Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
dakwatuna.com –Semakin kelam, semakin gelap, pemandangan sekitar menjadi semakin buruk. Berlumpur, kotor, penuh debu, segala materi bagai debu di atas debu. Langit seakan-akan menghitam, dan engkau terperosok dalam lembah hitam nan kelam, di dalam lembah hitam nan kelam itu tubuhmu kotor dan penuh lumpur yang serba lengket, sulit untuk keluar. Lembahnya semakin dalam dan gelap, sulit mendapatkan sumber cahaya untuk penerangan, suasana semakin lama semakin kelam karena engkau semakin tenggelam, semakin terlarut dalam kemaksiatan, lalu engkau pun semakin terlena untuk berada di lingkungan yang begitu jahat. Di tengah-tengah kegelapan yang berlapiskan kelam ini pun engkau berusaha untuk bangkit meski sukar dan sedikit terhalang oleh nafsu dan egomu. Hari-hari yang akan engkau jalani selanjutnya adalah hari-hari terburuk yang pernah ada dalam kehidupanmu, engkau sangat ingin lepas dari semua yang begitu kelam dan pekat ini, tetapi apa daya, dengan hanya bermodalkan semangat dan kekuatan diri sendiri, engkau tak akan sanggup untuk segera lepas dari bayang-bayang kemaksiatan dan lingkungan jahat ini bila tidak memohon pertolongan kepada Allah SWT dan meminta bantuan orang lain. Engkau mesti menumbuhkan kemauan dari dalam diri sendiri, membangun tekad yang kuat untuk berubah, sebab perubahan adalah keniscayaan. Engkau mesti mencari dan terus mencari, jalan untuk keluar dari lembah hitam nan kelam ini, engkau harus berusaha untuk keluar, aktif mencari jalan keluar, lalu menjemput hidayah yang mana bila Allah sudah Berkehendak maka engkau akan selamat.
Zaman terus berjalan dengan angkuh, beredar dengan tampak anggun, bergerak dengan mewah dan megah, membuat orang-orang yang terjebak di dalam lembah hitam nan kelam senantiasa terpengaruh. Ukuran materi menjadi ukuran utama dalam tindak tanduk mereka, hal ini penting untuk segera diubah. Materialisme sepertinya sudah mendarah daging dalam pola pendidikan anak-anak emas bangsa ini. Anak-anak cenderung diarahkan untuk mengejar nilai bagaimanapun caranya, apapun caranya agar mendapat nilai yang tinggi, sebab standar kelulusan adalah nilai yang memenuhi kriteria. Hal ini tidak sepenuhnya salah, hanya saja menurut penulis pribadi perlu dilengkapi dengan indikator-indikator yang lain, sebagai contoh, alangkah baiknya dalam komponen kurikulum pendidikan yang ada perlu ditambahkan tentang bagaimana beretika dengan baik, bagaimana sebenarnya esensi dari menuntut ilmu, bukan sekadar mengejar nilai semata. Ini sangat penting untuk disampaikan oleh para ahli kebenaran, baik ahli kebenaran yang terjun ke dalam parlementaria maupun para ahli kebenaran yang memilih berjuang di luar parlemen. Sebab, bila ahli kebenaran diam terhadap ahli kebathilan, maka ahli kebathilan akan terus merasa benar tanpa ada yang menegur. Esensi dari ajakan menuju jalan kebenaran pun harus sesuai dengan situasi dan kondisi, metode yang benar dan tepat, sebab meskipun isi ajakan itu bersifat kebaikan bila tak disampaikan dengan cara yang baik maka kebaikan tersebut akan mudah terhempas. Maka dibutuhkan persiapan yang matang dan cerdas, agar kebenaran dapat menghempas kebathilan, sebab bila kebenaran tak memiliki tenaga atau tekanan yang cukup, maka kebenaran tak akan mampu menghempas kebathilan.
Dakwah bukan dilakoni oleh para Malaikat yang suci dari dosa-dosa, dakwah dengan jawaban yang mantap telah diterima pembebanannya oleh manusia, ya manusia! Seluruh umat manusia punya kewajiban untuk berdakwah menyampaikan kebenaran! Manusia yang tentunya tak terbebas dari kesalahan dan dosa-dosa, hanya saja para pegiat dakwah terus dan terus menerus memperbaiki dirinya agar dakwah yang disampaikan mempunyai bargaining position untuk mengubah, sebab dakwah dengan perilaku lebih memberi dampak dari pada ucapan lisan, tapi tentunya hal ini tidak menjadi alibi untuk tidak berdakwah melalui lisan. Dari lembah kelam nan hitam, Allah SWT masih menyediakan pintu taubat dan rahmatNya terhadap siapa saja yang mau untuk memperbaiki diri. Dari lembah kelam nan hitam, rahmat dari Allah SWT lebih luas dari luas semesta. Dari lembah hitam nan pekat, Rahmat Allah SWT lebih besar dan mulia dari murkaNya.
Zaman yang terus bergerak maju ke depan menciptakan momen-momen krusial, seakan membadai, masalah tiba-tiba datang bertubi-tubi hendak merontokkan semangat anak-anak bangsa ini. Sebagian besar generasi muda terpengaruh oleh jargon-jargon barat yang mengusung kapitalisme dan sekulerisme yang sangat jelas Bangsa barat pun merasakan kegagalannya. Sebagian besar generasi muda juga menjadi generasi yang apatis, acuh tak acuh dengan gejolak perekonomian Indonesia yang terus memburuk, acuh tak acuh dengan kondisi bangsanya, hanya peduli pada persoalan-persoalan seputaran dirinya sendiri.
Kondisi bangsa saat ini yang serba carut marut mungkin saja membuat sebagian manusia akan menjadi semakin kritis dan argumentatif. Ini adalah reaksi yang wajar, namun yang patut disayangkan adalah orang-orang yang merasa biasa saja dan pasrah dangan keadaan ketika nilai kurs rupiah melemah terhadap mata uang Negara lain. Tentunya masyarakat yang diharapkan pada kondisi saat ini adalah masyarakat komunikatif. Masyarakat komunikatif yang dalam pandangan Habermas bukanlah masyarakat yang melakukan kritik lewat revolusi dan kekerasan melainkan lewat argumentasi. Namun revolusi dan argumentasi bisa menjadi tools masyarakat untuk merubah kondisi bangsa, namun hal ini bersifat situasional. Argumentasi dibedakan menjadi dua macam yakni diskursus dan kritik. Diskursus dilakukan untuk mencapai konsensus rasional atas klaim kebenaran (diskursus teoritis), dan untuk mencapai konsensus atas klaim ketepatan (diskursus praktis), selanjutnya diskursus untuk mencapai konsensus tentang klaim kompherensibilitas disebutnya sebagai diskursus eksplikatif. Sedangkan terhadap kritik dibedakan dalam dua bentuk yakni kritik estetis (norma-norma sosial yang objektif) dan kritik terapeutis. Hal ini berkaitan dengan penyingkapan penipuan dari masing-masing pihak yang berkomunikasi.
