Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
dakwatuna.com – Benteng Rotterdam begitu memesona dengan ciri khas bangunan Belanda, berdiri di tengah belantara perkotaan, dekat Pantai Losari. Aku termenung sejenak di benteng ini, sambil mempelajari sejarah tentang Sulawesi Selatan dan sejarah umum. Sesekali menengok penjara bawah tanah tempat para pejuang kemerdekaan Indonesia di sekap karena tindakan mereka yang subversif menurut penjajah, namun tindakan yang heroik menurut para pejuang kemerdekaan dan rakyat Indonesia. Berjuang melawan kezhaliman penjajah yang seenaknya menjadikan diri berstatus sebagai tuan, lalu rakyat Indonesia di jadikannya hamba.
Sempat kutengok ruang penjara yang pernah memenjarakan Pangeran Diponegoro, seorang Pahlawan yang meskipun bergelar pangeran di awal namanya, namun tidak dapat ditutup-tutupi lagi beliau juga adalah seorang ‘Ulama. Seorang pemandu wisata pun menyampaikan kepada pengunjung bahwa di dalam penjara tersebut terdapat tempat sang pangeran mengaji. Ilustrasi penampilan Pangeran Diponegoro di buku-buku sejarah pun juga menggambarkan bahwa ia adalah orang Yang taat dalam beragama, terlihat dari sorban dan pakaian yang ia kenakan. Sungguh sebuah gambaran yang ingin menyampaikan kepada kaum muslimin bahwa sejak dahulu kala, agama dan kekuasaan adalah dua hal yang tak bisa di pisahkan. Terlepas dari pandangan sebagian orang yang skeptis dengan dunia perpolitikkan tanah air, ternyata Islam dengan begitu komprehensif juga mengurusi pemerintahan.
Batu-batu berwarna hitam dan hijau karena ditumbuhi lumut mengelilingi Benteng Rotterdam dengan begitu rapi dan artistik, kanal benteng tampak indah dan bersih, bukti pengelolaan pariwisata pemerintah setempat yang profesional. Dari sudut mana pun bila kita menjejakkan kaki di benteng bagian luar, lalu mengambil foto dari angle mana pun, sangat indah dan bersih, terbukti beberapa model lokal Kota Makassar sedang melakukan pemotretan di sudut benteng. Maka tak heran bila Benteng Fort Rotterdam juga menjadi Icon Kota Makassar. Tetapi pada dasarnya bukan keindahan Fort Rotterdam yang menjadi inti sharing pada kesempatan kali ini. Tetapi lebih kepada sebagian besar masyarakat yang mulai melupakan sejarah, bahkan menganggap mempelajari sejarah bukanlah sesuatu yang urgent. Tampak para anak muda sibuk mengelilingi benteng tanpa ingin tahu apa sebenarnya yang pernah terjadi di benteng tersebut, apa sebenarnya pesan sejarah yang ingin disampaikan oleh benteng Fort Rotterdam kepada generasi muda Indonesia.
Sejatinya aku juga masih tergolong pemuda, hanya saja sedikit prihatin dengan sebagian besar para pemuda pemudi seumuran yang dalam pikirannya masih saja berfoya-foya, menyangka bahwa kebahagiaan hakiki adalah dengan melepas kendali tali kekang hawa nafsu dan syahwat. Padahal justru hal itu akan berujung pada kehampaan dan penyesalan. Apa mungkin keterbatasan frame berpikir mereka yang membuat tumpul analisis dan hilang kekritisan? Sedikit tersentak dengan pesan seorang sahabat di fasilitas media sosial Telegram yang tertulis :
“Begitulah ketika mata dan telinga hanya terpaku sebuah teknologi yang mampu menembus segala ruang, tanpa bingkai jati diri..
Maka bingkainya adalah arus berita media sosial..
Ke mana buih ditiup angin, itu yang dikatakannya tanpa suara.”
(Budi Prasetya, 2016).
Tanpa jati diri apalah arti anak muda, apalah arti seorang pemuda, justru melanglang buananya pemikiran para pemuda di samudera globalisasi, sangat membutuhkan frame berpikir yang jelas dan tepat, di zaman yang arusnya begitu deras. Mempelajari sejarah adalah salah satu opsi dari perbaikan pemikiran pemuda, pemuda yang seharusnya disibukkan oleh hal-hal yang mencakup kemaslahatan umum, malah disibukkan dengan mengunjungi taman hiburan dan tempat-tempat yang justru memberi dampak kontraproduktif. Karena pemikirannya sudah di bingkai oleh media sosial. Maka di saat seperti inilah kuajak engkau para pemuda, ajakan dari diriku yang juga adalah seorang pemuda, untuk lebih giat mempelajari sejarah, agar dapat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa sejarah. Percayalah padaku, kejadian yang terjadi saat ini adalah kejadian yang sudah berulang kali terjadi, maka dengan mempelajarinya engkau akan bisa mengambil tindakan yang tepat.
Mari kuajak engkau untuk sejenak menyimak kisah lampau para Penduduk Pompeii yang melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Para penduduk Pompeii membiarkan hawa nafsu dan syahwat merajalela, seks bebas di tempat-tempat umum bukan lagi menjadi hal yang tabu, menyukai sesama jenis pun di anggap normal. Maka kesudahan negeri ini, seperti kita ketahui bersama adalah azab. Larva dari gunung berapi dan awan hitam yang membawa hawa panas membuat penduduknya membatu, sungguh azab yang pedih di dunia, musibah sebelum musibah yang sesungguhnya di akhirat kelak. Maka engkau pun akan melihat ada pola yang berulang, saat ini kita melihat kaum LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, & Transgender) memperjuangkan agar di sahkannya keberadaan mereka dan pelegalan segala tindakan mereka agar diakui oleh pemerintah. Tentu saja perilaku yang menyimpang tersebut, di tambah lagi regulasi pemerintah yang melegalkannya, bukan tidak mungkin kejadian yang dialami oleh penduduk Pompeii dan kaum Nabiyullah Luth ‘alaihissalam akan berulang di zaman sekarang.
Bukannya ingin mendebat kalian para pemuda parlente yang lebih sibuk mencari pasangan hidup dari pada tuntunan hidup, tetapi lihatlah sekeliling kalian! Sungguh perilaku menyimpang ini sangat tidak kita inginkan menjadi penyebab tercabutnya keberkahan dari negeri tercinta kita ini. Maka butuh pundak-pundak dan kepala-kepala kalian untuk bersama-sama menjadi solusi dari penyimpangan yang tercela ini. Sebab engkau perlu untuk kuberitahukan bahwa terhinanya Kaum Yahudi disebabkan karena acuh tak acuh di kalangan mereka, tidak saling menasihati dan memperingatkan akan kebaikan, dan hal ini berdampak pada kemungkaran yang dibiarkan terus terjadi. Bandingkan dengan kaum muslimin di bawah pembinaan Rasulullah Muhammad SAW yang saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran, mencegah kemungkaran dengan tangan-tangan dan lisan-lisan. Sungguh kita ini pun adalah umat Muhammad SAW yang akan mewarisi tugas ini, amar ma’ruf nahi munkar sebagai karakteristik umat terbaik.
