Senin, 19 Agustus 2013

Ilmu Kehidupan

Ilmu Kehidupan


Boleh jadi produknya berbungkusnya label halal, tapi gizinya serendah-rendah kualitas. Bisa juga kubahnya seagung Tajmahal tapi administrasinya tidak lebih rapi dari kantor kelurahan. Atau bacaan Qur’annya semerdu Ghamidi namun analisis psikologinya ngawur tak teruji. Atau slogan gerakannya ‘amar ma’ruf nahyi munkar tapi anak istri pagi sore selalu lapar.

Pada akhirnya itulah tantangan pemuda muslim, institusi, gerakan Islam, bahkan umat Islam secara umum. Memberi solusi setelah mengkhutbahkan materi. Antara keagungan nilai Islam dan manusia-manusia penerjemahnya ke tanah konkrit adalah dua hal yang berbeda. Disini bertebaran titik-titik retak. Namun ia sering tersembunyi dilapisan terdalam. Bukan karena pemuda muslim tidak bersemangat atau tidak berbakat, tapi berserakan persepsi lama yang tidak lagi layak pakai.

Proyek-proyek kerja umat, atau agenda gerakan Islam bisa jadi bersih dalam motivasi namun lemah dalam takaran ilmiah. Dalam strategi dakwah di kampus; pembuatan isu koran, situs dan TV; persaingan pemilu antara proyek perbaikan Islam menghadapi obsesi penumpuk kekayaan; perumusan sistem pendidikan; perencanaan tata ruang kota dan pembenahan sistem transportasi; atau bahkan pertarungan peradilan melawan koruptor-koruptor negara, ia perlu dikelola oleh manusia-manusia yang tidak hanya rutin salatnya dan suci hatinya, tapi berbasis pengetahuan dan kepakaran.

Persepsi dikotomis antara ilmu dunia dan ilmu akhirat adalah persepsi lama dan sekaligus baru. Lama, karena beberapa ulama, bahkan sekelas al-Ghazâli membagi ilmu menjadi ‘ulûmuddîn [ilmu agama] dan ‘ulûmuddunya [ilmu duniawi]. Ada yang menyebut ilmu-ilmu syari’ah seperti tafsir, hadîst, fiqh dengan nama‘ulûmus syarîf [ilmu terhormat], atau ‘ilmu nâfi [ilmu yang bermanfaat], dan selainnya tidak. Kimia, Geografi, Gizi, Hukum, Logika, Informatika adalah urusan dunia, tidak berhubungan dengan akhirat. Karena memang kata ‘dunia’ berintonasi negatif, hina dalam Qur’an dan Sunnah. ‘‘apakah kamu rela dengan kehidupan dunia dibanding dengan kehidupan akhirat…’’[at-Taubah:38]. Memang seperti itu karakter dunia. Akhirnya, semakin umat Islam itu berorientasi akhirat, semakin ia jauh dari ilmu pengetahuan yang dianggap duniawi. Begitu nasib ilmu non-agama saat dipersepsi duniawi.

Tapi persepsi  ini juga baru, setidaknya di dua abad terakhir, sejak umat Islam berhenti memproduk kreasi di periode akhir Daulah Ustmâniyyah.  Ia baru, karena tidak pernah ada contohnya di masa Rasulullah. Faktanya, generasi sahabat menguasai arsitektur, ekonomi, politik, pertanian, ekspor-impor, administrasi, militer, linguistik, sastra, psikologi. Bahkan nabi-nabi adalah para profesional. Adam adalah petani, Daud pakar industri besi, Nuh arsitek kapal sekelas Titanic, Idris pakar jahit, Yusuf menteri prestatif, Musa pengelola peternakan, Zakaria pakar meuble. Apalagi generasi muslim pasca sahabat yang kian ambisius terhadap ilmu pengetahuan untuk membangun kehidupan mereka.

Maka tidak aneh kalau “Kita tercengang” kata kata François Anatole, seorang penulis Perancis. “saat mengingat keprimitifan kehidupan bangsa Arab zaman jahiliyyahnya yang hanya membutuhkan dua abab untuk mencipta lompatan budaya, dibanding umat masehi yang butuh 1500 tahun untuk membangun peradabannya”.