Tak elok rasanya bila di tengah-tengah segudang masalah yang bertumpuk bila generasi muda atau masyarakatnya tidak memberikan kontribusi sama sekali. Bahkan dalam tinta emas sejarah tercatat bahwa penggerak perubahan, sang enginer revolusi, adalah kaum muda. Dan kondisi pemuda hari ini begitu jauh dari sosok yang diharapkan mampu membawa perubahan dan menyelesaikan berbagai persoalan karena terhipnotis oleh tayangan-tayangan televisi serta tersihir oleh budaya-budaya yang tidak disaring terlebih dahulu sehingga menjadi pemuda yang kontra-produktif. Barangkali kita perlu sedikit berpikir cerdas tentang apa yang harus dilakukan hari ini, mulailah dengan kembali kepada kesucian, kempali kepada titik nol, kembalilah kepada fitrah manusia, bahwa segala sesuatunya mutlak disandarkan kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Mungkin, untuk membenahi problematika akhlak anak-anak muda Indonesia adalah dengan memurnikan Tauhidullah. Bila Aqidah kokoh dalam hati dan sanubari anak-anak muda Indonesia, dapat dipastikan ia akan menjadi pemuda yang hanif, pemuda yang bertanggungjawab, pemuda yang berintegrasi tinggi kepada bangsanya. Bagaimana tidak, Tauhid mengajarkan kepadanya agar selalu tunduk dan taat mutlak kepada Allah SWT., dalam keadaan susah ataupun senang, dalam keadaan berat dan ringan, entah merasa suka atau tidak suka, Ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT. Bila sudah taat mutlak kepada Allah SWT maka hendaknya untuk tak saling menyalahkan kepada siapapun, mulailah dari mengoreksi diri sendiri, meskipun memang kebenaran harus tetap disuarakan, digemakan, digaungkan seluas mungkin.
Mari himpun tenaga-tenaga anda untuk hal-hal yang produktif untuk memperbaiki bangsa ini, di mulai dari fitrahnya seorang manusia sebagaimana mestinya, yaitu mempersembahkan ketaatan hanya kepada Allah SWT. Bila kepada Rabbnya saja ia taat, apalagi kepada bangsa dan negaranya. Bila langit suatu saat akan cerah kembali, percayalah Allah SWT akan mempergilirkan keadaan suatu kaum, tentunya apabila kaum tersebut memiliki keinginan untuk berubah. Yakinlah, setelah kondisi saat ini yang semakin kelam, gelap, dan pekat, akan datang suatu masa cerahnya langit dan cerahnya hari. Hingga Ibu pertiwi yang katanya tengah menangis akan tersenyum kembali. Dengan cerahnya langit maka keberkahan akan datang berturut-turut menghampiri negeri nusantara ini, hingga suatu saat Indonesia menjadi Negeri yang diliputi keberkahan dan karunia Allah SWT. Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.
dakwatuna.com – Zaman tengah gelisah, begitu kata para penjelajah arus. Para penjelajah arus ini hanya bisa berhipotesa membaca kegelisahan zaman. Di beberapa puisi dan lagu yang bernuansa nasionalis juga bercerita tentang Ibu Pertiwi, Ibu Pertiwi yang di analogikan sebagai sebuah negeri indah nan subur di pojok Asia Tenggara. Negeri yang kaya, namun sumber daya alam potensialnya lebih banyak di kuasai dan di kelola oleh bangsa asing. Negeri yang selama puluhan tahun kebingungan dan bergulat mencari identitas Negara, sebab partai pemenang pemilihan umum dan pemilihan Presidenlah menjadi penentu ideologi mana yang akan di gunakan untuk mengelola Negara, apakah sosialis, komunis, liberal, sekuler, nasionalis, atau Islam dengan kelengkapan dan universalnya ajarannya dalam mengatur Negara, umat, dan pemerintahan.
Katanya, Ibu Pertiwi tengah menangis. Ibu pertiwi tengah di rundung duka. Duka yang mendalam karena problematika kebangsaan yang tak kunjung usai, tujuan kemerdekaan yang belum tercapai dan masih harus di lanjutkan. Sampai saat tulisan ini di tulis, Organisasi Masyarakat Islam Persyarikatan Muhammadiyah sedang bermusyawarah menentukan jajaran pimpinan untuk melanjutkan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Persyarikatan Muhammadiyah yang melalui gerakan dakwahnya juga turut mengambil peran penting dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia dan sekali lagi melanjutkan cita-cita kemerdekaan yang belum tercapai. Persyarikatan Muhammadiyah hanya salah satu contoh gerakan yang juga ingin turut menuntaskan problematika keumatan bangsa ini.
Satu hal yang menarik perhatian, orang selama ini lebih mengenal Muhammadiyah sebagai organisasi yang fokus berjuang di bidang sosial. Sekolah dan rumah sakit Muhammadiyah tersebar di mana-mana. Tapi di abad kedua usianya, Muhammadiyah mengukuhkan diri untuk berjuang melawan kebijakan yang dalam penilaiannya dapat menyengsarakan umat. Muhammadiyah hadir dan berdiri tegak di gedung Mahkamah Konstitusi. Sudah empat uji materi undang-undang yang di ajukan di kabulkan Mahkamah, yaitu Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Kini ada tiga uji materi Muhammadiyah yang sedang di proses. Putusan Mahkamah Konstitusi tentang uji materi Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi menjadi tonggak bersejarah bagi gerakan Muhammadiyah di abad ke-2. Putusan Nomor 36/PUU-X/2012 tertanggal 13 November 2012 tersebut adalah uji materi pertama Muhammadiyah yang menandai keberhasilan jalan baru perjuangan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini. Jalan ini disebut sebagai jihad konstitusi (Majalah Dakwah Tabligh Muhammadiyah Edisi No.10/XII Syawal-Dzulqa’dah 1436 H).
“Gerakan jihad konstitusi ini adalah amar makruf dan nahi mungkar,” kata Eks-Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin (Tempo, 8 Juli 2015). Di Negeri yang tengah terombang-ambing oleh berbagai problematika ini butuh solusi yang konkret terkait perbaikan di setiap sektornya. Muhammadiyah yang gerakan dakwahnya hampir di seluruh sektor memberikan pelajaran kepada kita semua betapa universalnya ajaran Islam, betapa dakwah mengurusi semua hal, dengan gerakan jihad konstitusi yang dilakukannya. Sungguh bangsa ini membutuhkan lebih banyak lagi gerakan dakwah seperti Muhammadiyah yang mencerahkan bangsa ini, pada tataran prakteknya, dalam gerakan Dakwah Muhammadiyah juga menjaga keseimbangan purifikasi dan dinamisasi.
Dari Muhammadiyah hendaknya kita belajar, bahwa ada banyak persoalan umat yang harus di tuntaskan daripada berdebat panjang tak ada habisnya. Lebih baik bekerja dan turun langsung ke lapangan membantu dan menjadi bagian dari solusi dibandingkan mengkafirkan sesama muslim. Janganlah engkau gentar dengan orang-orang yang ber-make up tebal lalu menolak dakwah yang engkau sampaikan. Janganlah engkau mundur menghadapi orang-orang yang sering berkata kepadamu, “urus saja dirimu sendiri, ngapain urus orang lain?”. Untuk orang-orang yang seperti ini jangan sekalipun engkau mundur selangkah pun, sebab engkau sedang menjalankan kewajiban yaitu berdakwah, dan ingatlah bahwa dakwah telah mengajarkan kepadamu bahwa hendaknya engkau lebih mencintai umat ini daripada dirimu sendiri.
