This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 23 April 2014

Empire Of Region #3

Kultwit dari Akun Twitter @Khaidir_
Palu, 23 April 2014


Ilustrasi

Terinspirasi dari beberapa Narasi, Referensi, dan Artikel, saya ingin melanjutkan Kultwit saya tentang "Empire Of Region #3"..

Ini tentang kekuasaan yang mengakar di daerah oleh Raja-raja Kecil, terkhusus di Sulteng, Efek samping dari Reformasi yang belum tuntas..

Saya ingin melanjutkan Gagasan saya yang masih sangat mentah ini juga karena memahami PEMILU 2014 sebagai 'Tarbiyah Maidaniyah'..

Berangkat dari ketidaksesuaian antara Karakter Masyarakat, Sikap Politik, dan Pilihan Politiknya yang seharusnya menjadi Integral..

Namun realitasnya adalah, antara Karakter Masyarakat, Sikap Politik, dan Pilihan Politik sungguh beragam dan berbeda-beda..

Mungkin karena pendekatan Politik tidak dipahami secara normatif, sehingga Ideologi yang dipakai adalah Materialisme..

Kalau segala-galanya dinilai dari Materi, bahkan pilihan Politik juga, ini Bahaya.. Sekali lagi ini menurut saya.. :)

Sebut saja ada Seorang Caleg DPR-RI Dapil Sulteng yang menyadari hal ini kemudian membuat periodisasi Tugas aspirasinya..

Misal : Selama masa Jabatan 5 Tahun, 3 Tahun akan didedikasikan untuk Kepentingan Pribadi dan Keluarga, 1 Tahun untuk Partai...

..Setahunnya lagi di siapkan untuk Money Politic, Serangan Fajar, pamer kebaikan, dan nagih suara.. Kalo yang ini saya harus bilang 'Woooow'

Saya masih Obyektif dan belum berani menilai yang mana Benar dan mana yang Benar Banget.. :)

Cuma, kasian aja sama Orang-orang yang memang nggak ingin membangun 'Empire Of Region', tapi yang ingin dibangunnya adalah Peradaban..

5 Tahun berada di Senayan, di Sidang-sidang sangat Vokal menyuarakan Aspirasi, di Daerah pun Kontribusinya Nyata..

Karena Asas Partainya adalah Islam dan Dakwah, 5 Tahun jadi waktu yang singkat untuk mengabdi..

Saya nggak ingin membahas Sosok tak kenal lelah itu secara rinci.. Inti bahasan saya adalah 'Empire Of Region' yang luar biasa..

Ia mampu membuat dirinya sebagai Kecenderungan Mayoritas Pemilih, atau dalam Bahasa ilmiahnya 'Bandwagon Effect'..

Disatu sisi saya sangat kagum dengan strategi politik dan kontribusi beliau di Masyarakat.. Sangat Matang dan tak terkalahkan.. 4 Periode..

Namun yang perlu di ingat adalah Politik memiliki grafik Fluktuasi yang sulit ditebak.. Butuh Regenerasi woy! Masa iya Orang tua melulu..

Saya juga nggak ingin menghancurkan 'Empire of Region' tersebut, hanya berniat membenahinya dengan Gagasan saya yang sedikit Gila! :)

Bukankah aktor Utama Perubahan itu adalah Pemuda yang berkapasitas dan berkompeten? Juga harus Sinergi dengan Kaum tua?

6 Kursi DPR-RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah butuh penyegaran woy! Saatnya para Pemuda Sulteng mengguncang senayan!

'Empire of Region' tetap aja jalan, mengabdi pada Masyarakat Sulteng.. Bukan membuat kesenjangan sosial untuk kalangan keluarga anda..

Yang terhormat Bapak yang sukses membangun Empire of Region, saatnya anda mengambil amanah yang lebih besar,Ambil peran sebagai guru bangsa.

Ambil peran sebagai Menteri, dan bertarung di kancah nasional bahkan Internasional.. Biar Indonesia terbukti sebagai Macan Asia! :)

Atau mungkin Bapak ingin cari aman saja ya? Yah, itu Manusiawi.. Mungkin kita berbeda Ideologi..