Mari tengok lagi sejarah, dan perhatikan sebuah negeri yang di hinakan dan negeri yang di muliakan dengan keberkahan. Banyak pelajaran yang bisa engkau ambil dari setiap kisahnya, di mana para pemudalah yang kemudian menjadi pelopor perubahan. Di mana pun berada, semangat pemuda akan engkau rasakan seakan-akan sedang membakar gairah peradaban. Semangat yang timbul dari rasa rindunya akan sebuah peradaban yang berkemajuan, bukan hanya maju dari segi materi, tetapi juga maju dari sisi ilmiah, maju dari segi pemikiran, dan ghirah memperjuangkan agamanya. Sehingga matang pemikirannya untuk membangun sebuah peradaban yang paripurna. Karena perjuangan secara substansi bukan hanya terlihat dari covernya saja, juga dari kedewasaan pemikirannya. Sungguh saat ini merindukan para pemuda yang seperti itu, yang frame berpikirnya jernih tak ternista oleh glamour dan hiruk pikuk dunia, lalu mempunyai pemikiran jangka panjang, meskipun jumlahnya masih sangat sedikit. Mengapa jumlah mereka sangat sedikit? Karena merekalah yang kemudian pantas menerima amanah sebagai pemimpin di antara para pemuda lainnya, menginspirasi teman-teman seangkatannya. Aku sungguh bersyukur bila bertemu dengan mereka para pemuda yang sedikit itu, bisa dibilang limited edition. Dan tentunya kita jangan terburu-buru melihat dan menduga-duga akan hasilnya. Sebab para pemuda limited edition tersebut ditempa oleh proses yang tentunya bukan dalam waktu yang singkat. Tetapi melalui proses yang cukup lama dan mereka adalah satu di antara banyaknya yang sudah terseleksi. Aku bertemu pemuda bernama Sahmardan asal Indonesia Timur yang semangat menuntut ilmunya melebihi teman-teman seangkatannya. Aku bertemu pemuda bernama Erwin, pemuda yang memiliki latar belakang keluarga broken home namun berkat kerendahan hati dan semangat kebaikannya yang berapi-api mengubah hidupnya menjadi pemuda yang paling disayangi oleh dosen dan karyawan di kampus tempat ia menempa ilmu, di tambah lagi ia juga menjadi pemuda yang sangat berpengaruh di angkatannya karena mampu menginspirasi lingkungan sekitarnya. Aku bertemu Edi, pemuda asal Kota Palopo yang berprofesi sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan, bekerja secara profesional, pada saat yang sama ia juga menjadi penggerak para pemuda di daerah asalnya, mulai dari pemuda masjid, pemuda kampus, dan sebentar lagi punya proyek pemuda penggerak desa. Bukan tidak mungkin para sosok pemuda seperti ini ada di sekitarmu, bahkan mungkin berada di dekatmu. Bila benar, maka segera dekati mereka, dan belajar darinya tanpa rasa malu dan ego yang sudah duluan memuncak melampaui hati nurani.
Berjalan-jalan di sekitar Benteng Fort Rotterdam membuatku begitu banyak berimaji tentang yang harus aku lakukan selanjutnya, bahwa rahasia para tokoh yang kulihat menjadi penggerak peradaban sehingga namanya tercatat harum dalam bingkai sejarah adalah mereka yang menyingkirkan kepentingan pribadi lalu berjuang untuk kemaslahatan masyarakat dan rakyatnya. Sosok Sultan Alauddin, sosok Sultan Hasanuddin, berjuang menyelamatkan martabat rakyatnya, dengan bertahan dari gempuran para penjajah yang ingin berlaku sewenang-wenang, berjuang dengan bangga tetap mengenakan identitas keislamannya. Sosok Syaikh Pangeran Diponegoro, yang berjuang merebut kekuasaan dari para penjajah yang menebar kezhaliman, maka yang ia perangi adalah kezhalimannya, bukan karena aqidahnya, lalu memberi pelajaran kepada kita semua bahwa agama dan kekuasaan adalah hal yang tidak dapat dipisahkan. Tak terasa, imajinasi ini mengalir begitu deras mencabut setiap hikmah, dan menambah semangat untuk terus belajar dan berjuang, mencabut akar-akar kebodohan dari kepala ini dengan kelembutan hati dan menghancurkan ego. Senja mulai menjelang maka sudah saatnya beranjak pulang sambil terus menulis hikmah dan makna dari setiap renungan perjalanan. Senja di Benteng Fort Rotterdam sebentar lagi akan tiba. Begitupun masa produktivitasmu wahai pemuda, maka teruslah belajar, teruslah menulis, teruslah berproses menjadi lebih baik. Ayo lebih baik! Takkan kulupakan senja di Fort Rotterdam. (dakwatuna.com/hdn)
dakwatuna.com – Langit Subuh di Kota Daeng begitu indah, mungkin tak semua orang sempat menyaksikannya, karena menjadi tantangan besar bagi sebagian besar orang untuk terbangun di subuh hari. Menyaksikan langit subuh yang indah, dengan udara yang masih bersih, adalah satu kenikmatan yang seharusnya senantiasa kita syukuri. Istilah langit subuh ini terbersit ketika sedang membacarecent updates Blackberry Messengers (BBM) salah seorang sahabat baik kami di Kota Palu. Sahabat kami yang pernah menjadi bagian dalam perjalanan mengenal dakwah kampus, ia hanya bisa berkomentar tentang langit subuh, “Sahabat saya dulu itu mengatakannya, tapi dia sekarang sudah pergi jauh..”. Kalimat yang tampaknya sederhana namun menyimpan kerinduan akan kebersamaan dan persaudaraan, persaudaraan yang di ikat oleh Aqidah. Bila ingin berkisah tentang memori dakwah, sungguh tak akan habis untuk di kenang, kaya akan hikmah. Maka pada kesempatan kali ini kami ingin menuliskan memoar dakwah di tahun 2011.
Sekitar empat tahun silam, saat masih aktif menjadi Relawan Kemanusiaan Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU), tepatnya tahun 2011. Memori yang sangat membekas, ketika orang-orang lain sibuk menyalurkan bantuan logistik, PKPU pun terus bekerja untuk umat dan bangsa ini dengan menerjunkan beberapa relawan kemanusiaan di lokasi bencana banjir bandang. Bukan hanya bantuan logistik tetapi PKPU juga akan mengadakan Trauma Healing bagi anak-anak di sekitar lokasi bencana banjir bandang. Tepatnya di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah.
Pengalaman yang cukup menegangkan dan mengasyikkan, mulai dari melewati jalan berliku yang lumayan ekstrem, tepi kanan jalan adalah jurang dan tepi kiri jalan adalah tebing. Beberapa saat sebelum turun di lokasi banjir bandang bersama Relawan Kemanusiaan PKPU, kami juga sudah sempat menuju lokasi bencana sebelumnya bersama rekan-rekan Mahasiswa dari Lembaga Dakwah Fakultas Mahasiswa Pencinta Mushalla (MPM) Al-Iqra’ Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako. Membawa bantuan yang di himpun dari civitas akademika di Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, menyentil sisi kemanusiaan para mahasiswa dan dosen juga merupakan pengalaman tak terlupakan selama kami beraktivitas di lembaga ini meskipun dari sisi jumlah mungkin tidak begitu banyak , namun yang paling penting dari semua itu adalah tentang kepedulian para kaum intelektual terhadap lingkungan sekitarnya. Sebab kepedulian sosial juga adalah bagian dari substansi ajaran Islam.
Banjir bandang yang tak disangka-sangka membelah jalanan dan perumahan warga di Kecamatan Kulawi, dampak yang sangat hebat sampai-sampai kulit pohon terkelupas. Untuk pertama kali kami menyaksikan batu sebesar rumah ada di lokasi tersebut. Air yang deras membelah perumahan warga, jalan trans Sulawesi, dan lingkungan sekitarnya. Sekalipun korbannya tidak memiliki kesamaan agama pun menurut kami harus kemudian dibantu semampunya. Begitulah Islam mengajarkan kepada kami, relawan kemanusiaan PKPU pun tiba di lokasi sekitar jam 9 malam, membawa para relawan kampus, alumni, dan trainer untuk trauma healing esok hari. Bersama-sama anggota DPRD Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2009-2014 Daerah Pemilihan Kabupaten Sigi, Ibu Sakinah Al-Jufri, S.Ag.briefing persiapan trauma healing di mulai tak begitu lama setelah kami tiba di lokasi. Di rumah salah seorang penduduk desa, berbagai macam alat dan bahan untuk trauma healing dipersiapkan malam itu juga. Konsep trauma healing untuk anak-anak yang berada di lokasi bencana pun sudah di persiapkan dengan matang, termasuk kesiapan peserta yang terlebih dahulu sudah berkomunikasi dengan pemerintah setempat. Kami yang masih pemula sebagai relawan kemanusiaan pun di tunjuk sebagai instruktur yang harus mengondisikan diri bergembira dan tersenyum ceria ketika bertemu anak-anak nanti.