Generasi pembangun peradaban itu memahami ayat ini “Siapa yang menuntaskan kerja yang baik, laki-laki ataupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami anugerahkan kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami reward mereka dengan sesuatu yang lebih baik dari kerja-kerja mereka’’[an-Nahl:97]. Mereka meyakini, bahwa jika mereka beriman, maka apapun karya yang mereka sumbangkan bagi kemanusiaan, untuk membangun kehidupan manusia yang lebih baik di dunia, maka ia menanti balasannya dari Allah di akhirat. Sehingga ilmu-ilmu pembangun kehidupan itu mereka yakini sebagai ‘ulûm hayatiyyah’ [ilmu kehidupan] yang pasti langsung terkorelasi dengan kehidupan pasca kematian mereka.

Ini adalah filsafat kehidupan, bukan sekedar motivasi membara untuk belajar, yang sangat instan kembali dingin setelah pelatihan. Isi kepala generasi muslim di masa jaya seperti sinar matahari melimpah terangi timur dan barat dengan ilmu kehidupan tapi berotasi pada pusat yang benar dengan ilmu syar’iyah atau ilmu-ilmu yang sumber utamanya Qur’an dan Sunnah.

Ilmu kehidupan adalah nafas umat ini karena, pertama: bahan misi manusia dibumi ini, yaitu menjadi khalifah, penguasa, pengelola, pengembang, pembangun peradaban. Oleh karena itu Allah mengajari Adam semua perangkat itu, ‘‘dan Allah mengajarkan Adam semua nama-nama’’ [al-Baqarah:31]. Ilmu tentang gunung, struktur tumbuhan, kelautan, karakter manusia, kata Ibnu Katsir. Lalu Adam mempresentasikan semua science itu di depan malaikat yang tidak tahu sama sekali. Karena memang malaikat tidak membutuhkannya. Manusialah yang butuh untuk mengelola hidupnya.

Kedua, jika umat Islam mandul ilmu kehidupan ini, mandul karya, mandul produksi, maka dari mana ia mendapat suplainya? Dalam banyak situasi, kebutuhan ini bukan lagi bersifat kerja sama ekspor-impor, tapi ketergatungan yang akut. Dalam pertahanan misalnya, apakah ia akan mengimpor senjata dari Amerika? Atau dari Perancis yang 40% produksinya dihujankan ke warga muslim?

Ataukah tanah gembur negara agraris ini tidak mampu mensuplai perut rakyatnya dengan beras, kentang dan jagung? Atau justru daya kelola yang tidak mampu? Dan ilmu pengetahuan yang membatu?

Dalam laporan World Intellectual Property Indicators tahun 2012, hak Paten Cina mencapai 526 ribu, USA 503 ribu, Israel 6 ribu, sedang Indonesia yang jumlah penduduknya 30 kali Israel angka kreasinya 5 ribu. Apakah tidak pernah ada juara-juara muda olimpiade science dari Indonesia yang mengungguli mereka? Ataukah mereka menghilang ditelan budaya sendiri yang mereduksi potensi? Hidup dalam kenyamanan karir terjauh dari lapangan tantangan pengetahuan?

Tidak, mereka itu akan kembali. Generasi muda muslimnya akan merekonstruksi persepsi. Mencicil cakrawala umatnya dengan ilmu kehidupannya. Perlahan, menerus penuhi kapasitas menuju derasnya kreativitas, agar ada lagi tokoh sekelas Jawaharlal Nehru kembali berkata tentang kita “mereka adalah bapak ilmu pengetahuan modern”.

Rotterdam, 31 Desember 2012
Majalah Intima Edisi Januari 2013
Muhammad Elvandi, Lc

0 komentar:

http://www.resepkuekeringku.com/2014/11/resep-donat-empuk-ala-dunkin-donut.html http://www.resepkuekeringku.com/2015/03/resep-kue-cubit-coklat-enak-dan-sederhana.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/10/resep-donat-kentang-empuk-lembut-dan-enak.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/07/resep-es-krim-goreng-coklat-kriuk-mudah-dan-sederhana-dengan-saus-strawberry.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/06/resep-kue-es-krim-goreng-enak-dan-mudah.html http://www.resepkuekeringku.com/2014/09/resep-bolu-karamel-panggang-sarang-semut-lembut.html

Posting Komentar