Tapi saya tetap yakin dengan Kebenaran Ideologi saya, bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah, Manhaj-nya jelas, Tujuannya sangat jelas..

Sejelas Langit di siang hari, terang benderang.. Yang insyaaAllah Ideologi ini akan kembali memimpin Dunia ditengah keterpurukannya..

Sebagaimana janji Rasulullah SAW, Khilafatul Minhajah Nubuwwah..

Sekian dulu deh Kultwitnya, Mohon maaf atas Gagasan yang masih sangat mentah ini.. Masih butuh bimbingan dan pengalaman.. InsyaaAllah.. :)

END.

Senin, 14 April 2014

Sajak Tulang Punggung

Palu, 7 April 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, SE.

Coba-coba bersajak dulu..

Biasanya, sajak itu melukiskan tentang perasaan dan pikiran..

Desir Angin dingin yang kunanti.. Membelah kesejukkan di tulang punggungku..

Aku belum berbicara mengenai tulang rusuk, aku ingin mengungkap tentang tulang punggung terlebih dahulu..

Tulang punggung itu sedikit mirip dengan tekad.. Kokohnya, rapuhnya, bahkan kemampuannya..

Kokoh tak selalu kokoh, terkadang ia juga bisa rapuh.. Ia menyokong beban dengan tegap dan terpancang..

Saat tulang punggung tegap dan tekad terpancang, maka butuh pondasi yang kekar dan berdasar..

Namun setegap apapun, tanpa cahaya ia takkan bisa menebak kelamnya malam..

Saat kelam malam menghitam legam, kehilangan pijakan yang terjadi..

Ingin sekali aku bertahan namun tak jua sempurna tapal batasku.. Ideologi diserang dengan tak pandang bulu, logika dan retorika tak berarti.

Keyakinanku ingin di gerogoti bak parasit merongrong sel Inang, tanpa perhitungan ingin dihabiskan..

Nampaknya mereka kehilangan perasaan, bertubi-tubi hujaman tajam nan padat.. Hati-hati dengan Hati..

Hati tak sehalus sutera atau selembut salju.. Ia pun tak sekeras berlian dan sekokoh nikel.. Hanya saja.. Hanya saja.. Aaah..

Sudahlah, Tak ingin ku ulas rinci tentang hati, ini masih tentang tekad yang tak berujung..

Tekad ini terus saja di caci, namun ia tak gentar begitu saja.. Meskipun terkadang ia jatuh tersungkur dan bersujud..

Tekad ini terus saja di intimidasi, namun ternyata aura nya begitu mendominasi seakan-akan menutupi aurora..

Tekad ini di anggap seperti yang lain, dipandang dengan kaca mata hitam tak obyektif meskipun seorang aktifis..

Tekad ini tak dikaji secara mendalam dan mengglobal, mungkin karena sering menggunakan rasio yang selalu berpedoman pada materi..

Mungkin saja.. Mungkin saja.. Mungkin saja..

Padahal peradaban ini tengah menunggu kebangkitan tekad itu..

Dinamika heterogenitas lapangan memang butuh kerja nyata, namun disaat yang bersamaan ia butuh ideologi yang senada perintah langit..

Aaah, ini hanya sekedar sajak saja.. Yang ingin kusampaikan, agar paham, agar diresapi..

Agar ide ini tertulis kokoh di prasasti tulisan, bukan hanya sekedar lisan tanpa action..

Ini hanya sekedar sajak saja, semoga seluruh makhluq segera menepati janjinya.. :)

END

Selasa, 01 April 2014

Selamat Datang Gelombang Ketiga Indonesia!

Palu, 1 April 2014
Kultweet dari Akun Twitter @Khaidir_


Alhamdulillah, Jadi sedikit paham latar belakang Ide besar Ustadz Anis Matta tentang Gelombang Ketiga Indonesia.

Selain kondisi kekinian, 5 pranata sosial ternyata juga menjadi dasar pemikiran Ide Besar tentang Gelombang Ketiga Indonesia. :)

Pranata Sosial tersebut adalah Rumah, Sekolah, Masjid atau Agama, Hukum atau aturan, dan Media. That's It! Pengaruhnya sangat besar!  

Dimulai dari rumah, tempat atau lingkungan tempat kita dibina. Disinilah dasar karakter seseorang perlahan di bentuk.

Yang mengawali itu adalah keluarga. Kemudian setelah lingkungan sekitar rumah, pranata sosial selanjutnya adalah Sekolah.  

Sekolah menjadi pranata sosial yang juga sangat berpengaruh. Guru-guru, teman-teman turut mengambil peran dalam pembentukan karakter kita.

Saya sendiri di masa sekolah, pernah merasakan menjadi Orang Paling pintar, paling bodoh dan kurang perhatian, dan menengah.

Masing-masing kondisi tersebut membuat saya merasakan berbagai macam posisi. Pernah frustasi, tapi kemudian mencoba untuk terus bangkit.

Banyak Ibrah&Hikmah yang bisa kita ambil apabila kita pernah merasakan berbagai macam kondisi di lingkungan sekolah sebagai pranata sosial.

Mengecap studi di TK Aisiyah Bustanul athfal, SDN Biro, SMPN 2 Palu, SMAN 2 Palu, dan Universitas Tadulako mendewasakan karakter saya.

Dan mengajarkan saya untuk tidak menyerah pada keadaan dan terus berjuang. Iklim sosial yang biasa-biasa saja tidak akan melahirkan pejuang.

Pranata sosial selanjutnya adalah Masjid atau agama. Banyak kemudian orang-orang yang tak berhasil mendapatkan kondisi terbaiknya disini.

Memahami Agama secara parsial saja bisa berbahaya. Padahal Agama harus kemudian dipahami secara komprehensif, lalu kemudian di amalkan.

Untuk Agama, ini adalah Hal yg sangat prinsip. Semoga kita semua mampu memahami dgn benar tentang hakikat kemanusiaan dlm perspektif agama.

Pranata sosial yang ke empat adalah aturan dan hukum. Meskipun ini menurut saya nggak begitu substantif, namun punya andil besar juga.

Aturan&hukum di Indonesia sendiri masih tumpang tindih & tambal sulam.Frekuensi amandemen Undang-undang yg semakin banyak berdampak negatif.

Karena sekali lagi ingin saya sampaikan, hukum atau aturan yang berasal dari pemikiran manusia pasti memiliki banyak kelemahan.

Saya nggak menolak sepenuhnya hukum yang berlaku sekarang di negara kita, namun saya merasa Syari'at Islam adalah solusi konkritnya.

Meskipun dalam penerapannya, butuh waktu yang lama dan bertahap serta perlu kajian yang sangat mendalam sampai pada tahap penerapannya.

Dan pranata sosial yang kelima, yang paling memiliki pengaruh besar di zaman Gelombang Ketiga Indonesia adalah MEDIA. :)

Di Era Gelombang Ketiga Indonesia (2014-20...), Dari bangun tidur sampai kembali ke peraduan, media selalu membersamai kita.

Bahkan bagi anak muda sekarang, mulai bertransformasi menjadi kebutuhan pokok.Sehingga,bagi para pejuang dakwah harus memperhatikan hal ini.

Sebagai Calon Khalifaturrahman yang akan memimpin Peradaban maka kita harus merubah mindset kita. MEDIA adalah Tools Of Change. :)

Namun, iklim pranata sosial yang bernama MEDIA ini, di Indonesia masih labil dan perlu pembenahan disana-sini. Media membentuk Publicmood.

Publicmood yang kemudian terbentuk di Masyarakat Indonesia sekarang dapat saya katakan nggak jelas. Kalo dalam bahasa Palu 'Te Jelas'. :)

Tayangan dominan yang kita saksikan adalah Kecelakaan, perzinahan, Korupsi, kriminal, dan hal-hal negatif lainnya.

Apa yang terjadi?! Publicmood pun menjadi negatif. Ditambah lagi 'bandwagon effect', yaitu kecenderungan untuk mengikuti yang mayoritas.

Saat mayoritas masyarakat kita berlaku negatif, maka dapat dipastikan pengaruh MEDIA memang sangat besar. Media Pranata Sosial yang dahsyat!

Tayangan keagamaan pun cenderung negatif. Disaat kita ingin membangun mentalitas enterpreneur, yang banyak ditayangkan adalah sebaliknya.

Ingin membangun mental enterpreneur masyarakat yang tangguh, ceramah tentang 'zuhud' yang tidak proporsional mendominasi.

Maka mau tidak mau, kita juga harus turut terlibat mengambil peran dan menjadikan media sebagai tools of change.

Wajib bagi yang menginginkan perubahan!! Wajib bagi yang ingin berkontribusi agar negeri yg katanya sepenggal firdaus ini kembali tersenyum.

Selamat Datang di Gelombang Ketiga Indonesia!!!

END.

Minggu, 02 Maret 2014

Politik Uang VS Biaya Operasional

Jakarta, 2 Maret 2014
Kultwit dari Akun Twitter @Khaidir_ 

Bismillah, pada kesempatan kali ini mau kultweet tentang Biaya Operasional dari perspektif politik.. :)

Mungkin ini sekedar opini saja, dari saya yang masih awam tentang perpolitikkan, tapi berusaha untuk mengeksplor heterogenitas pemikiran..

Masyarakat pada umumnya sulit membedakan tentang politik uang, dan menggeneralisir pemahaman mereka tentang politik uang..

Apapun transaksi yang dilakukan partai, menyangkut masalah uang, dan berhubungan dengan masyarakat selalu dianggap negatif..

Generalisasi pemahaman tentang politik uang ini perlu diluruskan, agar bisa meminimalisir persentase masyarakat yang memilih Golput..

Padahal, tidak setiap transaksi Parpol itu bersifat negatif. Bisa jadi dana yang di berikan kepada masyarakat adalah dana aspirasi..

Bisa jadi itu adalah dana Reses, dana aspirasi dan dana reses itu memang ada dalam Undang-undang.. Dan teranggarkan dalam APBN maupun APBD..

Bisa jadi, itu juga dana pribadi.. Kalo pemberian pribadi dari Aleg, itu kan bisa jadi Sedekah, keep positive thinking.. :)

Dana pribadi saya rasa sah-sah saja, yang salah itu kalo membeli suara, contohnya seperti serangan fajar. Inilah politik uang yang negatif..

Ada beberapa hal tentang Politik uang yang juga sulit dibedakan oleh masyarakat pada umumnya. Bahkan membuat mereka resisten terhadap Parpol

Misalnya tentang Biaya operasional. Biaya operasional pun dianggap politik uang dalam arti negatif. Sering terjadi di Pemilu Kepala Daerah..

Di Pemilu Kepala Daerah, pasangan Calon Kepala daerah yang didukung oleh Parpol harus kemudian membayar 'Mahar' untuk Parpol tersebut..

Nah, biasanya ini dianggap politik uang dalam artian negatif oleh masyarakat pada umumnya. Padahal 'Mahar' adalah konsekuensi logis politik.

Mengapa saya mengatakan 'Mahar' calon kepala daerah adalah konsekuensi logis dari politik? Saya punya alasan yang kuat tentang hal ini..

Yang perlu kita ketahui bersama adalah, 'Mahar' tersebut adalah biaya operasional Parpol untuk bergerak memenangkan calon kepala daerah..

Calon Kepala Daerah yang diusung wajib untuk menganggarkan ini.. Anda bisa bayangkan Parpol bergerak tanpa biaya operasional..

Parpol juga adalah sekumpulan manusia-manusia normal yang butuh biaya pergerakan, Dana transport dan lain-lain. Ya pasti itu logis.. :)

Seandainya ada seseorang yang bekerja di sebuah instansi baik pemerintah ataupun swasta,bekerja siang malam ngejar target tapi nggak digaji.

Orang-orang yang bekerja dengan ideologi, ideologi apapun itu butuh untuk penghargaan. Penghargaan apapun itu, sangat berarti bagi mereka.

Jangan kemudian menganggap orang-orang Parpol adalah manusia super yang nggak perlu biaya operasional ya..

Seandainya diri anda seperti itu, mau nggak? Bekerja maksimal dan optimal tapi kemudian nggak dihargai. Keep positive thinking.. :)

Semoga kultweet ini bisa bermanfaat dan sedikit membuka pikiran kita tentang politik uang..

Seakan-akan semua hal yang bersentuhan dengan politik dianggap buruk.. Padahal politik juga bisa menjadi sarana perubahan..

Semoga kultweet ini juga bisa mengurangi angka Golput. Karena golput itu adalah pilihan terburuk menurut saya.

Golput itu sendiri adalah pilihan, memilih untuk tidak berkontribusi. Memilih untuk tidak memilih, bisa menjadi fatal akibatnya..

Demikian sedikit sharing dari saya yang masih sangat miskin ilmu ini, semoga bermanfaat.. :)

END.

Jumat, 14 Februari 2014

Reduksi Karakter Bangsa

12 Februari 2014
Kultwit dari Akun Twitter @Khaidir_

Tayangan-tayangan Di Televisi semakin nggak mendidik saja, secara substansi sudah bukan lagi mencerdaskan Bangsa..

Acara-acara joget-joget nggak jelas yang nggak ada manfaatnya sama sekali semakin menjamur hampir di semua stasiun TV Swasta, Miris..

Setiap hari kita disuguhi acara yang membuka aib-aib orang.. Dan masyarakat mulai mengganggap itu biasa.. Na'udzubillah..

Kalo setiap hari tayangan Televisi kita didominasi oleh acara yang mereduksi nilai&moral, karakter menganggap remeh nilai&moral terbentuk..

Karakter ini terbentuk dari tayangan-tayangan tersebut.. Karakter masyarakat secara umum menjadi seperti ini.. Menghablur Moral dan nilai..

Kalo masyarakatnya sudah seperti ini, pantaskah kita mengharap Keberkahan dari Yang Maha Agung ?

Mungkin ini bisa menjadi solusi sementara, barangkali kita perlu melakukan seleksi untuk setiap tayangan Televisi kita.. Lakukan penetrasi..

Ambil hikmah setiap Kisah yang bisa di pelajari, kalo tayangan sudah agak berlebihan, jangan ragu untuk sensor/cut tayangan tersebut..

Saya pribadi optimis, mulai dari hal-hal kecil seperti ini karakter bangsa bisa tercerahkan.. Sedikit demi sedikit, Harapan Itu Masih ada..

END

Minggu, 26 Januari 2014

Kampus Madani Bukan Sekedar Wacana

Ahad, 26 Januari 2014
Oleh : Mohamad Khaidir

"Perubahan adalah keniscayaan, tergantung anda apakah mau berubah menjadi lebih baik atau sebaliknya"

Kata-kata yang menjadi prolog tersebut sangat melekat di benak saya. Di Tahun 2011, sekitar 3 Tahun yang lalu, saat itu di adakan sebuah acara pelatihan tentang gerakan dakwah kampus sekop daerah Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Utara. Palu kemudian terpilih sebagai tuan rumah pada acara ini. Pelatihan Manajerial Lembaga Dakwah Kampus yang diselenggarakan oleh Puskomda Fsldk Sulawesi A, Saat itu Akh Amin Syah masih menjabat sebagai koordinator Puskomda. Pemateri pada pelatihan tersebut memang benar-benar orang-orang yang berkompeten. Mereka didatangkan langsung dari Bandung, Tim Trainer BK-PMLDK FSLDK Indonesia.



Inti yang dapat kami ambil dari pelatihan tersebut adalah, jangan takut untuk kemudian memunculkan wacana tentang Kampus Madani. Jangan pernah takut bermimpi indah tentang keharmonisan iklim kampus dimana Islam sebagai solusi konkritnya. Kami begitu bersemangat mengikuti pelatihan tersebut. Akh Tutuk dan Akh Rifay  tergabung dalam komposisi kepanitiaan. Dari Mpm Al-Iqra FE-Untad yang di utus yaitu, Akh Indra Basir, Akh Muchlis, Akh Rizki Baba, Akh Rendra Pranadipa, dan beberapa peserta akhwat.

Kondisi di Fakultas kami (Fakultas Ekonomi) saat itu masih biasa-biasa saja. Belum ada perubahan konstan dan terukur yang kami lakukan untuk menuju peradaban Kampus Madani. Rasa-rasanya ingin tertawa mengungkapkan begitu banyak mimpi indah tentang Dakwah Kampus di pelatihan interaktif tersebut. Di dalam hati masih menganggap itu suatu hal yang mustahil dikerjakan dalam waktu singkat. Namun kami terus bekerja, terus mengikuti dinamika kampus sebagai seorang aktifis Dakwah yang bukan hanya bergelar The Agent of Change. Kami lebih dari sekedar agen perubahan, kami adalah The Agent Of Allah.



Waktu terus berlalu dan kami jalani dengan tidak menghilangkan ciri khas seorang aktifis dakwah meskipun beberapa konflik interen dan eksteren menjadi penghalang laju gerak kami. Tetapi kami yakin, setiap dinamika yang kami lewati adalah cara Allah untuk mendewasakan kami. Kami tetap menjalani proses mentoring, menjalankan program kerja sebagaimana biasanya, berimprovisasi dalam gerakan namun tak melupakan batas-batasan syariat. Kaderisasi benar-benar kami jaga, karena Kaderisasi-lah yang kemudian menjadi kultur dari Lembaga Dakwah. Membayangkan bagaimana nantinya model kampus madani membuat kami kadang tersenyum karena perubahan bukan serta merta terjadi secara instan.



Ternyata, hal-hal yang kami anggap hampir mustahil, yaitu menuju Peradaban Kampus Madani, tirainya mulai tersingkap. Secara perlahan kami mulai bisa mengembangkan senyum indah secara nyata. Di Tahun 2014, kami begitu terharu melihat generasi-generasi militan yang akan terus melanjutkan tongkat estafet dakwah kampus. Begitu bersemangat, begitu kokoh memegang ideologinya. Meski terkadang mereka harus sedikit realistis melihat kondisi kekinian. Mimpi-mimpi kami tentang kampus madani menjadi semakin jelas gambarannya, karena satu per satu Sub-Visi dari mimpi tersebut mulai terwujud.




Di Hari ini kami harus kemudian memperbanyak syukur kepada Allah, bersyukur dengan cara yang tidak biasa karena nikmat dakwah ini begitu luar biasa. Manisnya Ukhuwah harus kemudian membuat kami memperbanyak Istighfar atas setiap dinamika persaudaraan, dosa yang kami sadari maupun tidak kami sadari. Kami semakin yakin bahwa Kampus Madani bukan sekedar wacana belaka, bahwa ia adalah mimpi yang sebentar lagi akan terwujud dengan keistiqomahan kami.

Ikhwah fillah Rahimakumullah..
Jangan pernah meninggalkan dakwah ini oleh karena kenikmatan dunia yang sesat dan hanya sesaat.

Kata Syaikh Mustafa Masyhur "Adda'watu satusiiru bina au ghairina : Dakwah ini akan terus berjalan dengan atau tanpa kita". Namun hari ini kita memilih untuk berada dalam perjuangan mulia ini, menjadi pewaris para Nabi dan Rasul yang sangat mencintai Allah dan Allah pun mencintai kita. Percayalah bahwa hanya Allah yang berhak membalas setiap detail perjuangan kita.
KEEP UKHUWAH.

Wallahu a'lam.

Baju Zirah itu Bernama "Amanah"

Baju Zirah itu nampaknya telah rusak, luluh hancur, 

luntur dan pudar, berbeda jauh saat pertama kali di 

nobatkan. 


Tubuh ini masih mampu, raga ini cukup tahan, jiwa ini 

takkan kalah, semangat ini takkan padam.


Saat Baju Zirah terbaik menanti kita, dengan Gamang 

dan galau, terseok-seok menantang Kedzoliman, 

namun dengan cara yang lebih waspada.


Mengintai setiap tebasan pedang, terjangan anak

 panah, dentuman keras. Tanpa Baju Zirah pun, aku

 rela hancur lebur, Syahid Di JalanMu.