This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Jumat, 14 April 2017

Inilah Era Baru Dakwah Kampus!!


Dulu, dulu, dulu, mungkin itu dulu sekali, dulu dimasa lampau, atau mungkin dulu beberapa tahun yang lalu, lima tahun yang lalu, tiga Tahun yang lalu. Apakah hanya itu yang engkau andalkan, hanya mengandalkan romantisme di masa lalu, untuk mengkritik sesuka hati. Padahal sekarang eranya sudah berbeda, zamannya sudah berbeda, tak lagi sama dengan yang dulu. Generasinya adalah generasi yang baru, anak-anak muda yang kreatif dan inovatif, yang idenya terus melanglang buana, yang gagasannya menembus tingginya langit, yang semangatnya seakan tak pernah padam. Mereka generasi baru yang hidup di Era Baru Dakwah Kampus, maka Narasi Dakwah Kampus nya juga harus berbeda, berbeda dalam hal sarana, berbeda dalam aspek operasionalnya, sebab merekalah generasi baru dakwah kampus, generasi yang punya narasi, namun tak pernah lupa bahwa esensi dari dakwah kampus adalah mengajak masyarakat kampus kepada indahnya Islam, mengajak civitas akademik agar meng-Esa-kan Allah saja, dan tetap menjunjung tinggi kultur keilmiahan di kampus, sangat toleransi kepada non-muslim.



Generasi Dakwah Kampus, telah memasuki era baru, era dimana karakteristik pemudanya adalah karakter yang baru, karakter yang segar akan ide dan gagasannya, karakter yang kreatif dan inovatif, pemuda-pemudi yang menjadikan Islam sebagai The Way of Life, mereka inilah para pemuda-pemudi pejuang dakwah kampus, generasi baru dakwah kampus. Kini eranya lembaga dakwah kampus hanya menjadi salah satu sarana, salah satu sarana untuk mensosialisasikan perjuangan dakwah kampus. kini eranya berbeda, para pejuang dakwah kampus bisa menggunakan sarana atau lembaga yang lain, banyak sarana-sarana lain yang bisa dijadikan wadah perjuangan dakwah kampus, dengan ide dan kreatifitas para pejuang dakwah kampus, generasi baru dakwah kampus. Sekarang sudah bukan zamannya lagi senior-senior dakwah kampus tongkrongin sekretariat lembaga dakwah kampus lalu berkata, "kami dulu seperti ini, kami dulu seperti itu, Ukhuwahnya luar biasa”, sekarang sudah berbeda zaman Bung! Beda Zaman, Beda Subjek, Dunia sudah Berubah, maka metode harus diperbarui, metode dakwah harus memperhatikan fiqhul waqi'. Romantisme masa lalu terhadap dakwah kampus zaman dulu ini sebaiknya dihindari, sebab para pejuang dakwah kampus yang dulu beda tantangan dengan pejuang dakwah kampus di era baru yang terus membaca kegelisahan zaman dan mencipta narasi baru dakwah kampus. Romantisme masa lalu dakwah kampus ini di satu sisi bisa menginspirasi, disisi yang lain ide-ide gerakan menjadi tumpul, daya cipta dan kreatifitas terhalangi oleh sekat romantisme masa lalu, ayolah para generasi dakwah kampus, waktunya move on! Narasi baru dakwah kampus sangat di butuhkan, dan sekarang bukan lagi zamannya para generasi dakwah kampus sibuk menyalahkan, sibuk mengingkari, ini salah, itu salah, ini Bid’ah, itu Bid’ah, memang hal ini adalah kewajiban, kewajiban beramar ma’ruf nahi munkar, tetapi dalam metode penyampaiannya perlu ide-ide yang segar, ide-ide yang baru, metode yang sesuai dengan konteks kampusnya, cara penyampaian yang sesuai dengan kultur mahasiswa-mahasiswinya, santun, sopan, mengena dihati para objek dakwah. Sehingga ajakan-ajakan untuk mentauhidkan Allah semata menginspirasi orang-orang untuk kemudian berubah, memotivasi orang-orang untuk menjadi lebih baik, menggerakkan orang-orang untuk turut menjadi pejuang dan pembela Agama Allah.



Dakwah kampus, adalah salah satu peluang bagi para civitas akademika di kampus untuk semakin dekat kepada Allah SWT. Melalui dakwah kampus Islam bisa dipelajari secara komprehensif, melalui halaqah pekanan, kajian-kajian keislaman yang rutin, ajaran Islam menjadi jelas sejelas-jelasnya, tuntunan agama ini menjadi terang seterang-terangnya, bahwa agama islam ini adalah agama yang universal. Bahwa agama Islam yang mulia ini bukan sekedar agama ritual, yang dalam setiap ibadahnya punya esensi untuk mengubah individu, individu yang lebih baik, individu yang lebih berkarakter, punya kemampuan untuk mengubah masyarakat, dimulai dari dirinya sendiri. Perubahan memang harus dimulai dari diri sendiri, begitulah para pemuda dan pemudi idealis ini berhimpun dan bersaudara karena aqidah, bergerak bersama karena dakwah, bergerak untuk mencerahkan setiap orang, bergerak untuk menyampaikan ajaran Islam sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW, “Sampaikanlah Walau Satu Ayat”. Islam yang menyeluruh aspeknya diajarkan dalam pertemuan-pertemuan setiap pekan, melalui pertemuan setiap pekan serta kajian-kajian rutin, secara bertahap Islam di ajarkan sebagai agama yang sejatinya bukan agama yang pasif, mengakar dalam pemahaman para anak muda ini. Melalui pertemuan setiap pekan juga disampaikan kenyataan yang memilukan, kenyataan memilukan tentang kondisi Ummat manusia saat ini, yang mengalami dekadensi moral karena faktor destruktif yang sulit dicegah. Islam agama yang sempurna, oleh musuh-musuh Allah coba dikurangi jumlah pejuang-pejuangnya, dengan menanamkan bahwa Islam hanya sekedar Ibadah, Islam hanya sekedar Beribadah di Masjid saja, Islam diajarkan sebagai agama ritual semata, bahkan para pemuda-pemudi islam berusaha dijauhkan dari ajaran Islam itu sendiri, di jauhkan dari Al-Qur'an dan Sunnah. Pertemuan pekanan yang dijalani para pemuda-pemudi ini membangkitkan semangat mereka untuk berbenah diri, semangat untuk berdakwah, semangat untuk menyebarkan pemikiran, menyebarkan fiqrah dakwah, mencipta sebuah narasi yang baru, narasi yang baru di era dakwah kampus yang baru, bahwa era yang dihadapi saat ini adalah era baru, era perang pemikiran, era baru dakwah kampus yang metode dan sarananya harus terus menemukan cara-cara paling kreatif untuk menarik minat para objek dakwah, untuk memeluk dan menjalankan agama Islam, secara totalitas, secara komprehensif.



Era baru dakwah kampus telah tiba didepan mata, mengharuskan para pejuang dakwah di sektor kampus harus membekali diri dengan sebaik-baik bekal, karena sebaik-baik bekal adalah Taqwa. Para pejuang dakwah kampus harus mempersiapkan dirinya dengan ilmu yang mumpuni, ilmu agama yang harus terus dipelajari tanpa kenal lelah, ilmu agama diatas rata-rata masyarakat pada umumnya, agar bisa menyampaikannya serta mengajarkannya, membimbing masyarakat kedalam manis dan harumnya aura Keindahan Islam. Target semakin luas, bukan saja para pemuda-pemudi shaleh yang akan menjadi target rekrutmen dakwah, para pejuang-pejuang dakwah kampus juga harus memikirkan strategi tentang bagaimana merekrut para pemuda yang berkompetensi dibidang akademiknya masing-masing, serta memiliki life skill yang layak diperhitungkan. Sebab kompetensi, kapasitas, dan kemampuan para pemuda-pemudi potensial, para mahasiswa-mahasiswi berprestasi ini, bisa dimanifestasikan untuk kepentingan dakwah, bisa turut berkontribusi untuk menegakkan agama yang mulia ini, bisa ikut memberi sumbangsih pemikiran, tenaga, dan jiwa agar Cahaya Allah bersinar di Bumi Kampus, bersinar disetiap Fakultas, menerangi seluruh penjuru Universitas, sebab Allah akan terus menyempurnakan CahayaNya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.