Memahami persoalan umat dan bangsa ini tentunya di mulai dari memahami individu yang menyusun lapisan struktur sosial kemasyarakatan. Engkau tentunya akan menemukan banyak orang-orang yang tak ingin hidupnya di atur oleh agama ini dan menolak setiap ajakan dan seruanmu. Tetapi teruslah menyeru dan menyampaikan kebenaran sekalipun itu di depan penguasa zhalim. Di depan penguasa zhalim saja engkau diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran, apalagi di depan orang-orang yang akan menghinamu, mencaci maki dirimu, jangan sekalipun gentar menyampaikan tentang kebenaran. Sebab engkau adalah orang yang merdeka, meskipun engkau bukan pejuang kemerdekaan. Engkau akan selalu merdeka bila engkau merdeka dari penghambaan kepada sesama makhluk, lalu engkau mengabdikan dirimu pada Ilahi.
Bangsa yang sedang merayakan ulang tahun kemerdekaannya ke-70 ini sedang menanti tekad kuat melebihi kokohnya baja, tak takut di caci, tak gentar mati, demi bangsa, Negara, dan Tuhannya. Sebab dengan tekadlah engkau akan di perhitungkan. Dengan tekad melebihi kokohnya baja engkau akan sanggup mengubah kondisi umat dan bangsa ini, dengan karya-karya nyatamu, karya-karya nyata yang tak semuanya harus kau posting di sosial media, sebab bila semua karya kau posting di sosial media engkau akan tahu betapa sulitnya menyerap dan memahami makna ikhlas. Karya nyata serta kontribusi yang menggetar hati, membakar semangat juang, memicu jiwa yang rela berkorban, lalu mendorong orang-orang untuk berubah, berubah dari terlalu mementingkan diri sendiri menjadi mencintai umat ini lebih dari pada mencintai diri sendiri.
Marilah membebaskan makna kemerdekaan, agar merdeka tak sekedar kata-kata indah, namun memberi dampak kepada para penikmat kemerdekaan. Dampak yang mengubah pola pikir bangsa ini, bangsa yang terus menerus membenahi dirinya menjadi bangsa yang berpengaruh di dunia. Negeri indah khatulistiwa yang sedang menghadapi era gelombang ketiga peradaban.
Berhentilah sejenak, lalu pandanglah bangsa ini sejenak dari sudut pandang yang tidak biasa. Pandanglah dengan memapas segala ego dalam dirimu, pandanglah dengan mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan dirimu sendiri. Nusantara indah nan elok yang sebentar lagi akan berusia 70 tahun ini tengah menunggu kontribusi nyata dari para pemudanya. Pemuda yang cerdas, pemuda yang intelek yang tak mengedepankan otot daripada otaknya. Bangsa ini terus memanggil-manggil namamu, menuntut pengorbananmu untuk memajukannya, memakmurkannya, dan menyejahterakannya. Sebab itu adalah titah dari Rabb-mu yang memintamu terus bekerja dan berkontribusi untuk bangsa ini, dengan landasan iman yang kuat, pemahaman Islam yang benar dan komprehensif, sehingga mampu membawa NKRI menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.
Ma'had Al-Birr Makassar, 27 Juli 2015 Oleh : Mohamad Khaidir Ilustrasi (blogspot.com/tiffinbiru)
dakwatuna.com – Mereka seperti bersusun-susun Rasa Surga yang dihadirkan ke bumi, begitu kata Ustadz Salim.A Fillah dalam bukunya yang berjudul Lapis-lapis Keberkahan. Bersusun-susun rasa surga tersebut hadir dalam sosok Baginda Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. Bagaimana tidak, orang-orang yang hidup membersamai Beliau SAW dapat mencicip manis dan berkahnya Rasa Surga, dengan Iman yang Kokoh dan Islam sebagai the way of life dan lifestyle mereka. Sesosok Pribadi Muhammad SAW mampu menghadirkan bersusun-susun Rasa Surga bagi orang-orang di sekeliling Beliau, termasuk musuh-musuh Allah dan RasulNya. Bersusun-susun Rasa Surga juga bisa kita tengok dan teladani pada Pribadi Lembut Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq, Sang Tegas Sayyidina ‘Umar Bin Khaththab, Tuan Dermawan Sayyidina ‘Utsman Bin Affan, dan Pemuda Pemberani Sayyidina ‘Ali Bin Abi Thalib. Para sosok yang dirindui Surga, dan mampu menghadirkan secicip Rasa Surga di Bumi ini.
Lalu, apa mungkin para sosok yang kami jelaskan di paragraf pertama yang seharusnya menjadi teladan seluruh Umat Manusia mampu untuk kita ikuti? Mampu untuk kita teladani? Atau mungkin terlalu melangit? Butuh pijakan di bumi untuk mengecap rasa-rasa surga para sosok yang melangit ini? Maka tetaplah berada di Bumi.
Tetaplah berada di Bumi, menjadi orang-orang yang berpandangan luas bahwa bumi Allah ini memang sangat luas bagi makhluk sekecil manusia. Maka penghambaan kita pada Allah SWT dibarengi dengan pemahaman yang mendalam tentang Islam serta wawasan yang luas tentang problematika Umat. Untuk memiliki wawasan yang meluas tak cukup hanya dengan membaca buku atau mendalami teori tertentu saja. Sesekali bertualanglah, menjelajahlah di bumi Allah yang luas ini, bila perlu merantaulah untuk menguji seberapa tangguhnya ketahanan dirimu dan agar engkau juga menyadari betapa Allah mengatur dengan rapi segala urusan hidup kita. Tak ada yang tahu rezeki masing-masing manusia bisa jadi berada di tempat yang jauh dari kampung halamannya. Atau bisa jadi jodoh seseorang itu jauh berada dari kampong halamannya, bisa jadi di lain kota, di lain provinsi, di lain Negara, bahkan antar benua. Allah lah yang memegang segala urusan makhluknya, maka hendaknya manusia memasang niat di setiap aktivitas dan berprasangka baik di segala urusannya.
