This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Selasa, 27 Oktober 2015

Narasi Negeriku

dakwatuna.com – Inilah narasi negeri permai, narasi sederhana yang ingin kutulis saat langit shubuh merona. Narasi yang bercerita tentang negeriku, negeri indah nan permai, negeri dengan nyiur melambai yang begitu banyak di sekitaran pantai, seperti lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul rayuan pulau kelapa :

Tanah Airku Indonesia, Negeri elok amat ku cinta..
Tanah tumpah darahku yang mulia, yang ku puja s’panjang masa..
Tanah Airku aman dan makmur, Pulau Kelapa nan amat subur, Pulau Melati pujaan bangsa sejak dulu kala…


Tak heran bila nyiur melambainya sangat banyak, mengingat negeri ini terdiri dari belasan ribu kepulauan. Nyiur melambai dengan nilai filosofisnya yang patut menjadi teladan, bagaimana tidak, seluruh bagian tubuh dari tumbuhan nyiur melambai ini bermanfaat bagi manusia. Mulai dari akarnya, batangnya, daunnya, sampai buahnya, semua memberi manfaat bagi manusia. Sungguh beruntung bila mampu mengambil hikmah dari nyiur melambai yang di dalam Alquran kita dapatkan informasi bahwa seluruh makhluk, tumbuh-tumbuhan dan hewan, senantiasa bertasbih kepada Allah SWT. Sembari bertasbih kepada Allah SWT. Mereka juga memberi manfaat kepada makhluk lainnya, sungguh seharusnya hikmah inilah yang bisa menginspirasi kita semua.

Inilah narasi negeri indah, narasi tak elok yang ingin kutulis saat disesaki oleh macetnya kendaraan, jalan raya yang lapang pun terasa sempit disesaki oleh banyaknya jumlah kendaraan, bukan persoalan banyaknya kendaraan atau kurang lebarnya jalan saja kawan, tetapi penting juga menyadari bahwa pengaturan lalu lintas perlu tingkatkan, pengelolaan lalu lintas harus semakin baik seiring perkembangan zaman. Sehingga, dengan membaca narasi negeri yang kutulis ini, kita tak akan dengan mudah menyalahkan proyek pembuatan jalan, tak mudah menyalahkan polisi lalu lintas, mungkin ada kalanya kita perlu introspeksi diri sendiri yang masih kurang sabar dalam berkendara atau terburu-buru ketika berada di jalan raya.

Inilah narasi negeri nusantara, narasi tentang negeri yang terdiri dari belasan ribu pulau, juga di hampiri oleh begitu banyak persoalan bangsa yang tak kunjung usai. Entah nilai rupiah yang melemah, atau dollar yang menguat, sepertinya ini adalah peristiwa yang harus dilewati negeri nusantara ini agar kelak menjadi Negara maju dan berkembang. Atau mungkin, anggap saja ini konsekuensi logis dari Negara pemenang perang dunia, sehingga mata uang negaranya terus dominan dan menguat. Atau mungkin, narasi negeri yang ku tuliskan ini tak lebih tentang pengakuan masih lemahnya bangsa ini dari produktivitas pangan, pertanian, perkebunan, serta sektor lainnya. Sehingga, untuk memenuhi kebutuhan pokok saja masih harus impor dari Negara lain. Mungkin juga, narasi negeri nusantara ini bercerita tentang merubah pola pemikiran, pemikiran yang terus menyalahkan berbagai pihak tanpa bercermin pada diri sendiri. mungkin saatnya untuk menyadari bahwa siapapun pemimpinnya, tak akan mudah untuk merubah kondisi terpuruk ini, sebab Nabiyullah Yusuf’alaihissalam dan Khalifah’Umar Bin Khaththab radhiyallahu’anhu pun pernah mengalami masa-masa terburuk di negerinya, yaitu masa paceklik. Mungkin saatnya untuk mengurangi ocehan dan kritikan lalu memperbanyak kerja dan kontribusi, sambil bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh manakah diri ini berkontribusi untuk memajukan bangsa ini?

Narasi negeri permai ini tak hanya bercerita tentang betapa permainya negeri ini, tetapi juga bercerita tentang hari-hari selanjutnya yang akan dilalui oleh rakyatnya, tentu menjalani hari dengan rasa optimis meskipun masih banyak persoalan yang harus diselesaikan. Optimis sambil terus belajar, bagaimana para pemimpin sukses di masa lampau melewati hari-hari terburuk yang menimpa negerinya. Rasa-rasanya perlu untuk membaca tinta emas sejarah kepemimpinan Amiirul Mukminin ‘Umar Bin Khaththab radhiyallahu’anhu yang memfokuskan memenuhi kebutuhan pangan di saat musim paceklik. Tinta emas sejarah juga bercerita tentang bagaimana Nabiyullah Yusuf’alaihissalam yang menyarankan pejabat di negerinya untuk efisien dalam mengelola konsumsi, sebab negeri mereka akan menghadapi musim paceklik selama tujuh tahun lamanya.

Narasi negeri indah ini tak hanya bercerita tentang keindahan alam negeri saja, tetapi juga bercerita tentang alangkah indahnya bila masyarakat negeri ini sangat peduli terhadap kepentingan yang bersifat umum dan mengesampingkan ego pribadi. Narasi negeri indah yang ku tulis ini juga ingin bercerita tentang betapa keindahan negeri ini akan semakin indah bila perilaku masyarakatnya juga indah, indah perilaku dalam berinteraksi antar sesama manusia, indah sikap dalam memperlakukan alam, sebab Allah Maha Indah dan menyukai Keindahan.

