara Berjama’ah, dengan niat yang baik, metode yang baik, bahan baku yang baik, komponen mesin yang prima dan mumpuni, suatu saat bangsa ini akan semakin baik dan tercerahkan, Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur.

Sabtu, 19 Juli 2014

3 Propaganda Sekularisasi

Palu, 20 Juli 2014
Kultwit dari Akun Twitter @Khaidir_ 




Kultwit Shubuh dulu deh, agar ilmu ini tak berdiam di kepala saja, agar berkah ilmu ini harus di sharing :)

Saya ingin Kultwit tentang 3 poin dari Sekularisasi yang menjangkiti anak bangsa, ini penting untuk di ketahui, karena bisa menggerus Aqidah

Poin yang pertama adalah Disenchantment of nature, pemahaman tentang Alam adalah milik manusia, dan manusia bebas mengeksploitasi Alam..

Karena Alam adalah hak milik manusia, manusia bebas mau ngapain, alam ini kan milik manusia.. Mau di eksploitasi, mau di rusak..

Alam ini mau dimanfaatkan sebanyak-banyaknya demi kepuasan individu, ya bebas dong, alam kan milik manusia..

Berangkat dari pemahaman disenchantment of nature ini, muncullah ide-ide tentang penjajahan, menindas orang-orang demi hasil bumi..

Negara kita pun menelan pil pahit implementasi dari pemahaman ini, ratusan tahun kita dijajah sama Belanda, Jepang, dll. Karena hasil bumi..

Padahal di dalam konsep Islam, Alam adalah Hak milik Allah SWT, kita diberi hak untuk mengelolanya dan menjaganya..

Melalui mekanisme yang begitu indah, Islam memberikan sistem yang begitu indah tentang pengelolaan alam..

Untuk SDA yang tak terbatas, Negaralah yang berhak mengelolanya, dengan memperhatikan Kesejahteraan dan kemakmuran sebagai indikatornya..

Manusia bebas mengelola alam dengan Syariat sebagai batasnya, konsep mana lagi yang lebih indah tentang pemanfaatan Alam selain konsep Islam?

Poin kedua dari sekularisasi adalah Deconcecration of values, semua nilai direlatifkan, nggak ada yang baku..

Berangkat dari mengoptimalkan akal dan pikiran manusia, dan menggunakan growth mindset yang dominan..

Sehingga, akal menjadi acuan utama. Manusia terlalu mengandalkan akalnya dalam setiap persoalan, seakan-akan menghilangkan peran Tuhan..

Karena terlalu mengutamakan akal, maka semua nilai pun di relatifkan, nilai apapun itu..

Nggak ada nilai, tata aturan, dan norma yang baku, semua relatif.. Begitupun kebenaran, nggak ada kebenaran yang absolut, semua relatif..

Yang lebih ekstrim lagi, salah satu pentolan JIL pernah berpendapat bahwa Wahyu Allah telah berhenti turun sekitar 14 abad yang lalu...

Sementara akal pikiran manusia terus berkembang, maka Islam pun bebas ditafsirkan mengikuti perkembangan zaman dengan kedok Islam Progresif.

Satu Kata untuk Deconcecration of values, PARAH!!!

Dalam Fiqih Dakwah, jelas yang menjadi Sumber Pedoman hidup kita adalah Al-Qur'an, Al-Hadits, serta Ijtihad para 'Ulama..

Itupun, untuk menuju Ijtihad harus melalui proses yang berdasarkan Al-Qur'an dan Al-Hadits, nggak boleh keluar dari sumber hukum utama..

Dalil pun macam-macam, ada dalil yang qath'i dan zhanniy.. Islam sangat jelas memberikan kita nilai, tata aturan, dan pedoman hidup..

Maka orang-orang yang menggunakan deconcecration of values sebagai propaganda nilai-nya adalah mereka yang telah menuhankan Akalnya..

Dan Poin ketiga yang patut juga kita waspadai dari sekularisasi adalah Desacralization Of Politics, pemisahan antara urusan Agama dan Negara

Agama ya agama, nggak ada urusan dengan Politik dan kenegaraan..