Tetaplah berada di bumi, alkisah sekelompok anak muda berjumlah enam orang sedang bertugas menjaga dan mengatur parkiran kendaraan di Masjid Muhammad Cheng Hoo Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Enam orang anak muda ini masih ada yang berstatus mahasiswa, ada pula yang sudah menjadi alumni, kesamaan mereka berenam adalah masih mengikuti liqa’ bahkan sejak dari SMA. Seperti biasanya di awal-awal Ramadhan jamaah Shalat Isya dan Tarawih membludak memenuhi masjid. Berbagai fenomena ketika menjaga dan mengatur parkiran kendaraan jamaah Masjid Muhammad Cheng Hoo dialami oleh anak-anak muda ini, ada orang-orang yang patuh dan tersenyum ramah ketika diatur posisi parkir kendaraannya, ada pula yang sedikit sulit diatur ketika memarkir kendaraannya. Ketika jamaah selesai melaksanakan shalat tarawih dan witir secara berjamaah keenam orang anak muda ini harus segera bersiap-siap mengatur kendaraan yang akan keluar agar bisa keluar dengan tertib. Namun ada saja yang tidak mengikuti arahan dari anak-anak muda ini, mungkin karena merasa lebih senior deri segi umur ataupun status sosial, mencoba menyalip kendaraan lain karena tidak sabaran untuk segera keluar dari area parkiran masjid. Akibatnya karena satu orang ini tidak mengikuti arahan,kendaraan lain coba mengikuti untuk menyalip sehingga arus keluar kendaraan menjadi kacau karena perbuatan satu orang saja. Sempat terjadi diskusi kecil antar anak-anak muda tadi membahas tentang perbuatan satu orang yang tidak mengikuti arahan sehingga arus lalu lintas kendaraan keluar masjid menjadi kacau, tentang perbuatan satu orang yang melanggar membuat orang-orang lain juga tidak segan ikut melanggar. Ya, kurang lebih seperti inilah gambaran umat manusia dalam pandangan Islam. Ketika manusia mencoba melanggar Syariat Islam maka dapat dipastikan yang terjadi adalah kekacauan dan ketidakseimbangan, apa lagi baru-baru ini kita sama-sama telah mendengar dan melihat dilegalkannya perkawinan sesama jenis di Amerika Serikat. Bagaimana mungkin manusia bisa menghasilkan keturunan dengan kawin sesamA jenis? Lagipula apa masih bisa disebut orang tua? Apalagi orang-orang yang tergolong transgender, Na’udzu billahi min dzallik. Ini jelas-jelas melanggar fitrah manusia yang diciptakan oleh Allah SWT secara berpasang-pasangan sebagaimana firman Allah dalam Quran Surah Ar-Rum Ayat 20-21 :
Dan diantara tanda-tanda ( kekuasaan) –Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu ( menjadi ) manusia yang berkembang biak (20) dan diantara tanda-tanda ( kebesara)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cederung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantara kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu, benar-benar terdapat (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir (Q.S. Ar-Rum, 20-21).
Tetaplah berada di bumi, begitu banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh manusia, syirik dan bentuk kemaksiatan lainnya, ini jelas akan mengacaukan tatanan kehidupan manusia itu sendiri. Tetaplah berada di bumi, dengan memberi manfaat kepada sesama. Menjadi sosok yang keberadaannya di bumi tidak merusak tatanan kehidupan.
Tetaplah berada di bumi, kalaupun engkau tak bisa jua menjadi sosok yang memiliki secicip rasa surga maka cobalah engkau saingi sang pendosa dalam istighfarnya, cobalah menjadi sosok yang tak bangga dengan amal-amal yang hanya secuil, dan sosok yang selalu memperbaiki diri karena melimpahnya dosa-dosa. Sosok yang tak jumawa dengan karya-karya, sosok yang tak mudah putus asa karena menggunungnya dosa.
Tetaplah berada di bumi, karena kebathilan pasti akan tersingkir bila yang haq mendominasi didalam hati. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, “…Maka, demikianlah keadaan hati, ia pun dapat tercampuri oleh syahwat dan syubhat. Akan tetapi, tatkala yang tumbuh berkembang dalam hati tersebut adalah al-Haq (kebenaran), maka syahwat dan syubhat pun akan sirna. Dan yang tersisa di dalam hati hanyalah keimanan dan Alquran yang bermanfaat bagi pemilik hati tersebut dan juga orang lain.”
Tetaplah berada di bumi, karena yang memberi manfaat akan tetap berada di bumi, dengan iman, ilmu, dan amal shalehnya. Yang memberi manfaat bagi sesama akan tetap berada di bumi meskipun sosoknya masih jauh dari sosok para pendahulu yang mampu menghadirkan secicip rasa surga di bumi ini. Yang memberi manfaat akan tetap berada di bumi, dicintai oleh keluarganya, orang-orang terdekatnya, disayangi oleh sahabat dan masyarakat tempat ia tinggal. Ilmu dan karya nyatanya begitu bermanfaat bagi orang lain, imannya yang mendalam begitu memotivasi orang-orang yang ingin memperbaiki diri. Maka tetaplah berada di bumi, mari renungkan dan tadabburi bersama Alquran Surah Ar-Ra’du Ayat 17 :
Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Q.S.Ar Ra’du : 17).
Makassar, 10 Juni 2015, Ma'had Al-Birr Oleh : Mohamad Khaidir Ilustrasi. (modifikasi dari foto di: win4000.com)kw
dakwatuna.com – Bila memandang langit terasa biasa saja, mungkin kita perlu introspeksi diri lagi dan lagi. Belakangan ini penulis lebih sering mengawali gagasan dengan membahas sedikit tentang langit. Oleh karena bagi orang-orang yang hidup di belantara perkotaan akan lebih senang memandang langit, dan menengok tumbuhan-tumbuhan hijau, sebab beton serta tembok perkotaan sudah sedikit membuatnya jenuh karena peliknya aktivitas sehari-hari di rimbunnya beton belantara perkotaan. Tetapi sekali lagi dari setiap aktivitas yang kita jalani sehari-hari akan menjadi durhaka seorang hamba bila tidak dibarengi dengan rasa syukur setinggi-tingginya. Cara bersyukur setinggi-tingginya adalah dengan menyelamatkan manusia dari jilatan api neraka, itulah dakwah. Bukan wajah dan dagu yang congkak, tetapi hamba yang merunduk serta bersyukur. Belajar merasai setiap nikmat yang telah diterima agar setiap nikmat dan puji syukur menjadi kekuatan iman. Atau mungkin kita terlalu sering mencela hari? Mengobral peluh? Sehingga setiap kondisi terasa menyesakkan? Barangkali kita perlu untuk menelisik lagi hati kita, apakah hati yang menjadi pengendali diri ini sudah lebih dominan kepada hal-hal yang menjauhkan diri dari mengingat Allah? Mau sampai kapan jauh dari Allah? Atau mungkin saja setiap hari engkau mendengar kumandang adzan, mendengar ajakan dakwah, tetapi pura-pura tak tahu atau masa bodoh dengan ajakan tersebut.