Trauma healing pun di mulai keesokan harinya dan tak disangka-sangka jalan menuju lokasitrauma healing cukup menantang, membelah lembah hutan dan kaki gunung, menyusuri jalan setapak, sampai melintasi sungai nan jernih, pemandangan dan pengalaman yang sungguh tak terlupakan karena tak pernah sekalipun bisa di rasakan ketika hidup di belantara beton perkotaan. Anak-anak dan masyarakat setempat sangat antusias dengan kedatangan relawan kemanusiaan PKPU di lokasi. Sang instrukturtrauma healing, kanda Nuralam begitu ceria membawakan setiap sesi dari acara tersebut, kami para asisten instruktur pun tak jarang tergelak tawa dengan gaya beliau membawakan dan mengarahkan acara. Acara terbilang cukup sukses melihat antusiasme masyarakat setempat dan kegembiraan yang sudah di bawa jauh-jauh dari Kota Palu oleh kakak-kakak instruktur dari relawan kemanusiaan PKPU.
Kebahagiaan yang kami bawa tersebut semoga menjadi suatu hal yang berkesan dan semoga menjadi pemberat timbangan amal di akhirat kelak, sebab ketika setiap tindak-tanduk yang kita lakukan di dunia ini kita sandarkan hanya kepada Allah SWT maka sungguh engkau tak akan pernah merugi. Begitulah transaksi orang-orang beriman kepada Allah SWT. Untuk daerah-daerah terpencil yang penduduknya dominan non-muslim pun perlu menjadi prioritas dakwah oleh para pegiat dakwah ilallah. Menyeru akan kebaikan berpedoman Al-Quran dan Sunnah sungguh adalah perkerjaan yang sangat teramat mulia. Bagaimana tidak mulia bila bentuk empati terbesar manusia kepada sesama manusia adalah menyelamatkan mereka dari jilatan api neraka. Kami pun kagum dengan Yayasan yang mengonsentrasikan kegiatan dakwahnya pada pendidikan, anak yatim, dan dakwah secara umum. Yayasan ini bernama Asia Muslim Charity Foundation (AMCF). Menyebar dai-dainya di berbagai pelosok di Indonesia untuk memperkenalkan Islam dan mengajak orang-orang untuk masuk dan memeluknya. Sampai pada daerah yang tak terjangkau sinyal handphone pun para dai AMCF tetap berdakwah, sampai pada daerah yang tak begitu mengenal bahasa Indonesia pun para dai AMCF tetap menyebarkan cahaya Allah dengan berdakwah.
Tentu bukan hanya eksistensi PKPU dan AMCF saja yang dibutuhkan untuk menyebarkan cahaya Allah di seluruh penjuru Indonesia bahkan penjuru dunia, tetapi berbagai elemen umat yang masih berserakan dan belum tertata rapi pun dibutuhkan kontribusinya untuk kemajuan umat ini. Dan tentu saja kami menyadari bahwa potensi-potensi yang begitu besar untuk mengubah tataran peradaban dunia menjadi lebih baik masih ada, potensi-potensi umat ini masih tertidur lelap dan masih menunggu untuk di bangunkan agar sadar dan siap menghadapi realitas umat manusia. Potensi-potensi tersebut sangat besar dan potensial sehingga perlu di tata dengan rapi agar kebangkitan umat manusia yang hakiki akan semakin dekat masanya, di mana manusia hanya berhukum dengan hukum Allah SWT semata.
Secangkir white coffee di siang hari tadi mungkin menjadi pemicu hingga ide dan hikmah yang sangat sederhana ini menjadi tulisan yang utuh. Sungguh kami yang menuliskan ide ini masih harus banyak belajar dalam hal dunia kepenulisan, masih harus banyak belajar pada Lembaga seperti PKPU dan Yayasan seperti AMCF, yang tak berhenti bekerja dan beramal untuk umat ini, untuk bangsa ini. Mungkin ini yang bisa kami persembahkan, berbagi ide, berbagi inspirasi melalui tulisan tak elok kami. Namun kami meyakini bahwa setiap upaya untuk perbaikan umat ini apapun bentuknya tentu sedikit atau banyak efeknya setidaknya bisa membantu. Diibaratkan bila setiap individu yang berdakwah adalah batu bata peradaban, maka tunggulah bangunan indah itu akan tegak kelak, insya Allah. Sambil menunggu mari kuajak engkau menikmati secangkir white coffee, lalu ikut bekerja untuk umat ini, untuk bangsa ini, belajar dari PKPU dan AMCF. (dakwatuna.com/hdn)
dakwatuna.com - Langit Kota Makassar tampak sangat cerah dengan
sedikit awan putih berderetan menghiasi birunya langit. Meski beberapa
hari yang lalu hujan deras sempat mengguyur Kota Daeng ini. Mungkin
sebagian dari kita sering mengeluhkan kondisi yang selalu berganti dan
bergiliran ini, tanpa coba memahami lebih dalam betapa adilnya Allah SWT
menjawab doa para petani yang ingin turun hujan, dan doa para pedagang
kaki lima yang ingin cuaca cerah. Apapun kondisinya sejatinya harus kita
syukuri sambil terus menambah kebaikan pada diri-diri kita.
Kondisi
yang terus menerus berganti ini terkadang membuat penulis pribadi untuk
merenung dan menuliskan renungan-renungan tersebut dalam salah satu
fasilitas media sosial yaitu path. Baru saja bergabung di media
sosial yang satu ini, tepatnya dua bulan yang lalu. Media Sosial yang
memiliki keistimewaan, yaitu apa yang menjadi postingan kita akan
terlihat orang-orang yang menyaksikannya, baik itu lagu, gambar, film,
ataupun kata-kata. Sehingga secara kasat mata sang pemilik akun path bisa untuk kemudian mengetahui impact-nya.
Dalam beberapa kesempatan, ketika menyaksikkan betapa militannya para
aktifis dakwah, ingin rasanya mengirimkan salam kepada mereka yang
betul-betul militan dengan ideologi, Iman, dan kerja-kerja dakwahnya.
Sampaikan
Salam kami pada Kalian, Kalian yang terus berpayah-payah dalam proses,
dan terus menjaga kemuliaannya dalam pandangan penduduk langit dan bumi.
Terimalah Salamku, Kepada kalian yang terus memperbaiki diri, Sambil
tak melupakan kewajiban saling menasehati, Dalam kebaikan dan kesabaran,
apapun komentar orang-orang. Jawablah salamku wahai para Saudaraku.
Saudaraku yang tetap menjaga prinsip hidup dan fitrah manusia, Sebab
banyak orang-orang di luaran sana yang rela menjual murah prinsipnya.
Rela melupakan kewajibannya, Rela merendahkan martabat dan kemuliaannya,
Rela untuk tak peduli dan tak berideologi. Lalu hancur lebur tak
ber-aura, Lalu luluh lantah tak memberi manfaat. Terkoyak-koyak oleh
dimensi ruang, waktu, & daya.
Sungguh mereka sangat militan
dan teguh dengan prinsipnya, namun jumlah mereka tentu saja sedikit.
