Selasa, 02 September 2014

Istana Putih dan Getar Hati Pemimpin

Palu, Di Ruang Tengah, Menjelang Sore, 28 Agustus 2014
Oleh : Mohamad Khaidir, S.E.


Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

dakwatuna.com – Istana putih berdiri tegar di depan sektor perkebunan kelapa sawit, atapnya menjulang tinggi ke langit seakan-akan ingin memecah awan. Namun istana putih ini bukanlah istana putih Persia dengan kemegahannya di masa lalu. Di posisi dataran yang tinggi, di istana putih itu tersedia jalan yang lebar agar dapat menjangkau dan memasukinya. Jalan menuju ke istana putih terbuat dari pavin-pavin yang disusun secara rapi dan disesuaikan ketinggiannya. Agar mobil-mobil mewah nan angkuh bisa lewat. Mobil-mobil mewah nan angkuh yang dulu ketika masa kampanye pemiliknya sering turun ke lapangan, bersosialisasi dengan masyarakat, sering melakukan kegiatan bakti sosial di tengah-tengah masyarakat. Namun ketika mendapatkan kursi di parlemen, mobil mewah nan angkuh itu sepertinya tak pernah lagi melewati jalan yang berlubang. Mobil mewah nan angkuh itu mungkin tak sudi lagi melewati jalan yang becek karena takut kemewahannya akan terkotori oleh noda becek. Mobil mewah nan angkuh itu melaju dengan kecepatan yang tak memungkinkan rakyat untuk menegur dan menyapa yang berada di dalam mobil. Mobil mewah nan angkuh itu mungkin tak lagi membuka kaca jendelanya karena terburu-buru menuju rapat dan urusan formal lainnya. Terus menuju istana putih tanpa pernah menyempatkan waktu untuk singgah sebentar sekadar duduk-duduk di warung kopi, sekadar nongkrong di pinggir jalan sambil mendengarkan keluhan rakyat, sekadar singgah di warung makan sederhana tempat para masyarakat bertukar pikiran. Terus melaju meluncur menuju istana putih. Istana putih itu terletak di Kabupatan Morowali Provinsi Sulawesi Tengah, sekitar 14-15 jam menempuh perjalanan darat. Jaraknya kurang lebih 600 Km dari Ibu Kota Provinsi, Palu Sulawesi Tengah. Dengan kondisi jalan yang sangat memprihatinkan menuju ke Kabupaten Morowali karena masih tergolong kabupaten baru.

Kami pun menyadari bahwa istana putih ini ada hampir di seluruh daerah di Indonesia. Istana putih yang indah tersebut, memiliki banyak penjaga di setiap sudut pekarangannya. Penjaganya berbadan tegap dan berpenampilan serba hitam. Ada juga penjaga yang berpakaian seragam lengkap, warna seragamnya hijau tua kekuning-kuningan, lengkap dengan baret, sabuk yang rapi, sepatu laras bak militer siaga. Ada pula beberapa tukang kebun yang menjaga keseharian pekarangan istana putih. Setiap hari menyirami bunga-bunga indah dan tanaman-tanaman elok pelengkap keanggunan taman istana putih. Istana putih yang sangat indah, tertata rapi setiap komponennya, namun tak sebanding dengan kemuliaan SurgaNya Allah SWT diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan istiqamah dalam ketakwaannya.

Istana putih dengan segala keindahan duniawinya. Dan yang pasti segala keindahan di dunia memiliki konsekuensi logis, karena tak ada yang abadi di dunia ini. Konsekuensi logisnya adalah, tak mungkin istana putih yang megah ini dengan segala kemegahannya hanya disokong dengan dana yang sedikit. Tentunya membutuhkan biaya yang banyak dan dana yang sangat besar untuk menjaga segala fasilitas istana putih tersebut. Artinya di puncak kemegahan yang ada pada istana putih, pasti ada penderitaan segelintir orang. Sang penghuni istana putih itu pun sangat terkenal dengan kewibawaannya dan kepemimpinannya. Ia sering menggunakan pakaian serba putih pada setiap acara-acara formal dan acara-acara penting. Tampilannya layaknya Bung Karno dengan pakaian serba putih tersebut, mudah-mudahan gagasan kebangsaan visioner milik Bung Karno juga ada dalam pikiran sang penghuni istana putih tersebut, bukan hanya sekadar tampilan luarnya saja. Sebut saja orang yang sangat dihormati ini sering di panggil dengan panggilan Kepala Daerah. Memimpin suatu daerah tertentu dengan berbagai fasilitas mewah dan sarana prasarana yang menunjang gaya hidupnya. Salah satu fasilitas yang diperolehnya adalah yang kami deskripsikan sejak awal tulisan ini, fasilitas tersebut adalah rumah dinas yang penulis senang menyebutnya dengan sebutan istana putih.