Narasi negeri nusantara yang juga bercerita tentang betapa heterogennya kondisi bangsa ini, terdiri dari ratusan suku dan dialek, belasan ribu pulau, beragamnya kebudayaan dan kearifan lokal, tetapi mampu menyatukan pandangannya menatap cita-cita kemerdekaan yang belum selesai lalu dengan lantang berteriak menyerukan satu kata, “Indonesia!!”. Meskipun sampai saat ini Indonesia masih terus mencari identitas dan memperbaiki sistem yang ada agar sesuai dengan kondisi ke-Indonesiaan yang aktual. Narasi ini juga kutuliskan untuk mengajak orang-orang sedikit menengok dan mempelajari Islam sebagai solusi peradaban, sebab Imam Syahid Hasan Al-Banna, seorang Tokoh kebangkitan Ummat pernah menjelaskan dalam risalahnya bahwa Islam dan Nasionalisme tidak perlu untuk dipertentangkan. Oleh sebab cinta tanah air adalah fitrah manusia, fitrah yang tak dapat dipungkiri, sebagaimana rasa cinta Rasulullah SAW kepada Tanah airnya, Kota Makkah. “Ketika Rasulullah SAW akan berangkat ke Madinah, beliau memandang ke arah Baitullah, lalu bersabda ‘Sesungguhnya aku tahu bahwa Allah SWT tidak membangun sebuah rumah (tempat beribadah kepada Allah) di Bumi, yang lebih dicintai-Nya darimu (Baitullah). Sekiranya aku pergi, maka kepergianku bukan karena enggan (tidak suka) kepadamu, melainkan karena (orang-orang kafir) mengusirku’ ” (Dikutip dari ‘Atiq bin Ghaits al-Biladi). Betapa rasa rindu Rasulullah SAW kepada Makkah ini sangat jelas ketika Beliau SAW berkata, “Betapa indahnya lembah Makkah, di sanalah bumi dan sahabatku. Di sanalah tertancap pancangku. Dan di sanalah aku berjalan sendiri tanpa seorangpun menunjuki.” (Dikutip dari ‘Atiq bin Ghaits al-Biladi).

Perlu bagi kita sebagai seorang Muslim untuk mencintai negerinya, mencintai tanah airnya. Mencintai tanah air dan melindungi negeri adalah salah satu tanda baiknya Islam seseorang. Tak berlebihan rasanya mengekspresikan rasa cinta tanah air dengan menyanyikan atau mendengar lagu Tanah Air ciptaan Ibu Sud :

Tanah airku tidak kulupakan, Kan terkenang selama hidupku..
Biarpun saya pergi jauh, Tidak kan hilang dari kalbu..
Tanahku yang kucintai..
Engkau kuhargai..


Mari berpikiran jernih dan berprasangka baik terhadap Agama yang mulia ini, yang mengatur seluruk aspek dan sistem hidup manusia. Sebab Islam dan Nasionalisme bukan suatu hal yang harus di pertentangkan, dan bukan menjadi suatu hal yang harus dipisahkan seperti pemahaman orang-orang sekuler dan liberal yang memisahkan antara agama dan Negara. Dalam Islam, Agama dan Negara justru bagai dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan, sebagaimana yang pernah disampaikan Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Prinsip Pertama ‘Ushulul’Isyrin :

“Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan. Karena itu, islam adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, wawasan dan undang undang atau ilmu pengetahuan dan peradilan, materi dan kekayaan alam atau penghasilan dan kekayaan, serta jihad dan dakwah atau pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga islam adalah akidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”

Narasi negeriku tak akan habis bila ingin ku tulis, sebab inilah ekspresi cintaku pada tanah airku. Narasi negeriku tak akan jera untuk kutulisan, sebab negeriku adalah tempat ku mengabdi. Narasi negeriku tak akan berhenti sampai di sini saja, sebab ia akan terus kutulis hingga nyata kontribusi dan kerja-kerja untuk negeriku. Narasi negeriku akan terus berlanjut, hingga negeriku ini menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/10/28/76315/narasi-negeriku/#ixzz3pq3DCMxC 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Beda-nya Komentar & Kerja

Makassar, 28 Oktober 2015
Dari Akun Twitter : @Khaidir_

Teruslah hidup dalam dugaan-dugaanmu..

mengambil posisi di luar Gerakan Islam, lalu menduga-duga para Pelaku Gerakan Islam.. menduganya dengan prasangka buruk yang berlebihan..

menduga bahwa para pelaku gerakan Islam saling membenci satu sama lain.. tanpa Tabayun terlebih dahulu.. Na'udzubillah..

kalau saya analogikan seperti komentator Sepakbola yang sok tahu mengeluarkan pendapat.. Komentator yang hanya bisa berkomentar..

seperti inikah engkau di ajari oleh mentormu? mengambil posisi yang katamu netral? dan tengah menghabiskan energimu untuk berkomentar?

terus saja berkomentar dan berharap dari komentarmu itu para pejuang gerakan Islam akan berhenti berjuang lalu berubah pikiran?

perjuangan ini sudah terlalu panjang Bung, sejak dari Zaman Para Nabi & Rasul.. maka kami berjuang dengan manhaj Dakwah Rasulullah SAW.

mungkin semua gerakan Islam mengaku sudah sesuai manhaj, itu memang benar.. mungkin metode nya saja yang berbeda-beda..

tetapi yang pasti para pejuang gerakan Islam akan terus bergerak dan berjuang dari pada hanya berkata-kata dan terus berkomentar..

sebab beda hasilnya bila hanya terus menerus berkomentar dan terus menerus bekerja (Rekrut, Bina, Rekrut, Bina...)

sebab beda hasilnya bila 5 Tahun engkau habiskan untuk berkomentar, dan 5 Tahun engkau habiskan untuk bekerja dan bekerja.. (Rekrut-Bina)

sampai saat ini kami masih terus bergerak, merekrut dan membina.. saat ini saya sedang membina puluhan Mahasiswa UMM & UNM..

tak ada waktu untuk saling mendengki dan membenci seperti dugaan kalian, yang kami lakukan adalah terus bekerja dan terus bekerja..

ya.. sebab gerakan kami mengajarkan untuk saling bersinergi dan saling mencinta dalam ukhuwah.. hanya saja untuk kerja-kerja memang berbeda

sebab dakwah adalah cinta.. kepada rekan perjuangan di gerakan lain sikap kami adalah menghargai dan mencintai mereka.. ^_^

tak ada waktu untuk membalas seluruh komentar dan prasangka buruk kalian.. sebab kami di ajari untuk tak takut di caci dan tak gentar mati..

tak ada waktu untuk melayani dugaan-dugaan kalian, sebab yang perlu di lakukan saat ini adalah terus bekerja.. rekrut, bina, rekrut, bina...

mungkin inilah karakteristik kami para pemuda, yang terus bekerja dan terus bekerja.. bukan terus berkomentar tanpa kerja..

pemuda yang menghargai bangsa, negara, dan agamanya.. bekerja dengan infrastruktur, suprastruktur, sarana, & prasarana..

tetapi tak semua sarana & prasarana tersebut harus saya share disini.. sebab ada yang namanya amniyatudda'wah.. ^_^

bekerja dan terus bekerja hanya karena Allah.. bekerja merealisasikan masyarakat yang madani, mewujudkan negeri yang di berkahi oleh Allah..

baru-baru saja kami selesai melaksanakan Musyawarah Wilayah di Grand City Hotel Makassar..

bertemu Ikhwah Seperjuangan dari 24 Kabupaten dan Kota se-Sulawesi Selatan..

dan pekan depan akan ada Musyawarah Daerah DPD Makassar, bertempat di Novotel Hotel Makassar.. waktunya bekerja..

salam hangat kepada kalian yang terus menduga dan berprasangka.. salam hangat kepada kalian yang terus berkomentar dan mencerca..

sebab kami akan terus bekerja dan terus bekerja.. tidak mudah rasanya mem-breakdown program & arahan DPW ke 24 DPD Se-Sulawesi Selatan..

tetapi satu yang pasti, kami bekerja, berjama'ah, & Berharakah karena Allah.. sebab kami ingin Berkhidmat Untuk Rakyat, Salam Sumpah Pemuda.. ^_^

END.

