This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 11 Juni 2015

Percayalah Pada Dakwah!

Makassar, 10 Juni 2015, Ma'had Al-Birr
Oleh : Mohamad Khaidir

Ilustrasi. (modifikasi dari foto di: win4000.com)
Ilustrasi. (modifikasi dari foto di: win4000.com)kw
dakwatuna.com – Bila memandang langit terasa biasa saja, mungkin kita perlu introspeksi diri lagi dan lagi. Belakangan ini penulis lebih sering mengawali gagasan dengan membahas sedikit tentang langit. Oleh karena bagi orang-orang yang hidup di belantara perkotaan akan lebih senang memandang langit, dan menengok tumbuhan-tumbuhan hijau, sebab beton serta tembok perkotaan sudah sedikit membuatnya jenuh karena peliknya aktivitas sehari-hari di rimbunnya beton belantara perkotaan. Tetapi sekali lagi dari setiap aktivitas yang kita jalani sehari-hari akan menjadi durhaka seorang hamba bila tidak dibarengi dengan rasa syukur setinggi-tingginya. Cara bersyukur setinggi-tingginya adalah dengan menyelamatkan manusia dari jilatan api neraka, itulah dakwah. Bukan wajah dan dagu yang congkak, tetapi hamba yang merunduk serta bersyukur. Belajar merasai setiap nikmat yang telah diterima agar setiap nikmat dan puji syukur menjadi kekuatan iman. Atau mungkin kita terlalu sering mencela hari? Mengobral peluh? Sehingga setiap kondisi terasa menyesakkan? Barangkali kita perlu untuk menelisik lagi hati kita, apakah hati yang menjadi pengendali diri ini sudah lebih dominan kepada hal-hal yang menjauhkan diri dari mengingat Allah? Mau sampai kapan jauh dari Allah? Atau mungkin saja setiap hari engkau mendengar kumandang adzan, mendengar ajakan dakwah, tetapi pura-pura tak tahu atau masa bodoh dengan ajakan tersebut.

Dakwah adalah satu-satunya jalan! Percayalah! Sering muncul di kalangan intelektual pemahaman yang kaku dan sok intelektual tentang keilmuan. Seperti penulis sendiri yang berlatar belakang pendidikan Akuntansi, untuk apa menulis begitu banyak tulisan tentang renungan dan dakwah? Lalu apa yang salah dengan itu semua? Apakah dengan berdakwah melalui tulisan membuat penulis sendiri meninggalkan disiplin ilmu akuntansi? Nyatanya tidak, karena profesi penulis sendiri adalah seorang akuntan yang terus menerus belajar tentang akuntansi dan keuangan, pada saat yang sama juga terus belajar ilmu agama melalui majelis tarbiyah dan halaqah. Lalu muncul wacana pemisahan bidang-bidang disiplin ilmu yang digeluti dan dipelajari dengan persoalan dakwah dan keummatan. Bahwa sarjana pertanian hanya boleh bicara dan membuat tulisan persoalan pertanian saja? Bahwa sarjana pertanian hendaknya tidak berusaha mengaitkan ilmunya dengan ajaran Islam. Seorang sarjana kehutanan juga hanya boleh bicara persoalan kehutanan saja? hanya boleh membuat tulisan-tulisan dan artikel terkait bidang kehutanan saja? Lalu merasa tabu bila mengaitkan tentang hutan dengan ajaran islam, padahal tumbuh-tumbuhan, tanaman-tanaman, senantiasa memuji Allah SWT. Hanya saja penulis yakin orang-orang yang ingin memisahkan Islam dari bidang pertanian atau bidang kehutanan ini tak akan mempercayai tentang seluruh alam semesta yang senantiasa memuji Allah SWT, termasuk tumbuh-tumbuhan. Meskipun mereka yang cenderung memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama ini sombong dengan ilmu yang mereka miliki, meskipun sebenarnya ilmu mereka tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Ilmu Allah SWT.

Ketika forum-forum ilmiah berlangsung, ketika rapat-rapat umum berjalan, dan ada orang-orang yang berbicara tentang kebaikan, tentang agama, maka dengan ketus mereka menjawab, “Jangan bawa-bawa agama dalam forum ini!”, “Jangan bawa-bawa agama di sini!”. Sungguh sangat disayangkan mereka yang masih memiliki pemahaman seperti ini lalu merasa sombong dengan ilmu serta karya-karya yang telah mereka hasilkan, merasa telah berbuat sesuatu, tetapi sungguh amal mereka hanya bagai sawah yang sempat subur lalu seluruh padinya gugur dan layu. Mereka sedang kehilangan pijakan? Ya, itu kemungkinan terbesar yang dapat penulis simpulkan untuk sementara. Melalui tulisan ini penulis akan menyampaikan yang seharusnya, mengingatkan mereka akan Ke-Maha Besaran Allah, serta mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Sebab seberapapun banyak muatan kebaikan pada tulisan seorang hamba yang hina ini, betapapun lihai retorika dan sastra dalam tulisan seorang hamba yang tengah mengembara ini, Allah lah yang memegang hati para hambaNya, Allah lah yang memiliki kuasa atas segala makhlukNya.

Dakwah adalah satu-satunya jalan! Percayalah! Adalah sebuah gerakan dakwah yang membuat penulis kagum, gerakan dakwah yang merangkul semua kalangan, sebab gerakan ini sadar tengah mengemban amanah yang besar, amanah dakwah, dakwah yang sejati, tentang peradaban dan alam semesta. Maka yang bergabung dalam gerakan ini tidak hanya para lulusan ilmu agama saja, tidak hanya para Ustadz yang bergelar Lc saja, tidak hanya lulusan perguruan tinggi agama saja. Hampir semua disiplin ilmu memilih bergabung dalam gerakan ini, mereka yang sarjana ekonomi pembangunan, sarjana akuntansi, sarjana manajemen, sarjana ilmu sosial, sarjana administrasi, sarjana sosiologi, sarjana psikologi, sarjana pertanian, sarjana kehutanan, sarjana pendidikan geografi, sarjana pendidikan kimia, sarjana pendidikan matematika, sarjana pendidikan bahasa inggris, sarjana kimia, sarjana sains, serta ratusan bidang disiplin ilmu yang tak akan cukup bila disebutkan satu persatu pada tulisan ini. Sebagaimana nilai-nilai Islam yang universal, menyentuh segala aspek hidup, intelektual muda yang bergabung dalam gerakan ini berdakwah meskipun ia adalah seorang karyawan swasta, tetap berdakwah meskipun ia seorang guru sekolah, tetap berdakwah meskipun ia seorang arsitek, tetap berdakwah meskipun ia seorang akuntan, tetap berdakwah meskipun ia seorang politisi, tetap berdakwah meskipun ia seorang penyanyi, tetap berdakwah meskipun ia seorang apoteker, tetap berdakwah meskipun ia seorang auditor, tetap berdakwah meskipun ia seorang dokter, tetap berdakwah dan terus berdakwah. Mereka tengah mempersiapkan kemenangan Islam di masa mendatang, tengah mempersiapkan generasi yang profesional dalam setiap bidangnya, sehingga lahirlah para pejuang dakwah dari bemacam-macam profesi serta dari berbagai kalangan.

Masih memilih untuk berpijak pada teori-teori konvensional tentang bagaimana berkarya dan menjalani hidup? Masih sering terjebak dalam kegiatan-kegiatan organisatoris namun tidak dilandaskan pada niat yang baik? Ingatlah bahwa niat yang baik saja belum cukup, sebab Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik-baik saja. Niat yang baik, disertai dengan cara yang baik, proses yang baik, bukan terbaik menurut dirimu sendiri, tetapi menurut ukurun penciptaMu. Ibarat sebuah pabrik yang memiliki bahan baku yang baik, mesin yang optimal, karyawan yang disiplin, manajemen yang baik, proses produksi yang baik, maka produk yang dihasilkan akan menjadi baik. Cara yang terbaik di era modern seperti sekarang ini adalah dengan terlibat dalam aktivitas dakwah dan tarbiyah.