Zaman telah berubah, dan arus globalisasi semakin deras, gelombang sekulerisme dan liberalisme semakin meninggi bersiap menerpa apapun yang ada di depannya. Sepertinya sosok pemimpin sederhana dan bersahaja semakin sulit ditemukan di masa kini. Padahal dunia pernah menyaksikan kepemimpinan hebat seorang yang sederhana dan bersahaja. Seorang anak yatim dan tak pandai membaca, namun kepemimpinannya diakui oleh Romawi dan Persia. Kepemimpinan yang sangat berpengaruh keteladanannya melebihi pengaruh pemimpin manapun di dunia ini. Dialah Baginda Nabi Besar Muhammad Shallallahu’alaihi wa Sallam. Tercatat dalam Buku karya Michael Hart berjudul “100 Tokoh Berpengaruh di Dunia Sepanjang Masa” sebagai Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah peradaban dunia. Bahkan membina para sahabat dekatnya menjadi para pemimpin hebat di zamannya. Khalifaturrasulillah, Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu’anhu yang pembawannya begitu melankolis dan lembut kepada siapa saja, ketika memimpin mampu untuk kemudian menjadi tegas dan keras serta memerangi para Kaum Muslimin yang enggan membayar zakat semenjak meninggalnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam. Atau seperti Amiirul Mu’minin, ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu, sosok yang begitu keras dan tegas namun pada saat yang sama menjadi orang yang begitu lembut dan penyayang serta amat sangat mencintai rakyatnya. Amiirul Mu’minin ‘Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu mampu untuk kemudian menjadi pendengar yang baik atas setiap keluhan kaum Muslimin dan adil terhadap non-muslim. Merekalah para pemimpin terbaik di zamannya.

Kembali lagi kepada cerita yang sedikit mendekati realita tadi, tentang Kepala Daerah dengan kemegahan istana putihnya. Realita yang terjadi hampir di seluruh daerah di Negeri indah nan permai bernama Indonesia. Masyarakat masih tengah mencari sosok pemimpin ideal yang mampu menyelesaikan segala persoalan negeri ini, dan saat ini masyarakat cenderung akan memilih pemimpin yang sering turun ke lapangan dan melihat langsung kondisi mereka. Terlepas dari apakah itu pencitraan belaka atau memang benar-benar bekerja tulus dan ikhlas untuk masyarakat. Kita tak tahu pasti kondisi sesungguhnya hati nurani para pemimpin yang sering turun lapangan tersebut, karena hanya Allah yang mengetahui kondisi sesungguhnya kondisi hati para pemimpin kita, getar hati sang pemimpin Sampai detik ini, kita tengah disibukkan dengan polemik kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang merupakan kebutuhan primer masyarakat yang hampir dapat dipastikan kenaikan BBM tersebut akan semakin mencekik masyarakat kalangan bawah. Semoga saja para pemimpin bangsa ini segera mendapatkan solusi terbaik terkait polemik ini.

Kita sangat merindukan para sosok pemimpin dengan getar hati yang sesungguhnya. Mungkin saja sosok itu ada di Provinsi Jawa Barat yang Gubernurnya memiliki segudang prestasi fenomenal dibuktikan dengan penghargaan hampir di semua aspek pemerintahan dan tata kelola pemerintah, beliau senyap akan pemberitaan media. Mungkin juga sosok itu ada di daerah Depok, yang Walikota-nya dengan senang hati naik motor menuju kantor dinas yang belum tentu kepala daerah yang lain mau untuk melakukan hal itu. 