Dakwah adalah satu-satunya jalan! Percayalah! Sering muncul di kalangan intelektual pemahaman yang kaku dan sok intelektual tentang keilmuan. Seperti penulis sendiri yang berlatar belakang pendidikan Akuntansi, untuk apa menulis begitu banyak tulisan tentang renungan dan dakwah? Lalu apa yang salah dengan itu semua? Apakah dengan berdakwah melalui tulisan membuat penulis sendiri meninggalkan disiplin ilmu akuntansi? Nyatanya tidak, karena profesi penulis sendiri adalah seorang akuntan yang terus menerus belajar tentang akuntansi dan keuangan, pada saat yang sama juga terus belajar ilmu agama melalui majelis tarbiyah dan halaqah. Lalu muncul wacana pemisahan bidang-bidang disiplin ilmu yang digeluti dan dipelajari dengan persoalan dakwah dan keummatan. Bahwa sarjana pertanian hanya boleh bicara dan membuat tulisan persoalan pertanian saja? Bahwa sarjana pertanian hendaknya tidak berusaha mengaitkan ilmunya dengan ajaran Islam. Seorang sarjana kehutanan juga hanya boleh bicara persoalan kehutanan saja? hanya boleh membuat tulisan-tulisan dan artikel terkait bidang kehutanan saja? Lalu merasa tabu bila mengaitkan tentang hutan dengan ajaran islam, padahal tumbuh-tumbuhan, tanaman-tanaman, senantiasa memuji Allah SWT. Hanya saja penulis yakin orang-orang yang ingin memisahkan Islam dari bidang pertanian atau bidang kehutanan ini tak akan mempercayai tentang seluruh alam semesta yang senantiasa memuji Allah SWT, termasuk tumbuh-tumbuhan. Meskipun mereka yang cenderung memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama ini sombong dengan ilmu yang mereka miliki, meskipun sebenarnya ilmu mereka tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Ilmu Allah SWT.
Ketika forum-forum ilmiah berlangsung, ketika rapat-rapat umum berjalan, dan ada orang-orang yang berbicara tentang kebaikan, tentang agama, maka dengan ketus mereka menjawab, “Jangan bawa-bawa agama dalam forum ini!”, “Jangan bawa-bawa agama di sini!”. Sungguh sangat disayangkan mereka yang masih memiliki pemahaman seperti ini lalu merasa sombong dengan ilmu serta karya-karya yang telah mereka hasilkan, merasa telah berbuat sesuatu, tetapi sungguh amal mereka hanya bagai sawah yang sempat subur lalu seluruh padinya gugur dan layu. Mereka sedang kehilangan pijakan? Ya, itu kemungkinan terbesar yang dapat penulis simpulkan untuk sementara. Melalui tulisan ini penulis akan menyampaikan yang seharusnya, mengingatkan mereka akan Ke-Maha Besaran Allah, serta mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Sebab seberapapun banyak muatan kebaikan pada tulisan seorang hamba yang hina ini, betapapun lihai retorika dan sastra dalam tulisan seorang hamba yang tengah mengembara ini, Allah lah yang memegang hati para hambaNya, Allah lah yang memiliki kuasa atas segala makhlukNya.
Dakwah adalah satu-satunya jalan! Percayalah! Adalah sebuah gerakan dakwah yang membuat penulis kagum, gerakan dakwah yang merangkul semua kalangan, sebab gerakan ini sadar tengah mengemban amanah yang besar, amanah dakwah, dakwah yang sejati, tentang peradaban dan alam semesta. Maka yang bergabung dalam gerakan ini tidak hanya para lulusan ilmu agama saja, tidak hanya para Ustadz yang bergelar Lc saja, tidak hanya lulusan perguruan tinggi agama saja. Hampir semua disiplin ilmu memilih bergabung dalam gerakan ini, mereka yang sarjana ekonomi pembangunan, sarjana akuntansi, sarjana manajemen, sarjana ilmu sosial, sarjana administrasi, sarjana sosiologi, sarjana psikologi, sarjana pertanian, sarjana kehutanan, sarjana pendidikan geografi, sarjana pendidikan kimia, sarjana pendidikan matematika, sarjana pendidikan bahasa inggris, sarjana kimia, sarjana sains, serta ratusan bidang disiplin ilmu yang tak akan cukup bila disebutkan satu persatu pada tulisan ini. Sebagaimana nilai-nilai Islam yang universal, menyentuh segala aspek hidup, intelektual muda yang bergabung dalam gerakan ini berdakwah meskipun ia adalah seorang karyawan swasta, tetap berdakwah meskipun ia seorang guru sekolah, tetap berdakwah meskipun ia seorang arsitek, tetap berdakwah meskipun ia seorang akuntan, tetap berdakwah meskipun ia seorang politisi, tetap berdakwah meskipun ia seorang penyanyi, tetap berdakwah meskipun ia seorang apoteker, tetap berdakwah meskipun ia seorang auditor, tetap berdakwah meskipun ia seorang dokter, tetap berdakwah dan terus berdakwah. Mereka tengah mempersiapkan kemenangan Islam di masa mendatang, tengah mempersiapkan generasi yang profesional dalam setiap bidangnya, sehingga lahirlah para pejuang dakwah dari bemacam-macam profesi serta dari berbagai kalangan.
Masih memilih untuk berpijak pada teori-teori konvensional tentang bagaimana berkarya dan menjalani hidup? Masih sering terjebak dalam kegiatan-kegiatan organisatoris namun tidak dilandaskan pada niat yang baik? Ingatlah bahwa niat yang baik saja belum cukup, sebab Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik-baik saja. Niat yang baik, disertai dengan cara yang baik, proses yang baik, bukan terbaik menurut dirimu sendiri, tetapi menurut ukurun penciptaMu. Ibarat sebuah pabrik yang memiliki bahan baku yang baik, mesin yang optimal, karyawan yang disiplin, manajemen yang baik, proses produksi yang baik, maka produk yang dihasilkan akan menjadi baik. Cara yang terbaik di era modern seperti sekarang ini adalah dengan terlibat dalam aktivitas dakwah dan tarbiyah.
Dakwah adalah satu-satunya jalan! Percayalah! Dari dakwah kita bisa belajar dari para pewaris nabi tentang dakwah sebagai jalan hidup, tentunya diawali dengan niat yang baik. Ukuran niat yang baik, cara yang baik, serta proses yang baik tak akan kau dapatkan dari para selebritis atau artis-artis terkenal. Indikator niat yang baik, cara yang baik, serta proses yang baik hanya dapat engkau dapat dari Rasulullah SAW, sepeninggal Rasulullah SAW pun Ummatnya masih dapat mengambil saripati kebaikan dari para salafunash shalih dan dari para ‘alim’ulama. Indikator kebaikan bukan didapat dari para orang-orang yang katanya aktivis tapi kerjanya hanya menjelajahi harakah, mengkritisi gerakan-gerakan dakwah tanpa melihat diri sendiri yang begitu kecil karena tak mau berjama’ah, mau berdakwah atau hanya main-main ?! Jangan sampai niat yang baik terkotori oleh setitik noda, tidak menjamin meskipun dia adalah seorang aktifis di lembaga dakwah, sebab bisa jadi chatting yang berlangsung di dunia maya antara lawan jenis lalu membahas urusan-urusan yang tidak penting?! Lalu orang-orang yang katanya ingin berdakwah lewat sosial media dengan bebasnya saling mengomentari status, bercanda, saling tegur sapa secara berlebihan?! Ingatlah bahwa hal ini dapat membuat hatimu tertutupi segunung noktah noda dosa!! Lalu engkau menganggap masih menjalani aktivitas dakwah?! Na’udzubillah. Untuk membentuk niat yang baik diperlukan latihan terus menerus, untuk mengetahui cara dan proses yang baik bergurulah kepada para ‘alim ‘ulama.