Menyelenggarakan event positif nan kreatif di kampus adalah salah satu dari sekian banyak cara untuk menerjemahkan agama Islam ini sebagai Agama yang Mulia, Agama yang tak kaku, Agama pembaharu, satu-satunya Agama yang kuat landasan Aqidahnya, Kokoh landasan Tauhidnya, mengakar landasan Ketuhanannya, melepaskan  segala belenggu yang mengikat ummat manusia, membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia, penghambaan kepada materi, menjadi penghambaan hanya kepada Allah saja, serta mengakui Muhammad SAW sebagai Manusia pilihan Allah, Utusan Allah, baik perilaku, sikap, perkataan, sifat, dan perbuatannya, sehingga Baginda Rasulullah SAW pantas diberi predikat Teladan Terbaik sepanjang sejarah peradaban ummat manusia, Teladan terbaik yang tak tergantikan hingga saat ini. Menghijrahkan berbagai idola-idola palsu anak muda, yang memuliakan dan mengagung-agungkan manusia yang sesungguhnya punya banyak celah, kelemahan, dan kekurangan. Para pemuda-pemudi kampus yang cenderung mengidolakan seorang tokoh, seorang public figure, yang memiliki pemikiran-pemikiran bagus menurut pandangan mata, mempunyai kemampuan dan tampilan fisik yang bagus, mempunyai suara yang indah, segala hal yang bersifat materi, segala sesuatu yang bersifat sementara, begitu mudahnya dikagumi oleh para pemuda-pemudi kampus. Yang sesungguhnya, dan seharusnya, kita mengidolakan Rasulullah SAW, kita meneladani Rasulullah SAW, mempelajari Sirah Nabawiyah, lalu kita bercita-cita untuk bertemu dengan Teladan Terbaik suatu saat nanti. Sebaiknya kita mengidolakan Rasulullah Muhammad SAW sebagai Manusia yang paling sempurna akhlaknya, manusia yang paling mulia, agar kelak datang suatu hari dimana kita semua akan bertemu dengan orang yang kita cintai. Maka jika kita mencintai Rasulullah Muhammad SAW, meneladani Beliau, menjalankan Sunnah-sunnah Beliau, yakinlah engkau akan dipertemukan dengan Baginda Nabi SAW, pertemuan yang dinanti-nantikan oleh para aktifis dakwah, pertemuan yang sangat di nantikan oleh Para Pewaris Nabi dan para Perindu Rasul, agar kelak mendapatkan syafaat dari Allah SWT melalui Rasulullah SAW, tampaknya hal ini sudah menjadi trend dikalangan para pemuda-pemudi shaleh, para mahasiswa-mahasiswi aktifis, pejuang dakwah kampus. Namun bila yang engkau idolakan adalah selain Baginda Nabi SAW, bisa jadi yang engkau temui di Hari Akhir nanti adalah selain Baginda Nabi SAW. Kecintaan kepada Rasulullah SAW inilah yang ingin disampaikan para Aktifis Dakwah kepada masyarakat kampus.



Era Baru telah menjelang, para pejuang dakwah kampus harus berpikir strategis, bertindak secara produktif, agar kegiatan-kegiatan dakwah yang dilaksanakan di kampus memiliki visi dan misi yang jelas, agar setiap kegiatan-kegiatan yang di selenggarakan para pejuang dakwah kampus bukan sekedar mengejar popularitas lembaga dan keterkenalan pribadi semata, agar kegiatan-kegiatan yang digagas oleh para pejuang dakwah kampus mempunyai konsep yang matang, konsep yang terintegrasi dalam rencana strategis, rencana-rencana jangka pendek dan rencana-rencana jangka panjang, yang substansinya adalah mengajak masyarakat kampus untuk semakin mendekat dan berserah diri kepada Allah SWT semata, tanpa menyekutukanNya sedikit pun, lalu meneladani Rasulullah Muhammad SAW dalam menjalankan agama Islam, membela agama Islam ketika agama ini dinistakan, apalagi bila sampai Kitab Suci dihinakan, bila 'Ulama di caci dan dihina, agar dikalangan civitas akademika terbentuk pemikiran yang berafiliasi kepada dakwah, pembelaan terhadap Agama dan 'Ulamanya, cenderung kepada kepentingan-kepentingan ummat, cenderung kepada nilai-nilai kebenaran, mengarah kepada penegakkan ajaran Islam, dengan metode yang kreatif, inovatif, dan masif, baik dunia nyata maupun didunia maya, serta di alam pemikiran, karena sebuah tindakan atau tingkah laku berawal dari alam pemikiran, inilah Era Baru yang akan kita songsong bersama, dengan semangat membara, semangat memperjuangkan dan membela agama ini, semangat menyebarkan dakwah, substansi ajaran Islam, Islam yang komprehensif, Islam yang Universal, Selamat datang di Era Baru Dakwah Kampus! Inilah Era Baru Dakwah Kampus!

Minggu, 22 Januari 2017

Jangan Jadi Pemuda Tanpa Narasi !

dakwatuna.com – Zaman semakin deras, pertarungan semakin panas, siasat harus semakin cerdas, cara berpikirpun harus dengan wawasan yang luas, agar engkau segera menghilangkan segera rasa malas dan memelas, untuk segera berjuang dan bergegas. Pertarungan dan pergulatan semakin meluas, daya jangkau nya seakan tanpa batas, pergulatan ide tak hanya soal cerdas dan tegas, tetapi juga tentang siapa lebih dulu yang bergegas, adu gagasan pun tak kunjung lepas, terus bertarung gagasan pun tak kenal panas, ini terlalu rumit dan seakan meretas, meretas jejak sejarah dari zaman atas, zaman terbaik yang pernah ada dan berbekas, berbekas di benak, hati, dan pikiran cerdas, melalui literasi tak kenal lelah dan pantas, pantas untuk dijadikan teladan dalam artian yang luas, teladan terbaik sepanjang zaman, yang mengikuti kehendak zaman, sehingga yang terjadi adalah perubahan, karena perubahan adalah keniscayaan. Saat sedang menulis paragraf ini, ide sedang mengalir dengan sangat deras, ide yang muncul dari kegelisahan akan zaman, ide yang terpercik dari semangat untuk perbaikan, semangat untuk perubahan, yang terus bergejolak dalam diri, lalu mulai menulis tentang ide-ide segar, ide-ide agar terus berjuang, karena sejatinya kita adalah para pejuang.