Skeptisisme dan Trauma ini muncul dari kegagalan sistem gerejani di sejarah abad pertengahan Eropa..

Sampai sekarang, propaganda desacralization of politics ini di tujukan kepada agama, di Indonesia lebih khusus kepada Islam..

Muncullah istilah-istilah baru seperti Nasionalis-Religius, muncullah kata-kata "jangan bawa-bawa agama dalam forum ini.."

Dalam konsep Islam, Seorang Pemimpin dia haruslah seorang 'Umara dan pada yang saat yang sama ia adalah seorang 'Ulama.. :)

Tidak memisahkan urusan Islam dan Pemerintahan, beginilah yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW, Sahabat, dan para Salafunasshaleh kepada kita..

Kata Ketua Koalisi Merah-Putih Nasional, Bapak Prof.Mahfud,MD Agama dan kekuasaan adalah 2 mata uang yang tak bisa di pisahkan.. :)

Sekian dulu deh Kultwit saya tentang 3 Poin Sekularisasi, semoga bermanfaat dan menginspirasi. Wallahul a'lam. :)

END.

Rabu, 16 Juli 2014

Segenggam Tekad, Segerak Amal, Sejumput Impian : Tarbiyah Madal Hayah

Palu, 16 Juli 2014



“Mimpi adalah kunci..


Untuk kita menaklukkan dunia..


Berlarilah tanpa lelah..


Sampai engkau meraihnya..”


(NIDJI, Laskar Pelangi)

Ada seorang bocah yang belum lama menginjak usia ideal remaja, usianya sekitaran 17-18 Tahun. Bocah ini masih terus mencari apa yang harus dicari, masih sering terombang-ambing dalam gelombang tinggi nilai-nilai sekulerisme.  Ia sedang mencari apa keidealan itu sebenarnya, apakah memang hanya materi yang menjadi indikator utamanya. Apakah masih harus memandang sesuatu yang keren dan gagah itu berdasarkan persepsi orang-orang yang sesungguhnya belum utuh memahami dirinya. Apakah harus kemudian sekedar menjadi followes para orang-orang yang katanya beken dan eksis tapi sangat tidak pantas untuk dijadikan teladan. Bocah ini sedang berada di penghujung masa studi SMA-nya dan tengah mencari hakikat kebenaran. Beberapa kali mencoba untuk meraih peluang kebaikan itu namun sekelompok orang yang berasal dari kalangan  organisasi intra, sepertinya memang sengaja tak memberikan kesempatan itu padanya. 


Dengan tidak diberi kesempatan untuk berkontribusi dalam kebaikan, bocah ini pun ingin mencari arti hidup yang sesungguhnya dari sumber yang lain. Atas berbagai realita, muncullah worldview yang baru dalam gejolak pemikiran pemuda ini tentang masih begitu banyak peluang kebaikan di luar sana.  Entah datang dari momen seperti apa, mungkin karena sering berada di Masjid. Muncul secercah gairah dan keinginan yang menggebu-gebu, semangat bocah ini semakin membuncah ketika peluang kebaikan yang akan ia ambil adalah dalam bentuk partai politik. Dengan pikiran yang masih sedikit kekanak-kanakan peluang kebaikan ini di ambil dengan segala prasangka baik. Dalam pertemuan tiap pekanan yang sebelumnya sudah pernah di ikuti pada masa SMP-nya, bocah ini kemudian mengenal tentang sebuah institusi peradaban dengan kompleksitas permasalahan yang bernama partai dakwah.


Saat itu pikiran bocah ini mulai mencari-cari tentang kebenaran absolut atau minimal jalan terjal dan jalan alternatif menuju kebenaran tunggal tersebut. Dari pertemuan pekanan yang rajin ia ikuti, terbentuk sebuah pemahaman visioner tentang dakwah dan peradaban namun gagasan ini masih terlalu besar dan berat menurut bocah ini. Pikirnya,  perlu mengenal nama Presiden, Wakil Presiden dan Menteri-menterinya adalah salah satu bagian dari standar ilmu pengetahuan yang tak terlalu penting. Masa itu adalah masa-masa kampanye dan bagi bocah ini politik hanya perlu untuk diketahui saja tak penting untuk berkontribusi dan terlibat aktif, cukup belajar agama saja dari partai dakwah ini dan selanjutnya hidup akan beres dunia akhirat. Sebuah pemahaman yang sangat sederhana dan masih cenderung memisahkan antara urusan agama dan negara. Yang ternyata ini adalah salah satu poin dari sekulerisme yaitu desacralization of politics, memisahkan antara agama dan negara.