Mungkinkah getar hati pemimpin tersebut ada di Kota Bandung, mempunyai Walikota yang muda dan energik, begitu bersemangat menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi di Kota Bandung, dan sampai sekarang berusaha sepenuh hati dan sekuat tenaga merealisasikan janji-janji kampanye-nya. Atau mungkinkah getar hati itu ada di Kota Surabaya, memiliki Ibu Walikota yang dengan sangat tegas menutup tempat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara, tegas menindak kemaksiatan meskipun sering mendapat cemoohan tak santun dari beberapa oknum, semoga Allah senantiasa merahmatimu Ibu Walikota! Atau mungkin saja kita juga merindukan getar hati pemimpin yang merupakan seorang Da’i dan ‘Ulama, pada saat yang sama juga menjadi ‘Umara. Pemimpin kharismatik di daerahnya, yang terhormat Bapak Gubernur Maluku Utara. Hanya Allah lah yang mengetahui getar hati pemimpin yang sesungguhnya, pemimpin yang sederhana nan tegas, sosok pemimpin ideal impian yang sangat kita rindukan. Mari kita mulai mencari getar hati pemimpin itu, dimulai dengan merendahkan ego dan kesombongan, dimulai dari ber-muhasabah atas diri kita sendiri, memperbaiki keluarga kita, mempererat persaudaraan dengan sahabat-sahabat kita, menyebarkan kebaikan pada orang-orang di sekitar kita, serta masyarakat kita. Agar suatu saat muncul sosok pemimpin dengan getar hati yang sesungguhnya. Karena seyogyanya pemimpin yang terbaik lahir dari lingkungan dan masyarakat yang terkondisikan dengan kebaikan-kebaikan. Sehingga sungguh syahdu perkataan Ali Bin Abi Thalib ra apabila mampu kita praktekkan, Beliau berkata :

“Barangsiapa meletakkan dirinya sebagai pemimpin, maka hendaklah dia memulai dengan mengajari dirinya sebelum mengajari orang lain. Dan hendaklah dia membersihkan langkah kehidupannya sebelum membersihkan lisannya. Karena orang yang mengajari dan membersihkan dirinya itu lebih berhak dimuliakan daripada orang yang mengajari manusia dan membersihkan mereka.” (Ali bin Abi Thalib).

Kita masih merindukan sosok pemimpin yang ideal, yang mungkin saja mau meninggalkan segala kemewahan dan kemegahan istana putih-nya, tinggal bersama-sama masyarakat. Sempat Di zaman ke-khalifahan ‘Umar bin Khaththab ra utusan dari Romawi dan tawanan perang dari Persia terheran-heran menyaksikan Sang Amiirul Mu’minin tidur di Masjid Nabawi yang kondisi Masjid Nabawi di Madinah pada saat itu memang masih sangat sederhana. Kita menantikan sosok pemimpin yang tak segan berada di tengah-tengah masyarakat dan berbaur dengan mereka. Turunkanlah kaca jendela anda sejenak, turunlah dari mobil mewah nan angkuh sejenak untuk bersama-sama mendengar masukan dan saran-saran kami. Tinggalkanlah istana putihmu walaupun hanya sejenak, tinggallah sejenak di rumah-rumah kumuh kami agar paham akan kondisi kami.

Kita bukanlah kaum Jabariyah, kelompok umat Islam zaman dulu yang selalu pasrah. Kepasrahan kaum Jabariyah ini terhadap Yang Mahakuasa sudah berada dalam stadium gawat darurat. Ideologi ini di pelopori oleh Jahm bi Safwan dan Ja’d bin Dirham. Menyerahkan takdir manusia semua-muanya kepada Allah merupakan inti dari ajaran Jabariyah. Mereka meniadakan usaha manusia. Manusia hanya di anggap sebagai boneka Tuhan. Maka ketika terjadi sesuatu, manusia tidak bisa dipersalahkan.

Kita akan berusaha untuk tidak seperti kaum Jabariyah, kita tidak akan meneladani kaum yang telah dilaknat Allah SWT karena pemikiran yang sempit. Kita akan berusaha menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan keluarga, kita akan senantiasa berusaha menjadi rakyat yang baik dan santun karena sedikit memahami bahwa kondisi pemimpin adalah representasi dari kondisi rakyatnya. Dari Getar hati sang Pemimpin, Kita berharap keberkahan dari Allah SWT untuk negeri ini, agar suatu saat keberkahan Allah SWT melimpah untuk negeri ini oleh sebab keteladanan pemimpinnya dan kesantunan serta ketaatan rakyatnya. Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur, Insya Allah.

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Posting Komentar