Menjadi pejuang adalah fitrah manusia, sejak kita masih di dalam kandungan, Ibu kita sudah berjuang, berjuang menyesuaikan diri karena perubahan hormon, berjuang menahan rasa sakit ketika kontraksi hingga melahirkan. Ayah kita pun berjuang, menafkahi Ibu kita yang membagi nutrisi untuk tubuhnya dan janin, ayah kita berjuang memenuhi kebutuhan, memastikan setiap suap makanan adalah makanan yang halal lagi baik, agar tumbuh generasi yang terbaik,  generasi muda yang memiliki narasi, narasi-narasi kebaikan. Berjuang adalah suatu keharusan bagi setiap diri manusia, entah ia berjuang untuk dirinya sendiri, untuk keluarganya, atau untuk masyarakat dan bangsanya. Berjuang adalah suatu keharusan, apalagi saat ini kita menyaksikan fenomena Clash of Civilization seperti yang pernah di prediksi oleh Samuel P Huntington. Benturan-benturan serta gesekan-gesekan mulai terjadi, antar ideologi, antar komunitas kultural, antar kepentingan politik, antar oknum-oknum yang menginginkan benturan ini terjadi. Maka sudah sepantasnya kita untuk bangkit dan bersiap diri, mempersiapkan bekal dan kemampuan agar tetap bisa survive, tetap bisa berkarya, tetap bisa berkontribusi, untuk bangsa yang kita cintai ini, bangsa yang penulisan sejarahnya mengalami distorsi, peran para santri dan ‘ulama seperti di hilangkan dari perjuangan bangsa Indonesia melawan imperialis, bangsa yang majemuk, bangsa yang ingin tetap kita pertahankan eksistensinya di panggung peradaban dunia, bangsa yang masih berusaha mencari identitas kebangsaannya. Karena sungguh bangsa ini sedang mencari narasi besar, narasi negeriku, narasi besar Indonesia.

Menjadi pejuang adalah pilihan yang harus di ambil oleh para pemuda saat ini juga, pemuda yang punya narasi, tentunya narasi yang dimiliki pemuda ini narasi yang bersifat positif, narasi yang teruji, narasi yang terbimbing jalannya, narasi yang jelas tujuannya, sejelas langit di siang hari yang terik, tak tertutupi oleh satu pun kebohongan dan kepalsuan. Disisi lain engkau akan menemukan fenomena unik, yaitu sebagian besar pemuda tak memiliki narasi, jumlah mereka sangat banyak. Pemuda tanpa narasi cenderung individualis, sangat mementingkan diri sendiri, sangat mementingkan persepsi sendiri meskipun mungkin yang diyakininya adalah relatif, keakuannya sangat dominan, saking individualis, ego sendiri lebih diutamakan, sehingga tak jarang mereka menyerah dengan keadaan, karena menyerah dengan keadaan dan tak punya keinginan untuk merubahnya, para pemuda tanpa narasi ini pun menjadi apatis, acuh dengan kondisi kekinian, tak peduli lingkungan sekitar, sense of care seakan menghilang dari diri pemuda tanpa narasi.

Pemuda tanpa narasi, jumlah mereka banyak, karena jumlahnya banyak, mereka merasa nyaman saja dengan kondisi tersebut, akibatnya para pemuda ini lemah motivasi, lemah orientasi. Lemah motivasi karena tak tahu apa yang diperjuangkan dan untuk apa berjuang. Lemah orientasi karena ketidakpedulian terhadap realitas masyarakat, mudah menyerah dengan keadaan. Pemuda tanpa narasi juga bisa saja menjadi sebab tidak produktifnya bonus demografi, Indonesia yang sebentar lagi akan menyongsong era gelombang ketiga, dimana salah satu cirinya adalah penduduk didominasi oleh usia muda. Pemuda tanpa narasi terus bergelut dengan hal-hal yang tak penting, ini karena mereka mengalami kekosongan narasi, gelisah tanpa ujung menjadi ciri utama pemuda tanpa narasi. Kegelisahan terjadi karena lemah motivasi dan lemah orientasi, bahkan mungkin hilang motivasi dan hilang orientasi, bingung apa yang harus dilakukan, lalu kegelisahan para pemuda tanpa narasi pun berlarut-larut, kegelisahan pemuda tanpa narasi pun  semakin menjadi-jadi. Pemuda tanpa narasi lupa bahwa segala sesuatu ada yang menciptakan, ada yang mendesain. Pemuda tanpa narasi menjadi lupa diri, malas untuk bergerak, isu-isu keummatan, isu-isu kebangsaan, isu-isu kesejahteraan sosial, isu-isu ketimpangan ekonomi, isu-isu ideologi transnasional, tak dapat di jangkau oleh mereka, pemuda tanpa narasi tak mampu menganalisa berbagai fenomena ini, bahkan mungkin bila terjadi benturan, mereka memilih lari dari benturan ini, sungguh tak pantas bagi kita pemuda Indonesia mengikuti perilaku, sifat, dan sikap para pemuda tanpa narasi ini.

Narasi menjadi hal yang penting untuk keberlanjutan roda pembangunan bangsa, namun kebanyakan dari kita memang tak punya keinginan untuk mencipta narasi, tak punya keinginan untuk mempelajari narasi yang sudah ada, narasi-narasi perubahan, narasi-narasi pembaruan, narasi-narasi yang terus berkembang dalam aspek operasionalnya dan tetap pada prinsip yang kokoh. Narasi-narasi positif yang akan mengubah seisi bumi, narasi-narasi positif yang akan mengubah cara pandang ummat manusia terhadap berbagai persoalan yang ada, tentang hakikat kehidupan seutuhnya, tentang peran dan tugas manusia sesungguhnya, yaitu sebagai pemimpin di muka bumi ini. Maka lahirlah para pemuda yang punya narasi, para pejuang yang berlandaskan narasi dalam perjuangannya, narasi yang telah terbukti kedigjayaannya, narasi yang telah terbukti kesuksesannya, narasi yang telah terbukti eksistensinya, pun masih harus disesuaikan dengan kondisi kekinian dan kedisinian. Para pemuda yang punya narasi ini tidak seperti pemuda tanpa narasi, pemuda bernarasi ini terus belajar didalam hidupnya, berusaha menjadi quick learning, memandang dan membaca sejarah perjuangan Bangsa Indonesia, yang penulisan sejarahnya banyak mengalami distorsi, sehingga peran para ‘Ulama dan santri tak ditulis dalam literatur dan referensi sejarah, literatur dan referensi sejarah yang digunakan dalam kurikulum pembelajaran. Para pemuda bernarasi ini paham benar akan sejarah, bahwa disetiap masa akan berbeda tantangannya, disetiap masa akan berbeda ujian dan cobaannya, maka metode dan sarana harus terus mengalami penyegaran, menyesuaikan dengan realitas alam perjuangan yang akan dihadapi.

Pemuda tanpa narasi adalah ide pokok dari sebuah gagasan singkat ini, bahwa keberadaan mereka hanya akan memperlambat gerbong bangsa ini berjalan menuju tujuan luhurnya, bahwa setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia Tahun 1945, perjuangan akan terus berlanjut, perjuangan akan terus ada, para pejuangnya juga akan terus ada, dan pemuda tanpa narasi belum terlambat untuk segera berbenah diri lalu mengambil satu narasi dan ikut pula berjuang bersama para pejuang sejati. Pemuda tanpa narasi tak peka membaca keadaan, mereka juga tak terlalu berminat untuk membaca sejarah para pendahulunya, tak pula membaca sejarah tentang peradaban dunia, padahal begitu pentingnya mempelajari sejarah yang ada, untuk mengambil pelajaran, untuk mengambil bekal, untuk memetik nilai-nilai perjuangan dimasa kini dan masa yang akan datang. Pemuda tanpa narasi akan terus merasa nyaman dengan kondisi ini, bahkan tidak sedikit dari mereka yang terbuai dengan games online, Narkotika dan Obat-obatan terlarang, serta faktor destruktif lainnya yang tentu akan meredupkan masa depan para pemuda, masa depan bangsa Indonesia seperti tak akan bercahaya bila para pemuda tanpa narasi tidak segera mengambil sikap untuk berubah seutuhnya, berubah dengan tak terburu-buru, mengikuti proses dan alurnya, karena percayalah perubahan yang sifatnya instan tidak akan bertahan lama. Pemuda tanpa narasi harus segera menyiapkan di relung hatinya sebentuk tekad, tekad untuk berubah, tekad untuk berjuang, berjuang bersama-sama para pemuda pejuang, menjadi batu bata peradaban, berkontribusi agar bangsa ini kembali tersenyum karena para pemudanya adalah para pemuda yang produktif, para pemuda yang punya narasi, para pemuda yang punya nilai-nilai perjuangan. Yang lebih parahnya lagi, para pemuda tanpa narasi ini tak punya bahan atas apa yang ia kerjakan, tak punya orientasi dalam hidupnya, bahkan sering mencela para pemuda pejuang, sering mencemooh para pemuda yang punya narasi, jangan jadi pemuda tanpa Narasi! (dakwatuna.com/hdn)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2017/01/17/85021/jangan-jadi-pemuda-tanpa-narasi/#ixzz4WYKOgHqM 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Kamis, 24 November 2016