Saat sedang termenung tentang jumlah orang-orang yang menisbatkan
dirinya di jalan dakwah, betapa sedikitnya mereka, betapa yang mereka
hadapi adalah bukan hal yang menyenangkan, Betapa Jalan ini tak dilalui
oleh banyak orang, Mungkin karena tak dipilihnya jalan ini. Betapa sunyi
jalan ini, jalan yang tak seorangpun tahu apa di ujungnya. Hanya
keyakinan yang menghujam nuranilah sehingga mereka memilih jalan yang
penuh onak dan duri ini. Betapa Integritas mereka teruji, saat sebagian
besar orang-orang terlena dengan keramaian yang sesungguhnya adalah
kehampaan dan kemalangan. Betapa yang mereka sangka keramaian adalah
suasana yang terbangun oleh banyaknya neonbox. Sungguh mereka
akan tahu bahwa nantinya jalan selain jalan yang kami ambil adalah
kegelapan tak berujung, Kelam nan suram. Jalan yang diambil oleh sedikit
orang ini sungguh telah tersebar petunjuk jalannya di mana-mana. Hanya
saja mungkin ego masih tinggi, mungkin syahwat masih mendominasi,
mungkin Keyakinan belum sekokoh Janji, sebagaimana pemahaman belum utuh
karena masih tak peduli.
Inspirasi pun muncul saat sedang rapat
bersama para Aktivis gerakan, bahwa butuh kemampuan manajerial yang baik
dan pandangan visioner di samping keyakinan mendalam yang dimiliki oleh
para engineer gerakan. Saat Para PemudaEngineer
Gerakan Berkumpul, Engkau akan melihat pembicaraan yang jauh melampaui
kekinian dan kedisinian tetapi masih Realistis untuk di capai. Engkau
akan melihat ide-ide segar nan cemerlang membawa semangat perbaikan di
sektor Kampus. Engkau akan melihat tatapan mata penuh keyakinan bahwa
kondisi yang serba rapuh ini perlahan bisa berubah dengan
langkah-langkah yang progresif. Sungguh Kebaikan pun mesti terpola
dengan rapi dan ter-manajemen dengan baik.
Sebagian besar engineer gerakan ini adalah pemuda,
pemuda yang berapi-api dan penuh gejolak. Gejolak Pemuda takkan bisa
kau tahan sebab ia adalah fitrah manusia. Takkan bisa kau bendung sebab
ia bagai air yang terus menerus mengalir. Takkan bisa kau hempas sebab
arus mustahil untuk kau lawan arahnya. Yang bisa kau lakukan adalah
mengarahkannya menjadi potensi gerakan, menjaganya agar tak keluar
jalur, lalu memanfaatkannya menjadi energi perubahan. Itulah gejolak
Pemuda! Gemuruhnya begitu kencang, lebih kencang dari deru angin.
Terkadang ia harus menyembunyikannya seperti senyapnya hutan. Gejolaknya
begitu besar, seakan-akan bisa menggerakkan gunung, menghantar
gelombang dan menjelajahi arus, menebar jutaan rasa di seantero bumi.
Namun bagi mereka yang tak mampu mengendalikannya, bersiaplah kemudi tak
terarah, fokus terpecah, dan idealisme mencair. Untukmu Para Pemuda
yang sedang bergejolak.
Tandas kah Kakimu Wahai Pemuda? Nyaman kah
Rebahanmu Wahai Pemuda? Sungguh lawanmu saat ini bukan sepasukan musuh
yang memenuhi Jerusalem. Bukan tembok kokoh Konstantinia. Bukan sang
pembantai Vlad The Dracul. Bukan pula Imperium Agresif ala
Romawi. Tetapi yang menjadi lawanmu saat ini Wahai Pemuda, adalah Hawa
Nafsumu.. Sungguh Setan yang melenakan dalam buaian maksiat lebih
berbahaya dari Setan yang tampil menakuti.
Sulit bukan bila Engkau
ingin bandingkan Tinta Emas para ‘Ulama & Darah para Syuhada?
Dataran Rumania menyimpan sejarah kelam Vlad The Dracul dan
Ekspansi Mulia Muhammad Al-Fatih. Gelombang Laut menjadi saksi
sombongnya Fir’aun & Mulianya Musa. Pantai Selatan Jawa menjadi
saksi kebohongan propaganda Penjajah tentang keangkeran pantai &
Betapa Heroiknya Syaikh Diponegoro, sosok ‘Ulama & ‘Umara. Sungguh
semuanya akan Bersaksi, termasuk Bumi yang kau pijaki. Tentang
Kehinaanmu atau Kemuliaanmu.
Saat Orang-orang tertidur lalu engkau
bangkit menggagas Ide & menjadi Inisiator. Saat para pemuda
parlente hulu hilir di taman hiburan, engkau manifestasikan waktu untuk
mewujudkan Gagasan besarmu. Saat mereka sedang terkurung dalam rutinitas
monoton nan nyaman, engkau menggebrak comfort zone lalu mencipta narasi Pemuda. Bangkitlah untuk Rabbmu..!!! Bangkitlah untuk Bangsamu..!!! Bangkitlah untuk Kehormatanmu..!!!
Engkau
Sekualitas Perjuanganmu, di sebuah Pelatihan, ditanyakan kepada seluruh
peserta tentang apa cita-cita perjuangan, tak jarang banyak yang
kebingungan dan langsung menentukan cita perjuangan saat itu juga.
Apakah Perjuanganmu ingin mendapatkan Perempuan yang cantik?
Perjuanganmu untuk meraih jabatan tertinggi? Perjuanganmu untuk
menempati kursi DPR di Senayan? Perjuanganmu untuk peradaban jangka
panjang? Atau perjuanganmu untuk membumikan Alquran? Dari sekian banyak
orientasi perjuangan, penulis mengagumi salah satu Gerakan pembaharu,
gerakan moderat nan komprehensif, yang mempunyai jargon “Allahu
Ghayatuna”.
Jangan lupa bahwa dalam kehidupan kita, suatu saat kita
berada di titik terendah. Berada di titik terendah. Kesana kita semua
kan menuju. Bagi yang sedang Berada di Puncak ketinggian bersiaplah akan
celaan dan hinaan. Berada di Titik Terendah, mungkin bagi mereka yang
selalu mendongak ke langit ini akan jadi sedikit lucu dan tak
terpikirkan.
Engkau sedang merendah, saat wajah engkau sungkurkan
di ujung sujudmu.. Memang engkau makhluk rendah, yang tak bisa berbuat
apa-apa tanpa kuasaNya. Maka Saksikanlah Orang-orang yang senang
merendah, mereka akan tampak membahana dan berdigjaya di Bumi, dan
sedang didoakan Ikan di Laut dan Burung di langit. Sedang dibicarakan
oleh para Penduduk Langit. Meski senyap menyergap mereka. Tenang,
stabil, seperti tanpa ambisi. Namun dinamis ketika bergerak, mendobrak
batas kemampuannya, diawali dengan Sujud.
Jangan Keluhkan Tentang
Derasnya Hujan. Sebab setiap Tetesnya Allah Maha Tahu. Jangan keluhkan
bertubi-tubinya kemalangan. Sebab, apakah itu Ujian, Rahmat, Laknat,
engkau tak tahu. Sungguh lebih baik bagimu merangkak menuju Masjid dari
pada Pulas terbenam dalam nyamannya kasur.
Zaman semakin
mengekang, dan engkau kan merasa kerasnya bebatuan, cadas nan tajam.
Semakin sulit berpegang pada prinsip kebenaran, karena mereka ingin
Imanmu padam. Lalu engkau kan merasa panasnya bara api di tangan lalu
kau genggam. Mereka akan terus mengungkit masa-masa kelam. Sampai-sampai
membuatmu naik pitam. Tetapi jangan menyerah, jaga Ia, semai dengan tazkirah tak temaram. Teguhlah, bila perlu gigit Ia dengan gigi geraham.