Dakwah adalah satu-satunya jalan! Percayalah! Dari dakwah kita bisa belajar dari para pewaris nabi tentang dakwah sebagai jalan hidup, tentunya diawali dengan niat yang baik. Ukuran niat yang baik, cara yang baik, serta proses yang baik tak akan kau dapatkan dari para selebritis atau artis-artis terkenal. Indikator niat yang baik, cara yang baik, serta proses yang baik hanya dapat engkau dapat dari Rasulullah SAW, sepeninggal Rasulullah SAW pun Ummatnya masih dapat mengambil saripati kebaikan dari para salafunash shalih dan dari para ‘alim’ulama. Indikator kebaikan bukan didapat dari para orang-orang yang katanya aktivis tapi kerjanya hanya menjelajahi harakah, mengkritisi gerakan-gerakan dakwah tanpa melihat diri sendiri yang begitu kecil karena tak mau berjama’ah, mau berdakwah atau hanya main-main ?! Jangan sampai niat yang baik terkotori oleh setitik noda, tidak menjamin meskipun dia adalah seorang aktifis di lembaga dakwah, sebab bisa jadi chatting yang berlangsung di dunia maya antara lawan jenis lalu membahas urusan-urusan yang tidak penting?! Lalu orang-orang yang katanya ingin berdakwah lewat sosial media dengan bebasnya saling mengomentari status, bercanda, saling tegur sapa secara berlebihan?! Ingatlah bahwa hal ini dapat membuat hatimu tertutupi segunung noktah noda dosa!! Lalu engkau menganggap masih menjalani aktivitas dakwah?! Na’udzubillah. Untuk membentuk niat yang baik diperlukan latihan terus menerus, untuk mengetahui cara dan proses yang baik bergurulah kepada para ‘alim ‘ulama.

Dakwah adalah satu-satunya Jalan! Percayalah! “Dakwah akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita”, begitu ucap Syaikh Mustafa Masyhur. Dakwah akan terus bergaung ke seluruh tempat di bumi ini, dakwah akan terus meluas menembus tebalnya tembok belantara perkotaan, dakwah akan terus menyebar sampai ke pelosok-pelosok terpencil, dakwah akan terus bergema dari tepi sungai hingga puncak gunung, dakwah akan terus tersebar dari tepi pantai hingga hutan belantara, dakwah akan terus diserukan hingga Islam tegak di hati manusia, dakwah akan terus berjalan meskipun para ‘ulama dan pemimpinnya terus dibunuhi dan dipenjara, dakwah akan terus ditulis hingga bertumpuk-tumpuk kitab, dakwah akan terus ditulis hingga berbanyak-banyak artikel, dakwah akan terus diucap dari lisan para dai yang berbeda-beda latar belakang, dakwah akan terus diserukan lisan para dai dari berbagai bidang disiplin ilmu, dakwah akan terus dikoarkan dari lisan para dai yang berasal dari semua kalangan, dakwahlah akan menghantarkan manusia dari penghambaan kepada sesama menjadi penghambaan hanya kepada Allah SWT. Percayalah dengan sebenar-benarnya percaya, dengan segenap Iman, Iman yang menghujam nurani dan mengejawantah dalam sikap dan perilaku, bahwa Allah akan terus menyempurnakan CahayaNya meskipun para musuh Allah tidak menyukainya. Percayalah pada Dakwah!



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/06/10/69914/percayalah-pada-dakwah/#ixzz3coDdaC4N 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Minggu, 24 Mei 2015

Inilah Jalan Dakwah, Pantaskah Engkau?

Ma'had Al-Birr, Jum'at 15 Mei 2015
Oleh : Mohamad Khaidir

Ilustrasi. (inet)


dakwatuna.com – Langit masih saja biru, tak perlu mengeluh dengan cerahnya hari dan teriknya mentari, maka sebaiknya mensyukuri hari yang yang masih berjalan, bersyukur atas kemampuan menjalani hari. Saat langit mendung pun seharusnya tak perlu mengobral peluh, peluh tentang mendungnya hari, dengan sombong dan sok tahu menganggap bahwa setiap mendung akan membawa hujan, hujan pun tak masalah bukan? Sebab sang hujan adalah rahmat dari Yang Maha Rahman. Ya, dengan syukur maka engkau akan menjadi mulia, mulia dalam menjalani setiap jejak dan retas perjalanan hidup, bagaimanapun kondisinya, serumit apapun fenomenanya.

Membaca setiap fenomena sangatlah penting, menyadari bahwa setiap peristiwa mempunyai maksud dan hikmah juga tak kalah penting. Apatah lagi setiap momentum yang berdatangan bagai arus air yang selalu mengalir dan melewati batu kehidupan. Dari setiap fenomena, peristiwa, dan momentum butuh perenungan yang mendalam. Sebagaimana definisi peristiwa, fenomena, dan momentum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peristiwa adalah kejadian atau yang benar-benar terjadi, fenomena adalah  hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, sedangkan momentum adalah saat yang tepat. Ya, dengan perenungan yang mendalam, tetapi bukan dengan renungan sembarang renungan. Dari setiap perenungan ini pun harus berdasarkan ilmu, bahkan alangkah baiknya bila bisa sharing dengan orang-orang yang berpengalaman. Apatah lagi berbicara mengenai jalan dakwah, jalan yang penuh dengan kemuliaan dan memiliki pandangan yang sangat jelas. Jangan sampai ego membuat jalan pikiran menafsirkan sendiri tentang jalan dakwah, sebab jalan ini adalah jalan yang telah ditempuh para Nabi dan para Rasul.

Jalan dakwah yang sesungguhnya adalah jalan yang akan menyatukan kaum Muslimin. Jalan dakwah, bukan jalan yang akan membuat kaum muslimin terpecah belah, membuat kaum muslimin tercerai-berai. Namun banyak orang yang belum mengetahui tentang keberadaan jalan ini, bahkan sebagian kecil dari para aktivis merasa sudah berada di jalan dakwah. Padahal nyatanya tidak. Sebagian kecil aktivis ini mengambil posisi yang kata mereka berada di pihak yang independen. Independen yang mereka maksud juga tak bisa mereka definisikan secara tuntas. Apakah independen dalam hal politik? Sungguh dangkal mereka yang membatasi dakwah dengan kata independen dan menganggap tabu bila dakwah sudah masuk ke ranah politik. Bukankah Islam itu agama yang universal? Bukankah Islam juga mengatur perpolitikkan, tata Negara, dan pemerintahan? Mereka yang sebagian kecil ini dengan sikapnya yang juga tak jelas sedang mengebiri nilai-nilai Islam yang universal dan mengatur segala aspek hidup.

Jalan dakwah bukanlah seperti itu, karena jalan ini sudah jelas apa yang menjadi tujuan dan orientasinya. Ada pula sebagian kecil aktivis yang merasa sudah berada di jalan dakwah ketika sudah berkiprah di sebuah lembaga dakwah. Merasa bahwa tujuan dari lembaga dakwah itulah tujuan dakwah seutuhnya. Sehingga mereka yang sebagian kecil ini memberikan loyalitas bukan pada tempat yang seharusnya. Belum memahami yang mana tsawabit dan mutaghayyirat. Ketika status sudah menjadi alumni lembaga dakwah, merasa bingung dan cemas karena tak ada aktivitas dakwah lagi yang bisa dikerjakan. Ketika sudah menjadi alumni, bisanya hanya nongkrong melulu di kegiatan-kegiatan lembaga dakwah yang pernah ia berkiprah di dalamnya. Untuk sesekali saja dengan maksud mengarahkan itu tak jadi soal. Yang jadi persoalan adalah ketika segmen dakwah berubah dan tahapan dakwah sudah beralih ke fase berikutnya, sebagian kecil aktivis ini hanya berada di situ-situ saja. Bahkan keberadaan mereka terkesan membuat segan para aktivis-aktivis baru yang baru bergabung dalam barisan lembaga dakwah. Sudah bertahun-tahun ikut tarbiyah tetapi pemahaman dakwah hanya berkisar di seputaran lembaga dakwah saja. Sudah bertahun-tahun halaqah belum juga tersadar untuk segera berhijab secara syar’i. Sudah bertahun-tahun menjalani aktivitas di lembaga dakwah, mengisi kelompok mentoring, menjadi dewan pertimbangan organisasi, menjadi badan pertimbangan organisasi, menjadi majelis syura’ organisasi, tetapi belum juga menyadari grand design dakwah ini yang sejatinya sedang dalam proses menuju tatanan peradaban. Sudah bertahun-tahun menjalani tarbiyah tetapi masih sulit diberdayakan untuk kerja-kerja dakwah yang sudah sampai di medan amal, di lingkungan masyarakat, di lingkup umat, di tataran politik, ekonomi, dan sosial. Masih saja memahami dakwah tidak secara komprehensif, bahwa dakwah ini masih sangat panjang perjalanannya, masih amat sangat besar gelora dan semangat perbaikan umat, dimulai dari individu, keluarga, masyarakat, lalu negara. Dan untuk mengantar sampai pada tujuan dakwah yang begitu jelas ini, sejelas mentari bersinar dan sejelas langit di siang hari, hanya melalui satu jalan, yaitu jalan dakwah.
Maka, pantaskah bagi kita semua untuk mengambil jalan lain selain jalan dakwah? Bukankah dalam setiap Al-Fatihah yang kita lantunkan kita senantiasa memohon untuk dituntun ke jalan Allah? Jalan yang orang-orang Allah berikan nikmat? Bukan jalan mereka yang Allah murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat? Tidak sadarkah engkau bahwa sampai saat ini jalan yang dimaksud adalah jalan dakwah?

Maka pantaskah Engkau yang ingin bersama-sama bergerak dan melangkah di jalan dakwah untuk mengambil ideologi selain Islam? Apakah kerumitan ilmu sains menjadikan engkau orang yang realistis dan cenderung tidak menyandarkan dirimu pada Allah, melainkan pada pembuktian-pembuktian ilmu pengetahuan? Tidakkah engkau sadar bahwa engkau cenderung sedang menuhankan akal dan logika? Maka tunggulah murka Allah menghampirimu di akhirat kelak, bahkan sedikit dari murka-Nya akan engkau rasakan di dunia.

Maka pantaskah engkau yang tersadar dan ingin segera bergabung di jalan dakwah untuk terperangkap pada slogan-slogan dan jargon-jargon yang bersifat temporer? Atau kata-kata indah yang mewujud dalam visi-misi yang bersifat parsial, hanya untuk institusi, hanya untuk lembaga, hanya untuk daerah, hanya untuk bangsa, hanya untuk Negara? Sungguh dangkal pemahamanmu yang menganggap dakwah hanya bicara soal tazkiyatun nafs, sungguh congkak wajah dan dagumu yang menganggap dakwah tidak akan membahas peradaban masyarakat, peradaban umat, peradaban dunia seluruhnya. Dakwah ini sangat luas, seluas-luasnya alam semesta, sebagaimana karakteristik Islam yang rahmatan lil’alamiin, bahkan bila bumi ada tujuh buah, dakwah pun akan menyinari ketujuh bumi tersebut, sebab Allah akan terus menyempurnakan cahaya-Nya meskipun musuh-musuh Allah tidak menyukainya.

Maka pantaskah engkau yang sebentar lagi akan bergabung dan menisbatkan diri di jalan dakwah untuk untuk malas bergerak dan susah diberdayakan? Pantaskah bagi dirimu untuk memilah-milih amanah dakwah? Atau mungkin merasa pekerjaanmu lebih penting dari dakwah. Apakah perkerjaanmu yang akan mampu menjadi jawaban ketika kelak ada pertanyaan tentang kontribusi bagi islam, dakwah dan umat ini? Jawabannya Tidak! Sekali-kali tidak!! Dan nampaknya engkau harus segera mengubah orientasimu, sebab para Sahabat radhiyallahu’anhuma juga berdakwah, pada saat yang sama mereka juga bekerja. Bahkan hasil dari keringat dan pekerjaan mereka sebagian besar diberikan untuk perjuangan dakwah ini. Sudahkah engkau ketahui bahwa sumur yang dibeli oleh Sayyidina ‘Utsman Bin Affan radhiyallahu’anhu dari orang Yahudi, diperuntukkan untuk Kaum Muslimin, sampai saat ini asset tersebut masih dikelola oleh Pemerintah Saudi Arabia untuk kesejahteraan Umat? Maka semua harta dan keringat hasil pekerjaanmu hanyalah debu di atas debu bila hanya habis untuk keperluan-keperluan pribadimu. Namun harta dan jiwamu akan menjadi mulia ketika keduanya diinfaqkan di jalan dakwah. Transaksi mana lagi yang lebih menguntungkan? Betapa tidak Allah membeli harta dan jiwa orang-orang beriman.

Maka pantaskah engkau yang sudah berada di jalan dakwah namun belum begitu memahami esensi dakwah jamaah, memilih untuk tidak taat dan patuh pada murabbi dan naqib? Lalu engkau merasa sedang berada bersama di jalan dakwah? Merasa sedang berjamaah? Padahal kegiatan sehari-harimu tak kau sharing kan kepada teman-teman halaqahmu, persoalan, masalah, dan kegembiraan tak diketahui oleh sahabat-sahabat seperjuanganmu dalam dakwah. Yang lebih parah lagi engkau memilih pasangan hidup tidak sesuai koridor jamaah dakwah, tidak berkoordinasi dengan murabbi atau naqib.

Inilah Jalan Dakwah, ini baru permulaannya, ini masih kulitnya, untuk memahami intinya maka dituntut keseriusanmu, totalitasmu, serta loyalitasmu, untuk bergerak bersama jamaah dakwah, untuk bersama-sama tidak terjebak dalam isu-isu temporer, kedaerahan, isu-isu parsial yang dapat dipastikan tidak akan mampu menyelesaikan persoalan peradaban. Maka dituntut pengabdianmu untuk bergerak bersama jamaah, sesuai koridor jamaah, sebab jalan dakwah adalah dengan berjamaah. Inilah jalan dakwah, jalan yang begitu mulia, yang dilalui para Nabi dan Rasul yang Mulia, tugas yang begitu mulia. Tangisi dan tertawakan dirimu yang masih menganggap dakwah ini sederhana. Inilah Jalan Dakwah, maka pantaskah engkau? (dakwatuna/hdn)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/05/25/69141/inilah-jalan-dakwah-pantaskah-engkau/#ixzz3b86NJSvG 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Rabu, 06 Mei 2015

Wajah, Dagu, Serta Sujudmu

Rabu 22 April 2015, Ma'had Al-Birr Makassar
Oleh : Mohamad Khaidir

Ilustrasi. (Foto: kanald.ro)
Ilustrasi. (Foto: kanald.ro)
dakwatuna.com – Jangan mendongak ke atas seperti ketinggian langit, sebab ketinggian langit takkan mampu kau ukur sekalipun disiplin ilmu yang sedang atau telah kau tekuni adalah bidang astronomi atau bidang fisika. Tersebab langit yang engkau pahami selama ini mungkin hanya bermodalkan pemahaman berdasarkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang kau dapatkan di sekolah. Tak pernah kah kau membuka Alquran, membaca tafsir, atau membaca dan mendengarkan kajian para ‘ulama tentang pengertian langit yang sebenarnya berdasarkan Alquran? Tetapi pada kesempatan kali ini penulis tak ingin memperuncing perdebatan tentang definisi langit yang sesungguhnya. Hanya ingin sedikit menggugahmu betapa perilakumu yang sering mengangkat wajah dan dagu seakan-akan ingin menyaingi ketinggian langit dan terlupa akan sejatinya pijakan tanah. Tanah yang kelak akan bersaksi tentang apa saja yang pernah engkau lakukan saat menginjaknya, dengan jelas dan terang tanah akan menceritakan beritanya, dengan tegas dan lugas tanah akan menceritakan kejadian baik dan buruk yang pernah terjadi di atasnya, dengan segala kejujuran dan keterbukaan tanpa ada sesuatu pun yang ditutup-tutupi.

Tulisan ini adalah tulisan pertama yang ingin penulis goreskan ketika untuk kesekian kalinya memijakkan kaki di Kota Daeng, begitu orang-orang menyebutnya. Pusat peradaban Indonesia bagian Timur ini bernama Kota Makassar, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kota yang menyimpan begitu banyak sejarah tentang perjuangan dakwah Islam, sebut saja kisah perjuangan La Ma’daremmeng Sultan Muhammad Saleh, Karaeng Patingalloang, dan Tuanta Salamaka. Semoga goresan ide dari seorang hamba hina yang bersal dari Sulawesi Tengah ini mampu untuk sedikit menundukkan kepala congkak yang terlalu sering melihat ke atas, tak ada habis-habisnya ingin meraup harta dan kesenangan dunia, tak pernah terpuaskan oleh kesenangan yang bersifat material, seakan-akan ia hidup selamanya. Goresan ide ini juga ingin mengingatkan kepada diri penulis pribadi dan kepada para pembaca Dakwatuna sekalian tentang pentingnya untuk menjadikan hanya Allah saja sebagai tujuan hidup, bukan bermaksud menihilkan kebahagiaan, tetapi seperti itulah hakikat kehidupan ini.

Ketika ingin memahami apa sebenarnya tujuan hidup ini, tidak lain dan tidak bukan adalah beribadah kepada Allah SWT, hanya kepada Allah saja. Maka tidak pantas engkau mengangkat wajah dan dagumu setinggi langit dan ingin menunjukkan bahwa engkau menjadi mulia dengan kemolekan rupamu. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, :

Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan penampilanmu, tetapi Allah melihat hatimu.

Tersebab ada nilai yang lebih mulia daripada sekadar mengandalkan keindahan fisik semata, sebab Allah tak akan melihat itu. Coba engkau sandarkan kembali segala sesuatunya kepada Allah, betapa wajahmu beserta pori-pori dan lekuk-lekuknya begitu sempurna, begitu proporsional dalam bentuk dan rupanya. Setiap organ saraf di wajah yang begitu sempurna ciptaan Allah SWT, sehingga apabila engkau hiasi setiap organ wajahmu dengan tasbih dan tahmid serta sujud, jangan heran apabila ia tampak bercahaya. Bukan sekadar cahaya dalam artian fisik, tetapi cahaya yang memancarkan aura keshalehan, setiap yang memandang dengan penuh ketundukkan, setiap yang memandang dengan pandangan iman, akan larut hatinya, akan luluh perasaannya, dengan segera akan mengingat Allah SWT. Sekarang begitu banyak orang-orang yang melupakan pengaruh itu, betapa mulia dan utamanya mengakrabkan diri dengan orang-orang yang shaleh. Selain menjadi obat hati, berkumpul dengan orang-orang shaleh juga akan membuatmu cenderung menetapi ketaatan dan menjauhi segala kemaksiatan.

Hari ini, karena engkau masih sering mendongakkan kepala dan dagumu ke atas dengan congkak, engkau lebih sering merasa segala sesuatu bisa diukur dengan kebahagiaan, dan kebahagiaan seringkali diukur dengan kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan. Setelah mengkaji berbagai dorongan kejiwaan yang dapat menyelewengkan seseorang dari keikhlasan, Hasan Al-Banna sampai berkesimpulan bahwa yang paling dominan di antaranya adalah kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan. Betapa sering menjadikan kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan sebagai orientasi utama. Padahal letak kemuliaan seseorang adalah tingkat ketakwaannya.

Betapa congkaknya dirimu berjalan di muka bumi ini dengan wajah dan dagu yang terangkat, menganggap rendah semua orang, merasa dirimu paling hebat, merasa dirimu paling kuat, merasa dirimu paling cerdas. Bukalah sejenak smartphone atau android phone milikmu, bukalah aplikasi google map atau google earth. Sekarang lihat, betapa kecilnya dirimu bukan? Betapa dirimu ini tak terlihat dalam sebuah peta? Lantas dirimu merasa besar? Merasa congkak? Merasa hebat? Tunduk dan sujudlah sebagai tanda pengakuanmu atas betapa tak ada apa-apanya dirimu. Tunduklah dan beribadahlah kepada Allah SWT. Beribadah dengan cara yang diRidhai Allah SWT, cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Betapa Rasulullah SAW memberi contoh penghambaan terbaik kepada Allah SWT adalah dengan menyelamatkan umat manusia dari jilatan api neraka. Api yang akan membakarmu hingga seluruh tubuhmu, baik organ dalam maupun organ luar akan terbakar, mendidih, dan meleleh. Betapa tak ada apa-apanya penderitaanmu di dunia bila dibandingkan dengan panasnya api neraka. Begitupun sebaliknya, betapa tak ada apa-apanya kesenangan yang engkau kejar di dunia dibandingkan dengan indah dan gemerlapnya surga bagi orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang mengikuti jejak para Nabi dan Rasul, orang-orang yang menepati janjinya kepada Allah, orang-orang yang syahid dalam perjuangannya di jalan Allah SWT, serta orang-orang yang shaleh.

Tundukkan kepalamu, bersujudlah, tersungkurlah sembari mengingat kesalahan yang pernah engkau lakukan. Mantapkan iman dalam dirimu, keyakinan yang mendalam, dan bukalah hati dan pikiranmu untuk mengikuti majelis Tarbiyah, majelis Halaqah, atau majelis-majelis ilmu lainnya. Sebab dengan berkumpul bersama-sama orang-orang shaleh, yang cinta dan peluh hanya kepada Rabbnya. Sebab seperti itulah cara yang diajarkan oleh para ‘ulama serta para salafunashaleh, tentang keistimewaan kewajiban dakwah. Berdakwahlah, sebab dakwah ini akan terus berjalan, dakwah ini akan terus menyeruak menggenapkan kegelapan-kegelapan zaman. Melalui dakwah, cahaya Allah akan terus menyebar, Allah akan terus menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.

Sekarang, tundukkan secara perlahan wajah dan dagumu ke bumi, sadari bahwa engkau tak ada apa-apanya di bumi Allah yang terlalu luas ini, tumbuhkanlah keinginan belajar dan mulailah tarbiyah, mulailah menghadiri majelis-majelis halaqah serta majelis-majelis ilmu yang akan menyelamatkan hidupmu. Dakwah sejatinya adalah seruan dan ajakan terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, satu saja yang terenyuh hatinya untuk tersadar, satu saja orang yang mendapat hidayah melalui perantaramu, satu saja orang yang ter-rekrut untuk bergabung menjadi pejuang dakwah bersamamu dan barisan dakwah ini, maka itu lebih baik dari onta merah, lebih baik dari seluruh penjuru dunia, lebih baik dan segala apa yang ada di langit dan di bumi ini. Sambutlah seruan ini, tinggalkan egomu, tanggalkan pakaian kebesaranmu, pakaian yang terbuat dari kesombongan, pakaian yang tercipta dari kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, serta kepentingan.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/05/06/68247/wajah-dagu-serta-sujudmu/#ixzz3ZPg1rsPY 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Senin, 16 Maret 2015

Kepada Siapa Engkau Mesti Cemburu?


dakwatuna.com - Kepada siapa engkau mesti cemburu? Rasa-rasanya pertanyaan sederhana ini menggelitik nurani penulis untuk merefleksikannya ke dalam renungan-renungan sederhana, renungan-renungan yang semoga menggugah hati kita. Tentang kecemburuan, hal ini selalu berdampingan dengan rasa cinta. Di mana ada cinta pasti ada rasa cemburu. Bagaikan keberadaan asap yang selalu mendampingi api. Cinta sejati akan menuntut hampir semua potensi dalam dirimu, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, cinta yang hakiki akan memberikan kepadamu keharusan kesetiaan cinta terhadap satu kekasih, dan hal itu menjadi konsekuensi logis yang kemudian muncul, maka rasa cemburu sangat bergantung pada kadar kekuatan cintanya.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah kepada siapa engkau mesti cemburu? Karena kadar cemburu bergantung pada kadar kekuatan cinta. Maka bila cinta itu menuntut kesetiaan terhadap satu kekasih, yakinlah bahwa yang paling engkau cintai adalah yang akan engkau ikuti, engkau bela, engkau taati, engkau teladani, engkau kagumi, pantas untuk engkau cemburui, bahkan di padang mahsyar nanti engkau akan bertemu dengan yang paling engkau cinta. Kepada siapa engkau mesti cemburu? Pertanyaan ini dapat menjadi renungan yang mendalam bagi para penikmat cinta sejati, orang-orang yang sedang jatuh cinta, mereka yang sedang terbakar rindu dan ingin bertamasya.

Kepada siapa engkau mesti cemburu? Sikap cemburulah yang akan mendorong si pecinta untuk berkorban jiwa, harta, dan kehormatannya demi yang dicintai. Mungkin sebagian dari kita begitu kagum dengan sosok Lionel Messi. Pemain sepak bola berkebangsaan Argentina, bernomor punggung sepuluh di klub papan atas Liga Spanyol, tiga kali berturut-turut menyabet gelar pemain terbaik dunia. Mungkin engkau menganggap rasa ini adalah rasa yang biasa saja sebagai seorang fans, rasa kagum yang biasa saja sebagai seorang penggemar. Ya, semua rasa itu tampak seperti biasa saja. Rela mengurangi waktu tidur untuk menyaksikan sang idola bermain, secara tidak sadar sedang berkorban jiwa dengan mengurangi waktu istirahat. Rela mengeluarkan sejumlah dana untuk ikut nonton bareng di kafe-kafe dan di warung kopi untuk menyaksikan sang idola beraksi. Keesokan paginya telat berangkat ke kantor, atau mungkin kinerja menjadi tidak optimal karena rasa kantuk yang mengusik. Secara tidak sadar, sudah berkorban jiwa, harta, dan kehormatan demi orang yang dikagumi. Dan tanpa sadar sudah mencintai Lionel Messi layaknya para pecinta.

Kepada siapa engkau mesti cemburu? Sudikah engkau di hari perhitungan yang tidak ada satupun yang bisa ditutupi, engkau masuk dalam barisan penggemar Lionel Messi, karena secara tidak sadar di dunia engkau bukan sekadar mengaguminya? Tetapi juga mencintainya? Mungkin, kita perlu muhasabah diri lagi, sudahkah menyandarkan cinta pada cinta yang sejati? Atau malah menyandarkan cinta pada cinta yang bersifat semu? Mari merenung bersama, kagumlah pada seseorang dengan rasa kagum yang sewajarnya saja, boleh saja mengagumi makhluk tetapi jangan sampai berlebihan, kelola rasa kagum itu dengan proporsional. Kagumlah dengan sewajarnya saja, jangan sampai ia menjadi cinta, apalagi cinta yang sedang engkau kejar sekarang adalah cinta yang semu, cinta yang akan membinasakanmu di akhirat nanti.

Kepada siapa engkau mesti cemburu? Bagi sebagian besar kawula muda, mungkin tidak asing bila mendengar nama Justin Bieber. Seorang musisi berkebangsaan Kanada yang sukses menyihir perhatian kawula muda dengan talenta dan kemampuan musiknya. Para pemuda dan pemudi rela mengorbankan waktunya, berdesak-desakkan di arena konser, bercampur-baur pria maupun wanita mengorbankan kehormatan, barangkali orang-orang ini perlu membaca hadits berikut. Diriwayatkan bahwa pada khutbah shalat sunat gerhana matahari Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai umat Nabi Muhammad, demi Allah tidak ada seorang pun yang lebih cemburu dari Allah Swt. manakala ada hamba-nya laki-laki atau hambanya yang perempuan melakukan perbuatan zina.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Kepada siapa engkau mesti cemburu? Pertanyaan ini perlu ditanyakan kembali kedalam hati nurani kita, sudahkah dapat membedakan rasa kagum dan rasa cinta? Sudahkah mendedikasikan cinta ini kepada Rasulullah Sang Teladan sebagai implementasi kecintaan kepada Allah Swt. pemilik segala cinta? Masih dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud r.a. dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih cemburu dari Allah Swt. oleh karena itulah Allah Swt. mengharamkan berbagai kekejian baik yang nyata maupun yang tersembunyi.” 

Kepada siapa engkau mesti cemburu? Ats-Tsauri meriwayatkan dari Hammad bin Ibrahim dari Abdullah, dia berkata, “Sesungguhnya Allah Swt. benar-benar cemburu demi seorang muslim, oleh karenanya hendaklah dia juga mempunyai rasa cemburu.”

Diriwayatkan dari Abdullah r.a. dia mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. cemburu, oleh karena itu hendaklah salah seorang dari kalian memiliki rasa cemburu.” (H.R. Thabrani).

Dari Abu Hurairah r.a. disebutkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah itu memiliki rasa cemburu dan orang mukmin juga memiliki rasa cemburu. Kecemburuan Allah Swt. adalah manakala seorang mukmin melakukan apa yang diharamkan atas dirinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan juga dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Seorang mukmin itu pencemburu, dan Allah Swt. lebih pencemburu lagi.” (H.R. Ibnu Hibban).

Kepada siapa engkau mesti cemburu? Sepertinya semakin cerah arah dan tujuan dari pertanyaan ini, tentang kepada siapa kita mesti cemburu. Bahwa yang berhak dicemburui oleh seorang Muslim, khususnya seorang Mukmin adalah Allah Swt. Sebab, dengan mencemburui Allah Swt. maka seharusnya membuat kita semua sadar bahwa segala kekejian baik nyata maupun tersembunyi adalah hal yang diharamkan. Manakala seorang mukmin melakukan apa yang diharamkan atas dirinya, maka Allah Swt. akan cemburu sebagai bentuk cinta kepada hambanya.

Kepada siapa engkau mesti cemburu? Tentu saja tak ada perdebatan lagi tentang kepada siapa kita mesti cemburu. Tentu saja yang berhak dicemburui adalah Allah Swt. Yang berhak dicintai adalah Allah Swt. dengan segenap cinta, mewujud dalam ketaatan dan menjauhi segala hal yang diharamkan. Sebab tak akan dapat engkau pungkiri bahwa hari di mana pertemuanmu dengan Allah Swt. akan tiba. Siapkah engkau bertemu dengan Allah Swt. sementara Allah Swt. tak peduli karena dalam hatimu tak ada sedikitpun rasa cemburu kepada-Nya? Siapkah engkau yang terlena akan dunia, segala kecintaan yang semu, kecemburuan yang tidak pada tempatnya menyebabkan engkau dilupakan oleh Allah Swt. di akhirat? Sama seperti dirimu yang sering melupakan Allah Swt. ketika hidup di dunia, salah mempersepsikan cinta sehingga cintamu berujung pada cinta yang semu, sehingga kecemburuanmu salah sasaran dan tak ada artinya lagi.

Kepada siapa engkau mesti cemburu? Jawabannya adalah, kepada Allah Swt. hendaknya kita mesti cemburu. Sebagai bukti cinta sejati kepada hanya satu kekasih, kekasih yang berhak memperoleh kecemburuan itu, the One and Only, kepada Allah Swt. Di akhir tulisan ini, sungguh elok apabila kita merenungi pesan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Beliau berpesan, Allah Swt. akan sangat cemburu kepada hamba yang di dalam hatinya tidak terdapat rasa cinta, takut, dan harap kepada-Nya. Terlebih apabila hati tersebut diisi oleh sesuatu selain-Nya. Allah Swt menciptakan manusia untuk menyembahnya, dan menjadikannya sebagai makhluk pilihan di antara makhluk-makhluk-Nya yang lain. Sekarang, kepada siapa engkau mesti cemburu? Jawablah dengan mantap, penuh keyakinan dan pembuktian, hanya kepada Allah Swt.

The Power of Mentoring

Ilustrasi. (Facebook)
Ilustrasi. (Facebook)

dakwatuna.com - Mengamati dan menganalisis kejadian sekitar menjadi ciri khas kaum intelektual, apalagi bila turut memberikan solusi dalam berbagai permasalahan sosial. Dalam beberapa kesempatan, sebagian besar dari kita sering jenuh oleh beberapa pekerjaan yang menjadi rutinitas kita. Ingin rasanya menjadi iri kepada mereka yang selalu menjaga, menjaga kehidupannya agar berjalan sesuai kodratnya, menjaga stabilitas hidupnya dengan mengikuti arahan-arahan Rabbani. Arahan-arahan yang berasal langsung dari Tuhannya, arahan-arahan yang tidak terdapat penambahan pendapat-pendapat dari manusia. Arahan yang terjaga kesuciannya dan kevalidannya, tak akan mudah untuk dirubah sesuka hati karena arahan-arahan tersebut telah menjadi kitab suci Umat Islam, yaitu Alquran.

Mereka yang menjaga diri dari kemaksiatan, betapa berbahagianya mereka karena penjagaan terhadap dirinya. Dalam bergaul dengan sesama mereka memiliki batas-batas sesuai apa yang disyariatkan oleh agamanya. Berinteraksi dengan ayah ibunya, kakaknya, adiknya, keluarganya, sahabat-sahabatnya. Selalu menjaga pandangan ketika bergaul dengan lawan jenis, selalu menjaga ucapan, baik ucapan secara lisan maupun tulisan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Mereka selalu menunjukkan sikap terbaiknya, mencerminkan akhlak yang baik sebagaimana yang dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul.

Tingkah laku mereka nyaris sempurna, meskipun terkadang mereka juga harus berhadapan dengan berbagai dinamika kehidupan dan ketetapan Allah. Sebagai manusia biasa, terkadang mereka juga berbuat dosa, namun dari dosa yang telah dilakukan memberikan pelajaran yang berharga bagi mereka untuk terus memperbaiki diri dan memperbaharui niat.
Tubuh mereka kuat, rajin berolahraga, tidak mengkonsumsi makanan dan minuman yang dapat merusak tubuh. Mereka menyadari bahwa pekerjaan dan usaha dalam berdakwah bukanlah sesuatu hal yang ringan. Dakwah merupakan tanggung jawab dan tugas mereka, menyadari dakwah tidaklah ringan dan hendaknya dakwah dilakukan dengan totalitas, mereka senantiasa menjaga kesehatan badan mereka sehingga terwujudlah cinta yang hakiki sebagaimana sabda Baginda Nabi bahwa Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah SWT.

Akhlak mereka tercermin dari perilaku mereka yang senantiasa berpedoman pada Alquran dan Sunnah-sunnah Nabi. Mereka selalu berusaha untuk menjaga akhlak mereka agar senantiasa mulia serta dari akhlak mereka ini mereka mampu untuk menginspirasi orang-orang di sekitarnya, agar senantiasa memperbaiki diri. Mungkin sering kita mendengar istilah ‘pacaran’ yang banyak digandrungi oleh anak-anak muda sekarang. Hanya saja, mereka tidak ikut-ikutan untuk ‘pacaran’ sebab mereka memahami dan menilai suatu hal berdasarkan manfaat dan kerugiannya. Tentu saja mereka mengetahui bahwa pacaran lebih besar keburukan dan kerugian yang dihasilkan dibanding manfaat yang didapatkan. Pacaran yang banyak digemari generasi muda zaman sekarang tentu saja memberi dampak buruk bagi generasi bangsa ini. Dan mereka juga telah mengetahui bahwa pacaran juga tidak diperbolehkan dalam ajaran Islam.

Mereka ini juga bukan anak muda yang patut dianggap remeh pengetahuannya tentang Islam, mereka selalu mempelajari agama dengan bersumberkan Alquran dan Al-Hadits. Selain itu, mereka juga menjadi ahli dalam bidang yang mereka geluti meskipun memang saat ini mereka masih dalam tahap belajar dan terus berproses. Dari sisi finansial juga mereka bukan anak muda yang bias dianggap remeh, mereka juga tetap berusaha menghidupi dan membiayai dirinya sendiri meskipun dengan langkah yang tertatih-tatih serta penuh perjuangan. Hidup mereka sederhana dan tidak bermewah-mewah dan selalu berusaha menjauhi riba. Mereka juga memiliki aqidah yang lurus, dalam setiap kesempatan mereka terus berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menjaga kebersihan hati, bertaubat, istighfar, menjauhi dosa dan syubhat, dan yang paling utama, mereka ridha Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai Agama, dan Muhammad Nabinya.

Mereka berupaya agar Ibadah yang mereka kerjakan mempunyai landasan yang telah jelas dan valid, totalitas dalam ibadah adalah salah satu kunci kesuksesan ibadah, yaitu dengan menghadirkan hati, pikiran, perasaan, dan seluruh tubuh dalam beribadah, serta tidak berlebihan dalam beribadah. Mereka juga berusaha melawan hawa nafsu, karena mereka menyadari bahwa semakin tinggi kadar keimanan seseorang maka cobaan serta ujian yang diberikan semakin berat pula. Mereka sangat menghargai setiap waktu yang berjalan, dan tidak mengisinya dengan hal-hal yang bersifat sia-sia. Waktu adalah sesuatu yang tak dapat dimundurkan walau sesaat, meskipun dibeberapa cerita fiksi yang sudah mewujud menjadi film layar lebar banyak berceritera tentang keberadaan mesin waktu. Karena waktu yang tak bisa dimundurkan walau hanya sesaat, maka dalam setiap urusan dan aktifitas keseharian mereka teratur dan rapi. Dan mereka selalu berusaha agar hidupnya dapat bermanfaat bagi orang lain, apalagi bila lifestyle yang mereka jalani mampu menginspirasi, memotivasi, dan membakar semangat orang-orang disekitar kehidupan mereka.

Terlihat sangat ideal bukan? Tetapi tahukah kita semua bahwa beberapa hal yang penulis uraikan di atas adalah sepuluh (10) muwasafat tarbiyah yang hendak dicapai oleh orang-orang yang mengikuti tarbiyah, terkhusus bagi para aktifis kampus tarbiyah yang dimaksud adalah mentoring. Capaian-capaian yang kita semua optimis untuk mencapainya meski tertatih kaki ini melangkah. Mungkin ada bisikan-bisikan muncul yang berasal dari sisi kiri dan kanan kita berbisik tentang mustahilnya mencapai sepuluh muwasafat tarbiyah tersebut. Tetapi, bukankah sebagian besar dari umat manusia adalah seorang pembelajar cepat (quick learning). Seideal apapun capaiannya selalu ada ruang didalam hati dan pikiran rasa optimisme bersemayam.

Bagi para aktifis kampus, baik aktifis kampus kini dan nanti, semuanya bermula dari mentoring, penulis sendiri lebih senang menyebutnya dengan sebutan the power of mentoring. Ada yang tetap konsisten mengikutinya setiap pecan dan ada pula yang hadir hanya sesekali bahkan tidak sedikit yang kita dapatkan dalam berjalannya proses mentoring ada yang tak pernah lagi terdengar kabarnya. Dan kita juga mengetahui bersama bahwa kualitas para mahasiswa yang terbina lewat proses mentoring sangat unggul. Boleh jadi mereka-mereka yang sampai sekarang menjalani proses mentoring dan insya Allah sampai seterusnya, ketika diberi amanah-amanah kepanitiaan, kegiatan, jabatan dan posisi strategis di lembaga kemahasiswaan akan mereka ambil jabatan dan posisi tersebut dengan keyakinan yang mantap. Karena orang-orang yang berkualitas adalah orang yang mau terus belajar dan menjalani proses.

The power of mentoring, mampu mengantarkan orang-orang yang masih konsisten mengikuti proses mentoring tersebut menuju kebahagiaan yang hakiki. The power of mentoring bukan sekedar berbicara tentang kemenangan dakwah kampus semata, tetapi bagaimana caranya kemenangan dakwah tersebut mewujud nyata dalam diri-diri mereka. Mereka yang senantiasa berupaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan segala kelemahan mereka sebagai manusia biasa. Beda dengan serial power ranger yang sebenarnya tidak merefleksikan nilai-nilai kepahlawanan dengan sempurna, the power of mentoring hadir sebagai solusi dari para pejuang dakwah kampus. Solusi yang dapat diibaratkan sebagai oase di tengah-tengah gurun yang tandus. Oase bagi mereka yang sedang kehausan akan ilmu-ilmu agama, teladan dalam perilaku, kata-kata motivasi. Oase bagi mereka yang tengah dilanda dahaga, dahaga akan ilmu-ilmu pengembangan diri, penyucian diri, serta keorganisasian dan manajemen kelembagaan mahasiswa. Jadi, tunggu apalagi? Yukk..ikut mentoring.

Sang Murabbi dari Bumi Tadulako

Muhammad Ali Lamu, Lc.
Muhammad Ali Lamu, Lc.

dakwatuna.com - Sedih, sedih rasanya hati ini, kehilangan sosok Guru Kehidupan. Ibarat bergugurannya dedaunan dari pepohonan, tak peduli apakah daun itu masih hijau, merah kekuningan, kuning, bahkan kecoklatan, atas izin Allah daun akan terus berguguran tak melihat warnanya. Begitupun manusia, tak peduli tentang usianya, mau tua ataupun muda, kalau ajal sudah menjemput maka tamatlah riwayatnya. Untuk kali ini, para Aktifis Dakwah Sulawesi Tengah sedang dirundung duka karena kehilangan sosok Murabbi. Kaget bukan main rasanya ketika penulis mendapat kabar duka ini disiang hari. Seorang Ustadz yang berwawasan luas, bijaksana, ramah, dan dengan kemampuan membina yang luar biasa. Telah mengantarkan begitu banyak orang di bumi tadulako ini untuk mencapai pintu hidayah dari Allah SWT. Begitu banyak orang-orang di bumi tadulako ini yang tercerahkan oleh ceramah-ceramah dan taujih-taujih dari beliau, begitu banyak orang yang tersadarkan tentang betapa jauh dirinya dari Allah SWT. Melalui perantara Ustadz Muhammad Ali Lamu, Lc orang-orang yang tercerahkan dan tersadarkan tersebut menjelma menjadi aktivis dakwah yang siap memperjuangkan kebaikan di manapun dan kapanpun, siap berkorban bagi agama dan bangsa ini, siap menegakkan panji-panji Allah, siap mengokohkan Aqidah masyarakat Sulawesi Tengah melalui dakwah, tak peduli caci dan maki mereka terus berjuang tanpa kenal lelah.

Di bumi tadulako ini, beliaulah salah satu Murabbi yang berkarakter dan tak pantang menyerah ketika awal-awal membuka peluang dakwah di Sulawesi Tengah. Ustadz Muhammad Ali Lamu, Lc., adalah putra Sulawesi Tengah kelahiran Donggala, 28 Agustus 1971, terlahir dari pasangan orang tua yang selalu mengajarkan pentingnya ilmu agama kepada putra-putri mereka. Ayahandanya, Ustadz Ali Lamu (Alm) adalah sosok pendidik yang cukup dikenal, khususnya di kalangan warga dan keluarga besar Al-Khairaat, sedang ibundanya, Ustadzah Hj. Syifa Abd. Rauf Sulaiman (Almh), juga adalah pendidik, pensiunan PNS Departemen Agama (sekarang, Kementerian Agama). Ustadz Muhammad, demikian ia biasa disapa, memulai pendidikan formal di SDN Ujuna dan Madrasah Al-Khairaat Palu kemudian melanjutkan pendidikan menengah juga di Al-Khairaat: Madrasah Tsanawiyah Al-Khairaat dan Madrasah Aliyah Al-Khairaat Palu. Sementara itu, pendidikan dan gelar akademik, License (Lc.), diperoleh dari Fakultas Syariah Universitas Muhammad Ibnu Saud Cabang Jakarta (LIPIA).

Sejak kecil, ia telah memperlihatkan bakat orator dan sikap kritis terhadap permasalahan sosial-keumatan. Menjadi aktivis berbagai ormas kepemudaan—di antaranya, Himpunan Pemuda Al Khairaat (HPA) Kota Palu, Ikatan Pemuda Al Khairaat Jakarta, dan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat LIPIA Jakarta—pun menjadi bagian dari pengalaman hidupnya. Hal itulah yang memantapkan langkahnya untuk menjadi seorang da’i ilallah secara profesional hingga kemudian ia diberikan amanah untuk memimpin Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Wilayah Sulawesi Tengah, periode 2012—2016. Dari pernikahannya dengan Ustadzah Erni Yulianti yang juga seorang penggerak dakwah asal DKI Jakarta—Allah mengaruniakan kepada mereka 6 orang putra-putri, masing-masing (1) Haninah Ainun Mardiah, (2) Sumayyah Nurus Syahadah, (3) Salman Izzuddin, (4) Naila Izzah Salsabila, dan (5) Umar Abdul Aziz dan (6) Syifa, yang lahir 15 Desember 2014.

Dalam pandangannya, Islam adalah agama yang selalu concern terhadap problem dan dinamika kehidupan dalam seluruh aspeknya. Dalam perspektif itu pula, sampai saat ini, Ustadz Muhammad Ali Lamu juga “mengampu” beberapa amanah yang lain. Di antaranya, Ketua Komite Nasional untuk Rakyat Palestina (KNRP) Sulawesi Tengah, Ketua Dewan Syariah Wilayah Partai Keadilan Sejahtera (DSW PKS) Sulawesi Tengah, Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Palu, dan Ketua Dewan Pengawas di Yayasan dan Lembaga Bimbingan al-Quran (LBQ) Al-Itqan Sulawesi Tengah.

Bagi penulis pribadi, yang menjadi Mutarabbi beliau kurang lebih 3 tahun lamanya, membimbing penulis menjalani kehidupan dan bertarung di medan juang dakwah kampus hingga dakwah pasca kampus, merupakan suatu kebanggaan dapat dididik langsung oleh beliau. Menjadi sosok ayah bagi penulis pribadi yang tak lagi memiliki ayah, taujih-taujih penyejuk hati yang menggerakkan hati, pikiran, dan perasaan.

Di bumi tadulako ini, Ustadz Muhammad menjadi sosok yang mencerahkan begitu banyak orang, sudah ribuan orang yang tercerahkan oleh perjuangan dakwah beliau. Bahkan sebelum gerakan dakwah ini menjelma menjadi partai politik. Beliaulah sosok Sang Murabbi, Sang Murabbi dari Bumi Tadulako.

Tidak ada sakit yang berkepanjangan yang Allah berikan, hanya sesak dada beberapa saat saja, yang akhirnya Ustadz Muhammad menemui Allah Sang Maha Pencipta, Kamis 15 Januari 2015, sekitar pukul 11.00 WITA.

Beberapa tokoh masyarakat seperti tidak ingin kehilangan momen kebersamaan terakhirnya dengan Ustadz Muhammad, beberapa diantaranya hadir pada Jum’at 16 Januari 2015 untuk memberikan ungkapan duka, di antaranya Ketua Harian KNRP H. Caca Cahayaningrat, SE., Ketua DPW PKS Sulawesi Tengah H. Zainuddin Tambuala, dan Tokoh Masyarakat Palu Habib Syaikh Segaf Al Jufri yang sekaligus memimpin shalat jenazahnya.

Meskipun diliputi rasa duka yang mendalam, sang isteri yang tegar mengungkapkan rasa bangganya terhadap perjuangan sang suami, terlebih dengan sepak terjangnya untuk memberikan pemahaman kepada kaum muslimin khususnya di Sulawesi Tengah terhadap isu kemanusiaan Palestina.

Satu ungkapan Ustadz Muhammad dua hari sebelum kepergiannya, saat memberikan kajian tentang isu kemanusiaan Palestina, beliau mengatakan, “Andaikata, saya diminta untuk memilih amanah atau jabatan, saya akan memilih bersama KNRP, karena bersama lembaga kemanusiaan yang membantu perjuangan rakyat Palestina, lebih dekat menuju KESYAHIDAN.”

Selamat jalan Ustadz Muhammad, semoga kelak Allah SWT mengumpulkan bersama orang-orang baik yang engkau cintai. Cinta Allah dan rahmat-Nya, insya Allah, selalu menyertaimu.

Sungguh kematian adalah nasihat bagi yang hidup.

Selasa, 27 Januari 2015

Tarbiyah Madal Hayah, Jangan Berhenti Kawan!

Palu, Diruang tengah, 13 Januari 2015
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.

Ilustrasi. (Foto: inet)
Ilustrasi. (Foto: inet)

dakwatuna.com – Gedung yang begitu megah berdiri didepan jalan utama Kota Palu, pola arsitek gedung tersebut benar-benar mencerminkan budaya khas daerah Sulawesi Tengah. Desain khas gedung tersebut menunjukkan bahwa betapa bangsa ini sangat menghargai para pendahulunya dari sisi kebudayaan dan struktur sosial. Betapa luhurnya budi pekerti bangsa ini yang menghormati para pendahulu dan mewujud nyata dalam hal-hal yang bersifat fisik. Desain gedung, baruga, batik bomba, kayu hitam, yang menjadi ciri khas Sulawesi Tengah. Betapa besarnya bangsa ini ketika tim sepakbola nasional bangsa ini sedang bertanding dikancah internasional, para supporter dengan bangga mengenakan baju merah putih berlambang Burung Garuda lambang Negara ini. Segala hal yang berkaitan dengan pembangunan sarana prasarana dan infrastrukstur atau dengan kata lain pembangunan fisik begitu diprioritaskan. Hal ini terbukti dari sebagian besar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) digelontorkan untuk pembangunan fisik, dan hal-hal yang berkaitan dengan yang tampak di mata kita. Mungkin sebagian besar dari kita semua lupa dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya, “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Raganya, Untuk Indonesia Raya..”.

Gedung kebanggaan Sulawesi Tengah tersebut, atau sering disebut Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sulawesi Tengah (DPRD Sulteng) telah menjadi pilihan sekelompok mahasiswa yang aktif berlembaga untuk mengadakan musyawarah. Agenda tahunan inipun tidak penulis sia-siakan untuk menghadirinya, sebagai bentuk tanggungjawab moril sebagai orang yang pernah berkecimpung di dalam dunia dakwah kampus meskipun sudah berstatus sebagai purna atau alumni. Ini sudah yang keenam kalinya penulis mengikuti agenda musyawarah besar Mahasiswa Pecinta Mushallah (MPM) Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, pengalaman pertama mengikuti musyawarah besar penulis pernah diamanahkan sebagai sekretaris dalam kepanitiaan. Agenda ini juga menjadi ajang silaturrahim para panitia, anggota, dan seluruh kader dakwah kampus baik yang sudah alumni maupun yang masih berstatus sebagai mahasiswa. Terus terang saja, kerinduan untuk menjadi pionir utama dakwah kampus masih ada, dan masih sangat merindukan kehangatan persaudaraan ketika masih menjadi pengurus lembaga dakwah. Namun, sudah menjadi sunnatullah bahwa setiap masa ada orang-orangnya dan setiap orang-orang ada masanya.

Aula Gedung DPRD Sulteng terdengar begitu gaduh dengan argumen-argumen cerdas dan retorika yang merupakan ciri khas kaum intelektual. Layaknya para pejabat Negara, berbagai pendapat dikemukakan dengan memperhatikan etika dan adab-adab persidangan. Bagaimana tidak, mereka para peserta sidang adalah orang-orang yang ter-tarbiyah dengan baik. Mereka para peserta sidang adalah orang-orang intelektual yang memiliki akhlak yang baik karena memiliki keinginan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik melalui kegiatan mentoring yang dijalani setiap pekannya. Mereka para aktifis dakwah kampus tersebut adalah orang-orang yang mampu menjadi teladan di antara teman-teman seangkatannya, memiliki perangai yang baik dalam bersikap, di rumah, di kampus, di manapun mereka berada. Sebagaimana teladan sejati umat manusia sepanjang masa, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang mampu menjadi khalifah yang bijaksana, ayah yang penyayang, sahabat yang baik, panglima perang yang tegas, pada saat yang bersamaan, di manapun dan kapanpun akan menjadi teladan terbaik. Mengutip perkataan George Bernard Shaw, “alangkah butuhnya dunia di era modern ini kepada seorang pribadi seperti Muhammad, yang dapat memecahkan berbagai persoalan pelik sembari meneguk secangkir kopi”.

Sidang pleno Lembaga Dakwah Fakultas MPM Al-Iqra’ masih berlangsung, dan perdebatan semakin hebat ketika memasuki pembahasan struktur lembaga MPM yang oleh beberapa ikhwah berinisiatif untuk mengubahnya, tidak lain dan tidak bukan perubahan struktur tersebut mempunyai maksud yang baik demi kemajuan dakwah kampus kedepan. Mungkin perdebatan pendapat yang cukup panjang ini, terkait perubahan struktur, bisa saja meruncing sampai pada konflik. Tetapi hal tersebut adalah dinamika yang harus disikapi dengan kedewasaan cara berpikir dan bertindak. Mungkin juga, eratnya persaudaraan sebuah lembaga dakwah yang mempunyai jargon keep ukhuwah perlu dibumbui dengan konflik agar semakin dinamis. Ingin rasanya mengutip pemikiran salah seorang penulis hebat dari Kota Yogyakarta, dalam bukunya “Dalam Dekapan Ukhuwah”, bahwa salah satu hal yang membuat persaudaraan semakin erat adalah engkau pernah berkonflik dengan dia.

Perjalanan dakwah kampus adalah perjalanan yang sangat menginspirasi, seharusnya dan sepantasnya, orang-orang yang telah memilih jalan ini akan semakin baik dalam tindak-tanduknya, semakin dewasa cara berpikirnya. Yang menjadi ironi adalah ketika orang-orang yang telah memilih untuk bergabung dalam barisan dakwah kampus, kehidupan pasca kampusnya terasa biasa-biasa saja tanpa perubahan yang berarti, bahkan lebih ironi lagi apabila terjadi kemunduran dalam kualitas hidupnya. Dengan bangganya berkata, “dulu saya pernah tarbiyah, lalu berhenti..”, “dulu saya pernah ikut liqa, lalu nggak lanjut lagi..”. sungguh sangat-sangat ironi terjadi kemunduran cara berpikir, cara bertindak, semakin kekanak-kanakan sikapnya, padahal pernah menjadi aktifis dakwah kampus. Lebih parah lagi, seorang aktifis dakwah kampus yang ketika sudah menjadi alumni malah semakin jauh dari Allah dan aktifitas dakwah.

Mungkin, sebagian besar dari aktifis dakwah kampus akan terkaget-kaget dengan realitas yang ada di masyarakat ketika menyelesaikan masa studinya di kampus. Betapa berbeda alam idealis dan alam realitas. Mungkin sebagian besar dari para aktifis dakwah kampus akan sedikit shock dengan perubahan iklim sosial yang begitu drastis ketika memasuki dunia kerja. Ada perbedaan secara sosio-kultural yang bisa saja kita pun terpengaruh dan terjerumus dalam derasnya arus globalisasi dan tak terkendalinya penyebaran paham sekuler dan liberal, yang bisa saja hal ini membuat status kita yang dulunya adalah seorang aktifis dakwah malah menjadi seseorang yang justru antipasti terhadap dakwah.

Melalui tulisan seorang penulis amatiran yang masih harus banyak belajar ini, penulis ingin mengingatkan kepada para pembaca dan lebih khusus kepada diri penulis pribadi, untuk jangan pernah berhenti belajar dan berproses. Ketika status sosial yang semakin meningkat, perubahan fisik, psikis, dan ekonomi, membuat kita semua justru semakin jauh dari Allah bahkan menjadi para penentang dakwah. Tanpa kita sadari dakwah ini menjadi penyebab semakin berkualitasnya diri kita di hadapan manusia dan di hadapan Allah SWT. Teruslah berproses dan belajar! Jangan pernah berhenti! Bisa jadi masa-masa saat menjadi aktifis dakwah kampus tilawah Quran kita setiap hari, seharusnya kehidupan pasca kampus tilawah Quran kita semakin menjadi berkualitas dari segi tajwid dan hafalan. Bahkan, bila perlu tidak hanya dibaca saja, tetapi ditadabburi, dipahami, diamalkan, dan didakwahkan. Jangan berhenti kawan! Boleh jadi, kita adalah orang- orang yang rajin mengikuti mentoring saat menjadi mahasiswa, namun pada saat menjadi alumni malah menjadi malas untuk hadir di liqa’. Seharusnya, kita menyadari bahwa pertemuan pekanan tersebut adalah kebutuhan diri kita dan untuk kebaikan diri kita sendiri. Jangan pernah berhenti kawan! Jangan berhenti untuk belajar! Karena tarbiyah mengajari kita begitu banyak hal, termasuk tentang tarbiyah madal hayah, bahwa proses tarbiyah berlangsung sepanjang hidup kita. Jangan berhenti kawan!