Karena Bingkai Kita Adalah Media Sosial

Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Karena bingkai kita adalah media sosial, maka mungkin kita terlalu sering terburu-buru dan ceroboh mengambil keputusan. Tak bijaksana dan tak bijaksini menjadi kebiasaan kita, menganggap hal-hal yang temporal adalah sesuatu yang keren, sehingga bila tak melakukannya maka kita akan menjadi orang yang tak keren, begitu mungkin pandangan kita. Lalu engkau akan mulai merasakan kehampaan pada sesuatu yang engkau senangi, mungkin engkau telah memilih bingkai yang kurang tepat. Ya, mungkin saja engkau sedang memakai bingkai yang kurang tepat. Bingkai tersebut mungkin saja cara berpikir, cara bertindak, landasan dan prinsip hidup, tujuan hidup, dan lain sebagainya. Maka bagaimanakah cara memilih bingkai yang tepat?
Bingkaiku mungkin saja tak seperti bingkaimu, ya, sangat mungkin. Misalnya bingkai cinta, ini tentang cara memandang cinta. Pada umumnya orang-orang menganggap cinta hanya soal kemesraan saja, hanya romantisme yang dijaga terus menerus, sehingga sudah menikah ataupun belum menikah, boleh-boleh saja untuk bermesraan. Mungkin banyak yang memilih bingkai cinta yang seperti ini, bingkai yang sebagian besar orang cenderung kepada bingkai cinta model seperti ini. Padahal boleh jadi bingkai cinta semacam ini adalah salah dan tersesat dalam memaknai arti cinta yang sesungguhnya. Akad adalah deklarasi cinta yang amat sangat kokoh, karena Allah yang menjadi Saksi.

Akad juga adalah sebuah pembuktian cinta, karena berani mencintai maka berani bertanggungjawab, Berani mencintai maka berani melayani, Berani mencintai maka berani memimpin, Berani mencintai maka berani berjuang, berjuang untuk membuktikan cinta, berjuang untuk seseorang yang pantas diperjuangkan karena ia juga turut berjuang, berjuang dengan jiwa, raga, dan harta, berjuang untuk mengumpulkan uang panaik bagi suku Bugis, berjuang untuk memenuhi takaran Mayam bagi Orang Aceh. Jangan kau rendahkan cinta dengan tak mau berjuang, jangan kau rendahkan cinta dengan menikmati sesuatu yang belum diperbolehkan secara agama maupun secara legal formal, jangan au rendahkan cinta dengan takut sebelum berjuang, sebab yang pantas engkau takuti hanyalah Allah. Namun yang terjadi, justru Cinta hanya di anggap romantisme belaka, cinta di terjemahkan sebagai pemuasan syahwat saja, akhirnya cinta pun terdefinisi secara parsial. Memang benar cinta itu tentang romantisme, memang benar cinta itu tentang pemuasan syahwat, tetapi jangan lupa, cinta tidak sesederhana itu, cinta pada laki-laki pada umumnya mengarah kepada hubungan seks, sedangkan cinta pada perempuan berbentuk psikis, maka berhati-hatilah memilih bingkai cintamu.

Bingkai inilah yang kemudian menjadi patron hidup kita, maka sebaiknya engkau lebih cermat lagi memilih bingkai. Ada pula bingkai akal, sebuah cara pandang akal atas segala sesuatu yang terjadi. Jangan sampai pikiran-pikiran liarmu kau jadikan bingkai berpikir, jangan sampai prasangka burukmu kau jadikan landasan berpikir dan bertindakmu. Bingkai akal adalah soal keilmuan, soal keilmiahan. Metode keilmiahan yang masih sangat orisinil contohnya adalah metode periwayatan Hadits, yang lemah ingatan pun bisa jadi di ragukan sebagai perawi Hadits. Maka seharusnya sosial media tak menjadi bingkai berpikir kita, maka seharusnya kata-kata mutiara yang berseliweran di facebookinstagram, ataupun akun twitter kita tak menjadi landasan berpikir kita tanpa di teliti dan di pelajari dulu kevalidannya. Engkau harus banyak membaca, banyak menelaah, bahkan bila perlu engkau butuh mentor dalam proses belajar, sebab belajar bukan hanya dari buku dan literatur tetapi juga butuh guru yang mengajarkan pengalaman serta metode yang benar. Lalu bagaimanakah bingkai akalmu? Masihkah belajar ilmu agama dari facebook yang belum di pastikan kevalidan sumbernya? Masihkah belajar dari kata-kata mutiara di instagram yang engkaupun belum pernah melihat sumber kitab aslinya? Masihkah segan, malu, dan takut bertanya? Takut untuk berubah? Padahal menuntut ilmu agama adalah kewajiban setiap muslim, dan mempelajarinya perlu mentor, perlu bertanya pada para ‘Ulama.

Karena mungkin bingkai kita hanyalah sosial media, sehingga bingkai perjuangan kita pun hanya seperti itu. Sungguh memprihatinkan, berjuang hanya untuk hal-hal yang berkaitan dengan perut saja, atau dalam hal ini sering disebut materialisme. Ini bukan soal penilaian hitam dan putih atau benar dan salah, ini sangat kompleks, tetapi yang lebih penting dari bingkai perjuangan adalah tetap berjuang. Memilih tempat untuk perjuangan, memilih gerakan untuk berjuang bersama, juga merupakan proses pencarian jati diri, tetapi yang paling penting menurut penulis pribadi adalah bagaimana perjuangan ini tetap membawa Risalah Islam dan berafiliasi kepada kepentingan Umat Islam dalam gerakan perjuangannya. Karena bila perjuangan hanya ingin mencapai kesejahteraan masyarakat saja, hanya ingin mewujudkan stabilitas ekonomi saja, maka apa bedanya kita dengan bangsa-bangsa Barat yang sekarang sedang meluncur secara perlahan menuju keruntuhan peradaban, karena kita juga harus memahami bahwa kejayaan dan kehancuran itu dipergilirkan. Dan yang lebih memprihatinkan lagi adalah mereka yang tak berjuang, karena tak memiliki bingkai, hanya mengkritik, tanpa memberi solusi yang konkret, tak juga memberikan kontribusi kecuali komentar-komentar sinis nan tajam.
Karena tak memiliki bingkai maka sosial media yang menjadi bingkainya, karena bingkaimu adalah media sosial. Ibarat sapi yang datang masuk ke sebuah ladang untuk memakan rumput, maka mereka yang memiliki bingkai yang jelas akan turut berkontribusi, memberikan solusi bagaimana tindakan agar sapi tersebut selamat dan ladang juga selamat, win-win solution. Beda dengan mereka yang tak memiliki bingkai, mungkin saja mereka akan membiarkan sapi melahap rumput yang berada di ladang sehingga kerusakan yang terjadi, diam tak berarti. Malah mungkin mereka yang tak memiliki bingkai ini, atau sebut saja mereka punya bingkai media sosial ini hanya asyik meng-upload foto atau kejadiannya, lalu sibuk berkomentar sinis tanpa kerja nyata.