Minggu, 13 September 2015

Yakinlah, Langit Akan Cerah!

Ilustrasi. (vk.com)
Ilustrasi. (vk.com)
dakwatuna.com – Semakin kelam, semakin gelap, pemandangan sekitar menjadi semakin buruk. Berlumpur, kotor, penuh debu, segala materi bagai debu di atas debu. Langit seakan-akan menghitam, dan engkau terperosok dalam lembah hitam nan kelam, di dalam lembah hitam nan kelam itu tubuhmu kotor dan penuh lumpur yang serba lengket, sulit untuk keluar. Lembahnya semakin dalam dan gelap, sulit mendapatkan sumber cahaya untuk penerangan, suasana semakin lama semakin kelam karena engkau semakin tenggelam, semakin terlarut dalam kemaksiatan, lalu engkau pun semakin terlena untuk berada di lingkungan yang begitu jahat. Di tengah-tengah kegelapan yang berlapiskan kelam ini pun engkau berusaha untuk bangkit meski sukar dan sedikit terhalang oleh nafsu dan egomu. Hari-hari yang akan engkau jalani selanjutnya adalah hari-hari terburuk yang pernah ada dalam kehidupanmu, engkau sangat ingin lepas dari semua yang begitu kelam dan pekat ini, tetapi apa daya, dengan hanya bermodalkan semangat dan kekuatan diri sendiri, engkau tak akan sanggup untuk segera lepas dari bayang-bayang kemaksiatan dan lingkungan jahat ini bila tidak memohon pertolongan kepada Allah SWT dan meminta bantuan orang lain. Engkau mesti menumbuhkan kemauan dari dalam diri sendiri, membangun tekad yang kuat untuk berubah, sebab perubahan adalah keniscayaan. Engkau mesti mencari dan terus mencari, jalan untuk keluar dari lembah hitam nan kelam ini, engkau harus berusaha untuk keluar, aktif mencari jalan keluar, lalu menjemput hidayah yang mana bila Allah sudah Berkehendak maka engkau akan selamat.

Zaman terus berjalan dengan angkuh, beredar dengan tampak anggun, bergerak dengan mewah dan megah, membuat orang-orang yang terjebak di dalam lembah hitam nan kelam senantiasa terpengaruh. Ukuran materi menjadi ukuran utama dalam tindak tanduk mereka, hal ini penting untuk segera diubah. Materialisme sepertinya sudah mendarah daging dalam pola pendidikan anak-anak emas bangsa ini. Anak-anak cenderung diarahkan untuk mengejar nilai bagaimanapun caranya, apapun caranya agar mendapat nilai yang tinggi, sebab standar kelulusan adalah nilai yang memenuhi kriteria. Hal ini tidak sepenuhnya salah, hanya saja menurut penulis pribadi perlu dilengkapi dengan indikator-indikator yang lain, sebagai contoh, alangkah baiknya dalam komponen kurikulum pendidikan yang ada perlu ditambahkan tentang bagaimana beretika dengan baik, bagaimana sebenarnya esensi dari menuntut ilmu, bukan sekadar mengejar nilai semata. Ini sangat penting untuk disampaikan oleh para ahli kebenaran, baik ahli kebenaran yang terjun ke dalam parlementaria maupun para ahli kebenaran yang memilih berjuang di luar parlemen. Sebab, bila ahli kebenaran diam terhadap ahli kebathilan, maka ahli kebathilan akan terus merasa benar tanpa ada yang menegur. Esensi dari ajakan menuju jalan kebenaran pun harus sesuai dengan situasi dan kondisi, metode yang benar dan tepat, sebab meskipun isi ajakan itu bersifat kebaikan bila tak disampaikan dengan cara yang baik maka kebaikan tersebut akan mudah terhempas. Maka dibutuhkan persiapan yang matang dan cerdas, agar kebenaran dapat menghempas kebathilan, sebab bila kebenaran tak memiliki tenaga atau tekanan yang cukup, maka kebenaran tak akan mampu menghempas kebathilan.

Dakwah bukan dilakoni oleh para Malaikat yang suci dari dosa-dosa, dakwah dengan jawaban yang mantap telah diterima pembebanannya oleh manusia, ya manusia! Seluruh umat manusia punya kewajiban untuk berdakwah menyampaikan kebenaran! Manusia yang tentunya tak terbebas dari kesalahan dan dosa-dosa, hanya saja para pegiat dakwah terus dan terus menerus memperbaiki dirinya agar dakwah yang disampaikan mempunyai bargaining position untuk mengubah, sebab dakwah dengan perilaku lebih memberi dampak dari pada ucapan lisan, tapi tentunya hal ini tidak menjadi alibi untuk tidak berdakwah melalui lisan. Dari lembah kelam nan hitam, Allah SWT masih menyediakan pintu taubat dan rahmatNya terhadap siapa saja yang mau untuk memperbaiki diri. Dari lembah kelam nan hitam, rahmat dari Allah SWT lebih luas dari luas semesta. Dari lembah hitam nan pekat, Rahmat Allah SWT lebih besar dan mulia dari murkaNya.

Zaman yang terus bergerak maju ke depan menciptakan momen-momen krusial, seakan membadai, masalah tiba-tiba datang bertubi-tubi hendak merontokkan semangat anak-anak bangsa ini. Sebagian besar generasi muda terpengaruh oleh jargon-jargon barat yang mengusung kapitalisme dan sekulerisme yang sangat jelas Bangsa barat pun merasakan kegagalannya. Sebagian besar generasi muda juga menjadi generasi yang apatis, acuh tak acuh dengan gejolak perekonomian Indonesia yang terus memburuk, acuh tak acuh dengan kondisi bangsanya, hanya peduli pada persoalan-persoalan seputaran dirinya sendiri.