Para
Nabi, Shiddiqin, dan Para Syuhada Iri pada Mereka. Mereka bermandikan
Cahaya di atas mimbar-mimbar Cahaya. Siapakah Mereka? Mereka yang saling
Mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.
Ngobrol-ngobrol
Penuh Gizi & Manfaat di salah satu sudut Jl. Sungai Saddang salah
seorang Kepala Bank Syariah. Bagian yang paling menarik adalah Beliau
yang sebelumnya adalah Karyawan di salah satu Bank Konvensional lalu
hijrah ke Bank Syariah. Proses Hijrah yang tidak mudah menurut Beliau.
Ada-ada saja Rintangan bila ingin semakin mendekat pada Allah. Dalam
relung hati, masih menyimpan optimisme dan harapan untuk Bangsa ini.
Bangsa yang sangat mendambakan curahan Rahmat. Dimulai dengan diri
sendiri, lalu berjuang untuk hal-hal yang substantif. Bagi penulis
pribadi, istilah Khilafah atau Demokrasi tak jadi soal. Yang paling
penting adalah Cahaya Allah menyebar dan menembus segala sesuatunya.
Menyinari & membimbing semua ideologi, mencerahkan Bangsa Indonesia
& seluruh aspek kehidupannya. Itulah Cahaya di atas segala Cahaya.
Itulah sekelumit renungan yang sempat kami tuliskan di akun path kami. Semoga bermanfaat.
dakwatuna.com – Hei kau anak muda, apa yang sedang engkau lakukan? Kulihat engkau sedang asyik memainkan gadget-mu, tanpa peduli kondisi di sekitarmu. Mungkinkah engkau sedang memeriksa recent updates di blackberry massenggers ? Atau mungkin sedang bercakap-cakap di grup whatsapp ? Mungkin saja engkau sedang asyik mengobrol di line ? Sambil sesekali memeriksa akun instagramdan path milikmu. Terlalu sibuk dengan sosial media sampai-sampai melupakan peran pemuda yang tentu saja hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja, mengingat pemuda adalah gambaran seperti apa tanah dan langit Indonesia ke depan.
Mungkin kita akan melihat gambaran para pemuda yang setiap hari waktunya dihabiskan dengan hal-hal yang kontraproduktif. Kita akan menyaksikkan para pemuda yang berlebihan membela klub bola favoritnya. Mungkin kita akan mendapati pemuda yang mulai terkikis kesadaran nasionalismenya karena kecewa peran yang seharusnya pemuda sudah harus dilibatkan diambil alih oleh para orang tua, mungkin sejenak kita perlu memikirkan kaderisasi dan regenerasi yang merupakan suatu keniscayaan.
Engkau akan mendapati pemuda yang mudah tersulut emosinya karena fanatisme yang berlebihan, mungkin fanatisme terhadap daerah asalnya? Terhadap jurusannya? Terhadap organisasinya? Hal ini memang wajar terjadi, sebagai wadah aktualisasi eksistensi pemuda, tetapi hal ini akan menjadi kurang baik bila fanatisme tersebut justru membuat kita untuk berpecah belah dan mudah tersulut konflik apalagi sampai pada taraf anarkisme dan merugikan orang lain. Dari sekian banyak fenomena tersebut, marilah engkau kuajak sebentar untuk menikmati indahnya dinamika kehidupan yang memang mau tidak mau harus engkau nikmati. Marilah kuajak engkau melihat alam dan realitas sejarah. Perhatikan birunya langit yang ada di sekitarmu, perhatikan putihnya awan yang memadu indah dengan birunya langit, marilah sejenak perhatikan hijaunya tetumbuhan di sekitarmu dan warna-warninya bunga-bunga di sekelilingmu.
Lihatlah sejenak langit, Seperti langit di Florence, seperti langit di Venesia, atau mungkin seperti langit di Konstantinia, langit di Kastil Masyaf mungkin? Tetapi yang kuingat adalah langit di Konstantinia. Langit yang mungkin ingin bersaksi tentang sejarah kemenangan, kemenangan sebaik-baiknya prajurit, kemenangan sebaik-baiknya panglima. Deru dan kepulan debu kuda perang, deru dan kepulan debu galian pasukan divisi bawah tanah, deru dan kepulan debu kapal laut yang ditarik melintasi gunung. Seorang pemuda cerdas nan gemilang dan masih sangat muda, Ayahnya bernama Sultan Murad II, Raja keenam Daulah Utsmaniyah.
Sultan Murad II memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Ia menempa buah hatinya agar kelak menjadi seorang pemimpin yang baik dan tangguh. Perhatian tersebut terlihat dari Muhammad kecil yang telah menyelesaikan hafalan Alquran 30 Juz, mempelajari hadis-hadis, memahami ilmu fikih, belajar matematika, ilmu falak, dan strategi perang. Selain itu, Muhammad juga mempelajari berbagai bahasa, seperti: bahasa Arab, Persia, Latin, dan Yunani. Tidak heran, pada usia 21 tahun Muhammad sangat lancar berbahasa Arab, Turki, Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani, luar biasa! (Sumber: islamstory.com).
Kita tinggalkan sejenak kisah fiksi Captain America, kisah Captain Steve Rogers seorang pemuda baik berbadan kurus dan kecil lalu ingin ikut tes masuk tentara Amerika, yang oleh hasil rekayasa genetika menjadi Tentara Super yang metabolisme tubuhnya empat kali lipat dari manusia biasa, serta kemampuan memimpin yang luar biasa, tetapi ini hanyalah kisah fiksi. Kita acuhkan sejenak kisah Dewa Petir Thor dari Asgard, seorang Pemuda perkasa anak dari Dewa Yang Mulia Odin Pemimpin Asgard. Thor dengan Palu Mjolnir-nya ingin menjadi pahlawan di Bumi setelah sebelumnya berlaku sombong di Asgard dan berbuat onar di planet lain, sekali lagi ini hanya kisah fiksi. Kita berhenti sejenak kagumi kisah khayal Superman dari Planet Kripton, kisah seorang manusia super yang ketika berada di bumi kemampuannya menjadi luar biasa, bersosialisasi dengan manusia bumi, dan menjadi pahlawan Super, dan sekali lagi ini hanyalah kisah fiksi.
Mari sambut Sang Kesatria dari Negara Adidaya di Zamannya, mari sambut Sang Mentari Bangsa Arab, Mari sambut kesatria yang di dukung penuh oleh para Ghazi dan Yanissari, mari sambut pemimpin yang lahirnya ketika ayahnya sedang membaca Alquran dan sampai pada Surah Al-Fatih, sambutlah Tokoh Muda Pengubah Sejarah, Sultan Muhammad Al-Fatih. Sungguh, bila para pemuda mau belajar dari sosok muda Muhammad Al-Fatih, terang benderangnya zaman akan engkau sambut bersamaku, ketika pemuda sibuk meneladani acara-acara Televisi yang kurang bermutu, sibuk menjadi fans berat dari public figure yang masih sangat jauh dari nilai-nilai kebaikan, mari kuajak engkau meneladani tokoh muda dari Tanah Turki, Sultan Muhammad Al-Fatih. Sultan Muhammad Al-Fatih yang hidup dalam lingkungan yang begitu optimis tentang kebenaran sabda Nabi Muhammad SAW. Meskipun kerajaan yang sedang dihadapinya adalah Negara adidaya pada zaman itu. Sehingga dengan segenap upaya mewujudkan apa yang pernah di janjikan oleh Nabi SAW tentang penaklukkan Konstantinia.