Karena bingkaimu adalah media sosial, maka setidaknya engkau harus mulai berubah dan segera memilih bingkai yang tepat, yang moderat, yang relevan dengan kondisi keindonesiaan, kondisi kekinian dan kedisinian. Karena bingkai cintamu adalah media sosial maka tak ada gairah bagimu untuk memperjuangkan cinta yang sesungguhnya, cenderung memikirkan yang enak-enaknya saja tanpa mau memperjuangkan cinta sejati, cinta seutuhnya, karena anugerah cinta dari Sang Maha Cinta adalah pelaminan dan keluarga sakinah. Karena bingkai akalmu adalah media sosial maka engkau tak pernah membuka literatur asli, hanya mengandalkan media sosial saja sebagai tempat mencari ilmu, menuntut ilmu pengetahuan, tanpa berusaha mencari tahu kevalidannya, seharusnya dengan sarana dan prasarana media sosial yang semakin berkembang ini mampu engkau manfaatkan belajar secara cerdas dan tetap menghidupkan kultur keilmuan dan keilmiahan. Karena bingkai perjuanganmu juga adalah media sosial maka izinkan penulis pribadi untuk mengajakmu melihat realitas kekinian bahwa sekarang adalah waktunya untuk melepas segala kemalasan dan keapatisan menuju semangat juang yang tinggi, semangat juang untuk bangsamu, untuk agamamu, dan untuk dirimu sendiri.

Karena bingkaimu adalah media sosial maka waktunya untuk berubah! Memasuki gelombang ketiga Indonesia menghadirkan karakteristik masyarakat yang berbeda, masyarakat yang sangat paham dengan perkembangan informasi dan teknologi, maka butuh model kepemimpinan yang juga berbeda, mampu memoderasi seluruh umat, mampu memoderasi semua kalangan, mampu memoderasi semua golongan. Ini bukan soal penyatuan gerakan, penyatuan visi, penyatuan pikiran, karena itu suatu hal yang mustahil. Kunci dari memoderasi keseluruhan model masyarakat adalah dengan saling bersinergi. Karena bingkaimu adalah media sosial maka waktunya memberdayakan kalangan muda untuk perubahan, untuk masa depan yang lebih cerah. Teruntuk para pemuda calon pemimpin masa depan, untuk para pemuda pelopor perubahan, waktunya meningkatkan kapasitas dan kompetensi, jangan sampai era keterbukaan ini membuat para pemuda Indonesia kalah bersaing dengan pemuda luar negeri yang masuk untuk berkarir dan berkarya di Indonesia. Karena bingkaimu adalah media sosial maka jadilah pemuda yang cerdas secara intelektual, cerdas emosional, cerdas spiritual, dan yang paling penting pemuda yang berjuang, untuk umat ini, untuk bangsa ini, jazirah nusantara tercinta, menjadi Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafuur. (dakwatuna.com/hdn)



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/11/24/83775/bingkai-kita-adalah-media-sosial/#ixzz4QzCYn8Uy 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Cinta Adalah Memberi

dakwatuna.com – Menjadi puitis tak serta merta terjadi tanpa proses yang panjang, menjadi romantis juga bukan melalui perjalanan yang sangat singkat, perubahan itu sebuah keniscayaan, namun bukan berarti perubahan tersebut terjadi begitu saja, begitu mudah, dan begitu singkat. Namun Tahukah kita, Bahwa ada energi yang mampu memicu perubahan, energi tersebut ibarat badai, ibarat angin, ibarat air, ibarat api. Ibarat badai yang mampu merusak tatanan kota yang begitu indah, mampu meluluh lantahkan pepohonan, mampu membuat suasana menjadi mencekam, begitu besar energinya. Ibarat angin yang mampu menggerakkan, mampu meng-erosi gunung, mengantarkan bibit tetumbuhan dan bunga-bunga sehingga berkembang biak, mampu menyejukkan, begitu dahsyat energinya. Ibarat air yang mampu menghancurkan batu karang, mampu menenggelamkan seisi bumi di Zaman Nabi kecuali hamba yang dipilihnya Nuh ‘alaihissalam, dan selalu mencari tempat ter-rendah, begitu menakjubkan energinya. Ibarat api yang mampu membuat benda padat hancur lebur menjadi butiran debu, mampu menghantarkan panas kepada sesuatu yang dijilati nya, mampu menghanguskan apa saja kecuali air, begitu luar biasa energinya. Inilah energi cinta, cinta yang mendalam, cinta yang menderu, cinta yang merubah, cinta yang menumbuhkan, cinta yang akan membuatmu menjadi puitis meski engkau bukan pujangga, cinta yang membuatmu menjadi romantis meski engkau bukan pangeran ataupun permaisuri.

Selanjutnya cinta, melalui proses yang begitu rumit dan pelik, akan menghantarkanmu menuju kepahaman yang paripurna. Pemahaman yang paripurna ini adalah pemahaman tentang hidup, hidup ini untuk apa, hidup hendak di bawa kemana, dan esensi hidup berupa orientasi hidup seutuhnya. Semuanya bermula dari cinta, lalu jiwa dihardik oleh kondisi sekitar ketika pikiran membuncah karena kepahaman, cinta memulainya lalu menggerakkannya. Mencintai seseorang adalah salah satu dari sekian banyak bentuk cinta tersebut. Tetapi untuk cinta yang satu ini engkau harus waspada, engkau harus berhati-hati, sebab cinta ini menyangkut jalan kehidupanmu, sebab orang yang engkau cintai mungkin akan jadi pendamping hidupmu, mungkin juga tidak. Cinta yang satu ini harus benar-benar engkau seriusi, sebab mencintai seseorang konsekuensi logisnya dan untuk memuliakannya adalah pelaminan. Kapan cinta ini tidak berujung pada pelaminan, maka jangan berani coba-coba mempermainkan cinta ini, karena cinta sejati hanya dapat dibuktikan dengan pernikahan. Berani mencintai maka berani bertanggungjawab, berani mencintai maka berani melayani, berani mencintai maka berani berjuang, berani mencintai maka berani memimpin. Maka cinta kepada seseorang yang dilakukan dengan pacaran sebelum pernikahan, ini jelas-jelas perilaku yang merendahkan cinta, melakukan sesuatu yang di larang agama, ingin menikmati sesuatu yang hanya bisa dinikmati setelah akad, maka apa jadinya orang-orang semacam ini, terus menerus merendahkan cinta tanpa mau memperjuangkan cinta sejati, cinta sejati di pelaminan, cinta seutuhnya di mahligai pernikahan.

Mencintai itu akan mengubahmu, percayalah, ini bukan soal siapa yang di cintai dan siapa yang mencintai, juga bukan soal siapa yang memilih dan siapa yang dipilih, tetapi ini adalah persoalan pembuktian cinta dan perjuangan cinta, karena seberapa daya pun usaha dan perjuangan kita, Allah jua yang menentukan siapa jodoh kita meskipun kita ingin atau tak ingin, mau atau tak mau. Maka berjuanglah untuk cinta, bila ia memang pantas untuk di perjuangkan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah berpesan bahwa wujud cinta kepada Allah adalah dengan mencintai orang yang juga mencintai Allah, mungkin ini bisa menjadi referensimu dalam memilih cinta. Maka tak heran bila di beberapa organisasi dakwah atau organisasi keislaman juga turut memfasilitasi perjodohan, karena ingin berikhtiar agar cinta yang diperjuangkan mengundang keberkahan dari Allah SWT. Cinta sesuatu yang tulus, murni, dan baik, sungguh sayang bila dicemari dengan perbuatan maksiat, karena percayalah cinta kepada seseorang yang tidak bervisi menuju mahligai pernikahan harus disudahi, harus segera diakhiri.