Dakwah adalah satu-satunya Jalan! Percayalah! “Dakwah akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita”, begitu ucap Syaikh Mustafa Masyhur. Dakwah akan terus bergaung ke seluruh tempat di bumi ini, dakwah akan terus meluas menembus tebalnya tembok belantara perkotaan, dakwah akan terus menyebar sampai ke pelosok-pelosok terpencil, dakwah akan terus bergema dari tepi sungai hingga puncak gunung, dakwah akan terus tersebar dari tepi pantai hingga hutan belantara, dakwah akan terus diserukan hingga Islam tegak di hati manusia, dakwah akan terus berjalan meskipun para ‘ulama dan pemimpinnya terus dibunuhi dan dipenjara, dakwah akan terus ditulis hingga bertumpuk-tumpuk kitab, dakwah akan terus ditulis hingga berbanyak-banyak artikel, dakwah akan terus diucap dari lisan para dai yang berbeda-beda latar belakang, dakwah akan terus diserukan lisan para dai dari berbagai bidang disiplin ilmu, dakwah akan terus dikoarkan dari lisan para dai yang berasal dari semua kalangan, dakwahlah akan menghantarkan manusia dari penghambaan kepada sesama menjadi penghambaan hanya kepada Allah SWT. Percayalah dengan sebenar-benarnya percaya, dengan segenap Iman, Iman yang menghujam nurani dan mengejawantah dalam sikap dan perilaku, bahwa Allah akan terus menyempurnakan CahayaNya meskipun para musuh Allah tidak menyukainya. Percayalah pada Dakwah!
dakwatuna.com – Langit masih saja biru, tak perlu mengeluh dengan cerahnya hari dan teriknya mentari, maka sebaiknya mensyukuri hari yang yang masih berjalan, bersyukur atas kemampuan menjalani hari. Saat langit mendung pun seharusnya tak perlu mengobral peluh, peluh tentang mendungnya hari, dengan sombong dan sok tahu menganggap bahwa setiap mendung akan membawa hujan, hujan pun tak masalah bukan? Sebab sang hujan adalah rahmat dari Yang Maha Rahman. Ya, dengan syukur maka engkau akan menjadi mulia, mulia dalam menjalani setiap jejak dan retas perjalanan hidup, bagaimanapun kondisinya, serumit apapun fenomenanya.
Membaca setiap fenomena sangatlah penting, menyadari bahwa setiap peristiwa mempunyai maksud dan hikmah juga tak kalah penting. Apatah lagi setiap momentum yang berdatangan bagai arus air yang selalu mengalir dan melewati batu kehidupan. Dari setiap fenomena, peristiwa, dan momentum butuh perenungan yang mendalam. Sebagaimana definisi peristiwa, fenomena, dan momentum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peristiwa adalah kejadian atau yang benar-benar terjadi, fenomena adalah hal-hal yang dapat disaksikan dengan pancaindra dan dapat diterangkan serta dinilai secara ilmiah, sedangkan momentum adalah saat yang tepat. Ya, dengan perenungan yang mendalam, tetapi bukan dengan renungan sembarang renungan. Dari setiap perenungan ini pun harus berdasarkan ilmu, bahkan alangkah baiknya bila bisa sharing dengan orang-orang yang berpengalaman. Apatah lagi berbicara mengenai jalan dakwah, jalan yang penuh dengan kemuliaan dan memiliki pandangan yang sangat jelas. Jangan sampai ego membuat jalan pikiran menafsirkan sendiri tentang jalan dakwah, sebab jalan ini adalah jalan yang telah ditempuh para Nabi dan para Rasul.
Jalan dakwah yang sesungguhnya adalah jalan yang akan menyatukan kaum Muslimin. Jalan dakwah, bukan jalan yang akan membuat kaum muslimin terpecah belah, membuat kaum muslimin tercerai-berai. Namun banyak orang yang belum mengetahui tentang keberadaan jalan ini, bahkan sebagian kecil dari para aktivis merasa sudah berada di jalan dakwah. Padahal nyatanya tidak. Sebagian kecil aktivis ini mengambil posisi yang kata mereka berada di pihak yang independen. Independen yang mereka maksud juga tak bisa mereka definisikan secara tuntas. Apakah independen dalam hal politik? Sungguh dangkal mereka yang membatasi dakwah dengan kata independen dan menganggap tabu bila dakwah sudah masuk ke ranah politik. Bukankah Islam itu agama yang universal? Bukankah Islam juga mengatur perpolitikkan, tata Negara, dan pemerintahan? Mereka yang sebagian kecil ini dengan sikapnya yang juga tak jelas sedang mengebiri nilai-nilai Islam yang universal dan mengatur segala aspek hidup.
Jalan dakwah bukanlah seperti itu, karena jalan ini sudah jelas apa yang menjadi tujuan dan orientasinya. Ada pula sebagian kecil aktivis yang merasa sudah berada di jalan dakwah ketika sudah berkiprah di sebuah lembaga dakwah. Merasa bahwa tujuan dari lembaga dakwah itulah tujuan dakwah seutuhnya. Sehingga mereka yang sebagian kecil ini memberikan loyalitas bukan pada tempat yang seharusnya. Belum memahami yang mana tsawabit dan mutaghayyirat. Ketika status sudah menjadi alumni lembaga dakwah, merasa bingung dan cemas karena tak ada aktivitas dakwah lagi yang bisa dikerjakan. Ketika sudah menjadi alumni, bisanya hanya nongkrong melulu di kegiatan-kegiatan lembaga dakwah yang pernah ia berkiprah di dalamnya. Untuk sesekali saja dengan maksud mengarahkan itu tak jadi soal. Yang jadi persoalan adalah ketika segmen dakwah berubah dan tahapan dakwah sudah beralih ke fase berikutnya, sebagian kecil aktivis ini hanya berada di situ-situ saja. Bahkan keberadaan mereka terkesan membuat segan para aktivis-aktivis baru yang baru bergabung dalam barisan lembaga dakwah. Sudah bertahun-tahun ikut tarbiyah tetapi pemahaman dakwah hanya berkisar di seputaran lembaga dakwah saja. Sudah bertahun-tahun halaqah belum juga tersadar untuk segera berhijab secara syar’i. Sudah bertahun-tahun menjalani aktivitas di lembaga dakwah, mengisi kelompok mentoring, menjadi dewan pertimbangan organisasi, menjadi badan pertimbangan organisasi, menjadi majelis syura’ organisasi, tetapi belum juga menyadari grand design dakwah ini yang sejatinya sedang dalam proses menuju tatanan peradaban. Sudah bertahun-tahun menjalani tarbiyah tetapi masih sulit diberdayakan untuk kerja-kerja dakwah yang sudah sampai di medan amal, di lingkungan masyarakat, di lingkup umat, di tataran politik, ekonomi, dan sosial. Masih saja memahami dakwah tidak secara komprehensif, bahwa dakwah ini masih sangat panjang perjalanannya, masih amat sangat besar gelora dan semangat perbaikan umat, dimulai dari individu, keluarga, masyarakat, lalu negara. Dan untuk mengantar sampai pada tujuan dakwah yang begitu jelas ini, sejelas mentari bersinar dan sejelas langit di siang hari, hanya melalui satu jalan, yaitu jalan dakwah.