Kontestasi politik semakin memanas  saat semakin dekatnya hari pemilihan umum tersebut. Ditengah carut marutnya konstestasi ini, ada seorang tokoh yang tiba-tiba menarik perhatian bocah ini. Tokoh tersebut adalah tokoh pemuda yang berasal dari Sulawesi Tengah, tepatnya kelahiran Donggala. Tokoh muda ini sepertinya menjadi idola baru baginya, karena tokoh muda ini memberanikan diri untuk maju menjadi calon anggota legislatif DPR-RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah bersama sebuah gerbong partai dakwah. Bocah ingusan tadi secara sadar bercita-cita dan bermimpi suatu saat akan bertemu dengan tokoh muda tersebut, perkenalkan tokoh muda yang sangat menginspirasi bocah tersebut bernama Bapak Adhyaksa Dault.


Mimpi untuk bertemu Bapak Adhyaksa Dault dari bocah ini sepertinya biasa-biasa saja, namun kehendak Allah dan kekuatan mimpi, serta semangat perubahan berkata lain. Bocah ingusan ini mengalami perubahan drastis dalam hidupnya. Mungkin saja faktor dominan yang membuat bocah ini berubah adalah karena secara istiqomah mengikuti agenda pekanan yang bernama liqa’. Agenda pekanan ini terlihat melelahkan dan membosankan namun secara nyata membentuk karakter bocah itu sebagai pribadi yang bersemangat dan mau terus menerus untuk belajar.


Singkat cerita setelah pemilihan Presiden dan pembentukan Kabinet Indonesia bersatu Jilid I Bapak Adhyaksa Dault terpilih sebagai  Menteri Pemuda dan Olahraga RI. Bocah ingusan tadi kemudian terpicu semangatnya untuk terus berproses, aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan terus berusaha menjadi yang terbaik secara akademik maupun organisatoris. Di awal Tahun 2011 bocah yang mulai beranjak menjadi pemuda ini diberi amanah yang luar biasa untuk memimpin organisasi. Organisasi Lembaga Dakwah Fakultas yang bernama MPM Al-Iqra’. Untuk pertama kalinya diberi kesempatan untuk berkontribusi secara besar yaitu sebagai pimpinan lembaga. Karena tak mempunyai pengalaman memimpin sebelumnya, maka pemuda ini harus menjadi quick learning. Dengan metode learning by doing dan bimbingan para senior pemuda ini terus berusaha mewujudkan mimpinya. 


Menteri Pemuda dan Olahraga RI pun beralih kepemimpinan kepada salah seorang Putra terbaik Sulawesi, Bapak Andi Malaranggeng. Di Tahun ini pula, pemuda ini merasa bahwa mimpinya untuk bertemu dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI akan tercapai, pemuda ini terpilih sebagai salah satu peserta perwakilan Sulawesi Tengah untuk mengikuti Training Of Trainer (TOT) penanggulangan faktor destruktif remaja lebih spesifik bidang pornografi dan pornoaksi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Tetapi sekali lagi takdir berkata lain, kesempatan untuk bertemu Pak Menteri harus tertunda karena berbagai kesibukan dan padatnya jadwal acara Pak Menteri, sehingga beliau tidak sempat menghadiri acara TOT yang kami ikuti di Taman Wiladatika Cibubur.

Pupusnya harapan untuk bertemu Menteri ini tidak kemudian menjadikan pemuda ini menyerah dan menyudahi upayanya dalam mengejar mimpi. Ia masih meyakini bahwa para pahlawan penuntas mimpi harus mengalami banyak kegagalan baru kemudian bisa mewujudkan mimpinya. Di Tahun 2012 pemuda ini kemudian terpilih sebagai Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) UPIM Universitas Tadulako. Aktualisasi dirinya untuk perbaikan ummat terus dilakukan secara totalitas dan optimal karena sejatinya Dakwah akan terus meminta perhatianmu, jiwa, dan ragamu, semua demi Ummat yang engkau cintai.


Sambil terus menjalani proses, pemuda ini terus mengeluarkan segala potensinya bahkan ketika ia sudah tidak menjadi ketua lembaga lagi. Baginya tak penting posisi atau jabatan, yang paling penting masih bisa berkontribusi sekuat tenaga. Di momen inipun ia banyak belajar dan sedikit memahami tentang karakteristik Generasi yang Rabbani. Kata Ibnu Jarir Ath-Thabari atau yang sering dikenal dengan Imamul Mufassirin, pemimpin para ‘Ulama Tafsir, Generasi Rabbani itu memiliki 5 karakteristik. Yang pertama faqih ; memahami Islam dengan sangat baik, kedua ‘alim ; memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni, ketiga bashir bi as-siyasah  ; tahu perkembangan politik, keempat bashir bi at-tadbir ; memiliki kemampuan manajemen dan strategi yang baik, dan kelima qaim bi syu’uni ar-ra’iyah bimaa yuslihuhum fi dunyahum wa diinihim ; melaksanakan segala urusan ummat yang mendatangkan kemaslahatan mereka baik dalam urusan dunia maupun agama.


Sampai pada Tahun 2014 ia bersama kawan-kawan seperjuangannya harus kemudian siap mengimplementasikan ciri generasi rabbani, menjadi salah satu garda terdepan dalam pemenangan partai dakwah. Ia menikmati peran ini dengan segenap potensi dan kemampuannya sampai menjadi tim inti pemenangan salah satu pasangan Capres-Cawapres di Kota Palu. 


Menjelang pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang akan dilaksanakan sekitar 8 hari lagi, malam itu di tanggal 1 Juli 2014, seusai Shalat Tarawih pemuda ini seperti telah dibukakan pintu takdirnya agar mimpinya terwujud. Ia mendapat telefon dari Bapak Ibnu Hasan,S.Pd.,M.Pd yang saat itu menjabat sebagai asisten deputi di Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. Pemuda ini beserta salah seorang sahabatnya dipilih mewakili Sulawesi Tengah sebagai peserta TOT Character Building Sekolah Karakter Kebangsaan Tingkat Nasional Tahun 2014. Sampai kemudian mimpi pemuda ini di wujudkan dengan cara dan skenario yang begitu indah dari Allah SWT. Ia terpilih sebagai salah satu peserta terbaik TOT Character Building Sekolah Karakter Kebangsaan Tingkat Nasional Tahun 2014 dan berkesempatan untuk bertemu dan bersua dengan Menteri Pemuda dan Olahraga RI yang sedang menjabat, Bapak Roy Suryo bersama istri.

Kawan-kawan sekalian, segores tulisan ini hanya sekedar ingin berbagi tentang pengalaman dan perjuangan.  Tentang mimpi yang harus begitu besar dan visioner, tentang harapan dan motivasi, tentang tekad yang harus kokoh melampaui kekokohan logam mulia, tentang potensi yang harus selalu dikembangkan, tentang semangat untuk tak pernah jera menuntut ilmu, tentang semangat untuk menginspirasi banyak orang, tentang sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. 


Mimpi, ketika ditanamkan dan diresapi dalam jiwa, pikiran, hati, dan perasaan maka akan menstimulus diri ini. Sehingga terbentuk mindset bahwa mencapai mimpi tersebut bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Mimpi yang akan kita rumuskan langkah-langkah realistis untuk menggapainya, mimpi yang tak serta merta di capai dalam waktu yang singkat, tetapi membutuhkan proses yang panjang. Jangan pernah takut untuk bermimpi, Seperti 3 tabiat jalan dakwah ini, thulut thariq (panjang jalannya), katsirul aqabat (banyak timpaannya), qilaturrijaal (sedikit orangnya). Bahkan jika Surga adalah salah satu mimpimu, pantaskanlah dirimu untuk mencapainya.