Wujud cinta adalah memberi, maka memberi adalah pemuliaan seseorang kepada yang di cintainya. Ibnu Qayyim juga pernah menyampaikan bahwa cinta adalah orbit sang pencinta kepada yang di cintainya. Memberi kepada yang di cintai adalah sebentuk perjuangan, sebentuk keseriusan dalam mencintai. Ibarat kubah langit yang tak berhenti memberi kepada dataran bumi, langit menjaga, langit memupuk, langit mencurahkan air, lalu bumi tumbuh dengan subur, pepohonan, tumbuh-tumbuhan, makhluk yang ada di dataran bumi hidup dengan udara yang begitu nyaman. Tanpa pamrih langit terus memberi dan merawat bumi, energi ini terus hadir, energi memberi ini terus deras mengalir, sumber energi yang besar berasal dari cinta. Memberi dan terus memberi, yang bersumber dari ketulusan cinta, menjadikan orang yang di cintai terus berkembang, terus bertumbuh, terus menguat. Maka pastikan cinta yang engkau miliki seperti ini, cinta secara positif akan menumbuhkan, akan mengembangkan, akan menguatkan, orang yang di cintai akan terus bergerak, akan terus berubah ke arah yang postif, karena terus menerus di beri perhatian, terus menerus di beri kasih sayang, terus menerus di beri ilmu, terus menerus di bimbing, terus menerus di supply secara materi, hingga jiwa orang yang di cintai akan merasa membutuhkan, lalu yang terjadi selanjutnya adalah feedback cinta kepada orang yang mencintai yaitu juga dalam wujud memberi.

Seorang pemuda kurus dan berkulit gelap tidak pernah menyangka dalam perjalanannya mengarungi arus, dalam perjalanan perantauannya, bahwa dalam perjalanan tersebut akhirnya ia menemukan cinta. Tentu ini bukan perkara mudah, karena cinta adalah memberi, maka seorang lelaki harus berani berjuang, bukan lelaki namanya bila ia tak berjuang, bukan sang pencinta sejati namanya bila dalam perjuangan cintanya ia tak mampu berjuang untuk yang di cintainya. Bukan lelaki namanya bila berjuang untuk uang panaik (dalam adat Bugis Makassar) saja ia harus perhitungan dan tak mau berkorban, bukan sang pencinta sejati bila ia tak mau berjuang untuk memenuhi takaran mayam (dalam adat Aceh), sebab cinta sejati patut diperjuangkan, cinta yang tulus akan menarik akar kaki dan otakmu untuk berjuang diluar batas kemampuanmu, hingga ikhtiar maksimal dari sang pemuda kurus dan berkulit gelap ini di jawab oleh Yang Maha Cinta, bahwa sekeras dan sekuat apapun manusia berusaha, Allah lah yang menentukan hasilnya.

Sang pemuda kemudian bertemu dengan seorang bidadari penyuka ungu, bidadari bercahaya penuh cinta, siap memperjuangkan orang yang tulus mencintainya, siap memberikan apa saja kepada pemuda yang ditakdirkan Allah untuk menjadi pendamping hidupnya. Bidadari berwajah manis dari Kerajaan Sabah Melayu ternyata adalah jodoh dari pemuda kurus dan berkulit gelap tadi, namun pemuda ini mempunyai tekad yang kuat. Sajak-sajak dan narasi visioner yang sering di tuliskan oleh pemuda bertekad kuat ini sedikit terwarnai dengan nuansa romantisme, cita rasa sastra dan puisi yang padat makna, memang benar cinta itu mengubah seseorang. Kini dengan bersandingnya pemuda bertekad kuat dan bidadari penyuka ungu ini, kedua keluarga besar dari bumi tadulako dan bumi Arung Palakka bersinergi dan bersatu dalam ikatan keluarga. Perjuangan cinta tidak hanya sampai disini, karena setelah pernikahan fase perjuangan selanjutnya akan dimulai. Sungguh mulia Imam Syahid Hasan Al-Banna dalam Risalah nya menuliskan bahwa perjuangan setelah keluarga adalah masyarakat. Perjuangan ini akan terus berlangsung hingga akhir zaman, maka beruntunglah mereka yang mengejawantahkan cintanya dalam pernikahan suci, sebuah perjanjian kokoh. Maka beruntunglah keluarga yang terus berjuang menegakkan kalimat Allah di masyarakat, bangsa, dan negara. Cinta adalah memberi, teruslah memberi, sumber energi memberi adalah cinta, maka teruslah berjuang, panjang jalannya memang, tetapi bagi para pejuang cinta, tidak lain dan tidak bukan ini adalah kesempatan untuk memberi. (dakwatuna.com/hdn)



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/11/24/83776/cinta-adalah-memberi/#ixzz4QzBN2FTJ 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Sabtu, 16 Juli 2016

Kesatria kan Menjelang

pejuang
dakwatuna.com – Sambutlah para Kesatria, datang dengan Baju Zirah yang nyaris sempurna, ada pula yang hanya bermodalkan tameng, segala terjangan anak panah coba dilalui nya, ratusan tebasan pedang coba ditangkisnya, serbuan tikaman tombak juga coba dihindarinya. Meski memang terkadang luka menyayat dagingnya, berdarah-darah, berpeluh-peluh, bertumpuk-tumpuk sesal, berbanyak-banyak risih dan dengki yang di terimanya. Tetapi jiwa tetap membaja, karena yang memiliki jiwa kesatria tetaplah para Kesatria, tak bermaksud menyaingi Gatot Kaca, tak bermaksud menandingi Panah Arjuna, tak pula ingin adu kekuatan dengan Jaka Tingkir, dan tak ingin menunggu terlalu lama kedatangan Satria Piningit, karena sungguh seluruh Superhero fiktif seperti Captain AmericaThorIron ManSuperman dan Batman tak pantas dibandingkan dengan jiwa-jiwa para Kesatria, Kesatria yang kan menjelang. Lebih dari tampilan sederhana dan kumuh, jiwa mereka Kesatria.

Jiwa Kesatria lebih berharga dari sekedar permata ruby ataupun black diamond, lebih berharga dari mutiara zamrud ataupun emas putih. Tak peduli segagah apapun tampilan luar, akan tetapi ukuran kemuliaan seseorang adalah isi hatinya, pikiran, dan jiwanya. Sebagian besar manusia begitu terpana dengan hal-hal yang nampak, hal-hal yang berwujud, yang bersifat materi, mungkin ini adalah fitrah manusia. Namun jiwa kesatria yang menjelang tetap tenang menjalani kehidupan, kehidupan yang mungkin di dominasi oleh kurang baiknya skala prioritas masyarakat, yang bermain bola, yang berolah raga, di sanjung dengan segala pujian dan dukungan, sementara para kesatria yang berjuang dalam ranah ideologis, tazkiyatun nafs, revolusi mental, kurang mendapat perhatian. Bangunan-bangunan menjulang tinggi, hendak mencapai awan, gedung megah nan mewah menjadi perlombaan. Bukan hendak meningkatkan kualitas dalam diri, tetapi kuantitas yang terus menerus dikejar-kejar. Kesatria yang kan menjelang hadir untuk mengubah pola pikir seperti ini.

Baju zirah yang lengkap dengan persenjataan hanyalah simbol saja, karena hati dan jiwalah penopang Sang Kesatria Pemberani. Pola pikir yang lebih dewasa, Masjid, Pasar, dan Negara adalah tumpuan kebangkitan Umat, kebangkitan Peradaban Umat Manusia. Kesatria juga menyadari bahwa jatuhnya peradaban barat adalah sesuatu yang sedang terjadi saat ini, karena setiap kejayaan dan kejatuhan akan dipergilirkan. Saat ini kita mungkin menyaksikan keberpihakan media kepada Negara-negara Barat, sehingga tercabik-cabik nya umat Islam sepi dari pemberitaan media nasional maupun internasional yang katanya menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Seakan-akan Umat Islam tidak berhap terhadap nilai-nilai kemanusiaan tersebut.