Masih ingin dengar kisah lain? Kisah yang kurang lebih mirip dengan kondisi bangsa kita saat ini, bahkan mungkin lebih malang dari kondisi nusantara saat ini. Adalah Raja’ bin Haiwah lahir di Bisaan Palestina, kira-kira di akhir masa khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu a’nhu. Asal-usulnya dari kabilah Kindah Arab. Sehingga Raja’ adalah orang Palestina dari keturunan Arab dan keluarga Bani Kindah. Beliau tumbuh dalam ketaatan kepada Allah sejak kecil, dicintai Allah dan menyenangkan hati hamba-hamba-Nya. Raja’ bin Haiwah menjadi menteri dalam beberapa periode khalifah Bani Umayah. Dimulai sejak khalifah Abdul Malik bin Marwan hingga masa Umar bin Abdul Aziz. Hanya saja, hubungannya dengan Sulaiman bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz lebih istimewa daripada khalifah-khalifah yang lain. Di tengah-tengah kelamnya kondisi umat dan penguasa saat Dinasti Umayah, Raja’ bin Haiwah masih menyimpan rasa optimis bahwa kondisi yang serba kelam ini akan berubah. Dan atas izin Allah zaman kepemimpinan Dinasti Umayah berbalik dari kelam menjadi terang benderang ketika Umar bin Abdul Aziz memimpin. Usul Raja’ bin Haiwah tentang Khalifah sesudah Sulaiman bin Abdul Malik di terima dan tentunya kepemimpinan Umar bin Abdul Azis yang menyejarah tercatat dengan gemilang oleh tinta emas sejarah.
Lalu akan kuajak engkau sebentar untuk melihat realitas bahwa ada dua kekuatan besar yang akan terus bertarung hingga hari kiamat tiba. Dua kekuatan besar yang bisa kau kaji dengan nalar logika dan idealismemu. Kedua kekuatan besar ini yang akan selalu bertarung ini adalah kebenaran dan kebathilan. Mari kuajak engkau merenung dalam-dalam, betapa kebenaran dan kebathilan selalu punya pengikut. Il Principe karya Niccolo Machiavelli menginspirasi Cesare de Borgia menjadi sang tiran yang mempunyai banyak pengikut. Richard The lion heart mendapati kebaikan tak bertepi dari musuh bebuyutannya Shalahuddin Al-Ayyubi, lalu membuat Shalahuddin semakin mulia dan berbanyak pengikut. Sungguh bukan hanya ingin membandingkan Antara para pengikut kebenaran dan para pengikut kebathilan, tetapi juga ingin mendesakmu untuk segera menentukan pilihan, akankah engkau menjadi pengikut kebenaran ataukah pengikut kebathilan. Wahai Pemuda! Antara Pengikut kebenaran dan pengikut kebathilan, manakah yang akan engkau pilih? Saatnya memilih wahai para pemuda. Renungilah dalam-dalam, tentukan saat ini juga!
Berdoa sebelum berjalan kaki selama 4 jam menuju lokasi bencana. (Mohamad Khaidir)
dakwatuna.com – Sayup-sayup mata mulai lelah, menandakan harus segera beristirahat agar tubuh menjadi prima menjalankan aktifitas di esok hari. Tak lupa menyerahkan semua urusan kita dan berprasangka baik kepada Allah sebelum memejamkan mata. Sebelum tidur, teringat sebuah kisah sekitar tiga tahun silam, bila kisah tentang dakwah memang sukar untuk di lupakan, kisah di lokasi bencana, kisah seorang bocah yang memilih jalannya sebagai aktivis dakwah kampus, seorang bocah yang baru saja semangat berpetualangnya menggelora, tapi bukan sekadar bocah petualang. Karena bocah ini sudah terbiasa dengan kegiatan formal dan organisatoris, maka kesempatan turun langsung ke lapangan ini tidak disia-siakan sama sekali. Biasanya bocah ini diundang menjadi pembicara dalam forum-forum mahasiswa, pemateri di pelatihan-pelatihan lembaga dakwah fakultas, terkadang diminta mengisi nasyid di acara pernikahan dan acara formal lainnya. Akhirnya turun lapangan juga! Mungkin itu yang ingin dikatakan bocah itu, tetapi ucapan itu bukan sebagai ekspresi kegembiraan atas bencana gempa yang menimpa Desa Tomado tepi Danau Lindu Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah, tetapi lebih kepada ekspresi kepedulian sosial dan kegembiraannya akhirnya bisa turun lapangan lagi.
Gempa yang baru saja terjadi memberi dampak pada rusaknya ratusan rumah di Kabupaten Sigi. Desa Tomado menjadi pilihan tempat yang dituju untuk menyalurkan bantuan meski kunjungan ini memang direncanakan untuk Disaster Assesmentsaja. Bersama-sama para Relawan Lembaga Kemanusiaan Nasional Pos Keadilan Peduli Umat (PKPU) Palu dan Ketua Relawan Indonesia, perjalanan pun dimulai dari Kota Palu Ibu Kota Sulawesi Tengah dengan kendaraan darat. Sekitar 2 (dua) jam kemudian akhirnya tiba di gerbang masuk Taman Nasional Lore Lindu Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Perjalanan dengan menggunakan kendaraan hanya bisa sampai di titik gerbang ini, karena jalan menuju Desa Tomado dan perjalanan sebenarnya pun di mulai dari sini, gerbang Taman Nasional Lore Lindu Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah.
Jalan menuju Kecamatan Danau Lindu adalah jalan yang cukup ekstrim, jalan setapak yang di sisi kiri dan kanannya adalah tebing dan jurang, belum lagi contour tanah yang rawan longsor, karena musim hujan tak ada satu pun kendaraan ojek trail yang siap mengantarkan kami ke lokasi tujuan. Lalu berjalan kaki menyusuri Taman Nasional Lore Lindu pun menjadi pilihan terakhir kami, berjalan kaki membelah belantara hutan sekitar Danau Lindu, berjalan kaki menyibak jenggala rimba Tanah Sigi. Berjalan kaki menuju Desa Tomado dimulai dengan berdoa bersama kepada Allah SWT agar perjalanan kami diberkahi dan dimudahkan urusan dalam setiap langkah kaki kami. Sungguh manusia hanya bisa berusaha, berjuang, dan melangkah, lalu hasil akhir tetap menjadi hak prerogatif Allah SWT. Berdoa tak akan membuatmu rendah, sebab akan membuatmu menjadi mulia karena sejatinya engkau sedang meminta kepada Pemilik Semesta Alam. Berdoa tak akan membuatmu hina, sebab betapa Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hambaNya, maka berdoa adalah bentuk pengabdian dan bincang mesramu kepada Pencipta dirimu.
Menelusuri Taman Nasional Lore Lindu membuat jantung berdegup kencang, karena sebentar lagi matahari akan terbenam. Ya, berjalan kaki dari Gerbang Taman Nasional Lore Lindu di mulai pada sore hari. Setelah berdoa bersama, kaki pun mulai menjejak ruas jalan setapak di Taman Nasional Lore Lindu, dimulai dengan jalan mendaki, semakin meninggi dan semakin meninggi, hingga semakin tampak bahwa di sisi kiri kami adalah tebing yang rawan longsor dan di sisi kiri kami adalah jurang yang kelam karena cahaya matahari tak lagi menyinari perjalanan kami. Tak semua relawan PKPU membawa penerangan, ada satu orang relawan yang memakai headlamp, sementara relawan yang lain menggunakan senter yang biasa. Sesekali kami dilewati oleh tukang kayu yang hendak pulang ke desanya, mengendarai motor lalu membonceng tumpukan kayu hingga melewati tinggi motor dan pengendaranya, membonceng tumpukan kayu yang lebarnya hamper memenuhi ruas jalan setapak, bagi kami ini adalah pemandangan yang menakjubkan, tetapi mungkin bagi mereka ini adalah hal yang biasa karena sudah menjadi rutinitas harian mereka dalam mencari nafkah.
Hari itu merupakan hari yang cukup memicu adrenalin, bagaimana tidak Taman Nasional Lore Lindu yang kami susuri tersebut merupakan kawasan tanpa sinyal sama sekali, tak ada kesempatan untuk update status melalui facebook, tak ada kesempatan untuk berkicau melalui twitter, tak ada kesempatan untuk meng-upload foto ke instagram ataupun path, apatah lagi untuk berkomunikasi viahandphone. Hari itu saya pribadi benar-benar merasa menjadi relawan sungguhan, fokus pada tujuan untuk mendatangi lokasi bencana, lalu memantau kondisi lokasi bencana sembari membantu warga lalu berbincang-bincang dengan warga serta mewawancarai mereka tentang apa saja yang paling penting dibutuhkan pasca gempa. Sesekali bercanda dengan sesama agar perjalanan ini juga menjadi perekat persaudaraan sesama relawan PKPU dan sesama muslim pada umumnya. Salah seorang relawan yang berjalan bersama kami berprofesi sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sigi, anggota DPRD dari Partai Islam favorit saya, sering di sebut dengan Partai Dakwah. Baru-baru saja Partai Dakwah ini melaksanakan Musyawarah Nasiona nya yang ke empat di Depok. Pemandangan yang cukup mencengangkan seorang Anggota Dewan yang terhormat berjalan kaki bersama kami menuju lokasi bencana, sambil sesekali bercanda tentang rihlahwan, kata beliau kita ini rihlahwan, bukan relawan (rihlah artinya Rekreasi/Piknik).
Benar-benar menjadi perjalanan yang tak akan terlupakan, berjalan kaki bersama kami Ketua Relawan Indonesia, sambil berjalan sambil berbincang-bincang menyerap ilmu dari beliau, yang punya segudang pengalaman mendatangi lokasi bencana di Indonesia. Bahwa seorang relawan yang ingin melakukan assessment di lokasi bencana hendaknya harus betul-betul objektif. Dari setiap responden atau warga yang di wawancarai pasti memberikan jawaban yang subjektif. Sehingga penting bagi seorang relawan di lokasi bencana mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya lalu meramu dan menganalisisnya sehingga ketika memberikan bantuan sosial nanti mengetahui sekala prioritas tentang siapa yang terlebih dahulu harus dibantu dan di titik mana yang membutuhkan bantuan dan penanganan khusus dengan segera. Sungguh ilmu yang sangat bermanfaat dan membuka wawasan bagi saya pribadi yang masih sangat miskin pengalaman dan ilmu.
Iklim perjalanan pun berganti ketika kami sampai di titik tengah, kali ini perjalanan mulai menurun, kondisi jalan setapak juga tak banyak berubah karena baru saja diguyur hujan, masih berbecek dan basah. Sesekali mendengar suara-suara binatang di malam hari, namun ketika jalan mulai menurun perasaan agak lega karena tak lama lagi kami akan tiba di lokasi yang kami tuju. Sekarang di kedua sisi pun berganti, sisi kanan adalah tebing yang rawan longsor dan sisi kiri jurang kelam karena gelapnya malam. Perasaan mulai lega ketika sudah mulai tampak lampu-lampu pedesaan yang menandakan sebentar lagi kami akan keluar dari hutan belantara ini. Jalan mulai landai, contour tanah semakin padat, mulai muncul bebatuan yang keras, dan di sisi kiri kami padang rumput yang sungguh indah diterpa angin malam meskipun tanpa disinari cahaya rembulan. Dalam hati aku berjanji, suatu saat kisah ini akan kutulis sehingga kita semua bisa mengingatnya suatu saat nanti, bahwa masa muda kami habiskan untuk hal-hal yang produktif. Sambil berkata kepada seorang sahabat yang berjalan di depan, “perjalanan ini akan ku buat menjadi tulisan!”
Singkat cerita kami di terima dengan baik di lokasi bencana, dan kami menyaksikkan bahwa memang desa tersebut adalah desa yang memiliki skala prioritas yang harus segera di bantu. Satu-satunya Masjid dan Sekolah Islam di desa ini runtuh sehingga mereka sangat membutuhkan bantuan untuk segera mendirikan sekolah dan mushallah darurat, begitu pula dari sisi kebutuhan pokok, mereka sangat membutuhkan bantuan karena ambruknya sebagian rumah-rumah mungil mereka.
Kisah ini pernah ingin kutulis seusai perjalanan, bahkan aku pernah berjanji pada Sahabat seperjuanganku di Dakwah Kampus untuk menuliskan kisah ini, Kaharuddin Asahoya. Perjalanan yang menyibakkan segala peluh, perjalanan yang membelah aral rintang, perjalanan yang penuh kisah, hikmah, dan ilmu. Perjalanan menuju Desa Tomado, satu-satunya Desa di Kecamatan Danau Lindu yang memiliki masjid, karena ke empat desa lainnya penduduknya sebagian besar non-muslim. Karena ikatan persaudaraanlah kami memilih lokasi tersebut, karena merasa mereka adalah keluarga kami, maka tanpa ragu berada di lokasi ini.
Sangat ingin kutuliskan lagi kisah-kisah seperti ini agar kita bisa mengambil hikmah dari setiap retas jejak perjuangan dan pengabdian. Melihat kondisi Indonesia yang terus-menerus dilanda bencana, hendaknya para masyarakat mampu mengambil hikmah dari setiap kejadian ini. Memberi pelajaran kepada kita bahwa salah satu tanda getar iman dalam diri adalah wujud kepeduliannya kepada sesama manusia. Betapa kegiatan-kegiatan sosial sejatinya adalah ladang pahala bagi orang-orang yang mungkin sibuk dalam rutinitas perkantoran, perkuliahan, dan aktivitas lainnya. Betapa sense of care dalam diri seseorang berbanding lurus dengan keimanannya. Sehingga suatu saat Indonesia menjadi Negara yang tidak hanya maju dari sisi sarana dan prasarananya, tetapi masyarakatnya semakin peduli satu sama lain, rasa peduli yang menembus batas-batas geografis, rasa peduli yang menembus sekat-sekat perbedayaan suku dan budaya, rasa peduli yang dilandasi oleh iman dan persaudaraan, sehingga Allah SWT akan mencukupkan keberkahan bagi negeri Nusantara ini kelak di kemudian hari. Indonesia yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur, insya Allah.
dakwatuna.com – Inilah narasi negeri permai, narasi sederhana yang ingin kutulis saat langit shubuh merona. Narasi yang bercerita tentang negeriku, negeri indah nan permai, negeri dengan nyiur melambai yang begitu banyak di sekitaran pantai, seperti lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul rayuan pulau kelapa :
Tanah Airku Indonesia, Negeri elok amat ku cinta..
Tanah tumpah darahku yang mulia, yang ku puja s’panjang masa..
Tanah Airku aman dan makmur, Pulau Kelapa nan amat subur, Pulau Melati pujaan bangsa sejak dulu kala…
Tak heran bila nyiur melambainya sangat banyak, mengingat negeri ini terdiri dari belasan ribu kepulauan. Nyiur melambai dengan nilai filosofisnya yang patut menjadi teladan, bagaimana tidak, seluruh bagian tubuh dari tumbuhan nyiur melambai ini bermanfaat bagi manusia. Mulai dari akarnya, batangnya, daunnya, sampai buahnya, semua memberi manfaat bagi manusia. Sungguh beruntung bila mampu mengambil hikmah dari nyiur melambai yang di dalam Alquran kita dapatkan informasi bahwa seluruh makhluk, tumbuh-tumbuhan dan hewan, senantiasa bertasbih kepada Allah SWT. Sembari bertasbih kepada Allah SWT. Mereka juga memberi manfaat kepada makhluk lainnya, sungguh seharusnya hikmah inilah yang bisa menginspirasi kita semua.
Inilah narasi negeri indah, narasi tak elok yang ingin kutulis saat disesaki oleh macetnya kendaraan, jalan raya yang lapang pun terasa sempit disesaki oleh banyaknya jumlah kendaraan, bukan persoalan banyaknya kendaraan atau kurang lebarnya jalan saja kawan, tetapi penting juga menyadari bahwa pengaturan lalu lintas perlu tingkatkan, pengelolaan lalu lintas harus semakin baik seiring perkembangan zaman. Sehingga, dengan membaca narasi negeri yang kutulis ini, kita tak akan dengan mudah menyalahkan proyek pembuatan jalan, tak mudah menyalahkan polisi lalu lintas, mungkin ada kalanya kita perlu introspeksi diri sendiri yang masih kurang sabar dalam berkendara atau terburu-buru ketika berada di jalan raya.
Inilah narasi negeri nusantara, narasi tentang negeri yang terdiri dari belasan ribu pulau, juga di hampiri oleh begitu banyak persoalan bangsa yang tak kunjung usai. Entah nilai rupiah yang melemah, atau dollar yang menguat, sepertinya ini adalah peristiwa yang harus dilewati negeri nusantara ini agar kelak menjadi Negara maju dan berkembang. Atau mungkin, anggap saja ini konsekuensi logis dari Negara pemenang perang dunia, sehingga mata uang negaranya terus dominan dan menguat. Atau mungkin, narasi negeri yang ku tuliskan ini tak lebih tentang pengakuan masih lemahnya bangsa ini dari produktivitas pangan, pertanian, perkebunan, serta sektor lainnya. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja masih harus impor dari Negara lain. Mungkin juga, narasi negeri nusantara ini bercerita tentang merubah pola pemikiran, pemikiran yang terus menyalahkan berbagai pihak tanpa bercermin pada diri sendiri. mungkin saatnya untuk menyadari bahwa siapapun pemimpinnya, tak akan mudah untuk merubah kondisi terpuruk ini, sebab Nabiyullah Yusuf’alaihissalam dan Khalifah’Umar Bin Khaththab radhiyallahu’anhu pun pernah mengalami masa-masa terburuk di negerinya, yaitu masa paceklik. Mungkin saatnya untuk mengurangi ocehan dan kritikan lalu memperbanyak kerja dan kontribusi, sambil bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh manakah diri ini berkontribusi untuk memajukan bangsa ini?
Narasi negeri permai ini tak hanya bercerita tentang betapa permainya negeri ini, tetapi juga bercerita tentang hari-hari selanjutnya yang akan dilalui oleh rakyatnya, tentu menjalani hari dengan rasa optimis meskipun masih banyak persoalan yang harus diselesaikan. Optimis sambil terus belajar, bagaimana para pemimpin sukses di masa lampau melewati hari-hari terburuk yang menimpa negerinya. Rasa-rasanya perlu untuk membaca tinta emas sejarah kepemimpinan Amiirul Mukminin ‘Umar Bin Khaththab radhiyallahu’anhu yang memfokuskan memenuhi kebutuhan pangan di saat musim paceklik. Tinta emas sejarah juga bercerita tentang bagaimana Nabiyullah Yusuf’alaihissalam yang menyarankan pejabat di negerinya untuk efisien dalam mengelola konsumsi, sebab negeri mereka akan menghadapi musim paceklik selama tujuh tahun lamanya.
Narasi negeri indah ini tak hanya bercerita tentang keindahan alam negeri saja, tetapi juga bercerita tentang alangkah indahnya bila masyarakat negeri ini sangat peduli terhadap kepentingan yang bersifat umum dan mengesampingkan ego pribadi. Narasi negeri indah yang ku tulis ini juga ingin bercerita tentang betapa keindahan negeri ini akan semakin indah bila perilaku masyarakatnya juga indah, indah perilaku dalam berinteraksi antar sesama manusia, indah sikap dalam memperlakukan alam, sebab Allah Maha Indah dan menyukai Keindahan.
Narasi negeri nusantara yang juga bercerita tentang betapa heterogennya kondisi bangsa ini, terdiri dari ratusan suku dan dialek, belasan ribu pulau, beragamnya kebudayaan dan kearifan lokal, tetapi mampu menyatukan pandangannya menatap cita-cita kemerdekaan yang belum selesai lalu dengan lantang berteriak menyerukan satu kata, “Indonesia!!”. Meskipun sampai saat ini Indonesia masih terus mencari identitas dan memperbaiki sistem yang ada agar sesuai dengan kondisi ke-Indonesiaan yang aktual. Narasi ini juga kutuliskan untuk mengajak orang-orang sedikit menengok dan mempelajari Islam sebagai solusi peradaban, sebab Imam Syahid Hasan Al-Banna, seorang Tokoh kebangkitan Ummat pernah menjelaskan dalam risalahnya bahwa Islam dan Nasionalisme tidak perlu untuk dipertentangkan. Oleh sebab cinta tanah air adalah fitrah manusia, fitrah yang tak dapat dipungkiri, sebagaimana rasa cinta Rasulullah SAW kepada Tanah airnya, Kota Makkah. “Ketika Rasulullah SAW akan berangkat ke Madinah, beliau memandang ke arah Baitullah, lalu bersabda ‘Sesungguhnya aku tahu bahwa Allah SWT tidak membangun sebuah rumah (tempat beribadah kepada Allah) di Bumi, yang lebih dicintai-Nya darimu (Baitullah). Sekiranya aku pergi, maka kepergianku bukan karena enggan (tidak suka) kepadamu, melainkan karena (orang-orang kafir) mengusirku’ ” (Dikutip dari ‘Atiq bin Ghaits al-Biladi). Betapa rasa rindu Rasulullah SAW kepada Makkah ini sangat jelas ketika Beliau SAW berkata, “Betapa indahnya lembah Makkah, disanalah bumi dan sahabatku. Disanalah tertancap pancangku. Dan disanalah aku berjalan sendiri tanpa seorangpun menunjuki.” (Dikutip dari ‘Atiq bin Ghaits al-Biladi).
Perlu bagi kita sebagai seorang Muslim untuk mencintai negerinya, mencintai tanah airnya. Mencintai tanah air dan melindungi negeri adalah salah satu tanda baiknya Islam seseorang. Tak berlebihan rasanya mengekspresikan rasa cinta tanah air dengan menyanyikan atau mendengar lagu Tanah Air ciptaan Ibu Sud :
Tanah airku tidak kulupakan, Kan terkenang selama hidupku..
Biarpun saya pergi jauh, Tidak kan hilang dari kalbu..
Tanahku yang kucintai..
Engkau kuhargai..
Mari berpikiran jernih dan berprasangka baik terhadap Agama yang mulia ini, yang mengatur seluruk aspek dan sistem hidup manusia. Sebab Islam dan Nasionalisme bukan suatu hal yang harus di pertentangkan, dan bukan menjadi suatu hal yang harus dipisahkan seperti pemahaman orang-orang sekuler dan liberal yang memisahkan antara agama dan Negara. Dalam Islam, Agama dan Negara justru bagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan, sebagaimana yang pernah disampaikan Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Prinsip Pertama ‘Ushulul’Isyrin :
“Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan. Karena itu, islam adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, wawasan dan undang undang atau ilmu pengetahuan dan peradilan, materi dan kekayaan alam atau penghasilan dan kekayaan, serta jihad dan dakwah atau pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga islam adalah akidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”
Narasi negeriku tak akan habis bila ingin ku tulis, sebab inilah ekspresi cintaku pada tanah airku. Narasi negeriku tak akan jera untuk kutulisan, sebab negeriku adalah tempat ku mengabdi. Narasi negeriku tak akan berhenti sampai di sini saja, sebab ia akan terus kutulis hingga nyata kontribusi dan kerja-kerja untuk negeriku. Narasi negeriku akan terus berlanjut, hingga negeriku ini menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.