Maka, pantaskah bagi kita semua untuk mengambil jalan lain selain jalan dakwah? Bukankah dalam setiap Al-Fatihah yang kita lantunkan kita senantiasa memohon untuk dituntun ke jalan Allah? Jalan yang orang-orang Allah berikan nikmat? Bukan jalan mereka yang Allah murkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat? Tidak sadarkah engkau bahwa sampai saat ini jalan yang dimaksud adalah jalan dakwah?
Maka pantaskah Engkau yang ingin bersama-sama bergerak dan melangkah di jalan dakwah untuk mengambil ideologi selain Islam? Apakah kerumitan ilmu sains menjadikan engkau orang yang realistis dan cenderung tidak menyandarkan dirimu pada Allah, melainkan pada pembuktian-pembuktian ilmu pengetahuan? Tidakkah engkau sadar bahwa engkau cenderung sedang menuhankan akal dan logika? Maka tunggulah murka Allah menghampirimu di akhirat kelak, bahkan sedikit dari murka-Nya akan engkau rasakan di dunia.
Maka pantaskah engkau yang tersadar dan ingin segera bergabung di jalan dakwah untuk terperangkap pada slogan-slogan dan jargon-jargon yang bersifat temporer? Atau kata-kata indah yang mewujud dalam visi-misi yang bersifat parsial, hanya untuk institusi, hanya untuk lembaga, hanya untuk daerah, hanya untuk bangsa, hanya untuk Negara? Sungguh dangkal pemahamanmu yang menganggap dakwah hanya bicara soal tazkiyatun nafs, sungguh congkak wajah dan dagumu yang menganggap dakwah tidak akan membahas peradaban masyarakat, peradaban umat, peradaban dunia seluruhnya. Dakwah ini sangat luas, seluas-luasnya alam semesta, sebagaimana karakteristik Islam yang rahmatan lil’alamiin, bahkan bila bumi ada tujuh buah, dakwah pun akan menyinari ketujuh bumi tersebut, sebab Allah akan terus menyempurnakan cahaya-Nya meskipun musuh-musuh Allah tidak menyukainya.
Maka pantaskah engkau yang sebentar lagi akan bergabung dan menisbatkan diri di jalan dakwah untuk untuk malas bergerak dan susah diberdayakan? Pantaskah bagi dirimu untuk memilah-milih amanah dakwah? Atau mungkin merasa pekerjaanmu lebih penting dari dakwah. Apakah perkerjaanmu yang akan mampu menjadi jawaban ketika kelak ada pertanyaan tentang kontribusi bagi islam, dakwah dan umat ini? Jawabannya Tidak! Sekali-kali tidak!! Dan nampaknya engkau harus segera mengubah orientasimu, sebab para Sahabat radhiyallahu’anhuma juga berdakwah, pada saat yang sama mereka juga bekerja. Bahkan hasil dari keringat dan pekerjaan mereka sebagian besar diberikan untuk perjuangan dakwah ini. Sudahkah engkau ketahui bahwa sumur yang dibeli oleh Sayyidina ‘Utsman Bin Affan radhiyallahu’anhu dari orang Yahudi, diperuntukkan untuk Kaum Muslimin, sampai saat ini asset tersebut masih dikelola oleh Pemerintah Saudi Arabia untuk kesejahteraan Umat? Maka semua harta dan keringat hasil pekerjaanmu hanyalah debu di atas debu bila hanya habis untuk keperluan-keperluan pribadimu. Namun harta dan jiwamu akan menjadi mulia ketika keduanya diinfaqkan di jalan dakwah. Transaksi mana lagi yang lebih menguntungkan? Betapa tidak Allah membeli harta dan jiwa orang-orang beriman.
Maka pantaskah engkau yang sudah berada di jalan dakwah namun belum begitu memahami esensi dakwah jamaah, memilih untuk tidak taat dan patuh pada murabbi dan naqib? Lalu engkau merasa sedang berada bersama di jalan dakwah? Merasa sedang berjamaah? Padahal kegiatan sehari-harimu tak kau sharing kan kepada teman-teman halaqahmu, persoalan, masalah, dan kegembiraan tak diketahui oleh sahabat-sahabat seperjuanganmu dalam dakwah. Yang lebih parah lagi engkau memilih pasangan hidup tidak sesuai koridor jamaah dakwah, tidak berkoordinasi dengan murabbi atau naqib.
Inilah Jalan Dakwah, ini baru permulaannya, ini masih kulitnya, untuk memahami intinya maka dituntut keseriusanmu, totalitasmu, serta loyalitasmu, untuk bergerak bersama jamaah dakwah, untuk bersama-sama tidak terjebak dalam isu-isu temporer, kedaerahan, isu-isu parsial yang dapat dipastikan tidak akan mampu menyelesaikan persoalan peradaban. Maka dituntut pengabdianmu untuk bergerak bersama jamaah, sesuai koridor jamaah, sebab jalan dakwah adalah dengan berjamaah. Inilah jalan dakwah, jalan yang begitu mulia, yang dilalui para Nabi dan Rasul yang Mulia, tugas yang begitu mulia. Tangisi dan tertawakan dirimu yang masih menganggap dakwah ini sederhana. Inilah Jalan Dakwah, maka pantaskah engkau? (dakwatuna/hdn)
Rabu 22 April 2015, Ma'had Al-Birr Makassar Oleh : Mohamad Khaidir
Ilustrasi. (Foto: kanald.ro)
dakwatuna.com – Jangan mendongak ke atas seperti ketinggian langit, sebab ketinggian langit takkan mampu kau ukur sekalipun disiplin ilmu yang sedang atau telah kau tekuni adalah bidang astronomi atau bidang fisika. Tersebab langit yang engkau pahami selama ini mungkin hanya bermodalkan pemahaman berdasarkan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang kau dapatkan di sekolah. Tak pernah kah kau membuka Alquran, membaca tafsir, atau membaca dan mendengarkan kajian para ‘ulama tentang pengertian langit yang sebenarnya berdasarkan Alquran? Tetapi pada kesempatan kali ini penulis tak ingin memperuncing perdebatan tentang definisi langit yang sesungguhnya. Hanya ingin sedikit menggugahmu betapa perilakumu yang sering mengangkat wajah dan dagu seakan-akan ingin menyaingi ketinggian langit dan terlupa akan sejatinya pijakan tanah. Tanah yang kelak akan bersaksi tentang apa saja yang pernah engkau lakukan saat menginjaknya, dengan jelas dan terang tanah akan menceritakan beritanya, dengan tegas dan lugas tanah akan menceritakan kejadian baik dan buruk yang pernah terjadi di atasnya, dengan segala kejujuran dan keterbukaan tanpa ada sesuatu pun yang ditutup-tutupi.