Para Kesatria memandang secara objektif, sungguh mereka menginginkan kebaikan. Di depan mata ada 300.000 (Tiga Ratus Ribu) mayat Warga Syria yang terbantai. Ada 12.000.000 (Dua Belas Juta) sisanya yang menjadi pengungsi ke hampir seluruh penjuru dunia. Ada Irak, Mesir, Yaman, Libia, Bangladesh, Pakistan, Myanmar, Afghanistan, bahkan Turki, telah deras bercucuran air mata kaum muslimin, telah tertumpah darah-darah di tanah air kaum muslimin, para kesatria sungguh peduli, doa dan infaq terbaik para kesatria untuk seluruh kaum muslimin yang tengah tertindas di seluruh penjuru dunia. Dan kesatria berpandangan dan bertekad suatu saat sang kesatria lah yang akan menjadi pembebas, sang kesatria lah yang akan berjuang melawan kedzholiman serta kesewenang-wenangan, sungguh langka mencari pikiran visioner semacam ini, karena mereka ini adalah para Kesatria, Kesatria yang kan datang dan menjelang.

Tangan-tangan lugu para kesatria bisa menjadi kepalan perkasa, bila ide menghujam nurani, lalu mengejawantah dalam aksi, inilah mereka para Kesatria. Mata-mata sayu bisa menjadi tatapan nanar nan tajam, disebabkan kebiasaan mereka di 1/3 malam bermesra dengan Rabbnya, carilah mereka para Kesatria. Kaki-kaki kumal tak elok, bisa menjadi derap langkah yang menggentarkan lawan, karena jumlah mereka sedikit di antara umat. Yang sedikit di antara umat adalah yang berhak menjadi pemimpin, itulah Kesatria!! Bahu tak kekar kan tampak kokoh layaknya gunung, tempat bersandar para bidadari dunia, sambutlah para Kesatria!! mereka yang berjiwa Kesatria, kesatria yang kan datang dan menjelang.

Kesatria tak hendak angkuh dan tak pula pesimis, mereka menjaga stabilitas pikiran dan ambisi. Kesatria kan meminta dunia dalam genggaman, namun bukan dalam hati. Jangan sampai kepentinganmu terhadap dunia membuatmu sibuk dan lupa mempersiapkan kehidupan di akhirat nanti. Terlena dan berfoya-foya bukanlah jiwa para kesatria, mengutamakan segala hal yang bersifat sementara bukanlah ciri para Kesatria. Sebagian besar manusia menganggap harta yang berada di tangannya adalah harta yang sangat berguna buat dirinya. Namun tahukah engkau ketika harta tersebut engkau sedekahkan untuk pembangunan Sumber Daya Manusia para pejuang dakwah dan gerakan dakwah, tentunya hal ini akan lebih berarti. Entah berapa banyak pahala yang diganjar padamu dari Allah SWT, tak ada satu pun manusia yang sanggup untuk menghitungnya. Harta yang disedekahkan kepada anak yatim, kepada fakir dan miskin, kepada pondok-pondok pencetak para penghafal Al-Qur’an, tentunya harta akan lebih bernilai, harta akan menjadi mulia, harta akan semakin berkah, tak perlu takut miskin karena Rasul telah menjamin bahwa tak akan miskin orang yang bersedekah. Berlapis-lapis Keberkahan hartamu akan bertumpuk-tumpuk menjadi investasi yang sangat menguntungkan, karena engkau tengah melakukan perniagaan dengan Allah SWT.

Kesatria kan terus berkuda menjelajahi arus, mengarungi zaman, berproses dan bertahap mencipta perubahan namun tak lupa tunduk dan sujud kepada Sang Pemegang raga seluruh Manusia, Sang Pencipta Semesta Makhluk. Inilah para Kesatria, mari berkumpul disini bersama mereka, mencerap Cahaya Allah SWT, Memurni Alunan Tauhid di dalam Hati, di rongga Akal. Bersama para Kesatria, Iman, Ilmu, dan Amal akan terus menerus bertambah, agar Iman Hijrah, dan Jihad bisa optimal dan maksimal, secara totalitas. Sebagaimana perintah langit agar memeluk Agama yang kaffah ini secara totalitas pula, mencelupkan seluruh jiwa dan raga kedalam celupan Allah SWT. Maka Gerakan para Kesatria kan membimbing umat manusia, dari suar cahaya adzan berkumandang, memendarkan cahayaNya, cahaya di atas cahaya.

Carilah mereka para Kesatria, para kesatria ada di sekitarmu, dalam pertemuan halaqah setiap pekan. Ikutilah mereka para Kesatria, sebab sungguh mereka ingin menjadi pelayanmu, pemimpinmu, yang mencintaimu setulus hati, dengan segenap jiwa dan raga, secara total. Tak lekang oleh waktu, dengan semangat membumi dan menggelora, ide-ide mereka lahir dari tanah Mesir, ide yang sangat valid, ide tentang gerakan Islam Moderat dan kontemporer, bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Maka lihatlah dan saksikanlah Para Kesatria menjadi Pewaris Nabi, Penebar Hidayah di seantero bumi. Saksikanlah mereka para Kesatria, bila berada di dekatmu bantulah mereka para kesatria sebab sungguh mereka mencintaimu, berupaya seperti cinta Baginda Nabi kepadamu.

Kesatria kan menjelang, di pelupuk mata, di Rona Merah Fajar, Berderap datang dari Masjid, Beramai-ramai menyebar Pola Pikir. Kesatria kan menjelang, di Langit Shubuh, di tinta dan pena digital, menginginkan kebaikan untukmu, menginginkan kebenaran ada padamu. Kesatria kan menjelang, tulus kepadamu, tak hendak merusak bingkaimu, hanya ingin memuliakan dirimu, di Telaga Al-Kautsar, Harum nan manis. Ya Allah, sungguh telah aku sampaikan tentang Para Kesatria, maka Saksikanlah!! Kesatria kan datang dan menjelang. (dakwatuna.com/hdn)



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/07/14/81414/81414/#ixzz4EYcf58mt 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Sabtu, 02 Juli 2016

Ramadhan Bahagia

Ilustrasi. (photos8.com)
dakwatuna.com – Ini Bulan Ramadhan, maka bergembiralah kawan. Begitu anjuran dari Baginda Nabi, engkau berbahagia menyambut Ramadhan, maka tak bisa api neraka menyentuh tubuhmu. Mengapa mesti bergembira? ini adalah momennya, saat hijab langit dibuka, engkau semakin dekat dengan Penciptamu. Tak bahagiakah engkau? Terkadang sebagian besar dari kita mengukur kebahagiaan hanya dari hal-hal yang bersifat material, tak mencoba melihatnya dari kacamata Iman. Sebab memang untuk dapat melihatnya dari kacamata Iman, engkau perlu memahaminya terlebih dahulu. Maka Imam Syahid Hasan Al-Banna menempatkan Rukun Al-Fahmu pada urutan pertama dalam 10 (sepuluh) arkanul bai’ah, yang berarti pemahaman mendapat tempat yang paling utama dan pertama sebelum rukun yang lain.

Ini adalah saatnya, saat lambung kau jauhkan dari yang halal, demi mengharap ridha-Nya. Tak bahagiakah engkau? Berbahagialah wahai saudara-saudariku, karena berbahagia tak bisa di ukur dengan banyaknya mobil Bentley atau Mercedes Benz yang kau miliki. Karena bahagia tak di ukur dari seberapa banyak motor Harley Davidson milikmu, atau seberapa banyak Villa, bahkan semelimpah ruahnya harta yang kau miliki. Berapa banyak orang-orang yang kita saksikan tampak bahagia, atau mungkin berpura-pura bahagia dengan berlimpahnya harta benda yang ia miliki, namun sebenarnya ia sedang mengalami kekosongan jiwa, harta telah memperdayanya, rasa was-was bila hartanya dicuri membuat hatinya tak tenang sepanjang malam. Maka engkau harus mulai berusaha memahami ukuran kebahagiaan yang sesungguhnya, di momentum Bulan Ramadhan ini.

Ini adalah waktunya, dosa-dosa berguguran, selangit doa di dengarkan, segenap jiwa raga tunduk beribadah pada-Nya. Tak bahagiakah engkau? Allah SWT berkenan turun ke langit bumi lalu mengijabah doa-doamu. Engkau yang bangkit di saat sebagian besar orang tertidur pulas, engkau bangkit untuk mendirikan Shalat, lalu berharap dosa-dosamu di ampuni. Sungguh keberkahan dari Allah akan tercurah padamu, di Bulan yang penuh berkah lalu mendirikan Shalat malam, untuk mengharap ridha-Nya. Tak ada sesuatu pun yang lebih baik di dunia ini bila di bandingkan dengan ridha Allah SWT. maka Bahagialah, kata Baginda Nabi, Bahagiamu kan berbalas haramnya Api Neraka menyentuh kulitmu.

Sungguh engkau sangat pantas untuk berbahagia, sebab ukuran bahagia bukan sekedar soal materi. Bahagia mengabdi pada-Nya juga adalah Bahagia yang melangit, bahagia yang tak terhingga, bahagia yang tak terukur, bahagia yang paripurna, melebihi semua kebahagiaan yang ada di dunia ini. Begitulah orang-orang beriman menilai kebahagiaannya, baginya Ridho Rabbnya adalah bahagia di atas bahagia. Hingga perihnya setiap luka yang kau dapatkan di dunia, setiap goresan yang kau cerna dengan segenap rasa, kan hilang dengan setetes Kebahagiaan di Akhirat nanti, engkau lebih mengharap balasan dari Allah SWT semata.

Maka Taqwa, derajat tertinggi yang ingin di capai oleh orang-orang yang beriman, adalah kebahagiaan sejati yang ingin engkau capai. Tetapi, yang mesti engkau pahami, semua hal perlu kau perjuangkan, karena hanya sang pejuanglah yang berhak mendapat balasan dari Allah SWT. Maka belajarlah dan terus belajar, sebab taqwa butuh perjuangan, untuk mengetahuinya, untuk memahami ilmunya, semuanya butuh proses, dengan memaklumi setiap penahapan. Karena hidayah adalah milik Allah SWT, maka hargai setiap proses dan penahapan menuju kebahagiaan yang hakiki, menuju derajat keimanan yang tertinggi, yaitu Taqwa. Butuh perjuangan dan pengorbanan secara total, maka dirimu diminta untuk total, secara totalitas mengabdi pada-Nya.

Allah akan memberikan bagi mereka yang bertaqwa, Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, maka nikmat Tuhan Kamu manakah yang Kamu dustakan? Ini adalah janji Allah SWT bagi mereka yang teguh dengan janji mereka, terus-menerus memperbaiki diri, dan terus berjuang, berjuang dengan jiwa dan raga, berjuang dengan harta dan kemampuan, berjuang dengan sungguh-sungguh, melakukan perniagaan yang tak akan pernah rugi, karena sedang melakukan perniagaan dengan Allah SWT. Maka inilah saat yang tepat untuk berubah, di Bulan yang penuh Berkah ini Allah SWT masih memberikan umur panjang pada dirimu, agar engkau memaknai setiap umur hanya untuk beribadah dan mengabdi pada-Nya.

Allah Maha Baik, setiap satuan waktu Allah SWT memberikanmu peluang untuk beramal, bukan hanya beramal, tetapi melakukan program akselerasi ketaatan. Agar setiap amalan berlipat ganda ganjaran pahalanya, pahala dari Allah SWT. Dalam satuan hari Allah SWT memberikanmu waktu dari tengah malam sampai menjelang Subuh sebagai waktu yang penuh berkah bila engkau mendirikan shalat malam dan memohon ampun pada-Nya, bahkan Allah SWT mengijabah doa-doamu. Dalam satuan pekan Allah SWT menyediakan sayyidul ayyam pada setiap insan manusia, yaitu hari Jumat dengan segala keutamaannya. Dalam satuan Bulan Allah SWT juga menyediakan Bulan Ramadhan, Bulan yang penuh keberkahan, Bulan yang dinanti-nanti oleh para ‘Ulama dan orang-orang shalih 6 (enam) Bulan sebelumnya. Bulan yang tepat untuk melakukan quantum jump, untuk melakukan perubahan yang besar dalam diri-diri picik nan hina ini, yang selalu mengharap sanjungan dan pujian dari manusia, selalu mengharap jabatan, kedudukan, dan harta yang berlimpah, memang butuh waktu untuk mengubah pola pikir yang masih cenderung pada keduniaan, karena setiap harinya kita dihadapkan pada dominasi nilai-nilai jahiliyah di atas nilai-nilai Ilahiyah.

Ramadhan adalah momen yang tepatmu untuk berbahagia, di mulai dengan mengubah persepsimu akan kebahagiaan itu sendiri. memang tidak mudah, mengingat engkau dan aku juga adalah manusia biasa. Manusia yang masih terus berproses, yang cenderung sombong dan angkuh atas apa yang dimiliki, padahal pada hakikatnya segala apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah SWT. Manusia yang masih terpaku pada konsep manusia modern ala Barat, seakan-akan Peradaban Barat adalah sesuatu yang sangat keren dan harus terus di ikuti. Konsep manusia modern yang kata seorang tokoh Komunis bahwa “Agama adalah candu”, sehingga menghilangkan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dan akan kita saksikan kejatuhan semua ideologi di muka bumi ini, sebuah kehancuran yang masih coba ditutup-tutupi. Kehancuran peradaban yang tak akan sanggup menyamai Agama Islam, Agama yang bukan sekedar menjadi ideologi, bukan sekedar menjadi sistem hidup, bukan sekedar menjadi sistem sosial dan perekonomian, bukan sekedar menjadi perekat persaudaraan, tetapi lebih tinggi dari semua itu, sebab Agama ini adalah Agama yang di Ridhoi oleh Allah Yang Maha Tinggi. Bahkan Imam Syahid Hasan Al-Banna mengatakan:

“Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan. Karena itu, Islam adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat, moral dan kekuatan atau kasih sayang dan keadilan, wawasan dan undang-undang atau ilmu pengetahuan dan peradilan, materi dan kekayaan alam atau penghasilan dan kekayaan, serta jihad dan dakwah atau pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga Islam adalah akidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”

Ramadhan menjadi momen yang tepat bagi dirimu untuk menghijrahkan segala cintamu kepada makhluk dan bahagia semu kepada cinta Allah dan Rasul-Nya. Maka berbahagialah engkau wahai orang-orang yang memanfaatkan Ramadhannya secara optimal. Tidak melewatkan setiap momennya dengan kesia-siaan. Bahkan melalui Ramadhan mampu mengubah persepsi bahagia yang dulu hanya berorientasi pada hal-hal yang bersifat materi menjadi bahagia yang hakiki, yaitu bahagia mengabdi pada-Nya. Berbahagialah, berbahagialah, berbahagialah, mengabdi pada-Nya juga adalah sebentuk kebahagiaan, berdakwah kepada manusia, menyeru pada kebaikan dan kebenaran juga adalah kebahagiaan. Mencegah hal-hal yang zhalim dan mungkar juga adalah sebentuk kebahagiaan, berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan juga adalah kebahagiaan. Dan ridha Allah adalah kebahagiaan yang paling tinggi, memuncak mencapai Arsy-Nya, meninggi hingga menggapai ridha-Nya. (dakwatuna.com/hdn)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2016/06/29/81143/ramadhan-bahagia/#ixzz4DEZuPe91 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook