Senin, 26 November 2012

Refleksi Hardiknas, Pendidikan Sebagai Penuntas Kegalauan

Hari pendidikan nasional, yang diperingati tanggal 2 Mei setiap tahunnya. Di dalam benak saya pribadi, momen setiap tahun ini hendaknya dapat menjadi tolak ukur sudah sejauh mana perkembangan pendidikan di Negara, bangsa, provinsi, kabupaten, kota, atau mungkin lebih khusus di Universitas kita tercinta. Baiklah, saya tidak ingin berpanjang lebar dalam tulisan saya ini. Fokus tulisan saya kali ini adalah mencermati pendidikan yang saat ini menurut saya masih berorientasi pada hasil.

Pendidikan yang berorientasi pada hasil, inilah yang masih harus menjadi “Pekerjaan Rumah” bagi kita semua sebagai Aktivis pendidikan. Di dunia sekolah, dengan nilai ujian atau nilai raport yang tinggi akan menjadi suatu kebanggaan bagi siswa.  Nilai menjadi tolak ukur kualitas seseorang, padahal ada beberapa potensi manusia yang juga bisa menentukan kemuliaan dirinya baik di kalangan manusia maupun di mata Tuhannya. Maka dengan orientasi seperti ini, kita perlu me-review hal tersebut. Perlu dilakukan reorientation untuk mendukung salah satu program pemerintah dalam bidang pendidikan yaitu Pendidikan Berbasis Karakter. Karakter sendiri dibangun oleh sesuatu yang walaupun di kerjakan sedikit namun sifatnya terus-menerus (kontinu). Dan dalam membangun pendidikan berbasis karakter seperti yang sempat disampaikan pada Media Tadulako sebelumnya, dibutuhkan sebuah proses yang berkelanjutan. Seorang Siswa yang belajar dengan baik, mampu mengikuti proses dengan tekun, mengedepankan prinsip kejujuran pada saat nasional, dapat dipastikan akan menjadi manusia yang paripurna mengisi peradaban dengan kemampuan intelektual  kesadaran sosialnya. Sebaliknya seorang siswa belajar dengan baik selalu dengan motif pujian, selalu mengeluh dengan proses yang djalaninya, bukan berbagi ilmu tapi berbagi kegalauan ke semua orang, sampai-sampai  kegalauan tersebut di-share di Facebook yang merupakan konsumsi umum.

Hari ini beberapa dari kalangan kita begitu bangga dengan IPK yang tinggi. Berbagai cara digunakan untuk mencapai IPK yang tinggi, menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan tersebut. Wajah buram pendidikan di kalangan intelektual muda. Sampai ketika tujuannya tak tercapai, kegundahan, kegalauan dan frustasi-lah yang terjadi. Bertolak belakang dengan pendidikan berkarakter. Padahal galau bukanlah karakter seorang intelektual muda. Di Kitab Suci Agama saya, Surah Al-Baqarah Ayat  275 bercerita tentang penyebab  manusia yang sering galau.

Harapan saya pribadi pada momen Hardiknas kali ini, Kalau alumni-alumni ITB dan UI bisa menjadi pemimpin-pemimpin bangsa saat ini, para Civitas akademika UNTAD adalah pemimpin provinsi ini kedepan, bahkan negeri kita tercinta ini. Tentunya dengan terlebih dahulu meluruskan orientasi kita bahwa kuliah bukan hanya sekedar mencari nilai, tapi banyak hal kontributif yang bisa kita lakukan untuk membangun pendidikan berkarakter, pendidikan berbasis proses, pendidikan penuntas kegalauan. Dari kampus ini kita bangun pendidikan berbasis proses, menuju tadulako madani. Tadulako madani tak hanya sekedar mimpi.

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Posting Komentar