Tulisan ini adalah tulisan pertama yang ingin penulis goreskan ketika untuk kesekian kalinya memijakkan kaki di Kota Daeng, begitu orang-orang menyebutnya. Pusat peradaban Indonesia bagian Timur ini bernama Kota Makassar, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kota yang menyimpan begitu banyak sejarah tentang perjuangan dakwah Islam, sebut saja kisah perjuangan La Ma’daremmeng Sultan Muhammad Saleh, Karaeng Patingalloang, dan Tuanta Salamaka. Semoga goresan ide dari seorang hamba hina yang bersal dari Sulawesi Tengah ini mampu untuk sedikit menundukkan kepala congkak yang terlalu sering melihat ke atas, tak ada habis-habisnya ingin meraup harta dan kesenangan dunia, tak pernah terpuaskan oleh kesenangan yang bersifat material, seakan-akan ia hidup selamanya. Goresan ide ini juga ingin mengingatkan kepada diri penulis pribadi dan kepada para pembaca Dakwatuna sekalian tentang pentingnya untuk menjadikan hanya Allah saja sebagai tujuan hidup, bukan bermaksud menihilkan kebahagiaan, tetapi seperti itulah hakikat kehidupan ini.
Ketika ingin memahami apa sebenarnya tujuan hidup ini, tidak lain dan tidak bukan adalah beribadah kepada Allah SWT, hanya kepada Allah saja. Maka tidak pantas engkau mengangkat wajah dan dagumu setinggi langit dan ingin menunjukkan bahwa engkau menjadi mulia dengan kemolekan rupamu. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, :
“Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh dan penampilanmu, tetapi Allah melihat hatimu.”
Tersebab ada nilai yang lebih mulia daripada sekadar mengandalkan keindahan fisik semata, sebab Allah tak akan melihat itu. Coba engkau sandarkan kembali segala sesuatunya kepada Allah, betapa wajahmu beserta pori-pori dan lekuk-lekuknya begitu sempurna, begitu proporsional dalam bentuk dan rupanya. Setiap organ saraf di wajah yang begitu sempurna ciptaan Allah SWT, sehingga apabila engkau hiasi setiap organ wajahmu dengan tasbih dan tahmid serta sujud, jangan heran apabila ia tampak bercahaya. Bukan sekadar cahaya dalam artian fisik, tetapi cahaya yang memancarkan aura keshalehan, setiap yang memandang dengan penuh ketundukkan, setiap yang memandang dengan pandangan iman, akan larut hatinya, akan luluh perasaannya, dengan segera akan mengingat Allah SWT. Sekarang begitu banyak orang-orang yang melupakan pengaruh itu, betapa mulia dan utamanya mengakrabkan diri dengan orang-orang yang shaleh. Selain menjadi obat hati, berkumpul dengan orang-orang shaleh juga akan membuatmu cenderung menetapi ketaatan dan menjauhi segala kemaksiatan.
Hari ini, karena engkau masih sering mendongakkan kepala dan dagumu ke atas dengan congkak, engkau lebih sering merasa segala sesuatu bisa diukur dengan kebahagiaan, dan kebahagiaan seringkali diukur dengan kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan. Setelah mengkaji berbagai dorongan kejiwaan yang dapat menyelewengkan seseorang dari keikhlasan, Hasan Al-Banna sampai berkesimpulan bahwa yang paling dominan di antaranya adalah kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan. Betapa sering menjadikan kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, dan kepentingan sebagai orientasi utama. Padahal letak kemuliaan seseorang adalah tingkat ketakwaannya.
Betapa congkaknya dirimu berjalan di muka bumi ini dengan wajah dan dagu yang terangkat, menganggap rendah semua orang, merasa dirimu paling hebat, merasa dirimu paling kuat, merasa dirimu paling cerdas. Bukalah sejenak smartphone atau android phone milikmu, bukalah aplikasi google map atau google earth. Sekarang lihat, betapa kecilnya dirimu bukan? Betapa dirimu ini tak terlihat dalam sebuah peta? Lantas dirimu merasa besar? Merasa congkak? Merasa hebat? Tunduk dan sujudlah sebagai tanda pengakuanmu atas betapa tak ada apa-apanya dirimu. Tunduklah dan beribadahlah kepada Allah SWT. Beribadah dengan cara yang diRidhai Allah SWT, cara yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Betapa Rasulullah SAW memberi contoh penghambaan terbaik kepada Allah SWT adalah dengan menyelamatkan umat manusia dari jilatan api neraka. Api yang akan membakarmu hingga seluruh tubuhmu, baik organ dalam maupun organ luar akan terbakar, mendidih, dan meleleh. Betapa tak ada apa-apanya penderitaanmu di dunia bila dibandingkan dengan panasnya api neraka. Begitupun sebaliknya, betapa tak ada apa-apanya kesenangan yang engkau kejar di dunia dibandingkan dengan indah dan gemerlapnya surga bagi orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang mengikuti jejak para Nabi dan Rasul, orang-orang yang menepati janjinya kepada Allah, orang-orang yang syahid dalam perjuangannya di jalan Allah SWT, serta orang-orang yang shaleh.
Tundukkan kepalamu, bersujudlah, tersungkurlah sembari mengingat kesalahan yang pernah engkau lakukan. Mantapkan iman dalam dirimu, keyakinan yang mendalam, dan bukalah hati dan pikiranmu untuk mengikuti majelis Tarbiyah, majelis Halaqah, atau majelis-majelis ilmu lainnya. Sebab dengan berkumpul bersama-sama orang-orang shaleh, yang cinta dan peluh hanya kepada Rabbnya. Sebab seperti itulah cara yang diajarkan oleh para ‘ulama serta para salafunashaleh, tentang keistimewaan kewajiban dakwah. Berdakwahlah, sebab dakwah ini akan terus berjalan, dakwah ini akan terus menyeruak menggenapkan kegelapan-kegelapan zaman. Melalui dakwah, cahaya Allah akan terus menyebar, Allah akan terus menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.
Sekarang, tundukkan secara perlahan wajah dan dagumu ke bumi, sadari bahwa engkau tak ada apa-apanya di bumi Allah yang terlalu luas ini, tumbuhkanlah keinginan belajar dan mulailah tarbiyah, mulailah menghadiri majelis-majelis halaqah serta majelis-majelis ilmu yang akan menyelamatkan hidupmu. Dakwah sejatinya adalah seruan dan ajakan terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, satu saja yang terenyuh hatinya untuk tersadar, satu saja orang yang mendapat hidayah melalui perantaramu, satu saja orang yang ter-rekrut untuk bergabung menjadi pejuang dakwah bersamamu dan barisan dakwah ini, maka itu lebih baik dari onta merah, lebih baik dari seluruh penjuru dunia, lebih baik dan segala apa yang ada di langit dan di bumi ini. Sambutlah seruan ini, tinggalkan egomu, tanggalkan pakaian kebesaranmu, pakaian yang terbuat dari kesombongan, pakaian yang tercipta dari kekayaan, penampilan, pangkat, julukan, serta kepentingan.