Kondisi bangsa saat ini yang serba carut marut mungkin saja membuat sebagian manusia akan menjadi semakin kritis dan argumentatif. Ini adalah reaksi yang wajar, namun yang patut disayangkan adalah orang-orang yang merasa biasa saja dan pasrah dangan keadaan ketika nilai kurs rupiah melemah terhadap mata uang Negara lain. Tentunya masyarakat yang diharapkan pada kondisi saat ini adalah masyarakat komunikatif. Masyarakat komunikatif yang dalam pandangan Habermas bukanlah masyarakat yang melakukan kritik lewat revolusi dan kekerasan melainkan lewat argumentasi. Namun revolusi dan argumentasi bisa menjadi tools masyarakat untuk merubah kondisi bangsa, namun hal ini bersifat situasional. Argumentasi dibedakan menjadi dua macam yakni diskursus dan kritik. Diskursus dilakukan untuk mencapai konsensus rasional atas klaim kebenaran (diskursus teoritis), dan untuk mencapai konsensus atas klaim ketepatan (diskursus praktis), selanjutnya diskursus untuk mencapai konsensus tentang klaim kompherensibilitas disebutnya sebagai diskursus eksplikatif. Sedangkan terhadap kritik dibedakan dalam dua bentuk yakni kritik estetis (norma-norma sosial yang objektif) dan kritik terapeutis. Hal ini berkaitan dengan penyingkapan penipuan dari masing-masing pihak yang berkomunikasi.

Tak elok rasanya bila di tengah-tengah segudang masalah yang bertumpuk bila generasi muda atau masyarakatnya tidak memberikan kontribusi sama sekali. Bahkan dalam tinta emas sejarah tercatat bahwa penggerak perubahan, sang enginer revolusi, adalah kaum muda. Dan kondisi pemuda hari ini begitu jauh dari sosok yang diharapkan mampu membawa perubahan dan menyelesaikan berbagai persoalan karena terhipnotis oleh tayangan-tayangan televisi serta tersihir oleh budaya-budaya yang tidak disaring terlebih dahulu sehingga menjadi pemuda yang kontra-produktif. Barangkali kita perlu sedikit berpikir cerdas tentang apa yang harus dilakukan hari ini, mulailah dengan kembali kepada kesucian, kempali kepada titik nol, kembalilah kepada fitrah manusia, bahwa segala sesuatunya mutlak disandarkan kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Mungkin, untuk membenahi problematika akhlak anak-anak muda Indonesia adalah dengan memurnikan Tauhidullah. Bila Aqidah kokoh dalam hati dan sanubari anak-anak muda Indonesia, dapat dipastikan ia akan menjadi pemuda yang hanif, pemuda yang bertanggungjawab, pemuda yang berintegrasi tinggi kepada bangsanya. Bagaimana tidak, Tauhid mengajarkan kepadanya agar selalu tunduk dan taat mutlak kepada Allah SWT., dalam keadaan susah ataupun senang, dalam keadaan berat dan ringan, entah merasa suka atau tidak suka, Ketaatan mutlak hanya kepada Allah SWT. Bila sudah taat mutlak kepada Allah SWT maka hendaknya untuk tak saling menyalahkan kepada siapapun, mulailah dari mengoreksi diri sendiri, meskipun memang kebenaran harus tetap disuarakan, digemakan, digaungkan seluas mungkin.

Mari himpun tenaga-tenaga anda untuk hal-hal yang produktif untuk memperbaiki bangsa ini, di mulai dari fitrahnya seorang manusia sebagaimana mestinya, yaitu mempersembahkan ketaatan hanya kepada Allah SWT. Bila kepada Rabbnya saja ia taat, apalagi kepada bangsa dan negaranya. Bila langit suatu saat akan cerah kembali, percayalah Allah SWT akan mempergilirkan keadaan suatu kaum, tentunya apabila kaum tersebut memiliki keinginan untuk berubah. Yakinlah, setelah kondisi saat ini yang semakin kelam, gelap, dan pekat, akan datang suatu masa cerahnya langit dan cerahnya hari. Hingga Ibu pertiwi yang katanya tengah menangis akan tersenyum kembali. Dengan cerahnya langit maka keberkahan akan datang berturut-turut menghampiri negeri nusantara ini, hingga suatu saat Indonesia menjadi Negeri yang diliputi keberkahan dan karunia Allah SWT. Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafuur.



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/09/13/74470/yakinlah-langit-akan-cerah/#ixzz3lfVOYffo 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Rabu, 19 Agustus 2015

Membebaskan Makna Kemerdekaan

Ilustrasi. (komikmerdeka.deviantart.com)
Ilustrasi. (komikmerdeka.deviantart.com)
dakwatuna.com – Zaman tengah gelisah, begitu kata para penjelajah arus. Para penjelajah arus ini hanya bisa berhipotesa membaca kegelisahan zaman. Di beberapa puisi dan lagu yang bernuansa nasionalis juga bercerita tentang Ibu Pertiwi, Ibu Pertiwi yang di analogikan sebagai sebuah negeri indah nan subur di pojok Asia Tenggara. Negeri yang kaya, namun sumber daya alam potensialnya lebih banyak di kuasai dan di kelola oleh bangsa asing. Negeri yang selama puluhan tahun kebingungan dan bergulat mencari identitas Negara, sebab partai pemenang pemilihan umum dan pemilihan Presidenlah menjadi penentu ideologi mana yang akan di gunakan untuk mengelola Negara, apakah sosialis, komunis, liberal, sekuler, nasionalis, atau Islam dengan kelengkapan dan universalnya ajarannya dalam mengatur Negara, umat, dan pemerintahan.

Katanya, Ibu Pertiwi tengah menangis. Ibu pertiwi tengah di rundung duka. Duka yang mendalam karena problematika kebangsaan yang tak kunjung usai, tujuan kemerdekaan yang belum tercapai dan masih harus di lanjutkan. Sampai saat tulisan ini di tulis, Organisasi Masyarakat Islam Persyarikatan Muhammadiyah sedang bermusyawarah menentukan jajaran pimpinan untuk melanjutkan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan. Persyarikatan Muhammadiyah yang melalui gerakan dakwahnya juga turut mengambil peran penting dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia dan sekali lagi melanjutkan cita-cita kemerdekaan yang belum tercapai. Persyarikatan Muhammadiyah hanya salah satu contoh gerakan yang juga ingin turut menuntaskan problematika keumatan bangsa ini.

Satu hal yang menarik perhatian, orang selama ini lebih mengenal Muhammadiyah sebagai organisasi yang fokus berjuang di bidang sosial. Sekolah dan rumah sakit Muhammadiyah tersebar di mana-mana. Tapi di abad kedua usianya, Muhammadiyah mengukuhkan diri untuk berjuang melawan kebijakan yang dalam penilaiannya dapat menyengsarakan umat. Muhammadiyah hadir dan berdiri tegak di gedung Mahkamah Konstitusi. Sudah empat uji materi undang-undang yang di ajukan di kabulkan Mahkamah, yaitu Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Undang-undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan. Kini ada tiga uji materi Muhammadiyah yang sedang di proses. Putusan Mahkamah Konstitusi tentang uji materi Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi menjadi tonggak bersejarah bagi gerakan Muhammadiyah di abad ke-2. Putusan Nomor 36/PUU-X/2012 tertanggal 13 November 2012 tersebut adalah uji materi pertama Muhammadiyah yang menandai keberhasilan jalan baru perjuangan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia ini. Jalan ini disebut sebagai jihad konstitusi (Majalah Dakwah Tabligh Muhammadiyah Edisi No.10/XII Syawal-Dzulqa’dah 1436 H).

“Gerakan jihad konstitusi ini adalah amar makruf dan nahi mungkar,” kata Eks-Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin (Tempo, 8 Juli 2015). Di Negeri yang tengah terombang-ambing oleh berbagai problematika ini butuh solusi yang konkret terkait perbaikan di setiap sektornya. Muhammadiyah yang gerakan dakwahnya hampir di seluruh sektor memberikan pelajaran kepada kita semua betapa universalnya ajaran Islam, betapa dakwah mengurusi semua hal, dengan gerakan jihad konstitusi yang dilakukannya. Sungguh bangsa ini membutuhkan lebih banyak lagi gerakan dakwah seperti Muhammadiyah yang mencerahkan bangsa ini, pada tataran prakteknya, dalam gerakan Dakwah Muhammadiyah juga menjaga keseimbangan purifikasi dan dinamisasi.

Dari Muhammadiyah hendaknya kita belajar, bahwa ada banyak persoalan umat yang harus di tuntaskan daripada berdebat panjang tak ada habisnya. Lebih baik bekerja dan turun langsung ke lapangan membantu dan menjadi bagian dari solusi dibandingkan mengkafirkan sesama muslim. Janganlah engkau gentar dengan orang-orang yang ber-make up tebal lalu menolak dakwah yang engkau sampaikan. Janganlah engkau mundur menghadapi orang-orang yang sering berkata kepadamu, “urus saja dirimu sendiri, ngapain urus orang lain?”. Untuk orang-orang yang seperti ini jangan sekalipun engkau mundur selangkah pun, sebab engkau sedang menjalankan kewajiban yaitu berdakwah, dan ingatlah bahwa dakwah telah mengajarkan kepadamu bahwa hendaknya engkau lebih mencintai umat ini daripada dirimu sendiri.

Memahami persoalan umat dan bangsa ini tentunya di mulai dari memahami individu yang menyusun lapisan struktur sosial kemasyarakatan. Engkau tentunya akan menemukan banyak orang-orang yang tak ingin hidupnya di atur oleh agama ini dan menolak setiap ajakan dan seruanmu. Tetapi teruslah menyeru dan menyampaikan kebenaran sekalipun itu di depan penguasa zhalim. Di depan penguasa zhalim saja engkau diperintahkan untuk menyampaikan kebenaran, apalagi di depan orang-orang yang akan menghinamu, mencaci maki dirimu, jangan sekalipun gentar menyampaikan tentang kebenaran. Sebab engkau adalah orang yang merdeka, meskipun engkau bukan pejuang kemerdekaan. Engkau akan selalu merdeka bila engkau merdeka dari penghambaan kepada sesama makhluk, lalu engkau mengabdikan dirimu pada Ilahi.

Bangsa yang sedang merayakan ulang tahun kemerdekaannya ke-70 ini sedang menanti tekad kuat melebihi kokohnya baja, tak takut di caci, tak gentar mati, demi bangsa, Negara, dan Tuhannya. Sebab dengan tekadlah engkau akan di perhitungkan. Dengan tekad melebihi kokohnya baja engkau akan sanggup mengubah kondisi umat dan bangsa ini, dengan karya-karya nyatamu, karya-karya nyata yang tak semuanya harus kau posting di sosial media, sebab bila semua karya kau posting di sosial media engkau akan tahu betapa sulitnya menyerap dan memahami makna ikhlas. Karya nyata serta kontribusi yang menggetar hati, membakar semangat juang, memicu jiwa yang rela berkorban, lalu mendorong orang-orang untuk berubah, berubah dari terlalu mementingkan diri sendiri menjadi mencintai umat ini lebih dari pada mencintai diri sendiri.

Marilah membebaskan makna kemerdekaan, agar merdeka tak sekedar kata-kata indah, namun memberi dampak kepada para penikmat kemerdekaan. Dampak yang mengubah pola pikir bangsa ini, bangsa yang terus menerus membenahi dirinya menjadi bangsa yang berpengaruh di dunia. Negeri indah khatulistiwa yang sedang menghadapi era gelombang ketiga peradaban.

Berhentilah sejenak, lalu pandanglah bangsa ini sejenak dari sudut pandang yang tidak biasa. Pandanglah dengan memapas segala ego dalam dirimu, pandanglah dengan mengedepankan kepentingan bersama daripada kepentingan dirimu sendiri. Nusantara indah nan elok yang sebentar lagi akan berusia 70 tahun ini tengah menunggu kontribusi nyata dari para pemudanya. Pemuda yang cerdas, pemuda yang intelek yang tak mengedepankan otot daripada otaknya. Bangsa ini terus memanggil-manggil namamu, menuntut pengorbananmu untuk memajukannya, memakmurkannya, dan menyejahterakannya. Sebab itu adalah titah dari Rabb-mu yang memintamu terus bekerja dan berkontribusi untuk bangsa ini, dengan landasan iman yang kuat, pemahaman Islam yang benar dan komprehensif, sehingga mampu membawa NKRI menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/08/19/73342/membebaskan-makna-kemerdekaan/#ixzz3jJN5mDjX 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Senin, 27 Juli 2015

Tetaplah Berada di Bumi

Ma'had Al-Birr Makassar, 27 Juli 2015
Oleh : Mohamad Khaidir

Ilustrasi (blogspot.com/tiffinbiru)
Ilustrasi (blogspot.com/tiffinbiru)
dakwatuna.com – Mereka seperti bersusun-susun Rasa Surga yang dihadirkan ke bumi, begitu kata Ustadz Salim.A Fillah dalam bukunya yang berjudul Lapis-lapis Keberkahan. Bersusun-susun rasa surga tersebut hadir dalam sosok Baginda Nabi Muhammad, Rasulullah SAW. Bagaimana tidak, orang-orang yang hidup membersamai Beliau SAW dapat mencicip manis dan berkahnya Rasa Surga, dengan Iman yang Kokoh dan Islam sebagai the way of life dan lifestyle mereka. Sesosok Pribadi Muhammad SAW mampu menghadirkan bersusun-susun Rasa Surga bagi orang-orang di sekeliling Beliau, termasuk musuh-musuh Allah dan RasulNya. Bersusun-susun Rasa Surga juga bisa kita tengok dan teladani pada Pribadi Lembut Sayyidina Abu Bakr Ash-Shiddiq, Sang Tegas Sayyidina ‘Umar Bin Khaththab, Tuan Dermawan Sayyidina ‘Utsman Bin Affan, dan Pemuda Pemberani Sayyidina ‘Ali Bin Abi Thalib. Para sosok yang dirindui Surga, dan mampu menghadirkan secicip Rasa Surga di Bumi ini.

Lalu, apa mungkin para sosok yang kami jelaskan di paragraf pertama yang seharusnya menjadi teladan seluruh Umat Manusia mampu untuk kita ikuti? Mampu untuk kita teladani? Atau mungkin terlalu melangit? Butuh pijakan di bumi untuk mengecap rasa-rasa surga para sosok yang melangit ini? Maka tetaplah berada di Bumi.
Tetaplah berada di Bumi, menjadi orang-orang yang berpandangan luas bahwa bumi Allah ini memang sangat luas bagi makhluk sekecil manusia. Maka penghambaan kita pada Allah SWT dibarengi dengan pemahaman yang mendalam tentang Islam serta wawasan yang luas tentang problematika Umat. Untuk memiliki wawasan yang meluas tak cukup hanya dengan membaca buku atau mendalami teori tertentu saja. Sesekali bertualanglah, menjelajahlah di bumi Allah yang luas ini, bila perlu merantaulah untuk menguji seberapa tangguhnya ketahanan dirimu dan agar engkau juga menyadari betapa Allah mengatur dengan rapi segala urusan hidup kita. Tak ada yang tahu rezeki masing-masing manusia bisa jadi berada di tempat yang jauh dari kampung halamannya. Atau bisa jadi jodoh seseorang itu jauh berada dari kampong halamannya, bisa jadi di lain kota, di lain provinsi, di lain Negara, bahkan antar benua. Allah lah yang memegang segala urusan makhluknya, maka hendaknya manusia memasang niat di setiap aktivitas dan berprasangka baik di segala urusannya.

Tetaplah berada di bumi, alkisah sekelompok anak muda berjumlah enam orang sedang bertugas menjaga dan mengatur parkiran kendaraan di Masjid Muhammad Cheng Hoo Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan. Enam orang anak muda ini masih ada yang berstatus mahasiswa, ada pula yang sudah menjadi alumni, kesamaan mereka berenam adalah masih mengikuti liqa’ bahkan sejak dari SMA. Seperti biasanya di awal-awal Ramadhan jamaah Shalat Isya dan Tarawih membludak memenuhi masjid. Berbagai fenomena ketika menjaga dan mengatur parkiran kendaraan jamaah Masjid Muhammad Cheng Hoo dialami oleh anak-anak muda ini, ada orang-orang yang patuh dan tersenyum ramah ketika diatur posisi parkir kendaraannya, ada pula yang sedikit sulit diatur ketika memarkir kendaraannya. Ketika jamaah selesai melaksanakan shalat tarawih dan witir secara berjamaah keenam orang anak muda ini harus segera bersiap-siap mengatur kendaraan yang akan keluar agar bisa keluar dengan tertib. Namun ada saja yang tidak mengikuti arahan dari anak-anak muda ini, mungkin karena merasa lebih senior deri segi umur ataupun status sosial, mencoba menyalip kendaraan lain karena tidak sabaran untuk segera keluar dari area parkiran masjid. Akibatnya karena satu orang ini tidak mengikuti arahan,kendaraan lain coba mengikuti untuk menyalip sehingga arus keluar kendaraan menjadi kacau karena perbuatan satu orang saja. Sempat terjadi diskusi kecil antar anak-anak muda tadi membahas tentang perbuatan satu orang yang tidak mengikuti arahan sehingga arus lalu lintas kendaraan keluar masjid menjadi kacau, tentang perbuatan satu orang yang melanggar membuat orang-orang lain juga tidak segan ikut melanggar. Ya, kurang lebih seperti inilah gambaran umat manusia dalam pandangan Islam. Ketika manusia mencoba melanggar Syariat Islam maka dapat dipastikan yang terjadi adalah kekacauan dan ketidakseimbangan, apa lagi baru-baru ini kita sama-sama telah mendengar dan melihat dilegalkannya perkawinan sesama jenis di Amerika Serikat. Bagaimana mungkin manusia bisa menghasilkan keturunan dengan kawin sesamA jenis? Lagipula apa masih bisa disebut orang tua? Apalagi orang-orang yang tergolong transgender, Na’udzu billahi min dzallik. Ini jelas-jelas melanggar fitrah manusia yang diciptakan oleh Allah SWT secara berpasang-pasangan sebagaimana firman Allah dalam Quran Surah Ar-Rum Ayat 20-21 :

Dan di antara tanda-tanda ( kekuasaan) –Nya ialah Dia menciptakan kamu dari tanah, kemudian tiba-tiba kamu ( menjadi ) manusia yang berkembang biak (20) dan diantara tanda-tanda ( kebesara)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cederung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantara kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu, benar-benar terdapat (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir (Q.S. Ar-Rum, 20-21).

Tetaplah berada di bumi, begitu banyak pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh manusia, syirik dan bentuk kemaksiatan lainnya, ini jelas akan mengacaukan tatanan kehidupan manusia itu sendiri. Tetaplah berada di bumi, dengan memberi manfaat kepada sesama. Menjadi sosok yang keberadaannya di bumi tidak merusak tatanan kehidupan.

Tetaplah berada di bumi, kalaupun engkau tak bisa jua menjadi sosok yang memiliki secicip rasa surga maka cobalah engkau saingi sang pendosa dalam istighfarnya, cobalah menjadi sosok yang tak bangga dengan amal-amal yang hanya secuil, dan sosok yang selalu memperbaiki diri karena melimpahnya dosa-dosa. Sosok yang tak jumawa dengan karya-karya, sosok yang tak mudah putus asa karena menggunungnya dosa.
Tetaplah berada di bumi, karena kebathilan pasti akan tersingkir bila yang haq mendominasi didalam hati. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah, “…Maka, demikianlah keadaan hati, ia pun dapat tercampuri oleh syahwat dan syubhat. Akan tetapi, tatkala yang tumbuh berkembang dalam hati tersebut adalah al-Haq (kebenaran), maka syahwat dan syubhat pun akan sirna. Dan yang tersisa di dalam hati hanyalah keimanan dan Alquran yang bermanfaat bagi pemilik hati tersebut dan juga orang lain.”

Tetaplah berada di bumi, karena yang memberi manfaat akan tetap berada di bumi, dengan iman, ilmu, dan amal shalehnya. Yang memberi manfaat bagi sesama akan tetap berada di bumi meskipun sosoknya masih jauh dari sosok para pendahulu yang mampu menghadirkan secicip rasa surga di bumi ini. Yang memberi manfaat akan tetap berada di bumi, dicintai oleh keluarganya, orang-orang terdekatnya, disayangi oleh sahabat dan masyarakat tempat ia tinggal. Ilmu dan karya nyatanya begitu bermanfaat bagi orang lain, imannya yang mendalam begitu memotivasi orang-orang yang ingin memperbaiki diri. Maka tetaplah berada di bumi, mari renungkan dan tadabburi bersama Alquran Surah Ar-Ra’du Ayat 17 :

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (Q.S.Ar Ra’du : 17).


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/07/27/72180/tetaplah-berada-di-bumi/#ixzz3h580htyG 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Kamis, 11 Juni 2015

Percayalah Pada Dakwah!

Makassar, 10 Juni 2015, Ma'had Al-Birr
Oleh : Mohamad Khaidir

Ilustrasi. (modifikasi dari foto di: win4000.com)
Ilustrasi. (modifikasi dari foto di: win4000.com)kw
dakwatuna.com – Bila memandang langit terasa biasa saja, mungkin kita perlu introspeksi diri lagi dan lagi. Belakangan ini penulis lebih sering mengawali gagasan dengan membahas sedikit tentang langit. Oleh karena bagi orang-orang yang hidup di belantara perkotaan akan lebih senang memandang langit, dan menengok tumbuhan-tumbuhan hijau, sebab beton serta tembok perkotaan sudah sedikit membuatnya jenuh karena peliknya aktivitas sehari-hari di rimbunnya beton belantara perkotaan. Tetapi sekali lagi dari setiap aktivitas yang kita jalani sehari-hari akan menjadi durhaka seorang hamba bila tidak dibarengi dengan rasa syukur setinggi-tingginya. Cara bersyukur setinggi-tingginya adalah dengan menyelamatkan manusia dari jilatan api neraka, itulah dakwah. Bukan wajah dan dagu yang congkak, tetapi hamba yang merunduk serta bersyukur. Belajar merasai setiap nikmat yang telah diterima agar setiap nikmat dan puji syukur menjadi kekuatan iman. Atau mungkin kita terlalu sering mencela hari? Mengobral peluh? Sehingga setiap kondisi terasa menyesakkan? Barangkali kita perlu untuk menelisik lagi hati kita, apakah hati yang menjadi pengendali diri ini sudah lebih dominan kepada hal-hal yang menjauhkan diri dari mengingat Allah? Mau sampai kapan jauh dari Allah? Atau mungkin saja setiap hari engkau mendengar kumandang adzan, mendengar ajakan dakwah, tetapi pura-pura tak tahu atau masa bodoh dengan ajakan tersebut.

Dakwah adalah satu-satunya jalan! Percayalah! Sering muncul di kalangan intelektual pemahaman yang kaku dan sok intelektual tentang keilmuan. Seperti penulis sendiri yang berlatar belakang pendidikan Akuntansi, untuk apa menulis begitu banyak tulisan tentang renungan dan dakwah? Lalu apa yang salah dengan itu semua? Apakah dengan berdakwah melalui tulisan membuat penulis sendiri meninggalkan disiplin ilmu akuntansi? Nyatanya tidak, karena profesi penulis sendiri adalah seorang akuntan yang terus menerus belajar tentang akuntansi dan keuangan, pada saat yang sama juga terus belajar ilmu agama melalui majelis tarbiyah dan halaqah. Lalu muncul wacana pemisahan bidang-bidang disiplin ilmu yang digeluti dan dipelajari dengan persoalan dakwah dan keummatan. Bahwa sarjana pertanian hanya boleh bicara dan membuat tulisan persoalan pertanian saja? Bahwa sarjana pertanian hendaknya tidak berusaha mengaitkan ilmunya dengan ajaran Islam. Seorang sarjana kehutanan juga hanya boleh bicara persoalan kehutanan saja? hanya boleh membuat tulisan-tulisan dan artikel terkait bidang kehutanan saja? Lalu merasa tabu bila mengaitkan tentang hutan dengan ajaran islam, padahal tumbuh-tumbuhan, tanaman-tanaman, senantiasa memuji Allah SWT. Hanya saja penulis yakin orang-orang yang ingin memisahkan Islam dari bidang pertanian atau bidang kehutanan ini tak akan mempercayai tentang seluruh alam semesta yang senantiasa memuji Allah SWT, termasuk tumbuh-tumbuhan. Meskipun mereka yang cenderung memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama ini sombong dengan ilmu yang mereka miliki, meskipun sebenarnya ilmu mereka tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Ilmu Allah SWT.

Ketika forum-forum ilmiah berlangsung, ketika rapat-rapat umum berjalan, dan ada orang-orang yang berbicara tentang kebaikan, tentang agama, maka dengan ketus mereka menjawab, “Jangan bawa-bawa agama dalam forum ini!”, “Jangan bawa-bawa agama di sini!”. Sungguh sangat disayangkan mereka yang masih memiliki pemahaman seperti ini lalu merasa sombong dengan ilmu serta karya-karya yang telah mereka hasilkan, merasa telah berbuat sesuatu, tetapi sungguh amal mereka hanya bagai sawah yang sempat subur lalu seluruh padinya gugur dan layu. Mereka sedang kehilangan pijakan? Ya, itu kemungkinan terbesar yang dapat penulis simpulkan untuk sementara. Melalui tulisan ini penulis akan menyampaikan yang seharusnya, mengingatkan mereka akan Ke-Maha Besaran Allah, serta mengajak mereka kembali ke jalan yang benar. Sebab seberapapun banyak muatan kebaikan pada tulisan seorang hamba yang hina ini, betapapun lihai retorika dan sastra dalam tulisan seorang hamba yang tengah mengembara ini, Allah lah yang memegang hati para hambaNya, Allah lah yang memiliki kuasa atas segala makhlukNya.

Dakwah adalah satu-satunya jalan! Percayalah! Adalah sebuah gerakan dakwah yang membuat penulis kagum, gerakan dakwah yang merangkul semua kalangan, sebab gerakan ini sadar tengah mengemban amanah yang besar, amanah dakwah, dakwah yang sejati, tentang peradaban dan alam semesta. Maka yang bergabung dalam gerakan ini tidak hanya para lulusan ilmu agama saja, tidak hanya para Ustadz yang bergelar Lc saja, tidak hanya lulusan perguruan tinggi agama saja. Hampir semua disiplin ilmu memilih bergabung dalam gerakan ini, mereka yang sarjana ekonomi pembangunan, sarjana akuntansi, sarjana manajemen, sarjana ilmu sosial, sarjana administrasi, sarjana sosiologi, sarjana psikologi, sarjana pertanian, sarjana kehutanan, sarjana pendidikan geografi, sarjana pendidikan kimia, sarjana pendidikan matematika, sarjana pendidikan bahasa inggris, sarjana kimia, sarjana sains, serta ratusan bidang disiplin ilmu yang tak akan cukup bila disebutkan satu persatu pada tulisan ini. Sebagaimana nilai-nilai Islam yang universal, menyentuh segala aspek hidup, intelektual muda yang bergabung dalam gerakan ini berdakwah meskipun ia adalah seorang karyawan swasta, tetap berdakwah meskipun ia seorang guru sekolah, tetap berdakwah meskipun ia seorang arsitek, tetap berdakwah meskipun ia seorang akuntan, tetap berdakwah meskipun ia seorang politisi, tetap berdakwah meskipun ia seorang penyanyi, tetap berdakwah meskipun ia seorang apoteker, tetap berdakwah meskipun ia seorang auditor, tetap berdakwah meskipun ia seorang dokter, tetap berdakwah dan terus berdakwah. Mereka tengah mempersiapkan kemenangan Islam di masa mendatang, tengah mempersiapkan generasi yang profesional dalam setiap bidangnya, sehingga lahirlah para pejuang dakwah dari bemacam-macam profesi serta dari berbagai kalangan.

Masih memilih untuk berpijak pada teori-teori konvensional tentang bagaimana berkarya dan menjalani hidup? Masih sering terjebak dalam kegiatan-kegiatan organisatoris namun tidak dilandaskan pada niat yang baik? Ingatlah bahwa niat yang baik saja belum cukup, sebab Allah Maha Baik dan hanya menerima yang baik-baik saja. Niat yang baik, disertai dengan cara yang baik, proses yang baik, bukan terbaik menurut dirimu sendiri, tetapi menurut ukurun penciptaMu. Ibarat sebuah pabrik yang memiliki bahan baku yang baik, mesin yang optimal, karyawan yang disiplin, manajemen yang baik, proses produksi yang baik, maka produk yang dihasilkan akan menjadi baik. Cara yang terbaik di era modern seperti sekarang ini adalah dengan terlibat dalam aktivitas dakwah dan tarbiyah.

Dakwah adalah satu-satunya jalan! Percayalah! Dari dakwah kita bisa belajar dari para pewaris nabi tentang dakwah sebagai jalan hidup, tentunya diawali dengan niat yang baik. Ukuran niat yang baik, cara yang baik, serta proses yang baik tak akan kau dapatkan dari para selebritis atau artis-artis terkenal. Indikator niat yang baik, cara yang baik, serta proses yang baik hanya dapat engkau dapat dari Rasulullah SAW, sepeninggal Rasulullah SAW pun Ummatnya masih dapat mengambil saripati kebaikan dari para salafunash shalih dan dari para ‘alim’ulama. Indikator kebaikan bukan didapat dari para orang-orang yang katanya aktivis tapi kerjanya hanya menjelajahi harakah, mengkritisi gerakan-gerakan dakwah tanpa melihat diri sendiri yang begitu kecil karena tak mau berjama’ah, mau berdakwah atau hanya main-main ?! Jangan sampai niat yang baik terkotori oleh setitik noda, tidak menjamin meskipun dia adalah seorang aktifis di lembaga dakwah, sebab bisa jadi chatting yang berlangsung di dunia maya antara lawan jenis lalu membahas urusan-urusan yang tidak penting?! Lalu orang-orang yang katanya ingin berdakwah lewat sosial media dengan bebasnya saling mengomentari status, bercanda, saling tegur sapa secara berlebihan?! Ingatlah bahwa hal ini dapat membuat hatimu tertutupi segunung noktah noda dosa!! Lalu engkau menganggap masih menjalani aktivitas dakwah?! Na’udzubillah. Untuk membentuk niat yang baik diperlukan latihan terus menerus, untuk mengetahui cara dan proses yang baik bergurulah kepada para ‘alim ‘ulama.

Dakwah adalah satu-satunya Jalan! Percayalah! “Dakwah akan terus berjalan, dengan atau tanpa kita”, begitu ucap Syaikh Mustafa Masyhur. Dakwah akan terus bergaung ke seluruh tempat di bumi ini, dakwah akan terus meluas menembus tebalnya tembok belantara perkotaan, dakwah akan terus menyebar sampai ke pelosok-pelosok terpencil, dakwah akan terus bergema dari tepi sungai hingga puncak gunung, dakwah akan terus tersebar dari tepi pantai hingga hutan belantara, dakwah akan terus diserukan hingga Islam tegak di hati manusia, dakwah akan terus berjalan meskipun para ‘ulama dan pemimpinnya terus dibunuhi dan dipenjara, dakwah akan terus ditulis hingga bertumpuk-tumpuk kitab, dakwah akan terus ditulis hingga berbanyak-banyak artikel, dakwah akan terus diucap dari lisan para dai yang berbeda-beda latar belakang, dakwah akan terus diserukan lisan para dai dari berbagai bidang disiplin ilmu, dakwah akan terus dikoarkan dari lisan para dai yang berasal dari semua kalangan, dakwahlah akan menghantarkan manusia dari penghambaan kepada sesama menjadi penghambaan hanya kepada Allah SWT. Percayalah dengan sebenar-benarnya percaya, dengan segenap Iman, Iman yang menghujam nurani dan mengejawantah dalam sikap dan perilaku, bahwa Allah akan terus menyempurnakan CahayaNya meskipun para musuh Allah tidak menyukainya. Percayalah pada Dakwah!



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/06/10/69914/percayalah-pada-dakwah/#ixzz3coDdaC4N 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook